Posts tagged android

iPhone 6s di 2020??

iPhone 6s, rilis 25 september 2015, atau hampir 5 tahun yang lalu.

Bahkan di waktu rilisnya pun, walau berstatus flagship, terbaik, dan terbaru milik Apple, spesifikasinya ‘biasa’ banget kalo dibandingin sama Android.

Udah lah speknya biasa, harga kelewat mahal, dan itu 4 tahun yang lalu. Nah masalahnya, sekarang udah 2020.

Jangankan buat dibeli, sekedar di omongin pun, emangnya masih layak??

Pertanyaan itu akan gw jawab dengan beberapa penjelasan dibawah ini, dimana gw pake iPhone sampe beberapa bulan yang lalu (desember 2019).

Ingat, iPhone 6s. Bukan iPhone 6 ya (atau iPhone 6 Plus). iPhone 6, yang pake ‘s’.

Gw akan tampilin kesimpulannya dulu, jadi kalo penasaran sama detailnya bisa dibaca di bagian bawah:

Performa: Masih setara smartphone mid range Android 2020.
iOS: Pake iOS yang sama dengan yang dipake iPhone 11. Sementara ga semua smartphone Android support (atau disediain update) OS Android 10.
Desain: Cukup ‘baru’, mirip iPhone 8 (2017). Kecil, enak di genggam atau masuk kantong. Rata-rata smartphone 2020 ukuran gede, biasanya 6.5 inch. Tapi memang kalah kece dibanding Android jabrik atau iPhone 2019.
Koneksi kabel: iPhone terakhir yang masih pake jack audio dan konsisten dengan lighting-nya.
Kamera foto: 12 megapixel dan bisa RAW (dalam format dng).
Single camera: Hampir semua smartphone 2020 minimal udah dual camera ‘bokeh maksa’. Makin rendah kelasnya, makin maksa hasilnya. Tapi sekarang kebanyakan Android 2020 udah quad kamera.
Kamera video: Udah 4k 30 fps, setara smartphone baru 2020. Dan bisa slo-mo juga sampe 240 fps. Ga semua smartphone bisa slo-mo, apalagi sampe 240 fps.

Spesifikasi

Hari ini, rata-rata smartphone Android udah pake processor quad, hexa, octa atau apapun lah namanya dengan core clock diatas 2 GHz.

iPhone 6s hanya pake processor A9 dual core dengan core clock 1.85 GHz. Cuma 2 core, dan clock dibawah 2 GHz pula!

Belum lagi urusan RAM, iPhone 6s cuma 2 GB. Android 2020 yang bukan flagship aja bisa punya RAM 6GB hingga 8GB. Jauh!!

Memang efektifitas kerja antara hardware dengan software (iOS) pada iPhone sangat jauh lebih baik dibanding Android. Processor (yang di desain oleh Apple sendiri) dipasangkan dengan hardware (yang dirakit oleh Apple sendiri) dan difungsikan seefektif mungkin dengan iOS (yang juga dibuat oleh Apple sendiri).

Ilustrasinya, se simpel nanya dapur ke pemilik rumah. Pemilik rumah menjawab dengan sangat mudah. Ga pake mikir, apalagi nanya ke orang lain.

Fokus Apple lebih ke gimana hardware dan software tersebut terus bekerja dalam kondisi seefektif mungkin. Jadi ga cuma ngejar jumlah core atau clock tinggi atau RAM besar, tapi komunikasi hardware dengan software kurang efektif.

Sementara Android, processor-nya diproduksi oleh pihak lain (misal Quallcom, Kyrin, Exynos, dsb), digunakan dengan hardware dari produsen lain (misal Samsung, Xiaomi, Huawei dsb), dan dipasangkan software milik pihak lain (Android itu sendiri, yang dikembangkan oleh google).

Ilustrasinya, tamu A nanya ke tamu B dimana letak dapur. Mungkin mereka berdua akan nanya ke orang lain, atau nyari pemilik rumah, atau berdua akan sama-sama nyari sendiri dimana dapur itu berada. Akan ada penurunan efektifitas (baik hardware maupun software) melalui flow yang seperti itu.

Sebenarnya ada data benchmark yang bisa dilihat di Mobile Benchmark. Secara single core, iPhone 6s (A9) masih bisa nyaingin beberapa smartphone Android yang pake Snapdragon 845. Dimana Snapdragon 845 termasuk processor flagship untuk Android, misalnya Samsung S9, Google Pixel 3 XL atau Xiaomi Pocophone.

Tapi secara multicore, iPhone 6s malah dibawah Snapdragon 660, processor kelas mid-range Android terbaik saat ini (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Dibawah rata-rata smartphone mid-range tahun 2020.

Terus kenapa masih ngomongin iPhone 6s??

Nilai benchmark, didapat karena menggunakan semua resource yang ada dalam smartphone itu. Menggunakan semua core processor-nya, dengan clock tertingginya. Agar menghasilkan angka benchmark setinggi mungkin.

Masalahnya, processor itu bukan seperti silinder pada mobil, dimana setiap silinder memiliki ukuran yang sama dan semuanya saling bekerja sama untuk menghasilkan tenaga yang besar. Processor smartphone, lebih tepatnya seperti pisau dapur. Untuk motong sayur, kita pake pisau kecil. Untuk motong daging, kita pake pisau yang gede. Dan untuk motong tulang, kita pake pisau yang paling gede.

Dalam penggunaan harian, resource yang ada akan bekerja sesuai kebutuhan. Dan seringkali, hanya beberapa core yang bekerja dalam satu waktu.

Single Core

Kalo secara single core, A9 setara dengan Snapdragon 845 sekitar 2300 point. Snapdragon 845 ada di smartphone yang harganya sekitar 10 jutaan (Samsung Note 9, Sony Xperia XZ2, Google Pixel 3, Xiaomi Pocophone, dll).

Malah keliatan mencolok sendirian, Apple A9 dual-core diantara semua processor Android 8 cores.

Multi Core

Kalo secara multicore, iPhone 6s setara dengan Samsung Galaxy S6, Xiaomi Mi Mix, atau Samsung A7. Memang kalah jauh dibanding Snapdragon 660 (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Multicore A9 hanya 3915 point sedangkan Snapdragon 660 sekitar 5600 point.

Tapi ya, balik lagi, ga ada data yang menjelaskan dalam penggunaan harian semua resource digunakan seperti pada saat benchmark.

Karena dalam penggunaan harian, silahkan dibandingin langsung kenyamanan make iPhone 6s dibanding, langsung aja, bandingin dengan android-android flagship 2019. Karena dalam penggunaan harian, semua processor dengan clock tertingginya beserta RAM berkapasitas besarnya, ga digeber seperti waktu nyari point benchmark itu.

Singkatnya, kecuali kalo processor A9 udah kelewat jauh dibanding rata-rata processor saat ini (Snapdragon 425/625/636 dsb), dan sekaligus bener-bener udah ga layak banding sama Snapdragon 845, berarti gw percuma bikin postingan ini 😉

*penggunaan baterai gede ga selalu berarti untuk ‘kepuasan’ penggunanya. Tapi lebih karena memang kebutuhan daya untuk hardware-nya yang tinggi (menjalankan processor quad/hexa/octa core, dan RAM 4GB/6GB/8GB, dsb). iPhone ga butuh baterai gede karena kebutuhan hardware lebih rendah (dual core dan clock dibawah 2GHz, RAM 2GB)

**karena kebutuhan daya yang tinggi, diperlukan baterai berkapasitas besar (agar ga cuma habis karena hardware), sehingga dibutuhkan fitur fast-charging. iPhone ga pake fitur fast-charging karena kapasitas baterai yang harus diisi tidak terlalu besar.

Tapi sepanjang apapun penjelasan gw, pastinya akan susah diterima kalo emang belum pernah ngerasain lamgsung. Kalo memang punya kesempatan, silahkan coba bandingin langsung iPhone 6s dengan Android mid-range 2019. Main-main ke konter hp misalnya 😉

iOS

Apple masih men-support semua produknya yang udah pake processor 64 bit. Termasuk iPhone 6s ini, yang udah berumur 5 tahun.

Jadi iPhone 6s make iOS yang sama persis dengan mereka yang pake iPhone 11 (yang baru rilis beberapa bulan yang lalu dan harganya belasan juta). Kecuali kalo iPhone 6s udah ga support iOS terbaru (misalnya iPhone 6).

Sementara ga semua Android punya dukungan yang seperti ini. Malah kebanyakan, kita harus ganti smartphone buat bisa ngerasain Android versi terbaru. Android harus mengganti smartphone, katakanlah, setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Desain

Gw sebenarnya masih lebih suka desain dari iPhone 5 (atau 5s atau SE). Kotak, keliatan lebih kokoh, dan berukuran lebih kecil. Tapi yah, kita ga ngebahas tentang iPhone 5 disini.

iPhone 6s masih mirip dengan iPhone seri baru (iPhone 7 dan iPhone 8). Artinya, ga ketinggalan jaman. Karena memang mulai dari iPhone 6 desain iPhone udah mulai mirip-mirip aja semuanya. Walau kalo dilihat dari layarnya, jelas beda dari iPhone X atau seri Android baru yang full frame dan pake jabrik.

Kecuali maunya pake iPhone yang jabrik, silahkan cari budget buat tebus seri X keatas hehe…

Kalo Android sebenernya hampir semua Android sekarang kayanya udah pake jabrik dan harganya jauh lebih terjangkau. Tapi ya, sayang aja cuma demi tampilan kece tapi performanya bikin greget.

Selain itu, iPhone 6s Plus punya spek sama dengan iPhone 6s. Tapi gw sendiri lebih suka iPhone 6s, karena ukurannya yang kecil. Sementara hampir semua smartphone, termasuk iPhone sendiri(7 Plus, 8 Plus, X, dst), udah mulai berukuran gede-gede. Agak susah digenggam atau buat masuk kantong.

Koneksi Kabel

Kalo mau smartphone dengan performa bagus ga ketinggalan jaman, dan ga perlu aksesoris mahal, iPhone 6s adalah seri terakhir yang masih nyediain jack audio. Jadi ga perlu keluar duit beli adaptor lightning atau wireless earphone yang harganya terlalu tinggi. Belum lagi beresiko hilang.

Kecuali kalo memang di 2020 (atau 221 nanti) jack audio udah ga dipake lagi (udah ga dijual lagi), ya berarti iPhone 6s udah ga layak pake.

Kamera Foto

Sebenarnya image quality iPhone 6 (8 megapixel) masih lebih baik dibanding iPhone 6s (12 megapixel). Apalagi kamera depan iPhone 6.

Karena ukuran megapixel harusnya sejalan dengan ukuran sensor. Masalahnya, jaman sekarang ukuran megapixel justru berbanding terbalik dengan ukuran sensor. Sementara ukuran sensor masih segitu-gitu aja, tapi makin hari megapixel-nya makin gede. Efeknya, image quality turun.

Ilustrasinya, plastik berdiameter 1 meter dipake buat nutup baskom berdiameter 1 meter. Persis sesuai ukurannya (baca:kemampuan).

Sedangkan prakteknya, plastik berdiameter 1 meter nutupin baskom berdiameter 2 meter. Yang ada plastiknya ketarik-tarik.

Ngomongin image quality ini hubungan ke photographer, atau photographer wanna be 😀 Dimana foto itu ga cuma urusan jepret dan share. Biasanya, foto-foto yang ada harus di edit terlebih dahulu. Dan dalam proses editing ini, akan terasa perbedaan (penurunan image quality) dari foto-foto dengan megapixel gede.

Karena itu smartphone flagship kaya Samsung Note 9, atau Google Pixel 3, atau iPhone X cuma pake kamera 12 megapixel. Harga udah belasan juta tapi megapixel-nya cuma segitu?

Banyak smartphone Android yang harganya cuma 1 atau 2 juta tapi bisa ngasilin 16 sampe 20-an megapixel. Kenapa coba?

Kamera digital aja (DSLR atau mirrorless) yang jelas-jelas fungsi utamanya buat bikin foto dan ga bisa nelpon cuma bisa ngasilin 16-24 megapixel. Kenapa smartphone bisa ngasilin megapixel lebih gede?

Detail tentang megapixel ini bisa diliat disini.

Seperti yang tadi gw bilang, masih lebih bagus image quality dari iPhone 6, karena cuma 8 megapixel. Tapi spek iPhone 6 masih di bawah iPhone 6s.

Ini alasan kedua kenapa iPhone 6s masih layak di tahun 2020 ini. Karena kameranya masih super untuk tahun 2020. Belum lagi, karena iPhone 6s udah bisa ngasilin foto RAW. Lagi-lagi, fitur yang sama persis dengan iPhone Xr atau Xs yang harganya belasan juta. Sama sekali belum ketinggalan jaman, masih sangat layak, walau umurnya udah 5 tahun.

Gw kurang tau smartphone Android apa yang bisa ngambil foto RAW.

Single Camera (ga bisa bokeh)

Dalam teori fotografi, bokeh itu harus didukung bukaan lensa yang gede (bukan angka f-stop, tapi diameter bukaan lensa yang sebenarnya: dalam ukuran milimeter atau centimeter).

Secara teori, kamera smartphone ga bisa bikin bokeh. Jangan samain f/2.0 di smartphone dengan f/2.0 di DSLR. Detailnya ada disini.

Jadi efek bokeh di smartphone diakalin pake manipulasi 2 kamera yang ngambil 2 fokus yang beda. Masalahnya, manipulasi itu instant dan otomatis. Kalo manipulasi manual mungkin bisa dibikin lebih real (atau meminimalisir kesan ‘maksa’) tapi pastinya ga bisa instant sekali jepret langsung jadi.

Dengan manipulasi instant dan otomatis, seringnya bokeh yang dihasilin meleset atau ya, maksa. Walau ga jarang fine-fine aja.

Kamera Video

Urusan kamera (baik foto atau video) iPhone memang terkenal punya kualitas bagus. Termasuk iPhone 6s ini. Dan walaupun udah berumur 4 tahun tapi mendukung semua kebutuhan video buat hari ini; 4K video dan slow-motion. Masih bisa ngikutin kemampuan iPhone 11 atau kemampuan smartphone flagship Android yang harganya belasan juta. Ga semua Android bisa video 4K apalagi untuk slow-motion.

Kecuali kalo misal semua smartphone yang ada hari ini udah bisa rekam 4K sekaligus slow-motion, berarti iPhone 6s ga semencolok bahasan gw ini.

Atau, kecuali kalo resolusi video smartphone terbaru udah masuk ke teknologi 6K atau 8K, udah ga jamannya 4K lagi.

Atau, kecuali kalo semua smartphone yang ada bisa bikin slo-mo diatas 240 fps atau lebih, berarti iPhone 6s biasa-biasa saja.

Harga

Dengan umurnya yang udah lewat 4 tahun, harusnya iPhone 6s udah ga ada yang baru. Pilihannya antara seken atau preloved, refurbished vendor, atau refurbished CPO dari Apple sendiri.

Harga seken iPhone 6s hari ini berkisar antara 2 hingga 3 juta. Dimana untuk kisaran harga itu, setara dengan Android mid-range baru (2020).

Karena terakhir gue beli Asus Zenfone Max Pro M2 dengan harga yang sama. Untuk perbandingan antara harga dengan performa, gue sangat merekomendasikan iPhone 6s dibanding Android mid-range 2020.

* * *

Jadi ga cuma sekedar layak diomongin, iPhone 6s memang masih sangat layak dipake di tahun 2020. Performa (processor, atau RAM, atau bahkan batre) yang masih OK, fitur dan kemampuan kamera yang masih sangat layak, dan harga yang jatohnya lebih murah dibanding smartphone 2020 yang setara.

Terakhir

Tentunya ada banyak hal (diluar performa atau berbagai point yang gue sampein di atas) yang membedakan iPhone dengan smartphone lain.

Salah satunya adalah masalah kostumasi.

Android lebih dinamis, selain dari kostumasi dari produsennya sendiri, kita sebagai user juga bisa melalukan kostumasi tambahan. Dimana berbagai hal tersebut akan beresiko terhadap stabilitas sistem. Jadi yang namanya bug, crash atau hang itu adalah hal yang biasa di Android.

Sementara update OS bisa dikatakan sangat jarang dan terbatas, sehingga untuk menutupi bug, crash, atau hang tersebut, biasanya update dilakukan melalui aplikasinya sendiri (bukan melalui operating system-nya).

Jadi setiap 2/3 hari sekali selalu ada update terbaru dari aplikasi-aplikasi yang terinstall. Satu kondisi yang buat gue sendiri cukup mengesalkan.

Karena untuk setiap beberapa hari sekali harus ngabisin kuota buat update-update tersebut.

Sementara iPhone sangat-sangat minim kostumasi. Apple mengontrol penuh berbagai hal yang ada di iPhone, bahkan sejak dari lock-screen.

Dan didukung dengan update operating system secara regular disediakan melalui OTA (misalnya dari iOS 12.1 hingga iOS 12.4). Jadi iPhone sangat-sangat minim bug, crash, atau hang. Stabilitas sistem menjaga sangat terjaga.

Sehingga update aplikasi yang terinstall pun menjadi ga terlalu sering. Ga banyak kuota yang harus terbuang karena berbagai update aplikasi.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

iPhone atau Android?

Postingan lama, april 2016, dengan judul asli Pertimbangan untuk Memilih antara iPhone atau Android. Yang mungkin postingan ini akan mendiskreditkan Android. Tapi anyway, dibaca aja dulu.

Bingung harus membeli iPhone atau Android? Atau paling ga mau tahu apa aja hal-hal yang sebaiknya jadi pertimbangan kalo mau ‘ngebandingin’ iPhone sama Android?

*ngebandingin (dalam tanda kutip); karena menurut gw ke dua smartphone tersebut ga layak dibandingin.

Misal, iPhone X, processor A11 6 core 2.4 GHz, dengan RAM 3 Gb dan dijual sekitar 12-15 jutaan. Kalo dibandingin sama Android yang spek-nya mirip, mungkin Snapdragon 625 (8 core 2.0 Ghz), misalnya Redmi Note 5 yang sama-sama pake RAM 3 Gb. Dan Redmi Note 5 (kalo masih ada yang baru) sekarang sekitar 2 jutaan.

Percobaan ngebandingin iPhone sama Android hanya berakhir dengan ke-frustasi-an. Jadi perdebatan yang gak akan ada habisnya 😀

Tapi biar gak terlalu bingung, berikut ini ada beberapa point yang mungkin bisa dijadiin perbandingan yang sebenernya (dalam pemakaian, gak cuma ngomongin spek).

1. Bentuk fisik

iPhone terkenal dengan body aluminium/kacanya. Beberapa produsen Android kaya Samsung atau Xiaomi juga mulai pake material yang sama. Tapi secara umum, banyak smartphone Android masih pake bahan plastik khusus.

Jadi iPhone keliatan lebih eksklusif. Gak sekedar jadi casing ‘pembungkus’, tapi body iPhone emang di disain secara khusus. Yang setelahnya, banyal produsen Android ikut pake desain yang mirip.

Misalnya contoh di atas, layar iPhone lebih full, ketebalan bezel-nya kiri kanan atas bawah lebih seimbang.

2. Kostumasi

Kalo senengnya sama perubahan, Android adalah smartphone yang tepat. Kita bisa ganti hampir semua hal yang ada di Android. Yang sekaligus menjadi kekurangan, kalo kita tipe yang ga suka repot sama berbagai settingan. Buat ngeganti/ngelakuin sesuatu harus ngelewatin beberapa langkah dulu.

Tapi kalo sukanya sama yang praktis, iPhone pilihan yang tepat. Yang sekaligus jadi kekurangan, ga banyak yang bisa diganti. Yang kalo kata pengguna Android, bisa bikin bosen.

3. Legalitas

Android adalah sistem yang bebas dan kebuka. Yang ga kebuka, kalo Androidnya itu udah dipasang di satu smartphone produksi produsen tertentu, misalnya ColorOS atau MIUI. Yang kalo kita ubah, bisa ngerusak garansi. Tapi selain dari itu, Android sistem yang gratis dan kebuka. Kita bisa bebas masukin lagu, video, aplikasi, atau sekalian ngerubah sistemnya itu sendiri. Pake costum ROM misalnya. Tap lagu atau video atau aplikasi itu mungkin bersifat illegal. Dan yang namanya hal illegal rentan virus atau hacker. Apalagi, kalo kita pake custom ROM yang emang jelas-jelas gak ada dukungan resminya.

Sedangkan iPhone sifatnya lebih ketutup. Atau terlalu tertutup. Banyak hal yang jadi perhatian Apple. Salah satunya adalah masalah legalitas dan masalah keamanannya. iPhone memang lebih terstruktur. Yang dengan struktur yang baik, ga ngerugiin orang lain (produsen aplikasi atau media berlisensi yang ada), ga ngerugiin Apple sendiri (sebagai produsennya) dan ga ngerugiin end-user (pengguna) iPhone itu sendiri.

4. Availability

Apple satu-satunya produsen iPhone. Dan setiap tahunnya cuma ngeliris (sebelumnya cuma 1) 2 jenis iPhone. Mulai dari tahun 2014, iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Tahun 2015, iPhone 6s dan iPhone 6s Plus.  Tahun 2016 iPhone 7 dan iPhone 7 Plus. Tahun 2017, iPhone 8 dan iPone 8 Plus. Sampe tahun 2019, iPhone iPhone 11 dan iPhone 11 Pro.

Jadi pilihannya lebih jelas, dan ga perlu pake istilah flagship. Karena setiap tahunnya Apple selalu merilis iPhone berkelas flagship.

Sedangkan Android, produsennya ada banyak banget. Dan masing-masing produsen punya kelas rilis masing-masing. Kalo misal setiap produsen punya 3 kelas standar; entry, mid dan hi-end . Dan misal ada 10 produsen yang ada (Samsung, Xiaomi, Oppo, Realme, Vivo, Oneplus, Asus, LG, Nokia dan Huawei), jadi setiap tahunnya ada sekitar 30 smartphone yang dirilis. Yang bisa dibilang kurang dari seminggu selalu ada hp baru yang masuk pasar.

Jadi wajar kalo ada kebingungan di waktu milih smartphone.

5. Stabilitas OS (iOS dan Android)

Sebenernya ini salah satu hal yang paling mencolok dan keduanya.

6. Harga

Saya coret karena menurut saya harga tidaklah relefan menjadi bahan pertimbangan. Ketika anda bingung memilih iPhone atau Android dengan budget 3 juta, maka jelas anda harus memilih Android. Karena tidak ada iPhone dengan harga 3 juta 😉

Apabila anda bingung dan memiliki budget sekitar 10 juta, maka silahkan diulang dari point 1 hingga 3. Karena sesuai pengantar diatas, iPhone dan Android sangat sulit untuk dibandingkan. iPhone dan Android dengan harga yang sama sebenarnya memiliki kemampuan yang sama-sama bagus. Semuanya kembali ke kebutuhan anda masing-masing.

Penutup

Saya jelaskan 4 point namun hanya memberikan 3 pilihan untuk anda. Jadi anda tidak akan terus merasa bingung mendapatkan hasil 2-2 😉

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Inovasi atau Perkembangan Apple (iPhone)

Banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi dengan teknologinya.

Ketika Android tidak hanya menawarkan processor quad-core tapi bahkan octa-core. Ketika Android tidak hanya menawarkan RAM 2 Gb tapi bahkan hingga 6 Gb.

Sedangkan iPhone baru belakangan ini menggunakan processor quad core dan RAM yang telah ditingkatkan (hanya) menjadi 4 Gb.

Penemuan, adalah penciptaan hal baru yang sebelumnya tidak ada. Sedangkan inovasi, adalah pemanfaatan, atau pemaksimalan, hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Tidak semua hal yang terdapat di dalam sebuah iPhone adalah hasil penemuan Apple. Tapi berkat iPhone, beberapa teknologi tersebut menjadi lebih bermanfaat, ketimbang dilupakan.

Berikut ini beberapa inovasi dari Apple, dimana beberapa teknologi diantaranya bukan milik Apple. Namun lebih dulu disematkan pada sebuah iPhone.

Mendefinisikan ulang arti ‘smartphone’

Smartphone bukan inovasi Apple. Apple, jelas bukan perusahaan pertama yang menciptakan smartphone.

Sesuai namanya, smartphone pada dasarnya adalah sebuah telepon (phone), tapi juga mampu melakukan banyak hal (smart: selain hanya melakukan/menerima panggilan telepon).

Apple mendefinikan ulang arti sebuah smartphone. Dimana smartphone, pada dasarnya adalah sebuah perangkat pintar (smart device), yang bisa melakukan banyak hal. Dan telepon, hanyalah salah satu diantaranya.

Desain dan Penggunaan.

Salah satu bentuk pendefinisian ulang tersebut adalah dengan bagaimana sebuah smartphone digunakan. Ketika layar touchscreen berfungsi (biasanya) dengan satu sentuhan, Apple menerapkan beberapa sentuhan sekaligus (multi touch).

Karena kebanyakan smartphone masih menggunakan 3 button (home button, back/kembali, dan menu button), dan penggunaan beberapa fungsi yang ada membutuhkan bantuan langsung dari tombol fisik. Tergantung seberapa baik desainnya, beberapa smartphone cukup sulit digunakan menggunakan satu tangan.

Sejak awal dirilis, iPhone sudah berinovasi dengan menghadirkan smartphone yang sangat kompak dan simpel. iPhone hanya memiliki 1 tombol (home button) dan bahkan, hingga hari ini, tanpa botton sama sekali.

Fisik

Bandingkan bagaimana bentuk/desain sebuah perangkat selular, telepon, dan smartphone sebelum dan setelah iPhone diluncurkan.

Internet Cepat

Apple bukan penemu teknologi internet cepat, namun melalui kerjasama dengan provider telekomunikasi dari negara asalnya, iPhone terintegrasi dengan teknologi internet cepat seperti 3G, HSDPA serta 4G LTE.

Apabila pada saat itu Apple tidak melakukan inovasi tersebut, tidak tertutup kemungkinan kita hanya akan bisa menikmati koneksi internet menggunakan modem atau fiber optic. Mungkin saja, tidak ada internet cepat dalam genggaman tangan.

Dan hari ini, setiap produsen smartphone saling berlomba-lomba menyematkan teknologi koneksi data tercepat, 4G, 4.5G, LTE, 5G dst..

Application Store & Media Stream

Apple bukan penemu media penjualan produk digital. Nokia Store sudah cukup populer sebelumnya. Napster, dan sejenisnya, sudah lebih dulu menjual media streaming. Tapi sebelumnya, digital store tersebut terpisah sesuai tipe media yang dijual.

Apple berinovasi dengan satu store untuk berbagai media digital (aplikasi, musik, film hingga buku) dan menyematkan semuanya dalam setiap produknya (iPhone, iPad, iPod, hinggaa Mac OS) yang bernama iTunes Store.

Pengguna Apple bisa menikmati musik, film, buku, menginstall berbagai aplikasi, hanya dalam satu device.

Kamera

Salah satu inovasi terbesar iPhone ada pada sektor kamera. Smartphone berkamera? Tentu bukan penemuan Apple. Jauh sebelum iPhone diciptakan sudah cukup banyak smartphone yang berkamera. Kamera untuk foto, udah pasti. Walau beberapa ada yang mendukung kemampuan rekam video juga, dalam fungsi yang lebih terbatas (biasanya berhubungan dengan resolusi).

Bagi Apple, smartphone adalah device yang bisa melakukan banyak hal. Jadi selain untuk mengambil foto, sebuah kamera juga udah seharusnya mampu merekam video. Kualitas foto yang lebih baik, dan kemampuan rekam video selayaknya camcorder/handycam.

Bahkan lebih jauh lagi, iPhone juga dilengkapi dengan kemampuan perangkat keras dan sistem operasi untuk editingfoto atau video tersebut.

Dual camera? Bokeh? Editing hanya dari smartphone?

Fitur-fitur.

Berbicara tentang spesifikasi, Apple bukanlah perusahaan yang mengejar kuantitas (angka). Secara spesifikasi hampir semua bagian dari sebuah iPhone yang bisa dinilai dengan angka, selalu lebih rendah dibanding smartphone lain.

Core dan clock processor, kapasitas RAM, megapixel kamera, aperture kamera, ukuran inch, resolusi display, kapasitas baterai, dan lain sebagainya. Angka tertinggi dari sebuah iPhone, mungkin hanya harga 😉

Tapi harga tersebut setimpal dengan fitur dan kemampuan sebuah smartphone. Dengan kemampuan yang sangat efektif dan mengintegrasikan banyak hal, beberapa inovasinya diantaranya:

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Handphone iPhone dan Android

Pengalaman saya sebagai pengguna iPhone sekaligus Android. Beberapa waktu yang lalu sebelum saya memiliki iPhone cukup banyak teman-teman yang sangat ‘pro’ Android dan sekaligus sangat ‘kontra’ terhadap iPhone.

Kenapa? Hanya ada satu jawaban, spesifikasi. Bagaimana dengan harga? Harga adalah bahasan relatif. Acuan harga, ‘iPhone terlalu mahal’, menurut saya tidak lebih dari sekedar pernyataan ketidakmampuan.

Secara spesifikasi iPhone memang sangat jauh tertinggal dari Android. Tentang core dan clock processornya, tentang kapasitas ram-nya, tentang resolusi kameranya, tentang kualitas layarnya, dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan atau mempromosikan smartphone tertentu. Hanya mencoba secara objektif mengajak pembaca untuk lebih bijak menanggapi perbedaannya. Penulis sendiri memiliki pengalaman menggunakan 2 smartphone Android (Samsung S4 Mini dan Samsung Note 2) dan 2 produk Apple (Ipod Touch 5th dan iPhone 5s).

Samsung S4 Mini rilis tahun 2013
Snapdragon 400 Dual Core 1.7 GHz, 1.5 Gb RAM, 8 MP camera
Samsung Note 2 rilis tahun 2012
Exynos 4412 Quad Core 1.6 GHz, 2 Gb RAM, 8 MP camera
iPod Touch 5th rilis tahun 2011
Apple A5 Dual Core 1 GHz, 512 Mb RAM, 8 MP camera
iPhone 5s Rilis tahun 2013
Apple A7 Dual Core 1.3 GHz, 1 Gb RAM, 8 MP camera

Processor

Smartphone Android saat ini berlomba-lomba dengan multi-core processornya. Quad-core, octa-core, dan bahkan 2 processor sekaligus (misal 1 octa-core berpasangan dengan 1 quad-core). Belum lagi masalah clock processornya yang semakin tinggi. Sebagai contoh adalah Samsung S6 memiliki 2 processor; quad-core 2.1 GHz dan quad-core 1.5 GHz.

Sedangkan iPhone, bahkan seri terakhir iPhone 6S Plus pun, hanya menawarkan 1 (satu) processor dual-core dan dengan clock hanya 1.8 GHz.

Sebenarnya kedua processor tersebut tidak layak dibandingkan. Membandingkan kedua processor tersebut seperti membandingkan antara mobil dengan motor. Sama-sama alat transportasi tapi dengan filosopi, teori, fisik, dan berbagai hal lainnya yang sangat berbeda.

Saat ini kita mengenal 3 processor yang umum digunakan. Processor PC/laptop, processor Android dan processor iPhone. Walaupun sama-sama processor, tapi ada banyak faktor yang membedakan antara satu dan lainnya.

Processor Android selayaknya processor PC/laptop, diciptakan untuk menangani banyak hal sekaligus. Sebagaimana kita menggunakan PC/laptop, bisa digunakan untuk browsing internet, menonton, bermain game, rendering/editing dan sebagainya. Yang dalam prakteknya, dengan segala kelebihan tersebut (core dan clock yg sangat bagus), bahkan ternyata sebuah smartphone tidak benar-benar membutuhkan semua kelebihan tersebut.

Berbeda dengan processor iPhone, diciptakan hanya untuk menangani apa yang dibutuhkan. Apple hanya berfokus pada efektifitas dibanding kuantitas. Hasilnya, kualitas yang lebih baik. Sebagai contoh processor A6 (dual-core) Apple dengan clock hanya 1 GHz memiliki performa setara dengan processor Android Exynos (quad-core) 1.4 GHz.

Dan jangan lupakan tentang monopoli Apple terhadap produknya. Perangkat keras (processor, RAM, dan sebagainya) dan perangkat lunak (sistem operasi iOS) dirancang oleh 1 orang yang sama. Setiap detail kemampuan perangkat kerasnya didukung dengan sangat baik oleh sistem operasinya. Dan setiap kemampuan sistem operasinya didukung dengan perangkat keras yang benar-benar sesuai. Dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi 1 ditambah 1 adalah 2, atau 1 dikurang 1/4 adalah 3/4, maka tidak heran walau spesifikasinya rendah tapi mampu menghadirkan performa yang sangat tinggi.

Sedangkan pada Android sistem operasi dan perangkat kerasnya dirancang terpisah. Pengembangan perangkat kerasnya  yang berbeda-beda (samsung, LG, qualcomm dll) didesain agar selalu pas dengan sistem operasinya. Dan sistem operasinya (Android, yang dikembangkan oleh Google) dirancang agar mampu bekerja dengan baik pada semua perangkat tersebut. Sehingga akan ada beberapa kekosongan (ketidak-efektifan) yang terjadi.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Apple cuma dual-core 1.8 GHz sedangkan Android octa-core 2.1 GHz”, maka jawabannya adalah “Apple hanya butuh dual-core 1.8 GHz, yang tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu mengalahkan quad-core 2.1 GHz Android”.

Processor (lanjutan)

Rata-rata smartphone Android sekarang dilengkapi 2 processor sekaligus. Dual-core dengan quad core (2 + 4), quad core dengan quad-core (4 + 4), atau bahkan octa-core dengan quad-core (8 + 4).

Dalam teorinya, kedua processor itu akan bekerja bergantian sesuai kebutuhannya. Apabila kebutuhan processornya lebih kecil maka processor A akan bekerja. Apabila kebutuhannya lebih besar maka processor B akan bekerja.

Sebenarnya iPhone juga memiliki 2 processor. Hanya saja, dengan teori yang berbeda dibanding sistem processor Android.

Pada iPhone, masing-masing processor memiliki tugas yang berbeda. Dan kedua processor tersebut selalu aktif secara bersamaan, menangani kebutuhan sesuai dengan spesialisasinya.

Battery

Dengan core dan clock yang sangat tinggi ditambah lagi dengan tuntutan 2 processor wajar apabila Android memiliki kapasitas baterai yang lebih besar. Smartphone Android menawarkan kapasitas baterai yang lebih besar justru karena tuntutan perangkat kerasnya, bukan demi kenyamanan penggunanya.

Jangan menganggap sebuah smartphone Android menggunakan baterai dengan kapasitas 2.500 mAh atau bahkan diatas 3.000 mAh dengan tujuan agar penggunanya bisa lebih lama menggunakan smartphone tanpa harus diisi ulang. Smartphone Android tersebut ‘terpaksa’ dan harus menggunakan baterai dengan kapasitas begitu besar hanya agar paling tidak bisa bertahan sekitar 10 hingga 12 jam karena permintaan daya dari perangkat kerasnya yang terlalu tinggi.

Sedangkan iPhone hanya memiliki 1 processor, dan dengan clock dan core yang rendah, sehingga baterai berkapasitas kecil pun sudah cukup untuk menyamai kemampuan bertahan baterai Android. Kenyamanan pengguna merupakan alasan utama kapasitas baterai.Karena kebutuhan daya dari perangkat keras tidak besar.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Baterai iPhone sangat kecil tidak seperti baterai Android”, maka jawabannya “Android membutuhkan baterai 3.000 mAH untuk bertahan seharian, iPhone hanya butuh 1.500 mAH untuk bertahan seharian”.

Kamera

Saat ini cukup banyak smartphone Android memiliki resolusi kamera diatas 15 Mp. Beberapa diantaranya bahkan hingga lebih dari 20 Mp. IPhone 6s Plus sebagai seri terbaru dari Apple, hanya memiliki kamera dengan resolusi 12 Mp.

Resolusi, hanya berhubungan dengan ukuran. Resolusi atau megapixel tidak berhubungan dengan kualitas hasil. Jendela berukuran lebar menawarkan area pandang yang lebih luas. Tapi kualitas pandangannya bergantung pada sebagus apa kaca pada jendela tersebut

Detail kemampuan dasar kamera seperti ISO, focus, exsposure dan sebagainya lebih menentukan dibanding sekedar hasil yang besar (resolusi).

Sebagai media pembanding menggunakan aplikasi video recording yang pada awalnya hanya dibuat untuk iPhone bernama FiLMiC Pro. Aplikasi yang sudah dinobatkan sebagai aplikasi Video Camera terbaik tersebut memaksimalkan semua kemampuan kamera pada iPhone. Dan belum lama ini aplikasi tersebut juga disediakan untuk Android. Hanya saja, terbukti, tidak semua smartphone Android bisa menikmati semua fungsi yang disediakan oleh aplikasi tersebut.

Sesuai detail spesifikasi dari pengembangnya, FiLMiC Pro kompatibel (dapat menggunakan semua fitur yang tersedia) mulai dari iPhone 4s, yang rilis tahun 2011, yang pada saat ini harga bekasnya mungkin sekitar 1.5 hingga 2 juta. Sedangkan FiLMiC Pro versi Android, dari beberapa review di play store, cukup baik digunakan di Samsung Galaxy S6, Samsung Galaxy S7 dan Samsung Note 5 (yang rilis tahun 2016 dan dengan harga diatas 10 juta).

Sesuai pengantar diawal, harga tidak etis untuk dijadikan perbandingan. Karena pada hasil review aplikasi, sebuah kamera seharga 1.5 – 2 juta memiliki fitur dan kemampuan yang sama dengan kamera bernilai diatas 10 juta.

Baca review FiLMiC Pro untuk Android dan review FiLMiC Pro untuk iPhone.

Kesimpulan.

Android dan iPhone memang sama-sama smartphone. Hanya saja kita harus lebih bijak dan bila perlu melakukan riset terlebih dahulu, sebelum berani memutuskan mana yang lebih baik. Ketika menggabungkan Android dan iPhone ke dalam kategori ‘smartphone’ dan kemudian membandingkannya, tidak berbeda seperti menggabungkan mobil dengan pesawat ke dalam kategori ‘alat transportasi’ kemudian membandingkannya.

Apabila hanya melihat dari luar, hanya membandingkan secara angka yang tertera, tidak satupun angka dari iPhone yang lebih tinggi dari Android. Diluar performa dan kemampuan, iPhone kalah telak dari Android.

Android: core processor yang lebih banyak, clock processor yang lebih tinggi, kapasitas RAM yang lebih besar, resolusi kamera yang lebih besar, ukuran layar yang lebih besar, dan sebagainya.

iPhone: core processor lebih sedikit, clock processor lebih rendah, kapasitas RAM rendah, resolusi kamera rendah, ukuran kayar lebih kecil dan sebagainya.

Tapi dalam pengalaman saya menggunakan 2 Android dan 2 produk Apple, semua kemampuan ‘rendah’ tersebut tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu menggulingkan kemampuan Android.

Hanya saja harus diakui, satu-satunya hal yang tidak lebih baik dari iPhone hanyalah kemampuan layarnya. Samsung sudah sejak lama menawarkan layar Super AMOLED untuk smartphonenya sedangkan iPhone masih menggunakan LCD IPS. Layar LCD IPS iPhone lebih baik dari kebanyakan smartphone Android hanya saja masih lebih ‘wah’ layar Super AMOLED dari Samsung.

Sangat disayangkan cukup banyak pertanyaan yang tidak mengenakkan tentang iPhone, sebelum melakukan riset atau memiliki pengalaman langsung. Bahkan beberapa pernyataan yang ada berasal dari orang-orang yang sebenarnya cukup awam dibidang teknologi.

Salah satu pernyataan yang cukup tegas adalah yang pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi seperti yang dilakukan produsen Android pada umumnya. Jangan lupakan bahwa kata ‘smartphone’ itu sendiri mulai populer digunakan pada tahun 2007 ketika Apple merilis iPhone pertamanya. Dan masih banyak inovasi-inovasi Apple lainnya seperti Siri, smartphone yang berbicara, atau “Hello Google” pada Android. Teknologi finger print atau Touch ID.

Dan ketika teknologi komunikasi seluler masih terbagi 2 antara GSM dan CDMA, iPhone telah mengasung teknologi unified LTE dan lain sebagainya.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.