Bukaan lensa seringkali disebut f/x.x atau dalam format resminya f-stop. F-stop sebenarnya hanya data teknis kalkulasi dari focal length dibagi diameter aperture blade.

Bingung?

Tapi sebelumnya, tau kan apa itu aperture blade? Itu lho, bilah-bilah yang membentuk lingkaran (bolongan/bukaan) di dalam lensa kamera.

Jadi, katakanlah f/2.0, baik itu di handphone atau di DSLR atau di kamera-kamera lainnya. Apa sih f/2.0 itu? Berapa besar nilai f/2.0 itu sebenarnya? Apa efeknya? Dan lain sebagainya.

Tapi jangan dulu berbicara tentang efek bokehnya, atau seberapa bagus hasil exposure-nya. Sebelumnya kita harus tahu apa arti f-stop itu sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan di pembuka diatas, f-stop adalah data teknis, hasil kalkulasi dimensi lensa pada sebuah kamera.

Lalu hasil kalkulasi darimana? Tergantung dimana angka f/2.0 itu tertera.

Misal, f/2.0 itu tertera pada lensa DSLR Canon 50mm. Yang dimaksud data teknis adalah, lensa tersebut memiliki focal length sepanjang 50 mm, dan pergeseran aperture blade yang ada di dalam lensa tersebut membuat diameter terbuka sebesar 25 mm. 50 dibagi 25, hasilnya 2. Angka 2 itu lah yang ditulis pada body lensa tersebut menjadi f/2.0

Jadi, misal lensa 50 mm dengan f/1.4, artinya aperture blade-nya bisa bergerak dan membuat lubang/bukaan sebesar 35.8 mm.

Mulai paham?

Sekali lagi, F/2.0 adalah hasil bagi focal length dengan diameter aperture blade yang terbuka.

Lensa Nikon NIKKOR Z 50 mm f/1.8. Artinya lensa ini memiliki diameter aperture blade selebar 27.8 mm

Jadi, f/2.0 bukan nilai bukaan lensa. Berbicara tentang nilai, yang berkaitan dengan angka, selalu diiringi oleh satuan matematika. Entah itu centimeter, milimeter, kilometer, inchi, kilogram, liter dan sebagainya.

F-stop bukanlah satuan matematika untuk mewakilkan nilai.

Masih bingung? Kita lanjutin lagi.

Misal, f/2.0 itu tertera pada sebuah camcorder/handycam dengan focal length 28mm. Artinya diameter bukaan lensanya (diameter aperture blade-nya) adalah 14mm (28 dibagi 2). Atau 1.4 cm. Atau setara dengan f/3.5 pada lensa 50mm

Sony camcorder dengan lensa f/1.8 focal length 3.8-38mm

Lalu, apa gunanya f-stop kalau ternyata, yah, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya.

Nah, f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Misal, lensa 24 mm. Ketika menggunakan f-stop f/1.8, akan menghasilkan exposure yang lebih baik dan efek blur (bokeh) yang lebih dalam dibandingkan menggunakan f/5.6.

Atau dalam kondisi lain, masih tentang lensa 24 mm. Dengan f/3.5 exposure (yang ter-detect di layar kamera) minus. Jadi kita harus buka lagi misal, jadi f/2.8. Tapi ternyata masih minus, walau udah mendekati garis exposure netral. Karena lensa itu hanya f/2.8, berarti kita harus setup lighting, biar exposure bisa di posisi netral.

Tampilan exposure bar pada kamera digital.

Tampilan exposure bar pada salah satu kamera smartphone (pojok anan bawah).

Karena itu ada data EXIF. Saat melihat data EXIF dari sebuah foto, misal, menggunakan lensa dengan f/1.8, kita juga perlu melihat focal length dari lensa tersebut.

Pada data diatas terlihat ApertureValueyang digunakan adalah f/14 menggunakan lensa 55.0mm

Selanjutnya kita akan melihat nilai f-stop pada kamera handphone.

Focal length adalah jarak lensa dengan sensor. Pada 3 contoh diatas, contoh pertama lensa focal length 50mm. Atau dalam nilai sehari-hari yang biasa kita gunakan, 5cm. Dan di contoh kedua focal length 28mm, atau 2.8 cm. Contoh ke tiga, lensa 24 mm.

Body handphone, setebal-tebalnya, rasanya tidak akan lebih tebal dari 1 cm. Jadi sejauh-jauhnya, jarak maksimal antara lensa dengan sensor pada handphone hanya 10mm. Itu pun kemungkinan akan mononjol keluar dari body. Anyway, kita langsung saja ke kenyataanya, rata-rata focal length pada kamera handphone hanya 4mm, atau 0.4 cm.

Yah, sekitar setengah dari ketebalan body handphone itu sendiri.

Berbagai ukuran handphone

Dan katakanlah handphone tersebut memiliki nilai f-stop f/2.0. Dengan kalkulasi yang sama, 4mm dibagi 2 artinya besar bukaan lensanya hanya 2mm. Mmm… kebayang kan seberapa besar 2mm itu?

Kalau dibandingin dengan lensa 28 mm seperti yang terdapat pada camcorder/handycam, 2mm itu setara dengan f/14.

Sedangkan kalau dibandingin dengan lensa 50 mm,  2mm itu setara dengan f/25.

Wow!! Bahkan sekecil-kecilnya, untuk foto produk saya hanya menggunakan f-13.

F/25?? Itu kaya apa ya. Mungkin kaya lubang di kancing baju.

Kiri: lensa 50mm di f/5.6 (diameter bukaan 0.8cm). Kanan: lensa 50mm di f/1.4 (diameter bukaan 3.5cm)

Mulai paham?

Jadi ada kesalahan persepsi dalam istilah yang digunakan. Nilai f-stop tidak mewakilkan nilai bukaan. Nilai f-stop, katakanlah, hanya sebuah rumus untuk menentukan bukaan. Nilai f-stop adalah data teknik spesifikasi di bidang photography.

Perlu di ingat, nilai f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Ketika kita membutuhkan/mencari pengaruh f-stop atas 1 lensa.

Misal, sebagai contoh lain, kita akan memotret objek dengan konsep all-focus tanpa ada bagan blue/bokeh. Menggunakan f/11, setelah di cek detail, ternyata masih ada area blur. Kita turunin lagi jadi f/13, dimana artinya exposure juga ikut turun, jadi kita naikin ISO atau shutter speed bla….bla…. mungkin ini diluar bahasan utama dan perlu satu bahasan khusus lain.

Tapi anyway, itu lah guna f-stop.Menentukan pengaruh/efek atas 1 lensa saja.

Jadi rasanya cukup bisa dipahami untuk ga wondering lagi, kenapa kok lensa A pake ‘bukaan’ cuma f/3.5 tapi hasilnya lebih terang dan bokehnya lebih terasa di banding lensa B padahal ‘bukaan’-nya udah f/1.8.

Lensa kit pada kamera digital, misal 16mm f/3.5. Artinya memiliki besar bukaan sekitar 4.5mm. Nilai bukaan yang masih 2x lipat lebih besar dibanding nilai bukaan f/2.0 pada kamera handphone.

Lensa kit DSLR, hanya dengan f/3.5 masih memungkinkan untuk bokeh (blur background), dan menghasilkan exposure yang lebih baik dibandingkan f/2.0 pada kamera handphone.

Jadi dengan kalkulasi di atas, rasanya cukup bisa dipahami mengapa sebuah kamera handphone, bahkan dengan nilai f-stop hingga f/1.6, tetap tidak menghasilkan exposure yang maksimal dan tidak bisa menghasilkan foto bokeh layaknya kamera digital.

Mungkin ini salah satu trik (karena kebetulan saya pake iPhone) dari Apple, desain iPhone 6s (iPhone 6s di 2019??) pada bagian kameranya agak sedikit menonjol dari bodynya. Dengan body yang relatif lebih tipis dibanding handphone lain pada waktu perilisannya, tapi tetap mempertahankan focal length 4.15mm.

Focal length 4.15mm dengan f/2.2, artinya iPhone 6s memiliki diameter bukaan 1.8mm. Wow!! Setara dengan f/27 pada lensa DSLR 50mm 😀

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

(Visited 1 times, 1 visits today)

4 Comments

  1. Pingback: Teori dan Teknik Foto Bokeh – Stuff 4 Read.com

  2. Pingback: Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital – Stuff 4 Read.com

  3. Andri June 10, 2019 at 1:02 pm

    Bisa dibahas juga kenapa hp samsung mid range menggunakan f/1.9 tapi hasilnya kalah bagus dibanding mid range hp lain yang cuma f/2.0?
    Juga kenapa iphone xs dan pixel 3 sama-sama menggunakan f/1.8 tapi hasil low lightnya (tingkat noise, ketajaman, dan freezing) jauh lebih bagus pixel 3 ?

    Reply
    1. stuff4read.com - Site Author June 10, 2019 at 1:17 pm

      Kalau masalah image quality seperti noise, freezing (yang berarti shutter speed), dan kemampuan low light, akan sangat dipengaruhi oleh sensor yang digunakan. Image quality hampir tidak di pengaruhi oleh f-stop yang digunakan.

      Mengapa? Karena perbedaan pengaruh f-stop akan sangat terasa apabila dibandingkan dengan kamera digital/DSLR/mirrorles (yang bersensor besar).

      Perbedaan f-stop antara sesama handphone, berarti perbedaan sekitar 0 koma sekian milimeter. Sangat tipis. Hasil fotonya akan lebih dipengaruhi oleh sensor yang digunakan dan aplikasi yang mengolah foto tersebut (seperti di android, yang terkenal dengan Google Camera nya).

      Reply

Leave a Reply