Posts tagged DSLR

Perbedaan Kamera DSLR dengan Mirrorless

Ada yang bilang DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video.

Ada yang bilang kualitas foto mirrorless masih belum bisa menyamai kualitas foto DSLR.

Ada juga yang bilang, well, sangat merekomendasikan DSLR. Untuk alasan yang sebenarnya tidak terjelaskan, banyak orang lebih menyarankan DSLR daripada mirrorless.

Sebenarnya apa sih DSLR dan mirrorless itu?

Perbedaan cara kerja DSLR dengan mirrorless

Digital Single Lens Reflect atau DSLR. Sesuai namanya, adalah kamera kamera digital yang memiliki single/sesuatu yang merefleksikan lensa.

Sesuatu tersebut adalah mirror, dimana dalam prakteknya, cahaya (dalam hal ini adalah gambar) masuk melalui lensa dan mengenai mirror tersebut. Mirror ini akan merefleksikan cahaya tersebut ke viewfinder.

Dengan viewfinder maka kita bisa mengatur komposisi atau exposure dan lain sebagainya.

That’s it! Itu lah yang disebut dengan single lens reflect.

Dengan penjelasan diatas, rasanya cukup mudah untuk menjelaskan pengertian mirrorless. Dimana artinya adalah ‘tanpa mirror‘. Karena tidak ada mirror maka cahaya (atau gambar) dari lensa langsung mengenai sensor.

Dan sebenarnya, se-simpel itu lah sistem yang dinamakan mirrorless.

Dan dalam hal ini, yang digolongkan sebagai kamera DSLR atau mirrorless adalah kamera yang bisa diganti lensanya (interchangeable lens atau ICL). Karena khususnya mirrorles, kamera handphone, kamera pocket, handycam dan beberapa kamera lainnya  juga menggunakan sistem mirrorless. Hanya saja tidak bisa diganti lensanya.

Optical vs Eletrical

Pada DSLR, posisi mirror tersebut berada tepat di depan sensor, sehingga menghalangi cahaya menyentuh sensor. Karena untuk sementara cahaya tersebut dibutuhkan untuk direfleksikan ke viewfinder. Refleksi  viewfinder menggunakan media mirror ini dikenal dengan nama optical viewfinder.

Jadi hingga titik ini, sensor belum bekerja dan belum dibutuhkan.

Apabila komposisi dan exposure susah sesuai maka pada saat tombol shutter ditekan, mirror akan berubah posisi, viewfinder menjadi gelap (karena tidak ada refleksi lagi), cahaya mengenai sensor, dan sensor akan merekamnya menjadi sebuah gambar.

Jadi pada sistem DSLR sensor hanya bekerja/dibutuhkan pada saat tombol shutter ditekan.

Jadi, penggunaan mirror pada sistem single lens reflect ini adalah tentang bagaimana kamera bekerja pada tombol shutter belum ditekan.

Sementara pada mirrorless, karena tidak memiliki mirror untuk merefleksikan cahaya ke viewfinder, maka sensor lah yang bertugas untuk menampilkan gambar ke LCD/viewfinder, atau disebut electronic viewfinder.

Oleh karena itu sensor akan selalu bekerja selama kamera on. Sensor akan selalu digunakan baik sebelum, atau pada saat, atau setelah tombol shutter ditekan.

Hal ini lah yang menyebabkan daya tahan baterai sistem mirrorless lebih rendah.

Optical Viewfinder dan Eletronic Viewfinder

Karena refleksi dilakukan secara optical, tampilan viewfinder pada DSLR lebih realistis. Ibarat menonton bola, langsung di stadion.

Sementara electronic viewfinder kurang realistis karena dipengaruhi kualitas dari display viewfinder itu sendiri. Ibarat menonton bola, tapi di televisi.

Pada dasarnya hal tersebut di atas lah yang membedakan DSLR dengan mirrorless. 2 sistem berbeda, dimana perbedaan itu justru terjadi pada saat kamera tidak mengambil gambar. Pada saat pengambilan gambar, kedua sistem ini akan bekerja dengan cara yang sama.

Perbedaan ukuran body

Karena perbedaan mekanisme kerjanya, perbedaan selanjutnya bisa dilihat dari gambar berikut ini.

Secara fisik, DSLR membutuhkan space internal yang lebih luas karena dibutuhkan jarak-jarak tertentu untuk mendapatkan refleksi optical yang sempurna yang menyebabkan body keseluruhan menjadi besar.

Sementara mirrorless tidak membutuhkan space besar karena, well, katakanlah hanya berisi beberapa kabel atau papan sirkuit sehingga desain dan body-nya menjadi lebih compact.

Jadi hingga titik ini beberapa point yang bisa disimpulkan adalah:
– DSLR menggunakan mirror untuk merefleksikan lensa (optical viewfinder) sehingga viewfinder menghasilkan gambar yang realistis.
Mirrorless menggunakan sinyal elektrik dari sensor (electronic viewfinder). Karena sensor selalu digunakan, daya tahan baterai lebih rendah.
– Pada satu moment saat tombol shutter ditekan, kedua kamera akan menggunakan teori yang sama (cahaya dari lensa langsung mengenai sensor, tidak membutuhkan mirror).
– Karena perbedaan cara kerja, mempengaruhi ukuran fisik. DSLR lebih besar dibanding mirrorless

Adaptasi Kedua Sistem

Pada awalnya, kamera DSLR memang hanya memiliki kemampuan photography. Seiring perkembangan jaman kamera DSLR juga memiliki kemampuan videography. Untuk kebutuhan videography, penggunaan metode mirrorless ini (penggunaan sistem electronic viewfinder) sangat dibutuhkan. Electronic viewfinder akan menampilkan secara real-time setiap perubahan yang dilakukan pada setingan kamera.

Hingga kemudian, DSLR pun bisa difungsikan seperti mirrorless (bahkan sebelum kamera mirrorless dikenal). Pada kamera Canon, fungsi ini bernama mode Live-View. Pada mode ini, mirror akan selalu menutup, Tidak ada refleksi optik yang terjadi sehingga viewfinder menjadi gelap. Dan LCD display akan menampilkan cahaya dari sensor (electronic viewfinder).

Mungkin pada awalnya ide mirrorless ini hanya sebagai shortcut, dimana mode Live-View (dalam hal ini terhadap kamera Canon) dijadikan mode utama. Dimana mirror tersebut tidak hanya berubah posisi, tapi benar-benar dihilangkan dan tidak digunakan lagi.

Sementara itu sistem mirrorless-pun melakukan perbaikan dari sisi kualitas display electronic viewfinder-nya untuk bisa menghasilkan tampilan viewfinder yang lebih realistis.

Image quality

Berbicara tentang image quality, sangat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas sensor, image processor yang digunakan, kualitas lensa, dan berbagai hal lainnya.

Dan sebaliknya kualitas gambar tidak dipengaruhi oleh sistem digunakan (DSLR atau mirrorless). Karena, sekali lagi, perbedaan sistem tersebut hanya berlaku sebelum atau setelah pengambilan gambar. Pada saat pengambilan gambar, keduanya menggunakan teori yang sama.

Kesimpulan

Jadi kembali ke pernyataan pembuka tulisan ini, ‘DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video’, adalah tentang pemanfaatan sistem yang digunakan. Bukan tentang kualitas foto/video yang dihasilkan.

Pandangan-pandangan lainnya bersifat lebih subjektif. Seperti mirrorless yang lebih kecil dan compact sehingga dirasa lebih efektif dan praktis digunakan. Atau seperti kenyamanan penggunakan DSLR yang bersifat semi elektrik dan ber-body besar yang lebih kokoh di pegangan.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan lensa handphone dengan kamera digital.

Bukaan lensa seringkali disebut f/x.x atau dalam format resminya f-stop. F-stop sebenarnya hanya data teknis kalkulasi dari focal length dibagi diameter aperture blade.

Bingung?

Tapi sebelumnya, tau kan apa itu aperture blade? Itu lho, bilah-bilah yang membentuk lingkaran (bolongan/bukaan) di dalam lensa kamera.

Jadi, katakanlah f/2.0, baik itu di handphone atau di DSLR atau di kamera-kamera lainnya. Apa sih f/2.0 itu? Berapa besar nilai f/2.0 itu sebenarnya? Apa efeknya? Dan lain sebagainya.

Tapi jangan dulu berbicara tentang efek bokehnya, atau seberapa bagus hasil exposure-nya. Sebelumnya kita harus tahu apa arti f-stop itu sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan di pembuka diatas, f-stop adalah data teknis, hasil kalkulasi dimensi lensa pada sebuah kamera.

Lalu hasil kalkulasi darimana? Tergantung dimana angka f/2.0 itu tertera.

Misal, f/2.0 itu tertera pada lensa DSLR Canon 50mm. Yang dimaksud data teknis adalah, lensa tersebut memiliki focal length sepanjang 50 mm, dan pergeseran aperture blade yang ada di dalam lensa tersebut membuat diameter terbuka sebesar 25 mm. 50 dibagi 25, hasilnya 2. Angka 2 itu lah yang ditulis pada body lensa tersebut menjadi f/2.0

Jadi, misal lensa 50 mm dengan f/1.4, artinya aperture blade-nya bisa bergerak dan membuat lubang/bukaan sebesar 35.8 mm.

Mulai paham?

Sekali lagi, F/2.0 adalah hasil bagi focal length dengan diameter aperture blade yang terbuka.

Lensa Nikon NIKKOR Z 50 mm f/1.8. Artinya lensa ini memiliki diameter aperture blade selebar 27.8 mm

Jadi, f/2.0 bukan nilai bukaan lensa. Berbicara tentang nilai, yang berkaitan dengan angka, selalu diiringi oleh satuan matematika. Entah itu centimeter, milimeter, kilometer, inchi, kilogram, liter dan sebagainya.

F-stop bukanlah satuan matematika untuk mewakilkan nilai.

Masih bingung? Kita lanjutin lagi.

Misal, f/2.0 itu tertera pada sebuah camcorder/handycam dengan focal length 28mm. Artinya diameter bukaan lensanya (diameter aperture blade-nya) adalah 14mm (28 dibagi 2). Atau 1.4 cm. Atau setara dengan f/3.5 pada lensa 50mm

Sony camcorder dengan lensa f/1.8 focal length 3.8-38mm

Lalu, apa gunanya f-stop kalau ternyata, yah, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya.

Nah, f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Misal, lensa 24 mm. Ketika menggunakan f-stop f/1.8, akan menghasilkan exposure yang lebih baik dan efek blur (bokeh) yang lebih dalam dibandingkan menggunakan f/5.6.

Atau dalam kondisi lain, masih tentang lensa 24 mm. Dengan f/3.5 exposure (yang ter-detect di layar kamera) minus. Jadi kita harus buka lagi misal, jadi f/2.8. Tapi ternyata masih minus, walau udah mendekati garis exposure netral. Karena lensa itu hanya f/2.8, berarti kita harus setup lighting, biar exposure bisa di posisi netral.

Tampilan exposure bar pada kamera digital.

Tampilan exposure bar pada salah satu kamera smartphone (pojok anan bawah).

Karena itu ada data EXIF. Saat melihat data EXIF dari sebuah foto, misal, menggunakan lensa dengan f/1.8, kita juga perlu melihat focal length dari lensa tersebut.

Pada data diatas terlihat ApertureValueyang digunakan adalah f/14 menggunakan lensa 55.0mm

Selanjutnya kita akan melihat nilai f-stop pada kamera handphone.

Focal length adalah jarak lensa dengan sensor. Pada 3 contoh diatas, contoh pertama lensa focal length 50mm. Atau dalam nilai sehari-hari yang biasa kita gunakan, 5cm. Dan di contoh kedua focal length 28mm, atau 2.8 cm. Contoh ke tiga, lensa 24 mm.

Body handphone, setebal-tebalnya, rasanya tidak akan lebih tebal dari 1 cm. Jadi sejauh-jauhnya, jarak maksimal antara lensa dengan sensor pada handphone hanya 10mm. Itu pun kemungkinan akan mononjol keluar dari body. Anyway, kita langsung saja ke kenyataanya, rata-rata focal length pada kamera handphone hanya 4mm, atau 0.4 cm.

Yah, sekitar setengah dari ketebalan body handphone itu sendiri.

Berbagai ukuran handphone

Dan katakanlah handphone tersebut memiliki nilai f-stop f/2.0. Dengan kalkulasi yang sama, 4mm dibagi 2 artinya besar bukaan lensanya hanya 2mm. Mmm… kebayang kan seberapa besar 2mm itu?

Kalau dibandingin dengan lensa 28 mm seperti yang terdapat pada camcorder/handycam, 2mm itu setara dengan f/14.

Sedangkan kalau dibandingin dengan lensa 50 mm,  2mm itu setara dengan f/25.

Wow!! Bahkan sekecil-kecilnya, untuk foto produk saya hanya menggunakan f-13.

F/25?? Itu kaya apa ya. Mungkin kaya lubang di kancing baju.

Kiri: lensa 50mm di f/5.6 (diameter bukaan 0.8cm). Kanan: lensa 50mm di f/1.4 (diameter bukaan 3.5cm)

Mulai paham?

Jadi ada kesalahan persepsi dalam istilah yang digunakan. Nilai f-stop tidak mewakilkan nilai bukaan. Nilai f-stop, katakanlah, hanya sebuah rumus untuk menentukan bukaan. Nilai f-stop adalah data teknik spesifikasi di bidang photography.

Perlu di ingat, nilai f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Ketika kita membutuhkan/mencari pengaruh f-stop atas 1 lensa.

Misal, sebagai contoh lain, kita akan memotret objek dengan konsep all-focus tanpa ada bagan blue/bokeh. Menggunakan f/11, setelah di cek detail, ternyata masih ada area blur. Kita turunin lagi jadi f/13, dimana artinya exposure juga ikut turun, jadi kita naikin ISO atau shutter speed bla….bla…. mungkin ini diluar bahasan utama dan perlu satu bahasan khusus lain.

Tapi anyway, itu lah guna f-stop.Menentukan pengaruh/efek atas 1 lensa saja.

Jadi rasanya cukup bisa dipahami untuk ga wondering lagi, kenapa kok lensa A pake ‘bukaan’ cuma f/3.5 tapi hasilnya lebih terang dan bokehnya lebih terasa di banding lensa B padahal ‘bukaan’-nya udah f/1.8.

Lensa kit pada kamera digital, misal 16mm f/3.5. Artinya memiliki besar bukaan sekitar 4.5mm. Nilai bukaan yang masih 2x lipat lebih besar dibanding nilai bukaan f/2.0 pada kamera handphone.

Lensa kit DSLR, hanya dengan f/3.5 masih memungkinkan untuk bokeh (blur background), dan menghasilkan exposure yang lebih baik dibandingkan f/2.0 pada kamera handphone.

Jadi dengan kalkulasi di atas, rasanya cukup bisa dipahami mengapa sebuah kamera handphone, bahkan dengan nilai f-stop hingga f/1.6, tetap tidak menghasilkan exposure yang maksimal dan tidak bisa menghasilkan foto bokeh layaknya kamera digital.

Mungkin ini salah satu trik (karena kebetulan saya pake iPhone) dari Apple, desain iPhone 6s (iPhone 6s di 2019??) pada bagian kameranya agak sedikit menonjol dari bodynya. Dengan body yang relatif lebih tipis dibanding handphone lain pada waktu perilisannya, tapi tetap mempertahankan focal length 4.15mm.

Focal length 4.15mm dengan f/2.2, artinya iPhone 6s memiliki diameter bukaan 1.8mm. Wow!! Setara dengan f/27 pada lensa DSLR 50mm 😀

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Tips & Trick Sony a6000

Sebagai salah satu pengguna kamera lawas yang pernah berjaya pada masanya, gw ngerasa perlu membagi beberapa tips dan trick yang biasa gw pake selama menggunakan kamera ini.

Btw, sekarang udah 2020, rilis tahun 2014 artinya kamera ini udah berusia 6 tahun. Waw!! 6 tahun, apa masih worth it make kamera ini? Atau buat yang belum punya dan lagi hunting mirrorless, masih layakkah kamera ‘tua’ ini dibeli?

Nama ‘a6000’ memang udah berumur 6 tahun. Tapi teknologi yang terpasang di kamera ini masih jauh dari kata tua. E-mount, exmor processor, hybrid autofocus, XAVC-S dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi yang masih dipakai di kamera-kamera rilis terbaru.

Satu hal yang membedakan mirrorless dengan DSLR terlihat dari body nya yang kecil. Kalau dibandingan dengan sesama mirrorless, seenggaknya untuk mirrorless dibawah 10 juta, a6000 lebih kecil lagi. Karena berbody kotak. Tidak ada part yang menonjol (seperti di fuji atau di seri a7 pada bagian logonya).

Secara desain, bodynya masih jadi salah satu alasan kamera ini masih layak. Enteng, ga susah dipegang, dan walau berukuran kecil tapi tetap ada viewfinder-nya.

Yang kedua, kamera ini pernah berjaya di masanya dengan kecepatan auto focus yang luar biasa. Kamera ini udah mendukung hybrid auto focus sistem, gabungan dari contrast detection dan phase detection auto focus.

Tapi itu kan dulu. Gimana dengan hari ini?

Karena pernah berjaya (dulu itu), jadi sampai hari ini sistem auto focus-nya masih bisa bersaing dengan kamera- kamera yang lebih baru. Kecuali kalo memang dulunya lemot, makin kesini ya mungkin makin berasa lemotnya.

Yang ketiga, karena sistem dari mirrorless itu sendiri. Electronic Viewfinder atau EVF. Sistem EVF amat sangat membantu untuk recording video. Istilahnya ‘what you see is what you get‘. Satu fitur yang ga akan didapat dari kebanyakan DSLR.

Ada kelebihan-kelebihan lain, beserta beberapa kekurangan, apalagi terkait umur. Tapi mari kita bahas beberapa tips dan trick yang mudah-mudahan cukup membantu kalian sesama user Sony a6000.

Built-in flash untuk photography indoor

Salah satu kelebihan dari built-in flash kamera ini adalah, karena bisa ditekuk untuk bouncing ke ceiling.

Built-in flash kamera ini ga terlalu powerful. Kalo ga salah cuma GN 6. Artinya coverage flash-nya hanya maksimal 6 meter di ISO 100. Dan itu pun, yah, ga cakep2 banget.

Terlalu deket, misal 1 atau 2 meter, hasilnya terlalu kasar. Hard shadow. Terlalu jauh, 5-6 meter, malah hampir kaya ga pake flash sama sekali.

Tapi cobalah untuk di bouncing ke atas, ke ceiling. Anyway, ini hanya berlaku untuk indoor ya, dengan bantuan ceiling. Kalo outdoor, apalagi ga ada ceiling-nya, well, kalo ga (si flash-nya) kalah sama cahaya luar, kalo ga ya, flash nya cuma kebuang percuma.

Bouncing ke ceiling, akan membuat flash turun kembali ke objek dalam intensitas yang lebih soft dan merata. Selain itu, karena efek bounce itu sendiri, cahaya flash akan kembali ter-bouncing-bouncing ke berbagai objek yang ada di sekitar area pemotretan. Bahkan sampai ke background dari objek utama. Jadi hasilnya adalah photo dengan exposure yang baik, coverage yang lebih lebar, dan smooth shadow.

Tombol C1 dan C2

Di beberapa website atau review youtube, kamera ini dikategorikan sebagai kamera semi-pro. Walau ada beberapa diantaranya yang masih mengkategorikan kamera ini sebagai kamera entry-level. Kamera amatiran.

Gw sendiri setuju untuk mengkategorikan kamera ini sebagai kamera semi pro. Kenapa?

Karena ada tombol C1 dan C2. Apa itu? Tombol C, adalah singkatan dari custom. Custom botton adalah tombol khusus, yang fungsinya bisa kita atur sendiri.

Dan tidak hanya satu, tapi disediakan 2 tombol custom yang berada di belakang (dibagian kanan bawah) dan di bagian atas (di sebelah tombol shutter).

Karena kalau untuk amatir, tombol yang disediakan hanyalah tombol-tombol utama. Mode dial, tombol pengaturan ISO, pengaturan shutter speed, tombol navigasi utama, tombol review dan lain sebagainya. Kalo ada fitur tertentu dan tidak disediakan tombol khusus, artinya kita harus masuk ke dalam menu utama untuk mengakses fitur tersebut. Walau kebanyakan, untuk entry-level biasanya kamera bekerja secara auto. Jadi praktis memang tidak banyak kontrol (tombol) yang dibutuhkan. Apalagi sampe butuh kontrol tambahan (custom).

Sedangkan pada level professional (atau semi-pro ketika berbicara tentang a6000 ini), seringkali membutuhkan fitur atau teknik tertentu yang membutuhkan bantuan kontrol (tombol) tambahan. Entah itu sebagai shortcut atau sekedar masalah posisi dimana tombol tersebut berada di body kamera.

Katakanlah untuk profesional (atau semi-pro$, yang punya kreatifitas dan harus ngeposisiin mounting kamera miring, atau karena kondisi di lokasi yang membuat beberapa tombol lebih susah untuk diakses, tombol costum ini bisa dikondisikan menggantikan tombol yang susah di akses tersebut.

XAVC-S

Jangan lupa dengan format baru untuk video recording ini.

Sebelumnya, output dari kamera ini cuma MP4 sama AVCHD. Dibanding MP4 yang menghasilkan video dengan bitrate dan quality standar, AVCHD menghasilkan bitrate dan video quality yang lebih baik.

Sampai saat Sony (dan Panasonic) membuat format video baru yang lebih baik, yaitu XAVC-S. Format ini juga dipakai di cinema camera/camcorder produksi Sony.

Kelebihan XAVC-S adalah detail video dan highlight control yang lebih baik. Dengan kelebihan ini lah, pada awalnya format ini hanya disediakan untuk cinema/broadcast/camcorder camera.

Secara spesifikasi hardware, beberapa kamera lain dari Sony (selain cinema/broadcast/camcorder camera-nya) juga mampu mengolah format ini. Hingga Sony memasangkan format ini ke beberapa kamera lainnya (salah satunya adalah a6000).

Tapi tentu saja, untuk kualitas yang lebih baik, ukuran file yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding AVCHD atau MP4. Walau, XAVC-S dari a6000 ini tentu ga sama seperti XAVC-S yang dihasilkan dari cinema/broadcast/camcorder camera. Beberapa hal, seperti bitrate dan color sampling dan bit depth sengaja dibatasi.

Dengan bitrate yang lebih besar dan ukuran file yang lebih besar, jangan lupa siapin SD card yang cukup cepat untuk writing 50MB/s video bitrate dan dengan kapasitas minimal 64Gb.

Lens Adapter

Kamera Sony hampir selalu menjadi minoritas. Terlebih di dunia fotografi. Seperti yang kita tahu, Canon dan Nikon adalah kamera digital yang paling umum digunakan.

Selain harga lensa dari Sony yang lebih mahal dan terbatas, karena ketersediaan lensa dari Canon atau Nikon yang lebih merata. Jadi kecil kemungkinan untuk bisa mengganti lensa sony (entah karena tidak ada pinjaman, atau karena harga yang terlalu tinggi), sementara besar kemungkinan untuk menemukan lensa-lensa dari produsen lain.

Untuk itu selalu sedia adaptor lensa. Dan berbicara tentang brand kamera yang ‘sejuta umat’, selalu siapin adaptor untuk mounting Canon EF.

Kamera ini biasanya dijual dalam 4 paket berbeda:
– Body only = tanpa lensa apapun
– Body + lensa kit = tanpa lensa fix dan tele zoom
– Body + lensa kit + lensa fix = tanpa tele zoom
– Body + lensa kit + tele zoom = tanpa lensa fix

Dengan adanya lens adapter, kita bisa ngelengkapin semua lensa yang dibutuhin (dengan membeli/pinjam) lensa-lensa Canon yang ada.

Untuk informasi, ada 3 jenis adaptor lensa yang tersedia:

Adaptor manual

Adaptor ini dijual sekitar 100 rb. Cukup banyak pilihan mounting-nya, canon, nikon, bahkan sampai leica mount. Kekurangannya, sama sekali tidak ada kontrol auto. Tidak ada pin elektrik jadi semua lensa di kontrol manual.

Jadi auto focus cepatnya ga berguna dong? Well, ini solusi murah untuk kebutuhan lensa komplit.

Adaptor Elektrik

Adaptor ini dilengkapi pin elektrik dan dijual sekitar 500 ribu hingga 1 jutaan. Selain pilihan mounting yang lebih terbatas, kecepatan auto focus juga menurun drastis. Bahkan seringkali lose focus.

Dan yang lebih penting, auto focus dengan adaptor ini hanya bisa di mode photo (single shot autofocus). Jadi auto focusnya tidak bekerja untuk video (continous auto focus).

Tapi setidaknya, adaptor ini bisa jadi jaminan untuk penggunaan hampir semua lensa dari canon. Karena beberapa lensa auto focus dari canon menggunakan sistem STM dimana ring focus hanya berfungsi kalau ada supply daya dari kamera (kalau pin elektrik lensa terhubung dengan pin di kamera). Apabila tidak ada, ring focus tidak akan berfungsi.

Selain itu, kontrol aperture masih dapat dilakukan pada lensa-lensa yang hanya mendukung pengaturan aperture secara elektrik.

Dan tambahan, dengan adanya pin elektrik pada adaptor ini, ada EXIF pada lensa akan ikut terekam.

Adaptor Elektrik

Adaptor ini, memiliki fitur komplit layaknya menggunakan lensa native dari sony. Walau tetap mengalami sedikit delay di autofocusnya.

Tapi adaptor ini sebenarnya diluar jangkauan pengguna sony a6000 karena harganya, hampir seharga kamera itu sendiri hehe..

Adaptor ini dijual dengan range harga jutaan, dan biasanya hanya digunakan oleh professional.

Untuk pengguna a6000, menurut gw rasanya lebih baik membeli satu atau 2 lensa native sony sekalian daripada membeli adaptor jenis ini 😉

Switch FINDER/MONITOR

Salah satu alasan kenapa mirrorless kamera punya daya tahan baterai rendah adalah karena semua fungsi pengoperasian kamera dilakukan secara elektronik. Pengaturan aperture, shutter speed, motorik focus dan zoom lensa, hingga viewfinder.

Terdapat pilihan auto switch finder/monitor, dan pilihan finder saja atau monitor saja.

Pada pilihan auto switch artinya finder dan monitor akan bergantian menggunakan daya dari baterai.

Gw sendiri lebih suka mematikan fungsi finder, dan hanya menggunakan fungsi monitor. Untuk fotografi, a6000 sudah dilengkapi focus peaking jadi kita tidak lagi harus mengintip dari viewfinder. Sedangkan untuk videografi, rasanya memang monitor lebih bermanfaat dibanding finder.

Dengan hanya mengaktifkan monitor dan mematikan fungsi finder, daya tahan baterai akan lebih terjaga.

Focus peaking & Zebra

2 hal yang mulai menjadi fitur wajib dalam kamera modern. a6000 sendiri sudah mendukung ke dua fitur ini, well, sejak 5 tahun yang lalu.

Focus peaking adalah bantuan untuk menentukan area focus yang ditandai oleh pinggiran objek yang bergaris-garis. Jadi kita tidak harus melihat melalui viewfinder untuk memastikan area focus. Fitur ini sangat membantu pada saat hanya menggunakan monitor, dan pada saat menggunakan lensa manual focus.

Zebra adalah fitur untuk membantu membaca detail dari exposure. Zebra berbentuk garis belang-belang yang akan muncul pada area yang terlalu gelap (atau terlalu terang) yang menyebabkan kehilangan detail objek.

Area yang dimaksud adalah area yang sangat gelap (atau area sangat terang), dimana karena terlalu gelap (atau terlalu terang), area itu menjadi pure black (atau pure white) tanpa ada detail apapun. Kamera ini bisa memberi tahu kita area-area tersebut.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Canon PowerShot SX430 IS

Digital compat camera dengan form factor DSLR. Waktu pertama kali pegang kamera ini sangat berasa kalo kamera ini adalah kamera compact (atau kamera pocket/kamera point n shot), kecil dan imut. Tapi bentuknya mirip DSLR. Jadi its like a mini DSLR. Cute!! Apalagi kalo buat cewek. Pasti suka.

Canon PowerShot SX430 IS

Dengan kemampuan super zoom, ‘memaksa’ kamera ini pake desain mirip DSLR. Karena panjangnya part dari lensa yang digunakan.

Interface kamera terlihat simpel (kalo gak mau dibilang minim). Ga ada kontrol manual. Kontrol on/off berbentuk tombol (yang beresiko tertekan secara tidak sengaja), gak menggunakan tuas layaknya DSLR.

Tuas zoom, tombol shutter, dan tombol on/off.

Tidak ada ring kontrol sama sekali. Baik untuk pemilihan mode pengambilan gambar, atau untuk pengaturan ISO, atau untuk pengaturan bukaan lensa, atau kontrol menu lainnya yang berhubungan dengan kreatifitas gambar.

Satu-satunya tuas yang tersedia adalah tuas untuk zoom in/out.

Dan, satu-satunya tombol ring yang tersedia cuma untuk navigasi sistem kamera. Jadi gak ada tombol ring yang berhubungan sama kreatifitas.

SPESIFIKASI

Sensor CCD 1/2.3 inch 20 Megapixel

Kamera ini menggunakan image sensor berjenis CCD. Dimana orientasi kamera digital saat ini pake sensor berjenis CMOS. Tapi walau pakai tipe sensor yang cukup tua, dengan dukungan megapixel yang cukup besar (20 megapixel), kamera ini tetap mampu menghasilkan kualitas gambar yang baik.

DIGIC 4+

Image processor DIGIC 4+ pada dasarnya adalah versi ekomonis dan udah cukup tua dari jajaran image processor Canon. Tapi memang beralasan, mengingat kamera ini adalah kamera compact dan gak butuh image processor hi-end.

Super Zoom 24mm – 1080mm

Rentang zoom (focal length) kamera ini sangat lebar. Saking lebarnya jadi satu alasan kenapa kamera ini menggunakan form-factor layaknya DSLR. Gak seperti kamera compact lainnya yang lebih tipis dan bisa masuk kantong (pocket).

Rentang zoom-nya setara dengan 24mm hingga 1080mm pada kamera full frame. Data teknis dari website resminya, kamera ini memiliki focal length 4.3mm hingga 193.5mm.

Dan dengan kemampuan super zoom-nya, kamera ini sudah didukung image stabilizer (SX430 ‘IS’ = image stabilizer). Karena semakin zoom, semakin besar resiko shaking.

Aperture f/3.5 – f/6.8

Bukaan lensa (f/stop) kecil, f/3.5 hingga f/6.8. Jadi exposure harus mengandalkan cahaya di area objek foto (atau video).

Tapi karena rentang zoom-nya sangat lebar, sangat memungkinkan untuk menghasilkan foto bokeh.

ISO (auto)100-1600

Rentang ISO cukup baik untuk dapetin exposure selama digunakan di area dengan cahaya yang baik. Bisa menggunakan settingan auto, atau secara manual menggunakan beberapa mode pengambilan gambar tertentu. Karena gak semua mode pengambilan gambar mengijinkan penggunaan ISO manual.

Tapi dengan kemampuan ISO yang terbatas, ditambah rentang zoom yang sangat lebar, mengisyaratkan kamera ini idealnya digunakan di area outdoor. Pada siang hari. Lagipula, kemampuan zoom yang sangat lebar tentu gak terlalu dibutuhkan di area indoor.

Shutter Speed

Terdapat 2 kontrol shutter speed pada kamera ini. Pada mode auto, rentang shutter speed antara 1 s hingga 1/4000 s.

Shutter 1s udah sangat masuk akal mengingat makin bertambahnya zoom, maka makin tinggi resiko shaking. Meningkatkan kemampuan shutter lebih dari 1s (2s atau lebih) hanya akan membuat kamera ini selalu di dalam resiko menghasilkan gambar-gambar blur.

Tapi, apabila memang dibutuhkan, shutter speed maksimal yang didukung mencapai 15s. Tapi shutter speed ini cuma bisa diakses dari mode pemotretan long exposure.

*saya coba pake mode long exposure, tapi shutter speed tetap di 1s.

Kamera ini gak mendukung shutter speed 30 s atau BULB, layaknya DSLR.

LCD Display

Kamera ini tidak memiliki viewfinder atau jendela bidik layaknya DSLR. Semua akses menu serta preview komposisi pengambilan gambar dilakukan melalui LCD display.

LCD display berukuran standar 3.0 inch, namun beresolusi rendah hanya 230.000 dots. Beberapa camera compact lainnya menggunakan LCD display dengan 460.00 dots.

Sementara sebagai perbandingan, pada kamera DSLR atau mirrorless biasanya menggunakan LCD display dengan resolusi 1.000.000 dots atau lebih.

MENU

Sistem menu kamera cukup menarik. Walau secara fisik gak banyak tombol dan kontrol, tapi dari dalam menu sistem cukup banyak setting-an yang bisa diganti.

Ada 3 pilihan auto fokus; center, face detection, dan tracking auto focus.

Dengan adanya tracking auto focus maka kamera ini cukup baik untuk video recording. Beberapa jenis DSLR malah belum punya kemampuan tracking auto focus.

Pilihan menu sistem auto focus.

Terdapat beberapa pilihan white balance, mulai dari AWB (auto white balance) bahkan custom white balance.

Ada cukup banyak mode pengambilan gambar; program ae, monochrome, fish-eye, miniature, toy effect, dan lain sebagainya. Di beberapa mode pengambilan gambar, tidak mengijinkan pengaturan ISO secara manual.

Di bagian foto, ada 2 pilihan utama. Resolusi foto; lage, medium, small (yang berhubungan dengan megapixel dan ukuran file), satu lagi pilihan tingkat detail (fine dan superfine).

Tapi untuk video cuma ada 1 menu; pilihan resolusi video (HD dan VGA). Jadi gak ada pilihan frame rate atau pilihan codec video dan semacamnya.

QUALITY

Dengan sensor yang berukuran kecil (1/2.3), bukaan lensa yang lebih kecil, dan kemampuan ISO yang terbatas, membuat kamera ini sangat direkomendasikan hanya digunakan di area dengan cahaya cukup.

Setiap kamera memiliki kemampuan maksimal yang berbeda, jadi diharapkan seorang fotografer cukup paham dengan kemampuan alat yang dimiliki.

Untuk kemampuan zoom, kualitasnya masih baik. Mengingat harga kamera ini yang sangat terjangkau, tentu lensanya tidak menggunakan material dan teknik built lensa terbaik. Akan ada penurunan detail dan ketajaman seiring dengan semakin lebar atau semakin sempit zoom yang digunakan.

Sekalilagi, gak ada kontol manual. Termasuk gak ada fungsi manual buat fokus. Dan dengan sistem fokus contrast-detection 9 point, keterlambatan fokus memang akan cukup sering dialami.

Dan final output, yang dilihat dari kemampuan image sensor (yang bertipe CCD) dan image processornya (DIGIC 4+), kedua bagian ini masih mampu menghasilkan gambar (baik foto atau video) dengan baik.

Walau demikian, format keluaran kamera ini hanya JPEG dan tidak mendukung format RAW.

Contoh foto bokeh

Jarak object sekitar 2 meter. f/6.3, 1/60, ISO 100, 157mm (setara 880mm pada full frame).

Jarak object sekitar 5 meter. f/6.8, 1/125,ISO 400, 194mm (setara 1080mm pada full frame)

Jarak object sekitar 400 meter. f/6.8, 1/125,ISO 400, 194mm (setara 1080mm pada full frame)

Contoh hasil foto. Detail foto bisa dilihat langsung dari file (download terlebih dahulu)

KESIMPULAN

KELEBIHAN

  1. Kamera dengan rentang zoom yang samgat lebar 24mm – 1080mm
  2. Kualitas gambar yang dihasilkan masih cukup baik menggunakan ISO 100 (hanya bisa dengan menggunakan mode Program AE)
  3. Mampu menghasilkan foto bokeh (menggunakan teknik jarak, silahkan mengacu pada artikel ini)
  4. Sudah mendukung Wi-fi dan NFC serta remote camera menggunakan smartphone dengan konektifitas yang baik.

KEKURANGAN

  1. Tidak mendukung fitur manual control (manual focus, manual aperture, manual shutter speed, manual zoom)
  2. Sistem auto focus contract-detection yang cukup tertinggal (hanya 9 point) dan belum menerapkan sistem hybrid (contract-detection sekaligus phase detection)
  3. Minim kontrol (kalaupun ada, harus masuk ke menu navigasi), dan dengan kontrol on/off yang berbentuk tombol (beresiko tertekan secara tidak sengaja)

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Kamera

Seringnya, gak semua orang yang mau beli kamera ngerti segala spesifikasi dari sebuah kamera. Gak semua calon pembeli adalah professional photographer or videographer.

Malah katanya, siswa atau mahasiswa (yang belajar photography dan videography) udah disarankan untuk punya kamera terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus teori dasarnya.

Dan kalaupun si calon pembeli ngerti tentang kamera, mungkin ga jauh dari tau ukuran megapixel yang bisa dihasilkan saja.

Berikut ini beberapa hal, dengan penjelasan yang semoga mudah untuk dipahami, yang bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum memutuskan membeli kamera.

Atau mungkin, sebagai acuan perbandingan antara beberapa kamera yang sudah di targetkan sebelumnya, sehingga lebih mudah memilih.

Dijelaskan dan diilustrasikan menggunakan bahasa yang ringan agar lebih mudah dipahami.

1. UKURAN SENSOR

Sensor adalah satu bidang rata di dalam body kamera yang melihat dan merekam gambar yang diproyeksikan oleh lensa. Layaknya media kaca pada mesin foto-copy.

Perbandingan ukuran sensor kamera.

Terdapat 3 ukuran sensor yang populer saat ini:

Full-frame. sensor yang berukuran 36mm x 24mm. Disebut juga sebagai format 35mm karena ukuran sensor tersebut sama seperti ukuran panjang 1 frame pita rol film (klise foto) kamera analog. Dan format 35mm menjadi acuan terhadap beberapa spesifikasi kamera digital.

Karena berukuran besar, sensor full-frame mampu melihat (menangkap) detail dengan lebih baik. Dan ibarat jendela berukuran besar, lebar pandangan (field of view) cukup luas. Sehingga menjadi ‘senjata wajib’ para professional.

Field of view pada kamera dengan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini memiliki harga yang tinggi. Ukuran yang lebih besar, detail yang lebih baik, dan senjata wajib para profesional.

APS-C (disebut juga sebagai format super-35mm) dengan ukuran fisik sekitar 24mm x 16mm. Awalnya, sensor APS-C hanya sebagai alternatif karena biaya produksi sensor full-frame yang cukup tinggi. Tapi dalam perkembangannya sensor APS-C punya tempat sendiri dalam dunia fotografi. Dan hingga hari ini format APS-C menjadi format populer untuk ukuran sensor kamera. APS-C sering juga disebut sebagai super-35mm karena ukuran sensornya ‘hampir mirip’ dengan sensor full-frame.

Walau lebih kecil tapi sensor APS-C tetap mampu menghasilkan detail yang tinggi. Tapi karena ukuran fisiknya yang lebih kecil, cahaya yang menyentuh permukaan sensor tidak sebanyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor full-frame. Jadi sensor APS-C tidak sebaik sensor full-frame di kondisi gelap/kurang cahaya.

Dan karena ukuran ‘jendela yang lebih kecil’, lebar pandang (field of view) tidak seluas full-frame. Sensor APS-C butuh lensa dengan focal length yang lebih pendek (lensa wide) untuk menghasilkan field of view yang sama seperti field of view pada sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor APS-C dengan sensor full frame.

Sensor ini, relatif lebih murah dibanding sensor full frame. Kamera yang menggunakan sensor ini mayoritas memiliki fitur yang mirip dengan kamera bersensor full frame. Bedanya? Ukuran sensornya itu sendiri.

Micro Four-Third (biasa disebut M4/3 atau MFT) dengan ukuran fisik sensor sekitar 18mm x 13mm. Disebut micro, karena ukuran fisik-nya jauh lebih kecil dibanding sensor full-frame. Dan maksud four-third adalah ratio panjang berbanding lebar dari sensor itu sendiri. Sensor full-frame memiliki ratio 3:2 (36mm x 24mm) sedangkan MFT memiliki ratio 4:3 (18mm x 13mm)

Sensor MFT masih mampu menangkap detail yang baik (bahkan sensor kamera smartphone yang cuma berukuran sekitar 5mm masih mampu menangkap detail baik). Tapi kemampuan MFT dibawah kondisi gelap/kurang cahaya tidak sebaik sensor-sensor yang berukuran lebih besar.

Namun begitu, kamera dengan sensor MFT biasanya memiliki fitur yang membantu dalam kondisi gelap/kurang cahaya (baik melalui image processor, sensitifitas ISO dan lain sebagainya).

Dan dikarenakan ‘jendela’ yang jauh lebih kecil, dibutuhkan focal length yang lebih pendek lagi (lensa yang lebih wide lagi) untuk menyamai field of view sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor MFT dengan sensor APS-C dan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini, memiliki range harga yang sangat lebar. Di beberapa jenis bisa lebih murah dibanding kamera dengan sensor APS-C, di jenis lainnya bisa jadi sama mahalnya dengan kamera bersensor full-frame.

Karena pada beberapa jenis kamera, dengan kemampuan sensor yang lebih terbatas, fitur yang didukung bisa jadi melebihi fitur yang terdapat pada kamera bersensor full-frame. Beberapa fitur diantaranya adalah dukungan IBIS (in body image stabilizer), 4k video recording, slo-mo video recording, hybrid autofocus, dan lain sebagainya.

Perbedaan dari 3 ukuran sensor tersebut akan mempengaruhi 3 hal berikut:
– Kualitas image yang bisa ditangkap
– Kemampuan kamera bekerja dalam kondisi kurang cahaya
Field of view (lebar pandangan) yang dihasilkan

Pengaruh perbedaan ukuran sensor terhadap field of view

2. MIRRORLESS ATAU DSLR

Bisa dikatakan, kamera DSLR adalah kamera semi-analog. Beberapa bagian dan sistem kerjanya masih menggunakan sistem analog. Sedangkan mirrorless sudah sepenuhnya elektrik. Karena selalu menggunakan sistem elektrik maka kamera mirrorless lebih boros daya dibanding DSLR.

Perbedaan sistem kerja DSLR dengan Mirrorless

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, ada 2 catatan penting yang membuat DSLR lebih baik dari mirrorless adalah:

1. Optical viewfinder (DSLR) dan electronic viewfinder (mirrorless)

OVF (optical viewfinder) menampilkan preview yang realistis. karena menggunakan cermin untuk merefleksikan apa yang dilihat oleh lensa. Sementara EVF (electronic viewfinder) tidak se-realistis optical viewfinder karena pengaruh kualitas viewfinder itu sendiri. Ibaratnya seperti menonton bola di TV atau melihat langsung di stadion.

2. Contrast detect autofocus (DSLR) dan phase detect autofocus (mirrorless)

Contrast detection autofocus yang digunakan di sistem DSLR bisa tetap bekerja di kondisi kurang cahaya (low light). Sedang phase detection autofocus pada mirrorless membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bisa bekerja dengan baik.

Tapi hari ini, kedua perbedaan itu semakin samar. Kedua sistem (DSLR dan mirrorless) saling beradaptasi dan saling menutupi kekurangan. EVF pada mirrorless semakin baik untuk menampilkan preview yang lebih realistis. DSLR sendiri menggunakan kedua viewfinder tersebut, OVF dan EVF pada LCD display-nya.

Dan beberapa jenis mirrorless mulai menggunakan sistem autofocus hybrid (contrast detection dan phase detection) sekaligus. Didukung juga dengan perkembangan battery dari mirrorless yang semakin baik sehingga bisa bertahan lebih lama.

Kedua tipe kamera tersebut saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. DSLR lebih disukai karena berukuran lebih besar dan berkesan kokoh. Mirrorless sendiri lebih praktis karena berukuran kecil.

DSLR lebih disukai, karena untuk mode photography, optical viewfinder merefleksikan detail dengan baik. Sementara mirrorless lebih disukai untuk videography, karena sistem EVF menerapkan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get). Dimana exposure, warna dan detail yang terlihat di EVF sebelum merekam video, persis seperti layaknya video yang sudah direkam.

Hingga pada akhirnya pilihan antara ke dua kamera ini lebih kepada kenyamanan penggunaan. Seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan di waktu menggunakan kamera.

3. IMAGE PROCESSOR

Seperti pada kamera analog, ‘image processor’-nya adalah manusia dengan segala peralatannya yang berada di kamar gelap. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung dari berbagai hal dan proses. Mulai dari kualitas klise foto, kualitas material yang digunakan, kualitas media cetak yang digunakan dan lain sebagainya.

Pada kamera digital, setiap gambar yang dihasilkan adalah hasil proses dari image processor-nya. Pada kamera Canon dikenal processor DIGIC (DIGIC 4, DIGIC 5, DIGIC 5+, DIGIC 7 dan sebagainya). Pada kamera Fuji atau Nikon dikenal processor Expeed (Expeed 4, Expeed 5 dan sebagainya). Sedangkan pada kamera Sony dikenal processor BionZ.

Beberapa jenis image processor

Walau dalam prakteknya terdapat banyak hal yang mempengaruhi kualitas (ukuran sensor, sensitifitas ISO, kualitas lensa dan lain sebagainya), cukup sulit untuk membandingkan antara 2 image processor berbeda (misal antara DIGIC dengan Expeed).

Namun ketika kita kesulitan dalam memilih dua (atau lebih) kamera dari brand yang sama, tidak ada salahnya memastikan image processor yang tertanam pada kamera lebih baru (misal Canon dengan processor DIGIC 7, dengan asumsi memiliki kemampuan yang lebih baik) dibanding kamera Canon lain yang menggunakan processor DIGIC 4.

3. SENSITIFITAS ISO

ISO adalah satuan standar tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Pada ISO minimal, sensor akan merekam gambar dengan kemampuan terbaiknya, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan terlihat sangat baik.

Namun dalam kondisi kurang cahaya, tidak banyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor. Sensitifitas sensor dibutuhkan (meningkatkan nilai ISO) agar lebih peka terhadap cahaya.

Meningkatkan nilai ISO akan membantu sensor menyerap cahaya namun kualitas gambar menjadi tidak terlalu baik. Gambar akan terlihat berbintik atau dikenal dengan istilah noise atau grainy. Dan semakin tinggi nilai ISO maka semakin banyak noise/grainy yang dihasilkan.

Dengan prinsip tersebut, diilustrasikan 2 kamera dengan kemampuan ISO yang berbeda.

Kamera A dengan sensitifitas ISO yang lebih tinggi, misal 12800, masih mampu menghasilkan gambar dengan grainy/noise yang cukup baik dibandingkan dengan kamera B dengan sensitifitas ISO hanya 6400.

Kamera A (ISO range 100-12800) masih mampu mengontrol grainy/noise di ISO 3200 karena hanya menggunakan sekitar 30% dari kemampuan ISO maksimalnya.

Sedangkan kamera B (ISO range 100-6400) walau sama-sama menggunakan ISO 3200 tapi menghasilkan grainy/noise yang lebih tinggi karena sudah menggunakan 50% kemampuan ISO maksimalnya.

Ilustrasi ini hanya dimaksud untuk mempermudah pemahaman, karena dalam prakteknya, banyak hal lain yang mempengaruhi kualitas grainy/noise.

Selain itu, kamera dengan sensitifitas ISO tinggi (misal 52000) memiliki kemampuan low light yang jauh lebih baik dibanding karena dengan ISO maksimal, misal hanya 12800.

4. PILIHAN LENSA

Setiap brand kamera memiliki standar dudukan lensa (lens mounting) masing-masing. Setiap kamera hanya bisa dipasangi lensa dengan mounting yang sama.

Kamera Canon yang menggunakan mounting EF (untuk seri DSLR full-frame), EF-S (untuk seri DSLR APS-C) dan mounting EF-M (untuk seri mirrorless). Pada Sony misalnya, terdapat A-mount (untuk seri DSLR) dan E-mount (untuk seri mirrorless).

Jajaran lensa dari beberapa brand terkemuka

Pilihan lensa mempengaruhi fleksibilitas penggunaan kamera itu sendiri. Tapi selain itu, karena pertimbangan harga dari lensa itu sendiri.

Beberapa orang memilih kamera dengan brand tertentu karena tersedia cukup banyak pilihan lensa. Sedangkan beberapa orang yang lain menghindari brand tertentu karena harga lensanya yang lebih tinggi.

Ketika memilih satu brand tertentu, sebaiknya pertimbangkan juga kebutuhan dan ketersediaan lensa dari brand tersebut.

Memilih satu brand tertentu karena harga kameranya (body) yang lebih murah, tapi (apabila dibutuhkan) memiliki pilihan lensa yang terbatas, tentu tidak baik.

Atau memilih satu brand tertentu karena ketersediaan lensanya yang sangat variatif, tapi mungkin saja tidak kita butuhkan (atau belum tentu mampu kita miliki), sama tidak baiknya.

Untuk itu sebaiknya memilih satu kamera disesuaikan dengan kebutuhan dan budget tersedia.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash