Awalnya dari ngedit video temen yang suka ikut marathon. Walaupun keliatannya ‘cuma lari doang’, tapi ternyata modalnya gede juga.

Bajunya, celana, sepatu, belum lagi biaya daftar event marathon itu sendiri. Dan salah satu yang paling mahal adalah fitness tracker-nya. Kebetulan, dia pakenya yang merk Garmin. Jutaan sih..

Beres ngedit video itu gue jadi penasaran sama alat ini. Tapi gue kan bukan pelari profesional. Belum lagi, budget pas-pasan. Ya kali kaya gue mau beli Garmin juga. Budgetnya ga bisa buat smartwatch, paling cuma bisa buat smartband (yang juga punya fitur fitness tracker).

Update!! Ada beberapa update yang gue selipin di bagian-bagian tertentu yang ditandai dengan tulisan tebal (bold). Update-nya berkaitan dengan Mi Band 4 punya teman gue.

Sebelum mutusin beli, ada 4 smartband yang masuk pilihan gue; Huawei Band 3 Pro, Mi Band 4, Samsung Fit-E, dan Honor Band 5.

Ke 4 nya masuk dalam kategori smartband. Selain karena bentuknya yang memanjang selayaknya band (gelang), bukan bulet atau kotak (square), harganya pun dalam range yang sama. Samsung Fit-E dan Huawei Band 3 Pro sekitar Rp. 650.000. Sedangkan Mi Band 4 dan Honor Band 5 sekitar Rp. 450.000.

Eliminasi pertama gue adalah display dari smartband tersebut. Gue eliminasi Samsung Fit-E dan Huawei Band 3 Pro karena display-nya belum AMOLED. Karena gue ngeliat smartwatch temen gue yang lain, Amazfit Bip, yang kualitas display-nya menurut gue biasa banget. Malahan yang Samsung Fit-E masih monokrom.

Jadi, Mi Band 4 dan Honor Band 5 display-nya udah pake AMOLED. Berwarna, pixel yang lebih rapet, dan pasti lah lebih kece dibanding yang bukan AMOLED.

Jadi tersisa 2 pilihan ini, Mi Band 4 atau Honor Band 5 yang walaupun, FYI, keduanya belum resmi ada di Indonesia. Di official website Mi Indonesia, smartband ter-update-nya masih Mi Band 3. Sedangkan di official website Honor global ter-update Honor Band 4 (Honor Indonesia cuma jualan smartphone, jadi sama sekali ga ada smartband atau pun smartwatch).

Dari riset lanjutan melalui artikel, berita, atau video (yang kebanyakan tentang Mi Band 4 dan sangat sedikit sekali yang membahas Honor Band 5), buat gue ada 2 hal paling mencolok diantara keduanya.

Bahkan cuma lewat foto (atau video), gue jauh lebih suka desain Mi Band 4! Simple dan sekaligus low profile. Sejalan dengan fungsinya sebagai data collector terhadap aktifitas si pemakai. Jadi ga perlu terlihat elegan sebagai aksesoris (hiasan) sekaligus.

Sementara Honor Band 5 kelihatan lebih elegan. Tapi bukan karena ke-eleganan-nya ya, memang gue lebih sreg aja sama desain Mi Band 4. Walaupun, Honor Band 5 punya 1 fitur tambahan yang ga ada di Mi Band 4, oxygen saturation.

Pilih desain yang lebih kece, tapi ga ada fitur oxygen saturation. Atau pilih yang ada oxygen saturation tapi desainnya kurang gue suka. Dua hal yang membuat gue galau.

Jadi, kalo diulang dari bahasan awal, gue bukan pelari profesional (atau yang giat berolahraga). Apalagi budget pun terbatas. Kenapa ga beli yang fiturnya lebih komplit aja. Karena ini kan fitness tracker, bukan jam yang akan gue pake setiap hari. Bukan sesuatu yang akan jadi aksesoris gue dalam berbagai kegiatan. Dan menurut gue, ga masuk dalam daftar device/gadget yang akan gue upgrade suatu saat nanti.

Beda ya kalo misalnya ngomongin smartphone, atau laptop, atau misalnya smart TV. Suatu saat mungkin device/gadget itu akan out-of-date, terasa lemot, atau ketinggalan fitur/teknologi baru. Dengan meng-upgrade (mengganti) ke yang lebih baru, performanya jadi lebih baik dan (biasanya) kebagian fitur/teknologi terbaru yang ada saat itu.

Tapi kalo ngomongin smartband, gue rasa ga ada yang namanya degradasi perfoma. Karena setiap data yang diambil langsung ditransfer ke handphone. Dan, kalo ngomongin evolusi, ga banyak evolusi di area ini.

Fitness tracker (baik smartband atau pun smartwatch), adalah kompilasi antara pedometer, accelerometer dan altimeter buat ngumpulin data aktifitas. Kalaupun ada evolusi, ditambahin jam (karena pada dasarnya fitness tracker hanyalah alat kecil yang ga butuh display). Kalaupun ada evolusi, ditambahin music player controller atau remote camera shutter. Kalaupun ada evolusi, ditambahin informasi cuaca. Kalaupun ada evolusi, bisa me-relay notifikasi yang ada di smartphone.

Fitur-fitur out of the box yang walaupun memang berguna, tapi kadang gue ngerasa sebenarnya itu lebih ke urusan strategi penjualan dari produsennya. Menambahkan fitur sebanyak-banyaknya (walaupun ga ada hubungan sama sekali dengan fitness atau kesehatan), agar produknya terjual lebih banyak.

Evolusi gede dan paling penting yang ada di smartband (atau pun smartwatch) adalah adanya fitur heart rate detector. Yang lalu dikembangkan menjadi ada sleep analyze, dan sekarang ada fitur blood oxygen saturation.

Jadi kira-kira akan ada evolusi apa lagi (yang berhubungan dengan fitness/kesehatan) di smartband (atau smartwatch) nantinya?

Jadi gue rasa Honor Band 5 ini udah sangat mewakilkan semua kebutuhan (yang berhubungan dengan fitness/kesehatan) baik hari ini atau mungkin beberapa tahun ke depan. Ini lah yang membuat gue memutuskan memilih Honor Band 5.

Kemasan

Pesen di toko online pake gojek instant. Semua tulisan yang ada di box-nya berbahasa Cina. Kecuali angka 5, dan nama Honor itu sendiri di bagian depan. Setelah di buka, manual-nya pun berbahasa Cina.

Beda dengan Mi Band 4, ada versi Cina dan versi global. Yang versi Cina berbahasa Cina semua, nyala dalam bahasa Cina (yang otomatis berganti ke bahasa inggris kalo udah konek ke smartphone), dan manual-nya pun cuma lembaran kertas berbahasa Cina. Sedangkan versi globalnya box-nya campuran antara inggris dan Cina, nyala dalam posisi bahasa inggris, dan manual-nya berbentuk buku dalam beberapa bahasa.

Sedangkan Honor Band 5 ini, yang bahkan di official website-nya sendiri belum ada informasi apapun, semuanya berbahasa Cina. Nyala pertama dalam posisi bahasa Cina. Manualnya pun lembaran kertas berbahasa Cina.

Tapi..

Menurut gue smartband ini kelihatan mewah. Memang, harganya ga 100-200 ribu. Karena gue pernah liat smartwatch 200 ribuan di salah satu konter hp, yang kelihatan ‘barang cina banget’. Jadi sebelumnya gue sempet underestimate karena Honor (atau Huawei itu sendiri) memang perusahaan Cina.

Tapi finishing Honor Band 5 ini nya bagus dan rapi. Diluar bayangan gue ya, kalo dibandingin sama smartwatch 200 ribu yang pernah gue liat itu.

Kuncian strap-nya ada logo honor dan dibagian bawah strap-nya ada signature dari Huawei. Strap-nya lembut, dengan desain seperti strap jam pada umumnya. Dibanding strap Mi Band 4 yang mirip Apple Watch yang karena posisi lobang-lobangnya katanya seringkali ga bener-bener pas sama pergelangan tangan dan agak sulit dipasang karena harus di tekan.

HUAWEI TECHNOLOGY CO.LTD
SHENZHEN.516129.PRC MADE IN CHINA
Signature di bagian dalam strap.

Selain itu Honor Band 5 ini terasa lebih praktis karena bisa di charger langsung tanpa harus ngelepas strap.

Mi Band 4 juga punya desain dan finishing yang bagus dan rapi. Sama-sama kelihatan mewah. Tapi untuk selera pribadi, gue sendiri lebih suka desain dari Mi Band 4.

Btw, sempat bingung gimana cara nyalain smartband ini. Ga ada tombol fisik. Manual-nya pun dalam bahasa Cina yang setelah di scan pake google translate, ga ada bagian yang ngejelasin cara nyalain smartband ini. Setelah googling, ternyata harus di konek ke charger.

Update Firmware

Install dan buka aplikasi Huawei Health, memang ada pilihan Honor Band 5 (padahal di official website-nya aja belum ada). Pairing, bahasa di smartband langsung berganti ke english, dan ada notif untuk update firmware.

Langsung pilih update. Layar di smartband berubah ke gambar panah dengan lingkaran muter-muter. Sampe progress 100%, smartband masih dengan panah dan lingkaran muter-muter, tapi status di aplikasi disconnect. Kok disconnect??

2 menit, 5 menit, kok stuck disitu?? Nyari di google ga ada informasi apa-apa. Baru mau nge-chat penjualnya, eh layarnya udah di tampilan jam.

Waw, memang beda. Jelas lebih bagus dari display di Amazfit Bip punya temen gue. Walaupun, tampilan ikon atau watch face-nya biasa aja. Display sih udah AMOLED, berwarna dan nyala lebih bagus. Tapi watch face dan icon-icon-nya kok biasa aja ya. Kurang greget gitu. Swipe-up, swipe-down atau swipe-right sepertinya udah jadi fungsi standar pengoperasian smartwatch atau smartband.

Cek aplikasi, ternyata ada notifikasi update lagi. Oke, gue harus baca dulu. Salah satunya tentang optimalisasi pilihan workout, dan di bagian bawahnya ada catatan membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Jadi sepertinya memang proses update-nya lama.

Langsung gue update lagi.

Setelah sekitar 20 menit ternyata smartband-nya nge-restart, dan setelah boot-up ternyata tampilannya lebih oke!! Berasa banget ya, kalo display AMOLED didukung desain watch face atau icon yang cakep. Ikon-ikonnya lebih kece karena pake background berwarna.

Beda dengan icon yang ada di Mi Band 4, icon-icon Honor Band 5 kelihatan lebih kece.

Menu

Default-nya ada 8 menu; pedometer (catatan langkah), sleep analyze, message (relay notifikasi dari smartphone), workout (pilihan aktifitas), heart rate, blood oxygen, more (atau setting), dan Alipay.

Icon-nya ga cuma gambar orang lari. Tapi dikasih background pendaran warna orange di belakangnya.

Gue rasa cukup. Ga ada yang kurang dan gue ga mikirin lebih.

Fitur kebugarannya (fitness) komplit; pedometer, workout, sleep analyze, heart rate detector, dan blood oxygen saturation detector. Ada 5 point.

Layarnya responsif buat swipe-up, swipe down, swipe-right dan tombol utama dibagian bawah dengan lingkaran putih.

Aplikasi Huawei Health

Aplikasinya juga punya 5 card (bagian informasi) yang anehnya, justru nampilin informasi weight ketimbang blood oxygen.

Jadi 4 informasi lain tetap ada; pedometer, heart rate, workout, sleep analyze, dan, weight(?). Ga ada bagian khusus untuk blood oxygen saturation. Jadi menu blood oxygen saturation ini hanya ada di smartband.

Di bagian setting, semuanya adalah detail setting untuk smartband itu sendiri. Jadi aplikasi Huawei Health ini minim kostumasi, tapi punya kostumasi komplit buat smartband-nya.

Ada pilihan buat ngeaktifin fitur Huawei TruSleep yang katanya lebih akurat dalam mendeteksi tidur.

Pilihan untuk continuous heart rate monitoring untuk terus menerus mengukur detak jantung. Jadi kita ga perlu manual harus buka menu heart rate di smartband. Pilihannya juga ada 2, smart monitoring nentuin sendiri kapan akan mengukur detak jantung berdasarkan aktifitas yang sedang dilakukan, dan real-time yang berarti terus menerus mendeteksi selama 24 jam. Tentunya dengan catatan akan lebih menguras daya.

Ada juga menu alarm, jadi bisa di set lewat smartphone dan otomatis update ke smartband-nya.

Walaupun ga ada menu DND (do not disturb) di smartband, tapi fitur DND bisa diaktifin lewat aplikasi. Malahan ada beberapa pilihan untuk DND salah satunya untuk auto DND kalo smartband-nya lagi gak kita pake. Jadi lebih irit daya dan ga lucu juga tau-tau smartband-nya getar atau layarnya nyala padahal cuma ditaro di atas meja.

Ada pilihan untuk kostumasi menu utama smartband. Salah satunya, gue menonaktifin menu Alipay karena ga bisa dipake di Indonesia. Dari awalnya ada 8 menu, tinggal 7 menu.

Jadi menurut gue Honor Band 5 ini bener-bener fitness tracker yang sesuai dengan fungsinya. Dari 7 menu, 5 adalah menu kesehatan walau ada 2 menu pendukung (setting dan notifikasi).

Kalaupun ada menu atau fitur tambahan, disimpan di dalam menu setting (misalnya alarm, stopwatch, atau watch faces). Tapi bukan sebagai menu utama. Malah gue sendiri lebih milih kalo menu notifikasi dimasukin ke menu setting sekalian. Biar ada 6 menu, 5 menu aktifitas dan 1 menu pendukung. Tapi begini pun menurut gue udah oke.

Jadi ga perlu repot apalagi sampe membuang waktu karena terlalu banyak menu yang sebenarnya ga dibutuhin. Ga perlu menu khusus untuk music player atau remote camera shutter, ga perlu menu khusus untuk bluetooth atau koneksi-koneksi lain, ga perlu menu atau fitur lain yang ga ada hubungan dengan fitness, ga perlu menu-menu lain yang mungkin saja hanya sekedar strategi marketing dari produsennya.

Tapi minim menu ga berarti minim kemampuan dan ga bisa diapa-apain. Karena semua menu dan fitur yang ada bisa di akses dan di kostumisasi dari aplikasinya. Jadi fungsi smartband-nya lebih maksimal. Ga perlu sering disentuh, ga perlu sering di setting, dan sebenernya malah, ga sesering itu juga buat kita liat.

Buat gue ini adalah fitness tracker yang sebenarnya. Cuma 2 alasan buat gue ngeliat dan nyentuh smartband ini; melihat waktu (jam), dan untuk mengukur blood oxygen saturation (karena memang cuma ada di smartband).

Akurasi

Kalo dibandingin sama Amazfit Bip atau Huawei Band 3 Pro, Honor Band 5 ini (dan Mi Band 4) memang ga ada GPS-nya. Tapi paling ga Honor Band 5 ini (dan juga Mi Band 4) bisa ngambil data GPS dari smartphone yang di pairing. Jadi rasanya ga harus spesifik pake fitness tracker yang ber-GPS. Belum lagi ngomongin kualitas GPS-nya, yang belum tentu selalu akurat.

Tapi untuk pedometer-nya, data dari Honor Band 5 ini hampir sama dengan data dari data Google Fit (aplikasi) gue yang ada di smartphone yang lain (ga pairing dengan smartband).

Data di atas adalah langkah gue seharian penuh.  Memang bener seharian gue ga lari, jadi walking persis 100%. Cuma berhubung belum ada halaman resmi Honor Band 5 ini di official website-nya, setau gue memang Honor Band 5 memang ga support untuk tracking climbing (perpindahan ketinggian/berpindah lantai).

Untuk heart rate monitoring, karena hampir semua smartband atau smartwatch, baik yang murah sampe yang mahal sekalipun pake sensor Photo Plethys Mograph (PPG). Sementara secara medis, deteksi denyut jantung dilakukan menggunakan sensor Elektro Cardiography (ECG).

Jadi harusnya akurasi data antara sesama sensor PPG ga akan jauh beda selama pemakaian smartwatch/band ‘benar’ (dianggap benar apabila sensor/LED tidak tertutup kotoran, menempel dengan baik di kulit, dan tubuh dalam keadaan diam).

Gue sendiri nyalain continuous heart rate monitoring 24 jam dan hasil monitoring di aplikasi ditampilkan seperti ini.

Data ditampilin dalam bentuk grafik yang berwarna. Tapi sayang detail grafiknya ga bisa di zoom. Jadi misalnya di grafik di atas, heart rate 122 bpm gue ada di antara jam 6 hingga jam 12. Karena ga bisa di zoom jadi gue cuma bisa nginget-nginget itu sekitar jam 08:00 sampai 09:00 waktu gue lagi berangkat kerja.

Beberapa jam setelah gue menerima smartband ini, gue sempet ketiduran yang ‘seinget’ gue sekitar 1 jam. Gue sempet liat jam 16:25 sebelum tidur dan gue bangun jam 17:30. Data yang terekam gue tidur 58 menit. Gue rasa akurasinya pas, walau aplikasi Huawei Health menjelaskan untuk mengaktifkan dan mendapatkan data TruSleep dibutuhkan waktu tidur lebih dari 3 jam.

Kalo waktu tidurnya kurang dari 3 jam Huawei TruSleep-nya ga bisa ngasih analisa. Data tidur kurang dari 3 jam hanya ditampilan seperti gambar dibawah ini.

Jadi data tidur gue terekam hanya sebagai normal sleep, walau heart rate terendah gue di sore itu tercatat sampai 62. Masih wajar sih ya, karena detak jantung diwaktu tidur itu antara 50-80.

Tapi kalo waktu tidurnya lebih dari 3 jam, Huawei TruSleep-nya bisa ngasih data yang komplit beserta grafiknya yang berwarna. Seperti gambar dibawah ini.

Untuk sensor blood oxygen saturation gue kurang punya perbandingan. Dalam dunia medis salah satu tekniknya memang menggunakan sensor (teknik lain yaitu dengan mengambil darah dari pembuluh arteri, yang katanya lebih sakit).

Baca-baca artikel tentang ini gue jadi inget beberapa tahun yang lalu waktu temen gue beli Samsung Galaxy Note 5 yang punya fitur blood oxygen measure. Di sebelah kameranya ada 2 sensor tambahan. Bedanya blood oxygen saturation di Note 5 itu diukur dengan menempelkan ujung jari di sensor tersebut (bukan di pergelangan tangan).

Dan FYI, sistem deteksi blood oxygen dengan sensor ini punya tingkat kesalahan 2%. Dua persen kalo menurut gue sangat-sangat rendah dan sangat bisa diterima dibanding nyolok-nyolok pembuluh arteri. Bener?

Jadi fitur blood oxygen saturation ini adalah satu-satunya fitur yang ga tercatat dan ga ditampilkan di aplikasi. Hanya bisa di akses dan digunakan dari smartband-nya sendiri, dan berlaku untuk satu waktu saja (saat kita klik menu itu aja).

Dan BTW, data blood oxygen saturation hanya ditampilkan dalam nilai persentase. Jadi ga ada istilah medis di smartband ini. Ga ada nilai sekian per sekian atau semacamnya. Hanya 0%-100% dan 95-100% dianggap kadar oksigen normal.

Untuk menu workout belum bisa gue coba, karena memang gue bukan orang yang aktif berolahraga 😀

Kesimpulan

Secara keseluruhan gue suka smartband ini. Berfungsi sesuai dengan kebutuhan gue, dan memang menegaskan definisi dari fitness tracker itu sendiri. Bukan device multi-purpose tanpa tujuan yang jelas. Bukan device multi-purpose yang dengan segala macam fiturnya tapi kemudian dilabeli sebagai fitness tracker. Dan bukan fitness tracker yang ber-price tag tinggi hanya karena memiliki fitur-fitur yang sebenarnya ga berhubungan dengan fitness itu sendiri.

Kalaupun ada kekurangan dan harapan peningkatan, ada 3 hal yang menjadi catatan gue.

1. Desain

Diluar urusan selera gue, Honor Band 5 ini kembar siam sama kakaknya Honor Band 4. Setidaknya Mi Band 4 ada sedikit perbedaan dengan Mi Band 3.

Tapi tetap, gue ga bisa nutupin selera pribadi gue. Buat gue Mi Band 4 kelihatan lebih kece. Entah dalam bentuk apa, andai Honor Band 5 ini (atau Honor Band 6 nantinya) punya desain yang beda.

2. Menu Message/Notification

Seandainya menu ini digabung ke more (menu setting), jadi menu utama lebih clear hanya untuk aktifitas.

3. Blood Oxygen di aplikasi Huawei Health

Entah karena belum ada, atau mungkin memang gak dibutuhin. Karena menu ini hanya ada di smartband dan ga ada catatan atau menu khusus di aplikasi. Tapi bisa jadi memang blood oxygen saturation memang gak perlu dipantau secara khusus.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply