Posts tagged digital

Perbedaan Kamera DSLR dengan Mirrorless

Ada yang bilang DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video.

Ada yang bilang kualitas foto mirrorless masih belum bisa menyamai kualitas foto DSLR.

Ada juga yang bilang, well, sangat merekomendasikan DSLR. Untuk alasan yang sebenarnya tidak terjelaskan, banyak orang lebih menyarankan DSLR daripada mirrorless.

Sebenarnya apa sih DSLR dan mirrorless itu?

Perbedaan cara kerja DSLR dengan mirrorless

Digital Single Lens Reflect atau DSLR. Sesuai namanya, adalah kamera kamera digital yang memiliki single/sesuatu yang merefleksikan lensa.

Sesuatu tersebut adalah mirror, dimana dalam prakteknya, cahaya (dalam hal ini adalah gambar) masuk melalui lensa dan mengenai mirror tersebut. Mirror ini akan merefleksikan cahaya tersebut ke viewfinder.

Dengan viewfinder maka kita bisa mengatur komposisi atau exposure dan lain sebagainya.

That’s it! Itu lah yang disebut dengan single lens reflect.

Dengan penjelasan diatas, rasanya cukup mudah untuk menjelaskan pengertian mirrorless. Dimana artinya adalah ‘tanpa mirror‘. Karena tidak ada mirror maka cahaya (atau gambar) dari lensa langsung mengenai sensor.

Dan sebenarnya, se-simpel itu lah sistem yang dinamakan mirrorless.

Dan dalam hal ini, yang digolongkan sebagai kamera DSLR atau mirrorless adalah kamera yang bisa diganti lensanya (interchangeable lens atau ICL). Karena khususnya mirrorles, kamera handphone, kamera pocket, handycam dan beberapa kamera lainnya  juga menggunakan sistem mirrorless. Hanya saja tidak bisa diganti lensanya.

Optical vs Eletrical

Pada DSLR, posisi mirror tersebut berada tepat di depan sensor, sehingga menghalangi cahaya menyentuh sensor. Karena untuk sementara cahaya tersebut dibutuhkan untuk direfleksikan ke viewfinder. Refleksi  viewfinder menggunakan media mirror ini dikenal dengan nama optical viewfinder.

Jadi hingga titik ini, sensor belum bekerja dan belum dibutuhkan.

Apabila komposisi dan exposure susah sesuai maka pada saat tombol shutter ditekan, mirror akan berubah posisi, viewfinder menjadi gelap (karena tidak ada refleksi lagi), cahaya mengenai sensor, dan sensor akan merekamnya menjadi sebuah gambar.

Jadi pada sistem DSLR sensor hanya bekerja/dibutuhkan pada saat tombol shutter ditekan.

Jadi, penggunaan mirror pada sistem single lens reflect ini adalah tentang bagaimana kamera bekerja pada tombol shutter belum ditekan.

Sementara pada mirrorless, karena tidak memiliki mirror untuk merefleksikan cahaya ke viewfinder, maka sensor lah yang bertugas untuk menampilkan gambar ke LCD/viewfinder, atau disebut electronic viewfinder.

Oleh karena itu sensor akan selalu bekerja selama kamera on. Sensor akan selalu digunakan baik sebelum, atau pada saat, atau setelah tombol shutter ditekan.

Hal ini lah yang menyebabkan daya tahan baterai sistem mirrorless lebih rendah.

Optical Viewfinder dan Eletronic Viewfinder

Karena refleksi dilakukan secara optical, tampilan viewfinder pada DSLR lebih realistis. Ibarat menonton bola, langsung di stadion.

Sementara electronic viewfinder kurang realistis karena dipengaruhi kualitas dari display viewfinder itu sendiri. Ibarat menonton bola, tapi di televisi.

Pada dasarnya hal tersebut di atas lah yang membedakan DSLR dengan mirrorless. 2 sistem berbeda, dimana perbedaan itu justru terjadi pada saat kamera tidak mengambil gambar. Pada saat pengambilan gambar, kedua sistem ini akan bekerja dengan cara yang sama.

Perbedaan ukuran body

Karena perbedaan mekanisme kerjanya, perbedaan selanjutnya bisa dilihat dari gambar berikut ini.

Secara fisik, DSLR membutuhkan space internal yang lebih luas karena dibutuhkan jarak-jarak tertentu untuk mendapatkan refleksi optical yang sempurna yang menyebabkan body keseluruhan menjadi besar.

Sementara mirrorless tidak membutuhkan space besar karena, well, katakanlah hanya berisi beberapa kabel atau papan sirkuit sehingga desain dan body-nya menjadi lebih compact.

Jadi hingga titik ini beberapa point yang bisa disimpulkan adalah:
– DSLR menggunakan mirror untuk merefleksikan lensa (optical viewfinder) sehingga viewfinder menghasilkan gambar yang realistis.
Mirrorless menggunakan sinyal elektrik dari sensor (electronic viewfinder). Karena sensor selalu digunakan, daya tahan baterai lebih rendah.
– Pada satu moment saat tombol shutter ditekan, kedua kamera akan menggunakan teori yang sama (cahaya dari lensa langsung mengenai sensor, tidak membutuhkan mirror).
– Karena perbedaan cara kerja, mempengaruhi ukuran fisik. DSLR lebih besar dibanding mirrorless

Adaptasi Kedua Sistem

Pada awalnya, kamera DSLR memang hanya memiliki kemampuan photography. Seiring perkembangan jaman kamera DSLR juga memiliki kemampuan videography. Untuk kebutuhan videography, penggunaan metode mirrorless ini (penggunaan sistem electronic viewfinder) sangat dibutuhkan. Electronic viewfinder akan menampilkan secara real-time setiap perubahan yang dilakukan pada setingan kamera.

Hingga kemudian, DSLR pun bisa difungsikan seperti mirrorless (bahkan sebelum kamera mirrorless dikenal). Pada kamera Canon, fungsi ini bernama mode Live-View. Pada mode ini, mirror akan selalu menutup, Tidak ada refleksi optik yang terjadi sehingga viewfinder menjadi gelap. Dan LCD display akan menampilkan cahaya dari sensor (electronic viewfinder).

Mungkin pada awalnya ide mirrorless ini hanya sebagai shortcut, dimana mode Live-View (dalam hal ini terhadap kamera Canon) dijadikan mode utama. Dimana mirror tersebut tidak hanya berubah posisi, tapi benar-benar dihilangkan dan tidak digunakan lagi.

Sementara itu sistem mirrorless-pun melakukan perbaikan dari sisi kualitas display electronic viewfinder-nya untuk bisa menghasilkan tampilan viewfinder yang lebih realistis.

Image quality

Berbicara tentang image quality, sangat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas sensor, image processor yang digunakan, kualitas lensa, dan berbagai hal lainnya.

Dan sebaliknya kualitas gambar tidak dipengaruhi oleh sistem digunakan (DSLR atau mirrorless). Karena, sekali lagi, perbedaan sistem tersebut hanya berlaku sebelum atau setelah pengambilan gambar. Pada saat pengambilan gambar, keduanya menggunakan teori yang sama.

Kesimpulan

Jadi kembali ke pernyataan pembuka tulisan ini, ‘DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video’, adalah tentang pemanfaatan sistem yang digunakan. Bukan tentang kualitas foto/video yang dihasilkan.

Pandangan-pandangan lainnya bersifat lebih subjektif. Seperti mirrorless yang lebih kecil dan compact sehingga dirasa lebih efektif dan praktis digunakan. Atau seperti kenyamanan penggunakan DSLR yang bersifat semi elektrik dan ber-body besar yang lebih kokoh di pegangan.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan lensa handphone dengan kamera digital.

Bukaan lensa seringkali disebut f/x.x atau dalam format resminya f-stop. F-stop sebenarnya hanya data teknis kalkulasi dari focal length dibagi diameter aperture blade.

Bingung?

Tapi sebelumnya, tau kan apa itu aperture blade? Itu lho, bilah-bilah yang membentuk lingkaran (bolongan/bukaan) di dalam lensa kamera.

Jadi, katakanlah f/2.0, baik itu di handphone atau di DSLR atau di kamera-kamera lainnya. Apa sih f/2.0 itu? Berapa besar nilai f/2.0 itu sebenarnya? Apa efeknya? Dan lain sebagainya.

Tapi jangan dulu berbicara tentang efek bokehnya, atau seberapa bagus hasil exposure-nya. Sebelumnya kita harus tahu apa arti f-stop itu sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan di pembuka diatas, f-stop adalah data teknis, hasil kalkulasi dimensi lensa pada sebuah kamera.

Lalu hasil kalkulasi darimana? Tergantung dimana angka f/2.0 itu tertera.

Misal, f/2.0 itu tertera pada lensa DSLR Canon 50mm. Yang dimaksud data teknis adalah, lensa tersebut memiliki focal length sepanjang 50 mm, dan pergeseran aperture blade yang ada di dalam lensa tersebut membuat diameter terbuka sebesar 25 mm. 50 dibagi 25, hasilnya 2. Angka 2 itu lah yang ditulis pada body lensa tersebut menjadi f/2.0

Jadi, misal lensa 50 mm dengan f/1.4, artinya aperture blade-nya bisa bergerak dan membuat lubang/bukaan sebesar 35.8 mm.

Mulai paham?

Sekali lagi, F/2.0 adalah hasil bagi focal length dengan diameter aperture blade yang terbuka.

Lensa Nikon NIKKOR Z 50 mm f/1.8. Artinya lensa ini memiliki diameter aperture blade selebar 27.8 mm

Jadi, f/2.0 bukan nilai bukaan lensa. Berbicara tentang nilai, yang berkaitan dengan angka, selalu diiringi oleh satuan matematika. Entah itu centimeter, milimeter, kilometer, inchi, kilogram, liter dan sebagainya.

F-stop bukanlah satuan matematika untuk mewakilkan nilai.

Masih bingung? Kita lanjutin lagi.

Misal, f/2.0 itu tertera pada sebuah camcorder/handycam dengan focal length 28mm. Artinya diameter bukaan lensanya (diameter aperture blade-nya) adalah 14mm (28 dibagi 2). Atau 1.4 cm. Atau setara dengan f/3.5 pada lensa 50mm

Sony camcorder dengan lensa f/1.8 focal length 3.8-38mm

Lalu, apa gunanya f-stop kalau ternyata, yah, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya.

Nah, f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Misal, lensa 24 mm. Ketika menggunakan f-stop f/1.8, akan menghasilkan exposure yang lebih baik dan efek blur (bokeh) yang lebih dalam dibandingkan menggunakan f/5.6.

Atau dalam kondisi lain, masih tentang lensa 24 mm. Dengan f/3.5 exposure (yang ter-detect di layar kamera) minus. Jadi kita harus buka lagi misal, jadi f/2.8. Tapi ternyata masih minus, walau udah mendekati garis exposure netral. Karena lensa itu hanya f/2.8, berarti kita harus setup lighting, biar exposure bisa di posisi netral.

Tampilan exposure bar pada kamera digital.

Tampilan exposure bar pada salah satu kamera smartphone (pojok anan bawah).

Karena itu ada data EXIF. Saat melihat data EXIF dari sebuah foto, misal, menggunakan lensa dengan f/1.8, kita juga perlu melihat focal length dari lensa tersebut.

Pada data diatas terlihat ApertureValueyang digunakan adalah f/14 menggunakan lensa 55.0mm

Selanjutnya kita akan melihat nilai f-stop pada kamera handphone.

Focal length adalah jarak lensa dengan sensor. Pada 3 contoh diatas, contoh pertama lensa focal length 50mm. Atau dalam nilai sehari-hari yang biasa kita gunakan, 5cm. Dan di contoh kedua focal length 28mm, atau 2.8 cm. Contoh ke tiga, lensa 24 mm.

Body handphone, setebal-tebalnya, rasanya tidak akan lebih tebal dari 1 cm. Jadi sejauh-jauhnya, jarak maksimal antara lensa dengan sensor pada handphone hanya 10mm. Itu pun kemungkinan akan mononjol keluar dari body. Anyway, kita langsung saja ke kenyataanya, rata-rata focal length pada kamera handphone hanya 4mm, atau 0.4 cm.

Yah, sekitar setengah dari ketebalan body handphone itu sendiri.

Berbagai ukuran handphone

Dan katakanlah handphone tersebut memiliki nilai f-stop f/2.0. Dengan kalkulasi yang sama, 4mm dibagi 2 artinya besar bukaan lensanya hanya 2mm. Mmm… kebayang kan seberapa besar 2mm itu?

Kalau dibandingin dengan lensa 28 mm seperti yang terdapat pada camcorder/handycam, 2mm itu setara dengan f/14.

Sedangkan kalau dibandingin dengan lensa 50 mm,  2mm itu setara dengan f/25.

Wow!! Bahkan sekecil-kecilnya, untuk foto produk saya hanya menggunakan f-13.

F/25?? Itu kaya apa ya. Mungkin kaya lubang di kancing baju.

Kiri: lensa 50mm di f/5.6 (diameter bukaan 0.8cm). Kanan: lensa 50mm di f/1.4 (diameter bukaan 3.5cm)

Mulai paham?

Jadi ada kesalahan persepsi dalam istilah yang digunakan. Nilai f-stop tidak mewakilkan nilai bukaan. Nilai f-stop, katakanlah, hanya sebuah rumus untuk menentukan bukaan. Nilai f-stop adalah data teknik spesifikasi di bidang photography.

Perlu di ingat, nilai f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Ketika kita membutuhkan/mencari pengaruh f-stop atas 1 lensa.

Misal, sebagai contoh lain, kita akan memotret objek dengan konsep all-focus tanpa ada bagan blue/bokeh. Menggunakan f/11, setelah di cek detail, ternyata masih ada area blur. Kita turunin lagi jadi f/13, dimana artinya exposure juga ikut turun, jadi kita naikin ISO atau shutter speed bla….bla…. mungkin ini diluar bahasan utama dan perlu satu bahasan khusus lain.

Tapi anyway, itu lah guna f-stop.Menentukan pengaruh/efek atas 1 lensa saja.

Jadi rasanya cukup bisa dipahami untuk ga wondering lagi, kenapa kok lensa A pake ‘bukaan’ cuma f/3.5 tapi hasilnya lebih terang dan bokehnya lebih terasa di banding lensa B padahal ‘bukaan’-nya udah f/1.8.

Lensa kit pada kamera digital, misal 16mm f/3.5. Artinya memiliki besar bukaan sekitar 4.5mm. Nilai bukaan yang masih 2x lipat lebih besar dibanding nilai bukaan f/2.0 pada kamera handphone.

Lensa kit DSLR, hanya dengan f/3.5 masih memungkinkan untuk bokeh (blur background), dan menghasilkan exposure yang lebih baik dibandingkan f/2.0 pada kamera handphone.

Jadi dengan kalkulasi di atas, rasanya cukup bisa dipahami mengapa sebuah kamera handphone, bahkan dengan nilai f-stop hingga f/1.6, tetap tidak menghasilkan exposure yang maksimal dan tidak bisa menghasilkan foto bokeh layaknya kamera digital.

Mungkin ini salah satu trik (karena kebetulan saya pake iPhone) dari Apple, desain iPhone 6s (iPhone 6s di 2019??) pada bagian kameranya agak sedikit menonjol dari bodynya. Dengan body yang relatif lebih tipis dibanding handphone lain pada waktu perilisannya, tapi tetap mempertahankan focal length 4.15mm.

Focal length 4.15mm dengan f/2.2, artinya iPhone 6s memiliki diameter bukaan 1.8mm. Wow!! Setara dengan f/27 pada lensa DSLR 50mm 😀

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Saluran/Channel TV Digital Gratis di Indonesia

Setelah beberapa minggu otak-atik digital video receiver (DVB), buat yang ingin tahu, berikut ini adalah daftar channel/saluran TV gratis yang bisa di dapat di Indonesia, dan sumber sinyalnya.

*index warna

  • tulisan hijau, channel/saluran yang bisa didapat dari semua sumber yang ada.
  • tulisan biru, channel/saluran yang bisa didapat dari beberapa sumber yang ada.
  • tulisan hitam, channel/saluran  yang hanya terdapat dari satu sumber tertentu.

DVB-T2 (lokal wilayah/daerah tertentu)

DVB-T2 atau Digital Video Broadcast Terrestrial mark 2, adalah receiver/decoder/set top box yang bisa digunakan cukup dengan menggunakan antena TV UHF biasa.

Pada penyiaran analog, semakin jauh jarak TV dari sumber sinyal maka akan semakin bersemut tayangannya. Sehingga pada teknologi analog, hingga sejauh-jauhnya, channel/saluran mungkin masih bisa ditangkap, hanya saja dalam kualitas yang sudah tidak layak tonton lagi (sangat bersemut). Sehingga untuk memaksimalkan penerimaan sinyal analog tersebut (untuk menghindari tayangan yang bersemut), kita perlu mengarahkan antena ke satu arah tertentu dimana sumber sinyal terdekat berada.

Sedangkan pada penyiaran digital, channel/saluran dijamin bebas semut. Hingga di luar titik terjauh pancaran sinyal, maka channel/saluran sama sekali tidak didapat. Jadi dalam sistem digital hanya terdapat 2 pilihan; ada (jernih dan tidak bersemut), atau tidak ada tayangan sama sekali. Tidak ada istilah sinyal lemah (yang menyebabkan semut) dalam teknologi digital. Sehingga dalam sistem digital antena tidak harus diarahkan ke satu arah tertentu. Bahkan hanya dengan antena indoor sudah cukup.

Namun karena bersifat terrestrial (sinyal hanya berada di atas permukaan bumi), cakupan sinyal hanya berada di suatu wilayah tertentu. Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya tersedia cukup banyak saluran/channel TV digital.

  1. NEX SCTV (saluran gratis dari provider berbayar nexmedia)
  2. NEX Indosiar (saluran gratis dari provider berbayar nexmedia)
  3. NEX O Channel (saluran gratis dari provider berbayar nexmedia)
  4. BNTV
  5. MAGNA TV
  6. MetroTV HD
  7. MetroTV
  8. BBS TV
  9. TvOne Digital
  10. ANTV Digital
  11. Sport One
  12. TVOne
  13. Berita Satu
  14. Berita Satu World
  15. TransTV HD
  16. Trans7 HD
  17. CNN Indonesia HD
  18. Kompas TV
  19. Trans7
  20. TVRI Digital 1
  21. TVRI Digital 2
  22. TVRI Digital 3
  23. TVRI SPORT HD
  24. CNN Indonesia
  25. TV Mu
  26. Nusantara TV
  27. Tempo TV
  28. DAAI TV
  29. NET TV
  30. Badar TV
  31. Kompas TV
  32. Indosiar MPEG 2
  33. SCTV MPEG 2

*data didapat langsung dari hasil scan channel/saluran, sewaktu-waktu bisa berubah

Seperti yang terlihat, terdapat 33 saluran/channel digital gratis untuk wilayah sekitar Jakarta. Beberapa diantaranya adalah channel/saluran TV nasional yang sama seperti yang terdapat pada sistem analog.

Untuk channel/saluran yang sama, baik digital atau analog, program yang disiarkan sebenarnya adalah program yang sama, yang berbeda hanya cara penyiaran/penerimaannya saja. Selain itu, karena sudah menggunakan teknologi digital, memungkinkan menyiarkan channel/saluran high definition (HD). Dimana pada channel/saluran HD kualitas gambar yang dihasilkan menjadi jauh lebih baik lagi.

Dan seperti yang terlihat, tidak ada channel/saluran dari MNC Group (RCTI, GTV, MNC TV, Inews) karena memang hingga hari ini MNC Group masih belum menyediakan tayangan versi digital untuk terrestrial.

DVB-S2 Satelit Chinasat 11

DVB-S2 atau Digital Video Broadcast Satelit mark 2, adalah receiver/decoder/set top box yang digunakan untuk menangkap channel/saluran dari satelit. Untuk itu, dibutuhkan parabola/dish. Parabola/dish berukuran kecil sudah cukup untuk menangkap sinyal dari satelit ini.

Sesuai dengan sistem kerjanya, channel/saluran ini memancarkan sinyal menggunakan satelit, jadi pancaran sinyal tidak hanya di permukaan bumi. Sehingga jangkauan sinyal menjadi lebih jauh dan bisa ditangkap dari seluruh Indonesia.

Namun seperti yang kita ketahui, penggunaan teknologi satelit tidak gratis. Kebanyakan channel/saluran yang disediakan menggunakan satelit adalah channel/saluran yang berbayar/berlangganan, untuk menutupi biaya penggunaan satelit tersebut.

Walau demikian, ada beberapa provider yang menyediakan channel/saluran gratis. Salah satunya adalah provider Ninmedia yang memang menggratiskan seluruh tayangannya di satelit Chinasat 11 ini.

Channel yang disediakan oleh Ninmedia melalui satelit Chinasat 11 adalah:

  1. Ninmedia Info CHannel
  2. Saluran Musik Indonesia
  3. Klik Music
  4. Metro TV
  5. Saling Sapa TV
  6. TV One
  7. Saluran Film Indonesia
  8. Indosiar
  9. Maleo!
  10. NET TV
  11. Tribrata TV
  12. SCTV
  13. Nu Channel
  14. ANTV
  15. Kitanesia TV
  16. Diamond Earth
  17. TV Tabalong
  18. Duta TV
  19. Trans 7
  20. RRI Net
  21. Kompas TV
  22. Arek TV
  23. DMI
  24. Quran TV
  25. Rodja TV
  26. Saluran Film Indonesia Prima
  27. TV Desa
  28. Trans TV
  29. Inspira TV
  30. Rajawali TV
  31. Inews
  32. Ladies Channel
  33. TV BMW
  34. DC7
  35. Gemilang TV
  36. Diamond Kids
  37. Avava Bollywood
  38. Black Diamond
  39. Gold Diamond
  40. GTV
  41. RCTI
  42. MNC TV
  43. Diamond TV
  44. Red Diamond
  45. Avava Diamond TV

*data didapat langsung dari hasil scan channel/saluran, dan dari lyngsat.com. daftar channel/saluran sewaktu-waktu bisa berubah

Tersedia lebih banyak channel/saluran di satelit Chinasat 11, total 45 channel/saluran gratis. Terlihat, channel/saluran dari MNC Group juga tersedia(RCTI, GTV, MNC TV, Inews).

DVB-S2 Satelit Measat 3A

Satelit Measat 3A ini adalah satelit yang digunakan oleh provider TV berbayar/berlangganan K-Vision. Namun entah karena pertimbangan tertentu, beberapa channel/saluran lokal dan bahkan beberapa channel/saluran internasional disediakan secara gratis.

Parabola/dish berukuran kecil juga sudah cukup untuk menangkap sinyal dari satelit ini. Dan channel/saluran gratis yang disediakan K-vision yaitu:

  1. On Channel (K-Vision Info Channel)
  2. SCTV
  3. Indosiar
  4. Trans TV
  5. Trans 7
  6. ANTV
  7. NET TV
  8. Rajawali TV
  9. Kompas TV
  10. TV One
  11. Berita Satu
  12. TVRI Nasional
  13. KTV
  14. Bali TV
  15. JTV
  16. DAAI TV
  17. Rodja TV
  18. Reformed 21
  19. TV Mu
  20. Nusantara TV
  21. Elshinta TV
  22. INTV
  23. O Channel
  24. Quran TV
  25. Channel NewsAsia
  26. NHK World Japan
  27. DW English
  28. RT News
  29. France 24 English
  30. YTN World
  31. CCTV 4 Asia
  32. CGTV
  33. Klik Music

*data didapat langsung dari hasil scan channel/saluran, dan dari lyngsat.com. daftar channel/saluran sewaktu-waktu bisa berubah

Terdapat 33 channel/saluran gratis yang bisa dinikmati dari seluruh Indonesia. 8 diantaranya adalah channel/saluran internasional (Channel NewsAsia, NHK World Japan, France 24 English dsb). Namun tidak ada channel/saluran dari MNC Group (RCTI, GTV, MNC TV, Inews).

DVB-S2 Satelit Palapa D

Berbeda dengan 2 satelit diatas dimana sinyalnya bisa ditangkap hanya dengan parabola/dish berukuran kecil, pada satelit Palapa D dibutuhkan parabola/dish yang berukuran lebih besar.

Menurut data dari lyngsat, channel/saluran gratis pada satelit Palapa D adalah:

  1. NET TV HD
  2. Efarina TV
  3. NET TV
  4. TVRI Nasional
  5. TVRI 3
  6. TVRI Sport
  7. MNC TV
  8. Inews
  9. TV One
  10. TV 9 Nusantara
  11. KTV
  12. SCTV
  13. Indosiar
  14. O Channel
  15. Rajawali TV
  16. Metro TV
  17. Lejel Home Shopping
  18. Ruai TV
  19. Sinema Indonesia
  20. Elshinta TV
  21. SBS Indonesia HD
  22. Jwa Pos TV
  23. Sinema Indonesia
  24. Ummat TV
  25. Ummat TV Quran
  26. BBS TV HD
  27. Indonesia Network
  28. Bali TV
  29. Space Toon
  30. Smile Home Shopping
  31. Quran Hedayah Indonesia
  32. Metro TV Jawa Timur
  33. Quran Hidayah English
  34. GTV
  35. RCTI
  36. I AM Channel
  37. JTV
  38. Matrix TV
  39. INTV
  40. Ahsan TV
  41. Al Iman TV
  42. Ashiil TV
  43. TV Meurabe
  44. Annaba TV
  45. Saling Sapa TV
  46. TV Edukasi
  47. TV Edukasi HD
  48. Akhyar TV
  49. MGI TV
  50. Share Channel TV
  51. Wesal TV
  52. Salam TV
  53. Niaga TV
  54. Surau TV
  55. Puldapii TV
  56. DAAI TV
  57. Ihsan TV
  58. Kompas TV
  59. Rodja TV
  60. MD Entertainment
  61. HollaGo
  62. Jak TV
  63. Light TV
  64. Al Manar TV
  65. U Channel
  66. Sinema Indonesia
  67. K-Drama
  68. Nusantara TV
  69. Hadi TV 2
  70. MetroTV HD
  71. Matrix Shop
  72. Reformed 21
  73. MWD Varity
  74. MWD Movies
  75. MWD Series
  76. MWD
  77. MWD Music
  78. MWD Documentary
  79. MWD Shopping
  80. Pijar TV
  81. ShE
  82. Pon TV
  83. Inspira TV

*data didapat dari lyngsat.com. daftar channel/saluran sewaktu-waktu bisa berubah

Terdapat lebih banyak channel/saluran gratis dari satelit Palapa D. Bahkan, tersedia cukup banyak channel/saluran dengan kualitas high definition (HD). Namun mengingat harga dari parabola berukuran besar dan alat-alat pendukungnya yang lebih mahal, dibutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk menikmati channel/saluran dari satelit ini.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Kadir Celep on Unsplash

Pengalaman Tracking Satelit TV Digital

Semua ini dimulai karena kepikiran sama parabola bekas Aora TV yang udah hampir 2 tahun ga kepake dan masih kepasang di dinding kamar kost. Provider yang menghilang tanpa jejak. Bangkrut tanpa pemberitahuan padahal saya adalah pelanggan aktifnya, hingga detik-detik terakhirnya 🙁

Dari artikel-artikel yang pernah saya baca (sekilas, ga terlalu mendalami), parabola itu masih bisa dimanfaatin, asal receivernya cocok. Karena receiver bawaan dari Aora di lock hanya untuk nerima sinyal dari satelit dia sendiri (masalahnya, entah satelit apa yang mereka gunakan, karena perusahaannya sendiri udah ga ada).

Jadi saya coba liat-liat harga receiver TV di salah satu toko online hingga ketemu satu receiver yang  menurut saya harganya cukup terjangkau, namanya Skybox H-1 DVB-T2. Harganya sekitar 150 ribuan.

Tapi ternyata, ini adalah kesalahan pertama saya. Receiver, atau decoder, atau set top box, atau apapun namanya itu punya 2 jenis:

  • DVB-T2 = Digital Video Broadcast Terrestial versi 2 adalah receiver TV digital untuk antena UHF biasa (indoor atau outdoor)
  • DVB-S2 = Digital Video Broadcast Satelit versi 2 adalah receiver TV digital untuk satelit dan parabola
  • Ternyata saya salah beli hahahaha…

Masih cukup sabar, berhubung harganya ga terlalu mahal hahaha. Walau begitu masih tetep penasaran pengen nyoba gimana hasilnya kalo DVB-T2 ini langsung pake kabel dari parabola. Dan benar, hasilnya nihil haha.

Karena Skybox H-1 ini memang receiver hanya untuk terestrial, hanya untuk menerima frekuensi dari antena biasa, bukan penerima sinyal dari satelit. Dan, tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan satelit.

DVB-T2 daerah Jakarta Pusat

Akhirnya nyobain colok DVB-T2 ini langsung ke antena biasa. Dan mulai scan channel.

Ternyata hasilnya cukup puas! Di daerah Jakarta Pusat, untuk antena indoor yang udah bengkok-bengkok, digantung di kusen jendela (namanya juga kamar kost haha) dan sebenarnya udah ga layak pakai, ternyata ketemu banyak channel FTA digital. Sebagian besar adalah channel-channel FTA yang udah ada, SCTV, ANTV, Indosiar, TvOne dan lain-lain.

Tapi selain itu juga ada channel-channel yang ‘baru’, diantaranya ada Berita Satu, TVRI 1, TVRI 2, TVRI 3, TVRI Sport HD (baru tau untuk versi digital ternyata TVRI punya 4 channel), CNN Indonesia,  dan lain sebagainya.

Tapi pada saat itu, minus Trans TV dan Trans 7, yang menurut saya karena lagi ada piala dunia 2018. Karena nyatanya CNN Indonesia masih ada, padahal satu group.

Dan FYI, MNC Group (RCTI, GTV, INews) memang katanya belum ada channel digitalnya.

Oke, lumayan. Memang selama ini saya cuma tau channel analog yang nontonnya tinggal pake antena UHF (RCTI, SCTV, ANTV, MetroTV dsb). Atau channel-channel dari TV berlangganan seperti HBO, Nat Geo dan sebagainya. Jadi baru tau ternyata untuk siaran digital ada banyak channel-channel lainnya.

Tapi, itu masih siaran terestrial versi digital. Sedangkan tujuan awal, kan, mau manfaatin parabola yang tua itu. Jadi saya tetap harus nyari receiver untuk parabola lagi.

Browsing-browsing toko online lagi, dan ketemu lah receiver yang dimaksud, DVB-S2. Ternyata, harganya sama-sama cukup terjangkau, Visat HD-Q1 Ultimate, sekitar 170 ribuan.

Oke! Segera saya bongkar parabola tua Aora itu dan rencananya mau bawa pulang ke rumah di weekend nanti. Kebetulan, kabel dari parabola masih ada, sekitar 15m. Jadi bener-bener cuma modal beli receivernya aja. Irit lah..

DVB-T2 daerah Kota Tangerang

Sabtu pagi, sebelum nyobain receiver parabolanya, mendadak penasaran, channel apa aja yang si DVB-T2 Skybox H-1 bisa dapet di sini, (kunciran tangerang). Langsung colok antena (yang sama-sama cuma indoor, tapi lebih layak pakai). Hasilnya ternyata oke banget!! Walau abis itu jadi kecewa hahaha. Semua channel berbayar Nexmedia langsung ditemukan, NEX HBO, NEX FOX Movies, NEX NGC, NEX AXN, NEX Nickelodeon, dan lain sebagainya. Walau, diacak dan tidak bisa dinikmati. Sedih hahaha

Tapi untuk channel FTA-nya, ternyata lebih banyak dibanding di Jakarta Pusat (apa pengaruh antena yang udah ga layak pake ya? Hahahaa). Berita Satu, Berita Satu World, Tempo TV, Gramedia TV, TvOne, TvOne HD, MetroTV, MetroTV HD, TransTV HD, Trans7 HD (ternyata bener, beres piala dunia channelnya muncul) dan berbagai channel FTA lain.

Tapi, channel MNC Group tetap tidak ada (RCTI, GTV, Inews). Gpp lah, saya juga ga tertarik nonton sinetron hahaha

Saya puas. Lagian cuma buat ngetest. Jadi saya mulai pindah untuk coba receiver DVB-S2 ini, si Visat HD-Q1.

DVB-S2

Dan ini masalah ke dua saya. Dengan parabola, kita harus tau satelit mana  yang mau kita tuju. Dan kalo udah tau, parabola kita harus bisa diarahkan persis ke posisi dimana satelit itu berada. Nah loh?? Emang satelitnya keliatan???

Yang pertama saya lakuin, mulai googling satelit yang ‘layak’ untuk di pointing. Hasil pencarian saya menemukan 2 satelit yang cocok untuk dicoba:

  • Satelit Chinasat 11, berisi channel-channel FTA lokal dari provider Ninmedia (semua channel di satelit ini gratis)
  • Satelit Measat 3A, satelit yang digunakan oleh provider k-vision dan transvision (berisi channel premium berbayar, beberapa FTA lokal, dan beberapa FTA internasional).

Info didapat dari web lyngsat.com

Saya mulai searching cara tracking kedua satelit itu, dan berujung pada web dishpointer.com. Dimana pada web ini, dua point penting dalam hal tracking satelit adalah nilai azimuth dan elevation.

Nilai azimuth adalah nilai ke arah mana parabola harus dihadapkan. Dan nilai elevation adalah posisi mendongak/menunduknya parabola. Jadi, hanya bermodalkan map yang ada di web itu, saya mulai coba tracking. Tanpa compass atau bantuan aplikasi apapun.

Sabtu pagi itu (ga berapa lama setelah puas nyobain DVB-T2) saya mulai setup parabola dan kabelnya dan memutuskan untuk mencoba tracking satelit Chinasat 11 terlebih dahulu.

Untuk azimuth (arah hadap parabola), saya hanya mengacu pada bangunan/area tertentu yang ada di map di dishpointer.com, dan saya cocokan dengan keadaan bangunan/area yang sebenarnya. Hanya menerka-nerka.

Dari garis arah satelit yang ditampilkan oleh dishpointer.com, parabola dihadapkan lurus ke arah depan rumah tapi agak sedikit miring ke kanan. Saya posisikan parabola lurus dengan pagar rumah, dan memiringkannya sedikit ke kanan.

Untuk elevationnya, dari data yang ditampilkan dishpointer, adalah 77 derajat. Jadi saya menerka-nerka lagi, kira-kira posisi mendongak 77 derajat seperti apa hahahaha

Dan hasilnya..

…dari sabtu pagi hingga jam 01:30 minggu dini hari (hampir 15 jam) hasilnya nihil!!! Hahaha. Mau diposisikan seperti apapun, mau diputar ke arah manapun, mau mendongak atau menunduk seperti apapun, intensitas sinyal yang ditampilkan di receiver hanya 46% dan kualitas sinyal tetap 10%.

Saya nyerah, udah hampir pagi. Rencananya besok (minggu pagi) saya mau beli compass biar ga buang-buang tenaga pointing cuma pake feeling hahaha…

Tapi namanya gregetan, sebelum tidur saya malah kepikiran kalo mungkin aja kabel saya yang bermasalah. Kabel sepanjang 15m yang udah berumur 2 tahun yang mungkin kualitasnya udah ga bagus lagi.

DVB-S2 satelit Chinasat 11

Bangun pagi, sebelum beneran nyari compass, saya coba potong kabelnya jadi lebih pendek, mastiin apa bener kabelnya bermasalah. Saya potong kabel jadi sekitar 3 m dan mulai pointing lagi ke Chinasat 11.

Dan lagi-lagi, cuma pake feeling.

Puter kiri kanan, naik turun, ga sampe 1 menit, ternyata langsung ketemu!! Chinasat 11, intensitas sinyal 84% dan kualitas sinyal 65%. Wow!!!

Ternyata bener, kabel saya bermasalah.Dan saya langsung blind scan satelit tersebut

Ternyata tracking satelit ga sesulit itu, asal peralatan udah yakin bener dan ga ada yang rusak hahahah.

Beberapa channel yang didapat diantaranya adalah Rodja TV, Quran TV, Diamond TV, Ladies Channel, Nu TV, channel-channel FTA lain dan termasuk channel-channel dari MNC Group.

Mantap!!

Rencananya saya mau beli kabel baru, diwaktu adek saya (cewek) penasaran dengan kesibukan saya karena sejak kemaren ga berenti-berenti. Pegang remote receiver, muter-muter channel, sampe akhirnya menawarkan diri bantu pergi beli kabel baru. Mungkin karena kasian sama saya hahah

Oke. Silahkan. Saya kasih duit buat beli kabel.

Sementara nunggu, saya jadi penasaran pengen coba tracking satelit lain. Apa lagi kalo bukan Measat 3A.

DVB-S2 satelit Measat 3A

Dan masih dengan modal feeling, kali ini posisi hadap parabola persis lurus ke arah depan rumah menurut dishpointer.com. Ga di miring-miring kaya arah Chinasat 11. Dengan elevation 70 derajat. Puter-puter bentar, dan… lagi-lagi, ga sampe 1 menit, intensitas sinyal 79% dan kualitas sinyal 70% untuk Measat 3A hahahha

Ga nunggu lama saya langsung blind scan lagi satelit itu. Hasilnya? Untuk channel FTA, sebenarnya ga sebanyak channel yang ada di satelit Chinasat 11. Tapi di Measat 3A ini saya menemukan semua channel premium berbayar entah itu dari k-vision atau Transvision seperti FOX Movies, FOX Sport, Bein Sport, HBO, AXN, hingga TvN dan lainnya. Hanya saja, semua channel premium ini berstatus ‘scramble’, diacak.

Dari deskripsi produk (sewaktu saya membeli) Visat HD-Q1 ini dikatakan sudah support autoroll power VU, bisskey, tandberg dan lain sebagainya. Fitur-fitur yang dibutuhkan untuk membuka channel yang diacak. Hanya saja, saya tidak menemukan cara untuk memanfaatkan fitur tersebut. Tidak ada review atau guide atau manual apapun tentang receiver ini yang bisa saya temukan.

Hingga akhirnya dengan segala pertimbangan, saya memutuskan untuk mengarahkan parabola ke satelit Chinasat 11 saja. Satelit yang memang menyediakan channel-channel gratis. Dan cukup banyak. Lebih banyak, dibanding Measat 3A.

Saya merasa cukup bijak untuk tidak menyalahi aturan legalitas menikmati sesuatu yang bukan hak saya hahaha.

Lagian, modal yang dibutuhkan cukup ringan, receiver 170 ribu dan kabel baru seharga 20 ribu. Ga sampe 200 ribu. Mahal dikit dibanding orang-orang yang beli DVB-T2, tapi saya bisa dapetin channel yang lebih banyak. Karena untuk parabola dan LNB cukup menggunakan sisaan dari Aora itu saja.

Lagian, saya cukup capek karena semaleman hampir begadang. Mungkin nanti, mungkin weekend depan, atau entah kapan, saya bisa nyoba-nyoba lagi.

Se kembali adek saya beli kabel, saya langsung ‘bor’ parabolanya di dinding samping. Dan nyokap cukup senang denger pengajian dan bisa liat Ka’bah di channel Quran TV. Alhamdulillah.

Maaf, tidak menyertakan gambar/foto apapun.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Mohammed lak on Unsplash

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash