Posts tagged aperture

Teori dan Teknik Foto Bokeh

Jadi sekarang lagi jamannya foto bokeh. Teknik fotografi yang memisahkan foreground terlihat fokus dan tajam, dengan background nge-blur bahkan menghasilkan pendaran berwarna warni. Atau sebaliknya.

Saking populernya, kamera handphone yang secara teknis sebenarnya ga bisa menghasilkan foto bokeh, di setting dengan teknologi yang sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan foto yang terlihat bokeh.

Emang kamera handphone ga bisa?? Secara teknis ga bisa. Jawaban jadi bahasan utama postingan ini.

Lensa

Lensa adalah kunci utama untuk menghasilkan foto bokeh. Lensa yang bagaimana?

Lensa dengan bukaan besar.

Bukaan yang dimaksud adalah bener-bener diameter fisik rongga lensa tersebut. Jadi bukan hanya melihat nilai f-stop nya. Bukan, misal, f/1.9 atau f/2.0 dan sebagainya. Tapi benar-benar berapa (centimeter/milimeter) diameter rongga lensa.

Di postingan lain juga udah ada bahasan ini. Bahwa f-stop di kamera handphone, memang akan mempengaruhi exposure, tapi sebesar-besarnya tidak lebih besar dari 3mm. Silahkan langsung dilihat di bagian kamera dari handphone masing-masing. Kira-kira sebesar diameter batang korek api. Sekitar 0.2 cm, agar lebih mudah dibayangkan.

Sementara pada kamera digital (seperti DSLR atau mirrorless) bahkan lensa kit (seringkali dianggap sebagai lensa murah dan tidak banyak kemampuan) setidaknya memiliki diameter bukaan 0.4cm. 2x lipat rata-rata bukaan lensa kamera handphone.

Pada gambar diatas terlihat perbedaan diameter (lensa DSLR/mirrorless) antara bukaan terbesarnya (f/2.8 terlihat jelas) dengan bukaan terkecilnya (f/16 yang keliatan lebih ‘mengintip’).

Tapi FYI, foto-foto bokeh dari fotografer profesional yang biasanya terlihat sangat cantik dan keren banget itu dihasilkan dari lensa dengan diameter bukaan 3.5 cm bahkan hingga 6 cm.

Yah, itu sekitar 15 hingga 30x lebih besar dibanding 0.2 cm

Jauh ya…

Jadi secara teori, kamera handphone memang ga bisa bikin foto bokeh. Dual kamera untuk foto bokeh pada kamera handphone dilakukan secara digital. Satu lensa sebagai lensa fokus dan lensa yang lain sebagai lensa blur, secara digital akan dilakukan penggabungan ke dua foto tersebut untuk menghasilkan foto yang terlihat bokeh. Jadi bokehnya adalah hasil manipulasi dari 2 foto. Bukan karena kemampuan lensanya.

Info lebih lanjut tentang angka-angka ini bisa dibaca di postingan ini dan ini.

Jarak

Setiap kamera akan menentukan area fokus sebelum menangkap/menyimpan gambar.

Pada lensa kamera digital dengan bukaan besar (masih mengacu pada postingan ini dan ini), area fokus ini bisa sangat sempit. Bisa se lebar hitungan centimeter atau meter. Bahkan bisa menjadi lebih sempit hingga hitungan milimeter.

Dan sisanya (diluar area fokus tersebut) akan menjadi blur atau kita sebut bokeh.

Karena itu dalam hal ini kita berbicara tentang jarak.

Ilustrasinya seperti gambar dibawah. Katakanlah area fokusnya selebar 1 meter, 1 langkah di depan dan 1 langkah di belakang model (kotak hijau). Dan sisanya (diluar kotak) akan blur. Semakin jauh dari area fokus (semakin rendah garis merah) maka objek akan semakin blur.

Sementara pada kamera handphone (atau misal lensa kit kamera digital), karena diameter lensanya hanya 0.2 cm atau 0.4 cm, area fokusnya lebih lebar. Bisa dalam hitungan meter. Artinya, hampir terlihat fokus semua. Terlihat tidak ada blur.

Sebenernya tetep ada, tapi terlalu tipis dan tidak berasa. Seperti pada ilustrasi di atas. Bunga yang ada di background, sebenarnya sudah di luar area fokus. Tapi garis merah belum terlalu rendah (efek blur belum terlalu kuat), sehingga memberi kesan bunga masih terlihat fokus.

Karena pengaruh jarak ini, bokeh yang dihasilkan dari dual kamera handphone terlihat maksa dan aneh. Idealnya dibutuhkan jarak yang cukup diluar area fokus untuk menghasilkan blur yang tinggi (bokeh). Bisa jadi 2 atau 3 meter dari titik fokus agar terlihat blur. Sementara pada handphone dual kamera, efek bokeh bisa didapat bahkan untuk jarak kurang dari 1 meter.

Tapi ya, dengan ‘editing’ (manipulasi) apa aja bisa dilakukan.

Jadi dalam hal jarak ini tedapat 2 opsi untuk menghasilkan bokeh yang baik. Menempatkan foreground (blur) se dekat-dekatnya dengan kamera, dengan model (fokus) yang lebih jauh. Atau sebaliknya, menempatkan model (fokus) dengan jarak sejauh-jauhnya dari background (blur)

Lensa tele

Teknik bokeh ini hanya bisa dilakukan pada kamera digital yang menggunakan lensa tele.

Sebenernya ga ada definisi khusus tentang lensa tele. Tapi sebagian orang mengkategorikan lensa tele adalah lensa dengan focal length diatas 85mm.

Dual lensa pada kamera handphone (biasanya memiliki kemampuan zoom), tapi focal length pada kamera handphone terlalu pendek. 85mm pada lensa kamera digital, atau 8.5cm dalam ukuran yang biasa kita kenal.

Kamera handphone, setebal-tebal body-nya, ga lebih tebal dari 1cm. Yang apabila memang dimaksimalin, focal length kamera handphone maksimal hanya 10mm (1cm tebal handphone itu sendiri).

Anyway, lensa tele (penggunaan focal length tinggi) otomatis akan menghasilkan bokeh yang cantik. Bahkan walaupun f-stop yang digunakan kecil (angka besar).

Karena pada saat menggunakan fungsi tele (focal length diatas 85mm) diameter bukaan lensa otomatis akan semakin membesar. Secara fisik bisa dilihat dari ukuran lensa tele yang memang lebih besar dibanding lensa zoom atau lensa fixed biasa.

Hal ini berkaitan dengan point pertama dari postingan ini, tentang diameter bukaan lensa. Dan kembali mengacu pada postingan ini.

Dengan mengetahui teori-teori ini semoga bisa membuat kita lebih menghargai (atau mencaci maki) peralatan ‘bokeh’ yang kita miliki.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan lensa handphone dengan kamera digital.

Bukaan lensa seringkali disebut f/x.x atau dalam format resminya f-stop. F-stop sebenarnya hanya data teknis kalkulasi dari focal length dibagi diameter aperture blade.

Bingung?

Tapi sebelumnya, tau kan apa itu aperture blade? Itu lho, bilah-bilah yang membentuk lingkaran (bolongan/bukaan) di dalam lensa kamera.

Jadi, katakanlah f/2.0, baik itu di handphone atau di DSLR atau di kamera-kamera lainnya. Apa sih f/2.0 itu? Berapa besar nilai f/2.0 itu sebenarnya? Apa efeknya? Dan lain sebagainya.

Tapi jangan dulu berbicara tentang efek bokehnya, atau seberapa bagus hasil exposure-nya. Sebelumnya kita harus tahu apa arti f-stop itu sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan di pembuka diatas, f-stop adalah data teknis, hasil kalkulasi dimensi lensa pada sebuah kamera.

Lalu hasil kalkulasi darimana? Tergantung dimana angka f/2.0 itu tertera.

Misal, f/2.0 itu tertera pada lensa DSLR Canon 50mm. Yang dimaksud data teknis adalah, lensa tersebut memiliki focal length sepanjang 50 mm, dan pergeseran aperture blade yang ada di dalam lensa tersebut membuat diameter terbuka sebesar 25 mm. 50 dibagi 25, hasilnya 2. Angka 2 itu lah yang ditulis pada body lensa tersebut menjadi f/2.0

Jadi, misal lensa 50 mm dengan f/1.4, artinya aperture blade-nya bisa bergerak dan membuat lubang/bukaan sebesar 35.8 mm.

Mulai paham?

Sekali lagi, F/2.0 adalah hasil bagi focal length dengan diameter aperture blade yang terbuka.

Lensa Nikon NIKKOR Z 50 mm f/1.8. Artinya lensa ini memiliki diameter aperture blade selebar 27.8 mm

Jadi, f/2.0 bukan nilai bukaan lensa. Berbicara tentang nilai, yang berkaitan dengan angka, selalu diiringi oleh satuan matematika. Entah itu centimeter, milimeter, kilometer, inchi, kilogram, liter dan sebagainya.

F-stop bukanlah satuan matematika untuk mewakilkan nilai.

Masih bingung? Kita lanjutin lagi.

Misal, f/2.0 itu tertera pada sebuah camcorder/handycam dengan focal length 28mm. Artinya diameter bukaan lensanya (diameter aperture blade-nya) adalah 14mm (28 dibagi 2). Atau 1.4 cm. Atau setara dengan f/3.5 pada lensa 50mm

Sony camcorder dengan lensa f/1.8 focal length 3.8-38mm

Lalu, apa gunanya f-stop kalau ternyata, yah, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya.

Nah, f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Misal, lensa 24 mm. Ketika menggunakan f-stop f/1.8, akan menghasilkan exposure yang lebih baik dan efek blur (bokeh) yang lebih dalam dibandingkan menggunakan f/5.6.

Atau dalam kondisi lain, masih tentang lensa 24 mm. Dengan f/3.5 exposure (yang ter-detect di layar kamera) minus. Jadi kita harus buka lagi misal, jadi f/2.8. Tapi ternyata masih minus, walau udah mendekati garis exposure netral. Karena lensa itu hanya f/2.8, berarti kita harus setup lighting, biar exposure bisa di posisi netral.

Tampilan exposure bar pada kamera digital.

Tampilan exposure bar pada salah satu kamera smartphone (pojok anan bawah).

Karena itu ada data EXIF. Saat melihat data EXIF dari sebuah foto, misal, menggunakan lensa dengan f/1.8, kita juga perlu melihat focal length dari lensa tersebut.

Pada data diatas terlihat ApertureValueyang digunakan adalah f/14 menggunakan lensa 55.0mm

Selanjutnya kita akan melihat nilai f-stop pada kamera handphone.

Focal length adalah jarak lensa dengan sensor. Pada 3 contoh diatas, contoh pertama lensa focal length 50mm. Atau dalam nilai sehari-hari yang biasa kita gunakan, 5cm. Dan di contoh kedua focal length 28mm, atau 2.8 cm. Contoh ke tiga, lensa 24 mm.

Body handphone, setebal-tebalnya, rasanya tidak akan lebih tebal dari 1 cm. Jadi sejauh-jauhnya, jarak maksimal antara lensa dengan sensor pada handphone hanya 10mm. Itu pun kemungkinan akan mononjol keluar dari body. Anyway, kita langsung saja ke kenyataanya, rata-rata focal length pada kamera handphone hanya 4mm, atau 0.4 cm.

Yah, sekitar setengah dari ketebalan body handphone itu sendiri.

Berbagai ukuran handphone

Dan katakanlah handphone tersebut memiliki nilai f-stop f/2.0. Dengan kalkulasi yang sama, 4mm dibagi 2 artinya besar bukaan lensanya hanya 2mm. Mmm… kebayang kan seberapa besar 2mm itu?

Kalau dibandingin dengan lensa 28 mm seperti yang terdapat pada camcorder/handycam, 2mm itu setara dengan f/14.

Sedangkan kalau dibandingin dengan lensa 50 mm,  2mm itu setara dengan f/25.

Wow!! Bahkan sekecil-kecilnya, untuk foto produk saya hanya menggunakan f-13.

F/25?? Itu kaya apa ya. Mungkin kaya lubang di kancing baju.

Kiri: lensa 50mm di f/5.6 (diameter bukaan 0.8cm). Kanan: lensa 50mm di f/1.4 (diameter bukaan 3.5cm)

Mulai paham?

Jadi ada kesalahan persepsi dalam istilah yang digunakan. Nilai f-stop tidak mewakilkan nilai bukaan. Nilai f-stop, katakanlah, hanya sebuah rumus untuk menentukan bukaan. Nilai f-stop adalah data teknik spesifikasi di bidang photography.

Perlu di ingat, nilai f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Ketika kita membutuhkan/mencari pengaruh f-stop atas 1 lensa.

Misal, sebagai contoh lain, kita akan memotret objek dengan konsep all-focus tanpa ada bagan blue/bokeh. Menggunakan f/11, setelah di cek detail, ternyata masih ada area blur. Kita turunin lagi jadi f/13, dimana artinya exposure juga ikut turun, jadi kita naikin ISO atau shutter speed bla….bla…. mungkin ini diluar bahasan utama dan perlu satu bahasan khusus lain.

Tapi anyway, itu lah guna f-stop.Menentukan pengaruh/efek atas 1 lensa saja.

Jadi rasanya cukup bisa dipahami untuk ga wondering lagi, kenapa kok lensa A pake ‘bukaan’ cuma f/3.5 tapi hasilnya lebih terang dan bokehnya lebih terasa di banding lensa B padahal ‘bukaan’-nya udah f/1.8.

Lensa kit pada kamera digital, misal 16mm f/3.5. Artinya memiliki besar bukaan sekitar 4.5mm. Nilai bukaan yang masih 2x lipat lebih besar dibanding nilai bukaan f/2.0 pada kamera handphone.

Lensa kit DSLR, hanya dengan f/3.5 masih memungkinkan untuk bokeh (blur background), dan menghasilkan exposure yang lebih baik dibandingkan f/2.0 pada kamera handphone.

Jadi dengan kalkulasi di atas, rasanya cukup bisa dipahami mengapa sebuah kamera handphone, bahkan dengan nilai f-stop hingga f/1.6, tetap tidak menghasilkan exposure yang maksimal dan tidak bisa menghasilkan foto bokeh layaknya kamera digital.

Mungkin ini salah satu trik (karena kebetulan saya pake iPhone) dari Apple, desain iPhone 6s (iPhone 6s di 2019??) pada bagian kameranya agak sedikit menonjol dari bodynya. Dengan body yang relatif lebih tipis dibanding handphone lain pada waktu perilisannya, tapi tetap mempertahankan focal length 4.15mm.

Focal length 4.15mm dengan f/2.2, artinya iPhone 6s memiliki diameter bukaan 1.8mm. Wow!! Setara dengan f/27 pada lensa DSLR 50mm 😀

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan F-stop dan T-stop

Berikut ini sejarah singkat, diluar detail dan waktu kejadian, perbedaan kedua ‘stop’ tersebut.

Pada suatu ketika, dahulu kala, dimana pada saat itu nilai ukur (data angka) dari sebuah lensa hanya menggunakan istilah f-stop. Pada dasarnya angka yang tertera pada f-stop adalah hasil kalkulasi antara focal length berbanding besar diameter bukaan lensa.

Lensa 50mm dengan bukaan f/2.0, artinya diameter bukaannya: 25mm (50 diambil dari mm focal length kemudian dibagi 2 yang diambil dari nilai f-stop).

Jadi kita bisa mengetahui besar diameter bukaan dari sebuah lensa tanpa harus capek-capek mengukur menggunakan penggaris, apalagi sampe membongkar lensanya.

Menelusuri nilai f/stop dari beberapa lensa.

Melalui hasil penelusuran diatas, bisa dipahami bahwa perbedaan ukuran diameter bukaan (perbedaan nilai f/stop) akan mempengaruhi ukuran body lensa tersebut. Karena nilai f-stop dari lensa itu mempengaruhi diameter aperture blade. Sehingga beberapa lensa memiliki ukuran yang lebih besar dibanding beberapa lensa lainnya. Walaupun memiliki focal length yang sama.

Perbedaan fisik lensa terhadap diameter bukaan (diluar nilai f-stop-nya)

Katakanlah, lensa zoom 500mm dengan f/2.0, artinya bukaan lensa mencapai 250mm (atau 25cm). Berarti ukuran tabung lensa menjadi sangat besar.

Dibandingkan dengan, misal, lensa 500mm dengan f/5, bukaan lensa 100mm (atau 10cm), artinya ukuran fisik lensa mungkin berkisar antara 11-13cm.

Masalah pertama.

Dalam prinsip photography, semakin besar nilai f-stop sebuah lensa maka akan semakin baik kemampuan exposure-nya. Misal, lensa 50mm dengan f/1.8 memiliki kemampuan exposure yang lebih baik dari lensa 50mm f/3.5.

Namun dalam contoh berikut ini, lensa 30mm f/1.2 memiliki diameter bukaan sama persis (25mm) dengan lensa 50mm f/2.0

Artinya kedua lensa tersebut, walau memliki nilai f-stop yang berbeda, tapi memiliki kemampuan exposure yang sama.

Contoh kedua; lensa 35mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 19.5 mm (35 dibagi 1.8). Dibandingkan dengan lensa 50mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 27.8mm (50 dibagi 1.8). Walau kedua lensa tersebut memiliki nilai f-stop yang sama, tapi kemampuan exposure lensa 50mm lebih baik karena diameter bukaan yang lebih besar.

Masalah kedua.

Misal, lensa Canon 50mm 1.8 dengan lensa Sony 50mm 1.8. Kedua lensa tersebut memiliki diameter bukaan yang sama, sekitar 27.8mm.

Namun karena berbagai hal seperti konstruksi internal lensa atau kualitas material yang digunakan dan lain sebagainya, keduanya tidak memiliki kemampuan exposure yang sama.

Sehingga disimpulkan bahwa: semakin rendah nilai f-stop suatu lensa (1 lensa), semakin baik kemampuan exposurenya. Tapi f-stop sama sekali tidak bisa dijadikan patokan kemampuan exposure beberapa lensa sekaligus.

Masalah ketiga.

Kembali ke jaman dahulu kala, saat istilah videographer hanya dikenal dalam produksi film layar lebar. Dimana hal tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan team yang cukup besar. Seringkali terkendala oleh kemampuan expoure yang berbeda dari setiap lensa.

Untuk itu dibutuhkan satu nilai yang lebih akurat dalam menentukan kemampuan lensa dalam merespon cahaya. Agar proses produksi film layar lebar pada waktu itu terhindar dari kesalahan exposure yang bisa menyebabkan pengeluaran waktu dan biaya post-production yang lebih besar terkait footage yang tidak ter-exposure dengan baik.

Hingga kemudian diterapkanlah standar nilai t-stop atau ‘transmission stop’, yaitu nilai ukur kemampuan exposure dari sebuah lensa. Nilai t-stop dihitung menggunakan metode uji coba, berbeda dengan nilai f-stop yang dapat dihitung hanya berdasarkan data teknis dimensi lensa.

Dengan menggunakan standar t-stop, setiap lensa yang berbeda (baik dari focal length, atau material yang digunakan, atau penerapan sistem internal yang berbeda, atau berbagai perbedaan lainnya) tapi memiliki nilai t-stop yang sama, misal T/1.5, artinya lensa-lensa tersebut memiliki kemampuan exposure yang sama persis.

Dalam proses produksi video setiap scene dan adegan biasanya membutuhkan spesifik komposisi dan penggunaan lensa tertentu. Penerapan standar t-stop ini sangat membantu menjaga exposure dengan baik walau menggunakan berbagai lensa yang berbeda.

Penutup

Karena pada awalnya lensa denga nilai t-stop adalah sebuah solusi terkait produksi film layar lebar (video), maka hingga hari ini lensa dengan standar t-stop tetap lebih populer digunakan dalam dunia videography dan dikenal dengan nama cinema lens.

Sedangkan untuk lensa photography pada umumnya masih tetap menggunakan standar f-stop.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Fotografi & Videografi

Punya keinginan jadi fotografer atau videografer?

Kalau dulu modalnya lumayan. Ga semua orang mampu beli peralatannya yang memang tidak murah. Untuk foto harga pocket photo atau tustel sekitar 500 ribuan. Sedangkan untuk video, handycam harganya lebih tinggi lagi, bisa 800 ribu atau 1 jutaan.

Istilah fotografi atau videografi mencakup pelaku dan alatnya. Sedangkan istilah fotografer atau videografer adalah tentang man behind the gun. Tentang siapa yang melakukannya. Terlepas dari secanggih apa alatnya, hasil yang bagus sedikit banyaknya adalah karena peran siapa yang menggunakan alat tersebut.

Jadi, siapapun bisa menjadi fotografer. Siapapun bisa menjadi videografer. Tentu saja kembali ke kemampuan orangnya. Membutuhkan latihan dan pengalaman untuk mengasah kemampuan. Alatnya?

Smartphone yang ada di tangan anda adalah jawaban yang paling tepat. Tidak peduli apakah smartphone anda punya kemampuan yang super canggih atau yang teramat sangat jelek, sebuah kamera adalah kamera. Dibuat, dipasang di smartphone anda, dan berfungsi sebagaimana filosopi kamera tersebut diciptakan.

Siapapun bisa menjadi apapun, yang penting niat. Begitu orang bilang. Tapi untuk fotografi dan videografi, menurut saya lebih dimudahkan. Niat sudah dibulatkan. Alat? Sudah ada di tangan entah sejak kapan, mungkin bertahun-tahun yang lalu.

Apabila anda punya smartphone dengan kamera yang sangat baik, sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. taking a picture doesn’t kill you. Memotret atau membuat video tidak akan membunuh kita. Tinggal 1-2 sentuh, smartphone anda siap merekam atau memotret sesuatu. Apabila anda merasa kamera smartphone anda tidak bagus, anda hanya butuh beberapa trik untuk menghasilkan foto atau video yang cukup layak.

1. Kenali kamera smartphone anda.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara kamera smartphone mahal dengan smartphone murah adalah kemampuan low-light nya. Kemampuan kamera untuk menangkap gambar dalam kondisi kekurangan cahaya. Yang dimaksud low-light
adalah apa yang terlihat dari kamera. Bukan apa yang terlihat oleh mata kita. Bahkan idealnya, bisa dibilang semua kamera smartphone apabila selalu didampingi oleh pencahayaan yang baik, berupa lighting set.

Apabila kemampuan kamera smartphone anda sudah cukup baik, anda perlu mempertimbangkan lokasi atau posisi pengambilan gambar agar cahaya yang ditangkap kamera lebih baik. Apabila kemampuan kamera smartphone anda tidak terlalu bagus terhadap low-light, sangat tidak disarankan untuk pengambilan gambar indoor (dalam ruangan). Usahakan selalu di area terbuka dan dalam kondisi cahaya matahari yang bagus.

Sudah punya niat tapi alat tidak mendukung? Anda pasti bisa menjadi fotografer atau videografer. Anda hanya butuh ketepatan waktu dan lokasi saja.

Selain kemampuan fisiknya, setiap smartphone menawarkan fitur yang berbeda untuk kameranya. Seperti kemampuan manual focus, manual exposure, resolusi dan sebagainya. Untuk smartphone dengan fitur yang minim anda bisa mencari beberapa aplikasi kamera untuk memaksimalkan kemampuan fisiknya.

Dengan mengenali kamera smartphone, anda bisa memilah apa yang bisa dan apa yang jangan anda lakukan. Kamera yang tidak terlalu bagus dalam kondisi low-light, jangan melakukan pengambilan gambar indoor. Tidak ada pengaturan focus, jangan mengambil gambar yang terlalu deket dan kecil. Apabila resolusinya kecil, usahakan mengambil gambar sesuai kebutuhan, tapi apabila resolusinya cukup besar anda punya kesempatan untuk membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan pada saat proses editing. Dan sebagainya.

2. Pelajari komposisi fotografi dan videografi.

Secara teori ada beberapa aturan komposisi yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah rules of third. Aturan 1/3 gambar.

Beberapa foto dan video yang dianggap unik adalah karena ketidak terbatasan cara pengambilannya. Anda bisa memotret sebuah motor persis lurus dari salah satu sisinya. Tapi anda juga bisa mengambil gambar dari posisi serong, misalnya dari arah kaca spion dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Anda bisa mengambil gambar orang lain dalam
posisi eye-level, posisi sebagaimana kita melihat orang lain. Tapi anda juga bisa mengambil gambar orang dalam posisi sebagai kucing (lebih rendah atau sangat rendah) atau dalam posisi bird-eye (posisi yang lebih tinggi).

Dan untuk menambah pengetahuan anda bisa melihat beberapa karya foto dan video yang dibuat oleh orang lain. Tanyakan kepada diri anda sendiri dan buat asumsinya. Kenapa pohonnya tidak terlihat hingga ke ranting paling tinggi. Kenapa foto kucing tapi kucingnya tidak di tengah gambar. Kenapa foto langit harus memperlihatkan gedung
dibawahnya kenapa tidak langit biru semuanya. Dan lain sebagainya.

3. Pelajari beberapa istilah

Untuk semakin membantu pemahaman, ada beberapa istilah fotografi dan videografi yang perlu anda ketahui. Berguna apabila anda melakukan percakapan atau membaca beberapa artikel terkait.

Aperture
Ini adalah ukuran bukaan sensor lensa kamera. Semakin besar bukaan sensor semakin besar gambar yang bisa diambil. Tanpa harus mundur-mundur menjauh dari objek. Dan semakin besar bukaan sensor maka semakin baik kemampuan kamera dalam kondisi low-light. Tapi karena kita ada dalam bahasan smartphone, aperture smartphone sudah fixed. Terkunci dan tidak dapat diubah.

ISO
Adalah ukuran sensitifitas sensor menerima cahaya. Semakin sensitif sensor maka semakin banyak cahaya yang ditangkap. Hasilnya akan lebih terang. ISO bisa dibilang sebagai pembantu langsung terhadap aperture. Ketika aperture kecil yang menghasilkan gambar lebih gelap, ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang. Apabila ISO terlalu rendah maka gambar akan lebih gelap. Untuk kamera dengan kemampuan low-light yang tidak bagus (aperture yang kecil), meningkatkan sensitifitas ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang tapi gambar akan terlihat kasar dan berbintik.

Shutter Speed
Adalah ukuran waktu sensor kamera membuka dan menutup pada saat mengambil gambar. Semakin lama sensor membuka maka akan menghasilkan gambar yang lebih terang, namun membuat gambar menjadi lebih blur/kabur. Shutter speed yang tinggi tidak disarankan untuk mengambil gambar yang bergerak.

Diantara ketiga istilah diatas, aperture bisa dikatakan sebagai sumber penentu kualitas cahaya pengambilan gambar. Tapi karena aperture smartphone sudah terkunci dan tidak dapat diubah, maka ISO dan shutter speed bisa membantu kita mendapatkan kualitas cahaya yang diinginkan.

Satu kelebihan sekaligus kekurangan dari kamera smartphone, kita tidak bisa mengubah setting aperture, berarti kita cukup fokus dengan 2 point lainnya yaitu ISO dan shutter speed.Namun, tidak semua kamera smartphone menyediakan setting manual untuk ISO dan shutter speed. Untuk itu diperlukan aplikasi kamera tambahan yang memiliki kontrol manual ISO dan manual shutter speed.

Hanya dengan 3 point dasar diatas anda sudah cukup untuk terjun sebagai fotografer dan videografer amatir. Anda harus mengetahui detail dan kemampuan kamera smartphone anda. Sehingga anda bisa memaksimalkan secara efektif sejauh mana kemampuan kameranya. Dengan demikian anda bisa menyusun konsep yang lebih baik sebelum mulai berburu gambar dan video. Semua kegiatan yang terkonsep idealnya menjadi lebih maksimal.

Dengan pemahaman alat dan konsep yang kuat, anda bisa mulai melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan beberapa teori fotografi dan videografi. Mengambil gambar yang unik, yang tidak biasa, atau sebuah gambar yang sebenarnya biasa saja, tapi dalam komposisi yang luar biasa.

Dan dalam prakteknya, anda bisa selalu menjaga kualitas foto dan video anda selalu sesuai dengan konsep dan keinginan. Apabila dirasa ada yang kurang pas anda bisa mencoba bermain-main dengan beberapa settingan standar kamera seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.