iPhone 6s, rilis 25 september 2015, atau hampir 5 tahun yang lalu.

Bahkan di waktu rilisnya pun, walau berstatus flagship, terbaik, dan terbaru milik Apple, spesifikasinya ‘biasa’ banget kalo dibandingin sama Android.

Udah lah speknya biasa, harga kelewat mahal, dan itu 4 tahun yang lalu. Nah masalahnya, sekarang udah 2020.

Jangankan buat dibeli, sekedar di omongin pun, emangnya masih layak??

Pertanyaan itu akan gw jawab dengan beberapa penjelasan dibawah ini, dimana gw pake iPhone sampe beberapa bulan yang lalu (desember 2019).

Ingat, iPhone 6s. Bukan iPhone 6 ya (atau iPhone 6 Plus). iPhone 6, yang pake ‘s’.

Gw akan tampilin kesimpulannya dulu, jadi kalo penasaran sama detailnya bisa dibaca di bagian bawah:

Performa: Masih setara smartphone mid range Android 2020.
iOS: Pake iOS yang sama dengan yang dipake iPhone 11. Sementara ga semua smartphone Android support (atau disediain update) OS Android 10.
Desain: Cukup ‘baru’, mirip iPhone 8 (2017). Kecil, enak di genggam atau masuk kantong. Rata-rata smartphone 2020 ukuran gede, biasanya 6.5 inch. Tapi memang kalah kece dibanding Android jabrik atau iPhone 2019.
Koneksi kabel: iPhone terakhir yang masih pake jack audio dan konsisten dengan lighting-nya.
Kamera foto: 12 megapixel dan bisa RAW (dalam format dng).
Single camera: Hampir semua smartphone 2020 minimal udah dual camera ‘bokeh maksa’. Makin rendah kelasnya, makin maksa hasilnya. Tapi sekarang kebanyakan Android 2020 udah quad kamera.
Kamera video: Udah 4k 30 fps, setara smartphone baru 2020. Dan bisa slo-mo juga sampe 240 fps. Ga semua smartphone bisa slo-mo, apalagi sampe 240 fps.

Spesifikasi

Hari ini, rata-rata smartphone Android udah pake processor quad, hexa, octa atau apapun lah namanya dengan core clock diatas 2 GHz.

iPhone 6s hanya pake processor A9 dual core dengan core clock 1.85 GHz. Cuma 2 core, dan clock dibawah 2 GHz pula!

Belum lagi urusan RAM, iPhone 6s cuma 2 GB. Android 2020 yang bukan flagship aja bisa punya RAM 6GB hingga 8GB. Jauh!!

Memang efektifitas kerja antara hardware dengan software (iOS) pada iPhone sangat jauh lebih baik dibanding Android. Processor (yang di desain oleh Apple sendiri) dipasangkan dengan hardware (yang dirakit oleh Apple sendiri) dan difungsikan seefektif mungkin dengan iOS (yang juga dibuat oleh Apple sendiri).

Ilustrasinya, se simpel nanya dapur ke pemilik rumah. Pemilik rumah menjawab dengan sangat mudah. Ga pake mikir, apalagi nanya ke orang lain.

Fokus Apple lebih ke gimana hardware dan software tersebut terus bekerja dalam kondisi seefektif mungkin. Jadi ga cuma ngejar jumlah core atau clock tinggi atau RAM besar, tapi komunikasi hardware dengan software kurang efektif.

Sementara Android, processor-nya diproduksi oleh pihak lain (misal Quallcom, Kyrin, Exynos, dsb), digunakan dengan hardware dari produsen lain (misal Samsung, Xiaomi, Huawei dsb), dan dipasangkan software milik pihak lain (Android itu sendiri, yang dikembangkan oleh google).

Ilustrasinya, tamu A nanya ke tamu B dimana letak dapur. Mungkin mereka berdua akan nanya ke orang lain, atau nyari pemilik rumah, atau berdua akan sama-sama nyari sendiri dimana dapur itu berada. Akan ada penurunan efektifitas (baik hardware maupun software) melalui flow yang seperti itu.

Sebenarnya ada data benchmark yang bisa dilihat di Mobile Benchmark. Secara single core, iPhone 6s (A9) masih bisa nyaingin beberapa smartphone Android yang pake Snapdragon 845. Dimana Snapdragon 845 termasuk processor flagship untuk Android, misalnya Samsung S9, Google Pixel 3 XL atau Xiaomi Pocophone.

Tapi secara multicore, iPhone 6s malah dibawah Snapdragon 660, processor kelas mid-range Android terbaik saat ini (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Dibawah rata-rata smartphone mid-range tahun 2020.

Terus kenapa masih ngomongin iPhone 6s??

Nilai benchmark, didapat karena menggunakan semua resource yang ada dalam smartphone itu. Menggunakan semua core processor-nya, dengan clock tertingginya. Agar menghasilkan angka benchmark setinggi mungkin.

Masalahnya, processor itu bukan seperti silinder pada mobil, dimana setiap silinder memiliki ukuran yang sama dan semuanya saling bekerja sama untuk menghasilkan tenaga yang besar. Processor smartphone, lebih tepatnya seperti pisau dapur. Untuk motong sayur, kita pake pisau kecil. Untuk motong daging, kita pake pisau yang gede. Dan untuk motong tulang, kita pake pisau yang paling gede.

Dalam penggunaan harian, resource yang ada akan bekerja sesuai kebutuhan. Dan seringkali, hanya beberapa core yang bekerja dalam satu waktu.

Single Core

Kalo secara single core, A9 setara dengan Snapdragon 845 sekitar 2300 point. Snapdragon 845 ada di smartphone yang harganya sekitar 10 jutaan (Samsung Note 9, Sony Xperia XZ2, Google Pixel 3, Xiaomi Pocophone, dll).

Malah keliatan mencolok sendirian, Apple A9 dual-core diantara semua processor Android 8 cores.

Multi Core

Kalo secara multicore, iPhone 6s setara dengan Samsung Galaxy S6, Xiaomi Mi Mix, atau Samsung A7. Memang kalah jauh dibanding Snapdragon 660 (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Multicore A9 hanya 3915 point sedangkan Snapdragon 660 sekitar 5600 point.

Tapi ya, balik lagi, ga ada data yang menjelaskan dalam penggunaan harian semua resource digunakan seperti pada saat benchmark.

Karena dalam penggunaan harian, silahkan dibandingin langsung kenyamanan make iPhone 6s dibanding, langsung aja, bandingin dengan android-android flagship 2019. Karena dalam penggunaan harian, semua processor dengan clock tertingginya beserta RAM berkapasitas besarnya, ga digeber seperti waktu nyari point benchmark itu.

Singkatnya, kecuali kalo processor A9 udah kelewat jauh dibanding rata-rata processor saat ini (Snapdragon 425/625/636 dsb), dan sekaligus bener-bener udah ga layak banding sama Snapdragon 845, berarti gw percuma bikin postingan ini 😉

*penggunaan baterai gede ga selalu berarti untuk ‘kepuasan’ penggunanya. Tapi lebih karena memang kebutuhan daya untuk hardware-nya yang tinggi (menjalankan processor quad/hexa/octa core, dan RAM 4GB/6GB/8GB, dsb). iPhone ga butuh baterai gede karena kebutuhan hardware lebih rendah (dual core dan clock dibawah 2GHz, RAM 2GB)

**karena kebutuhan daya yang tinggi, diperlukan baterai berkapasitas besar (agar ga cuma habis karena hardware), sehingga dibutuhkan fitur fast-charging. iPhone ga pake fitur fast-charging karena kapasitas baterai yang harus diisi tidak terlalu besar.

Tapi sepanjang apapun penjelasan gw, pastinya akan susah diterima kalo emang belum pernah ngerasain lamgsung. Kalo memang punya kesempatan, silahkan coba bandingin langsung iPhone 6s dengan Android mid-range 2019. Main-main ke konter hp misalnya 😉

iOS

Apple masih men-support semua produknya yang udah pake processor 64 bit. Termasuk iPhone 6s ini, yang udah berumur 5 tahun.

Jadi iPhone 6s make iOS yang sama persis dengan mereka yang pake iPhone 11 (yang baru rilis beberapa bulan yang lalu dan harganya belasan juta). Kecuali kalo iPhone 6s udah ga support iOS terbaru (misalnya iPhone 6).

Sementara ga semua Android punya dukungan yang seperti ini. Malah kebanyakan, kita harus ganti smartphone buat bisa ngerasain Android versi terbaru. Android harus mengganti smartphone, katakanlah, setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Desain

Gw sebenarnya masih lebih suka desain dari iPhone 5 (atau 5s atau SE). Kotak, keliatan lebih kokoh, dan berukuran lebih kecil. Tapi yah, kita ga ngebahas tentang iPhone 5 disini.

iPhone 6s masih mirip dengan iPhone seri baru (iPhone 7 dan iPhone 8). Artinya, ga ketinggalan jaman. Karena memang mulai dari iPhone 6 desain iPhone udah mulai mirip-mirip aja semuanya. Walau kalo dilihat dari layarnya, jelas beda dari iPhone X atau seri Android baru yang full frame dan pake jabrik.

Kecuali maunya pake iPhone yang jabrik, silahkan cari budget buat tebus seri X keatas hehe…

Kalo Android sebenernya hampir semua Android sekarang kayanya udah pake jabrik dan harganya jauh lebih terjangkau. Tapi ya, sayang aja cuma demi tampilan kece tapi performanya bikin greget.

Selain itu, iPhone 6s Plus punya spek sama dengan iPhone 6s. Tapi gw sendiri lebih suka iPhone 6s, karena ukurannya yang kecil. Sementara hampir semua smartphone, termasuk iPhone sendiri(7 Plus, 8 Plus, X, dst), udah mulai berukuran gede-gede. Agak susah digenggam atau buat masuk kantong.

Koneksi Kabel

Kalo mau smartphone dengan performa bagus ga ketinggalan jaman, dan ga perlu aksesoris mahal, iPhone 6s adalah seri terakhir yang masih nyediain jack audio. Jadi ga perlu keluar duit beli adaptor lightning atau wireless earphone yang harganya terlalu tinggi. Belum lagi beresiko hilang.

Kecuali kalo memang di 2020 (atau 221 nanti) jack audio udah ga dipake lagi (udah ga dijual lagi), ya berarti iPhone 6s udah ga layak pake.

Kamera Foto

Sebenarnya image quality iPhone 6 (8 megapixel) masih lebih baik dibanding iPhone 6s (12 megapixel). Apalagi kamera depan iPhone 6.

Karena ukuran megapixel harusnya sejalan dengan ukuran sensor. Masalahnya, jaman sekarang ukuran megapixel justru berbanding terbalik dengan ukuran sensor. Sementara ukuran sensor masih segitu-gitu aja, tapi makin hari megapixel-nya makin gede. Efeknya, image quality turun.

Ilustrasinya, plastik berdiameter 1 meter dipake buat nutup baskom berdiameter 1 meter. Persis sesuai ukurannya (baca:kemampuan).

Sedangkan prakteknya, plastik berdiameter 1 meter nutupin baskom berdiameter 2 meter. Yang ada plastiknya ketarik-tarik.

Ngomongin image quality ini hubungan ke photographer, atau photographer wanna be 😀 Dimana foto itu ga cuma urusan jepret dan share. Biasanya, foto-foto yang ada harus di edit terlebih dahulu. Dan dalam proses editing ini, akan terasa perbedaan (penurunan image quality) dari foto-foto dengan megapixel gede.

Karena itu smartphone flagship kaya Samsung Note 9, atau Google Pixel 3, atau iPhone X cuma pake kamera 12 megapixel. Harga udah belasan juta tapi megapixel-nya cuma segitu?

Banyak smartphone Android yang harganya cuma 1 atau 2 juta tapi bisa ngasilin 16 sampe 20-an megapixel. Kenapa coba?

Kamera digital aja (DSLR atau mirrorless) yang jelas-jelas fungsi utamanya buat bikin foto dan ga bisa nelpon cuma bisa ngasilin 16-24 megapixel. Kenapa smartphone bisa ngasilin megapixel lebih gede?

Detail tentang megapixel ini bisa diliat disini.

Seperti yang tadi gw bilang, masih lebih bagus image quality dari iPhone 6, karena cuma 8 megapixel. Tapi spek iPhone 6 masih di bawah iPhone 6s.

Ini alasan kedua kenapa iPhone 6s masih layak di tahun 2020 ini. Karena kameranya masih super untuk tahun 2020. Belum lagi, karena iPhone 6s udah bisa ngasilin foto RAW. Lagi-lagi, fitur yang sama persis dengan iPhone Xr atau Xs yang harganya belasan juta. Sama sekali belum ketinggalan jaman, masih sangat layak, walau umurnya udah 5 tahun.

Gw kurang tau smartphone Android apa yang bisa ngambil foto RAW.

Single Camera (ga bisa bokeh)

Dalam teori fotografi, bokeh itu harus didukung bukaan lensa yang gede (bukan angka f-stop, tapi diameter bukaan lensa yang sebenarnya: dalam ukuran milimeter atau centimeter).

Secara teori, kamera smartphone ga bisa bikin bokeh. Jangan samain f/2.0 di smartphone dengan f/2.0 di DSLR. Detailnya ada disini.

Jadi efek bokeh di smartphone diakalin pake manipulasi 2 kamera yang ngambil 2 fokus yang beda. Masalahnya, manipulasi itu instant dan otomatis. Kalo manipulasi manual mungkin bisa dibikin lebih real (atau meminimalisir kesan ‘maksa’) tapi pastinya ga bisa instant sekali jepret langsung jadi.

Dengan manipulasi instant dan otomatis, seringnya bokeh yang dihasilin meleset atau ya, maksa. Walau ga jarang fine-fine aja.

Kamera Video

Urusan kamera (baik foto atau video) iPhone memang terkenal punya kualitas bagus. Termasuk iPhone 6s ini. Dan walaupun udah berumur 4 tahun tapi mendukung semua kebutuhan video buat hari ini; 4K video dan slow-motion. Masih bisa ngikutin kemampuan iPhone 11 atau kemampuan smartphone flagship Android yang harganya belasan juta. Ga semua Android bisa video 4K apalagi untuk slow-motion.

Kecuali kalo misal semua smartphone yang ada hari ini udah bisa rekam 4K sekaligus slow-motion, berarti iPhone 6s ga semencolok bahasan gw ini.

Atau, kecuali kalo resolusi video smartphone terbaru udah masuk ke teknologi 6K atau 8K, udah ga jamannya 4K lagi.

Atau, kecuali kalo semua smartphone yang ada bisa bikin slo-mo diatas 240 fps atau lebih, berarti iPhone 6s biasa-biasa saja.

Harga

Dengan umurnya yang udah lewat 4 tahun, harusnya iPhone 6s udah ga ada yang baru. Pilihannya antara seken atau preloved, refurbished vendor, atau refurbished CPO dari Apple sendiri.

Harga seken iPhone 6s hari ini berkisar antara 2 hingga 3 juta. Dimana untuk kisaran harga itu, setara dengan Android mid-range baru (2020).

Karena terakhir gue beli Asus Zenfone Max Pro M2 dengan harga yang sama. Untuk perbandingan antara harga dengan performa, gue sangat merekomendasikan iPhone 6s dibanding Android mid-range 2020.

* * *

Jadi ga cuma sekedar layak diomongin, iPhone 6s memang masih sangat layak dipake di tahun 2020. Performa (processor, atau RAM, atau bahkan batre) yang masih OK, fitur dan kemampuan kamera yang masih sangat layak, dan harga yang jatohnya lebih murah dibanding smartphone 2020 yang setara.

Terakhir

Tentunya ada banyak hal (diluar performa atau berbagai point yang gue sampein di atas) yang membedakan iPhone dengan smartphone lain.

Salah satunya adalah masalah kostumasi.

Android lebih dinamis, selain dari kostumasi dari produsennya sendiri, kita sebagai user juga bisa melalukan kostumasi tambahan. Dimana berbagai hal tersebut akan beresiko terhadap stabilitas sistem. Jadi yang namanya bug, crash atau hang itu adalah hal yang biasa di Android.

Sementara update OS bisa dikatakan sangat jarang dan terbatas, sehingga untuk menutupi bug, crash, atau hang tersebut, biasanya update dilakukan melalui aplikasinya sendiri (bukan melalui operating system-nya).

Jadi setiap 2/3 hari sekali selalu ada update terbaru dari aplikasi-aplikasi yang terinstall. Satu kondisi yang buat gue sendiri cukup mengesalkan.

Karena untuk setiap beberapa hari sekali harus ngabisin kuota buat update-update tersebut.

Sementara iPhone sangat-sangat minim kostumasi. Apple mengontrol penuh berbagai hal yang ada di iPhone, bahkan sejak dari lock-screen.

Dan didukung dengan update operating system secara regular disediakan melalui OTA (misalnya dari iOS 12.1 hingga iOS 12.4). Jadi iPhone sangat-sangat minim bug, crash, atau hang. Stabilitas sistem menjaga sangat terjaga.

Sehingga update aplikasi yang terinstall pun menjadi ga terlalu sering. Ga banyak kuota yang harus terbuang karena berbagai update aplikasi.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply