Posts tagged handphone

Teori dan Teknik Foto Bokeh

Jadi sekarang lagi jamannya foto bokeh. Teknik fotografi yang memisahkan foreground terlihat fokus dan tajam, dengan background nge-blur bahkan menghasilkan pendaran berwarna warni. Atau sebaliknya.

Saking populernya, kamera handphone yang secara teknis sebenarnya ga bisa menghasilkan foto bokeh, di setting dengan teknologi yang sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan foto yang terlihat bokeh.

Emang kamera handphone ga bisa?? Secara teknis ga bisa. Jawaban jadi bahasan utama postingan ini.

Lensa

Lensa adalah kunci utama untuk menghasilkan foto bokeh. Lensa yang bagaimana?

Lensa dengan bukaan besar.

Bukaan yang dimaksud adalah bener-bener diameter fisik rongga lensa tersebut. Jadi bukan hanya melihat nilai f-stop nya. Bukan, misal, f/1.9 atau f/2.0 dan sebagainya. Tapi benar-benar berapa (centimeter/milimeter) diameter rongga lensa.

Di postingan lain juga udah ada bahasan ini. Bahwa f-stop di kamera handphone, memang akan mempengaruhi exposure, tapi sebesar-besarnya tidak lebih besar dari 3mm. Silahkan langsung dilihat di bagian kamera dari handphone masing-masing. Kira-kira sebesar diameter batang korek api. Sekitar 0.2 cm, agar lebih mudah dibayangkan.

Sementara pada kamera digital (seperti DSLR atau mirrorless) bahkan lensa kit (seringkali dianggap sebagai lensa murah dan tidak banyak kemampuan) setidaknya memiliki diameter bukaan 0.4cm. 2x lipat rata-rata bukaan lensa kamera handphone.

Pada gambar diatas terlihat perbedaan diameter (lensa DSLR/mirrorless) antara bukaan terbesarnya (f/2.8 terlihat jelas) dengan bukaan terkecilnya (f/16 yang keliatan lebih ‘mengintip’).

Tapi FYI, foto-foto bokeh dari fotografer profesional yang biasanya terlihat sangat cantik dan keren banget itu dihasilkan dari lensa dengan diameter bukaan 3.5 cm bahkan hingga 6 cm.

Yah, itu sekitar 15 hingga 30x lebih besar dibanding 0.2 cm

Jauh ya…

Jadi secara teori, kamera handphone memang ga bisa bikin foto bokeh. Dual kamera untuk foto bokeh pada kamera handphone dilakukan secara digital. Satu lensa sebagai lensa fokus dan lensa yang lain sebagai lensa blur, secara digital akan dilakukan penggabungan ke dua foto tersebut untuk menghasilkan foto yang terlihat bokeh. Jadi bokehnya adalah hasil manipulasi dari 2 foto. Bukan karena kemampuan lensanya.

Info lebih lanjut tentang angka-angka ini bisa dibaca di postingan ini dan ini.

Jarak

Setiap kamera akan menentukan area fokus sebelum menangkap/menyimpan gambar.

Pada lensa kamera digital dengan bukaan besar (masih mengacu pada postingan ini dan ini), area fokus ini bisa sangat sempit. Bisa se lebar hitungan centimeter atau meter. Bahkan bisa menjadi lebih sempit hingga hitungan milimeter.

Dan sisanya (diluar area fokus tersebut) akan menjadi blur atau kita sebut bokeh.

Karena itu dalam hal ini kita berbicara tentang jarak.

Ilustrasinya seperti gambar dibawah. Katakanlah area fokusnya selebar 1 meter, 1 langkah di depan dan 1 langkah di belakang model (kotak hijau). Dan sisanya (diluar kotak) akan blur. Semakin jauh dari area fokus (semakin rendah garis merah) maka objek akan semakin blur.

Sementara pada kamera handphone (atau misal lensa kit kamera digital), karena diameter lensanya hanya 0.2 cm atau 0.4 cm, area fokusnya lebih lebar. Bisa dalam hitungan meter. Artinya, hampir terlihat fokus semua. Terlihat tidak ada blur.

Sebenernya tetep ada, tapi terlalu tipis dan tidak berasa. Seperti pada ilustrasi di atas. Bunga yang ada di background, sebenarnya sudah di luar area fokus. Tapi garis merah belum terlalu rendah (efek blur belum terlalu kuat), sehingga memberi kesan bunga masih terlihat fokus.

Karena pengaruh jarak ini, bokeh yang dihasilkan dari dual kamera handphone terlihat maksa dan aneh. Idealnya dibutuhkan jarak yang cukup diluar area fokus untuk menghasilkan blur yang tinggi (bokeh). Bisa jadi 2 atau 3 meter dari titik fokus agar terlihat blur. Sementara pada handphone dual kamera, efek bokeh bisa didapat bahkan untuk jarak kurang dari 1 meter.

Tapi ya, dengan ‘editing’ (manipulasi) apa aja bisa dilakukan.

Jadi dalam hal jarak ini tedapat 2 opsi untuk menghasilkan bokeh yang baik. Menempatkan foreground (blur) se dekat-dekatnya dengan kamera, dengan model (fokus) yang lebih jauh. Atau sebaliknya, menempatkan model (fokus) dengan jarak sejauh-jauhnya dari background (blur)

Lensa tele

Teknik bokeh ini hanya bisa dilakukan pada kamera digital yang menggunakan lensa tele.

Sebenernya ga ada definisi khusus tentang lensa tele. Tapi sebagian orang mengkategorikan lensa tele adalah lensa dengan focal length diatas 85mm.

Dual lensa pada kamera handphone (biasanya memiliki kemampuan zoom), tapi focal length pada kamera handphone terlalu pendek. 85mm pada lensa kamera digital, atau 8.5cm dalam ukuran yang biasa kita kenal.

Kamera handphone, setebal-tebal body-nya, ga lebih tebal dari 1cm. Yang apabila memang dimaksimalin, focal length kamera handphone maksimal hanya 10mm (1cm tebal handphone itu sendiri).

Anyway, lensa tele (penggunaan focal length tinggi) otomatis akan menghasilkan bokeh yang cantik. Bahkan walaupun f-stop yang digunakan kecil (angka besar).

Karena pada saat menggunakan fungsi tele (focal length diatas 85mm) diameter bukaan lensa otomatis akan semakin membesar. Secara fisik bisa dilihat dari ukuran lensa tele yang memang lebih besar dibanding lensa zoom atau lensa fixed biasa.

Hal ini berkaitan dengan point pertama dari postingan ini, tentang diameter bukaan lensa. Dan kembali mengacu pada postingan ini.

Dengan mengetahui teori-teori ini semoga bisa membuat kita lebih menghargai (atau mencaci maki) peralatan ‘bokeh’ yang kita miliki.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa jenis kamera

Semuanya sama-sama kamera. Apa bedanya?

Kita bagi menjadi 3 jenis:

  1. Kamera handphone adalah yang paling murah. Harganya berkisar dari 1 jutaan hingga belasan juta.
  2. Kamera digital (DSLR atau mirrorless), kisaran harga nya sekitar 5 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

3. Cinema camera, bisa juga dikategorikan sebagai camcorder, karena memang hanya bisa merekam video. Rentang harganya mulai dari puluhan juta hingga mencapai milyaran rupiah.

Sebenarnya apa yang membedakan semua kamera itu?

Cahaya

Pada dasarnya perbedaannya cuma 1: respon kamera tersebut (dalam hal ini kemampuan sensor yang digunakan) terhadap cahaya. Sensor, semacam lempengan kaca yang menerima gambar/cahaya.

Kemampuan sensor merespon cahaya akan mempengaruhi 3 point berikut:

  • detail = sebaik apa image quality-nya
  • exposure = sebaik apa kontrol noise/grainy-nya
  • dynamic range = sebaik apa sensor membaca bagian terang dan bagian gelap dalam satu waktu.

Biaya produksi sensor sangat mempengaruhi harga jual kamera. Untuk itu diciptakanlah sensor-sensor dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga beberapa kamera bisa dijual lebih murah karena menggunakan sensor yang, katakanlah tidak sebagus sensor lainnya.

Selain itu, kemampuan (baca:harga) kamera akan mempengaruhi output yang dihasilkan (bit-depth untuk foto dan bitrate untuk video).

Dalam bahasa yang di sederhanakan dan semoga cukup mudah dimengerti, saya akan coba menjelaskan perbedaannya.

Kamera Handphone

Kamera handphone memiliki banyak keterbatasan.

Tapi perlu diingat, keterbatasan yang dimaksud adalah keterbatasan performa dan spesifikasi. Karena kreatifitas tidak dibatasi oleh apapun 😉

Ukuran dari handphone itu sendiri yang tipis dan kecil, sehingga sensor yang digunakan juga berukuran sangat kecil. Hanya sekitar 0.5 cm. Setengah centimeter. Kira-kira… sebesar baut atau anting 😉

Baik Samsung Note 10, iPhone XS, Huawei P30 dan lain sebagainya. Menggunakan sensor yang berukuran kurang lebih sama.

Sebenarnya sensor berukuran kecil pun sudah mampu menghasilkan detail yang baik. Faktor pertama terpenuhi, detail.

Hanya saja karena berukuran kecil, cahaya (faktor ke 2), tidak terpenuhi. Tidak banyak cahaya yang bisa diserap oleh sensor kecil tersebut. Minimnya cahaya yang diserap akan menghasilkan noise atau grainy pada foto dan video yang dihasilkan.

“Noise atau grainy adalah efek yang timbul pada gambar (baik foto atau video) berupa bintik-bintik kecil. Bintik-bintik kecil ini akan membuat foto/video terlihat tidak tajam dan terkesan buram (mengurangi detail)”

Katakanlah sebuah handphone (dengan sensor kecilnya) mampu menghasilkan foto/video dengan tingkat detail 100%. Tapi karena minimnya cahaya yang diserap, muncul noise atau grainy misal, sekitar 30% (noise dan grainy ini kondisional tergantung situasi pada saat pengambilan foto/video tersebut).

Sehingga hasil akhirnya, katakanlah handphone tersebut hanya menghasilkan foto/video dengan nilai 70%. Ingat, ini hanya ilustrasi, untuk mempermudah pemahaman.

Dan faktor ketiga, yaitu dynamic range. Dynamic range adalah kemampuan sensor untuk ‘melihat’ area terang dan area gelap sekaligus, dalam satu waktu.

Kemampuan dynamic range bisa dilihat dari gambar dibawah.

Sensor dengan kemampuan dynamic range yang terbatas (sensor pada kamera handphone) harus memilih salah satu dari dua kondisi;
a. Mengekspos langit untuk mendapatkan gradasi cahaya matahari yang bagus, maka bagian air, batu dan buih ombaknya akan terlihat gelap. Atau;
b. Mengekspos buih ombak dan batunya, maka bagian langit menjadi sangat terang bahkan pucat putih tanpa menyisakan bentuk apapun (baik posisi matahari atau tekstur awan).

Sensor kamera handphone tidak mampu membaca kedua bagian cahaya tersebut (mengekspos langit/matahari dan ombak) sekaligus dalam satu waktu.

Karena itu kamera handphone seringkali dilengkapi dengan fitur HDR (high dynamic range) dimana kamera akan mengambil beberapa foto sekaligus (dengan pilihan exposure yang berbeda-beda) untuk kemudian dijadikan satu foto yang baru. Tapi fitur HDR ini dilakukan secara software, bukan karena kemampuan sensornya.

Sementara itu kamera handphone akan terkendala dengan kemampuanya menghasilkan output maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan handphone itu sendiri, baik dari sisi processor, kecepatan internal storage-nya untuk memproses foto/video berkualitas tinggi, atau pun untuk menghindari resiko overheat.

Kamera Digital (DSLR atau mirrorless)

Kamera digital mempunyai ukuran sensor yang relatif lebih besar. Relatif paling besar diantara kamera-kamera lain, sehingga mampu menangkap detail yang lebih baik.

Dalam hal ini seperti Canon 1Dx, Sony A7, Nikon D750 dan lain sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang sangat besar kamera digital mampu menghasilkan foto hingga mencapai 100 megapixel dengan detail yang sangat baik. Faktor pertama yaitu detail, bernilai sangat baik.

Namun untuk faktor ke 2 yaitu exposure, masih membutuhkan pencahayaan tambahan agar terhindar dari resiko noise dan grainy. Karena itu baik photographer atau videographer yang bekerja menggunakan kamera digital DSLR atau mirrorless masih membutuhkan lampu blitz/flash atau video lighting tambahan.

Dan faktor ke 3 yaitu dynamic range. Semakin besar ukuran sebuah sensor maka secara otomatis akan semakin baik kemampuan dynamic range-nya. Jadi tanpa menambahkan teknologi-teknologi tertentu (seperti HDR), dynamic range kamera digital (karena ukurannya) lebih baik dibanding kamera handphone.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Foto tersebut biasanya dihasilkan dalam format RAW dengam bit depth hingga 16bit.

Namun kamera digital masih kesulitan menghasilkan output video berkualitas tinggi. Karena itu kebanyakan kamera digital hanya mampu menghasilkan video dengan bitrate antara 25mbps hingga 100 mbps.

Selain itu terbatas dalam durasi video yang bisa direkam. Untuk menghindari resiko overheating.

Kamera Cinema

Kamera digital dengan sensor besar harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Cinema camera yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, apakah berarti sensornya jauh lebih besar lagi??

Teknologi dan format video komersil terbesar saat ini, yaitu 4K beresolusi 3840 pixel x 2160 pixel = 8.294.400 pixel (8 megapixel). Jadi untuk membuat video beresolusi 4K hanya membutuhkan sensor dengan output 8 megapixel!!

Hanya butuh sensor seukuran sensor kamera handphone untuk menghasilkan video beresolusi 4K. Terbukti dari hampir semua handphone terbaru saat ini sudah mampu merekam video 4K.

Dimana dengan sensor kamera handphone-pun, faktor pertama (detail) sudah terpenuhi.

Tapi kenyataannya, rata-rata ukuran sensor cinema camera hanya setengah dari ukuran sensor kamera digital (sensor full-frame). Lebih tepatnya seperti ukuran sensor APS-C pada kamera digital.

Namun diluar ukuran ataupun maksimal resolusi yang mampu dihasilkan, teknologi dibelakang sensor cinema camera sangat berfokus pada kemampuannya dalam mengolah cahaya.

Dimana salah satu kemampuan tersebut terlihat dari gambar yang hampir selalu bebas noise dan grainy. Sensor cinema camera tidak selalu membutuhkan pencahayaan tambahan. Bahkan dalam kondisi yang minim cahaya pun, sensor cinema camera mampu menjaga noise dan grainy di nilai terendah. Faktor ke 2, bernilai sangat baik

Salah satu penyebabnya, karena pada cinema camera digunakan 2 atau 3 (dan bahkan lebih) sensor sekaligus. Masing-masing sensor akan melipat-gandakan kemampuan kamera tersebut terhadap exposure (mengurangi noise/grainy) dan dynamic range (menangkap detail area gelap dan terang sekaligus).

Kemampuan bebas noise dan grainy serta kemampuan dynamic range yang sangat baik ini seringkali tidak bisa dicapai oleh kamera-kamera lain. Faktor 3 bernilai sangat baik.

Kemampun mengolah cahaya juga akan mempengaruhi kempuan dynamic range-nya.

Cinema camera, dimana ada dasarnya hanya bisa digunakan untuk merekam video, mampu menghasilkan video dengan output tertinggi.

Karena cinema camera didukung oleh processor khusus, biasanya dilengkap dengan harddisk atau SSD, serta sistem pendingin sehingga bisa merekam video dalam waktu yang lama.

Kesimpulan

Jadi secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut:

Kamera handphone: Exposure yang terbatas. Selalu beresiko mengalami penurunan detail (noise dan grainy) karena sensitifitas sensor terlalu rendah. Kemampuan dynamic range yang sangat rendah dan membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan.

Kamera handphone mampu memotret cepat (atau biasa dikenal dengan istilah burst), mampu merekam video slow-motion, dan mampu merekam dalam wakt yang lama.

Hanya saja foto/video yang dihasilkan tidak dengam output maksimal karena dipengaruhi oleh kemampuan processor, kemampuan internal storage, serta kemampuan untuk menghindari overheating.

note: handphone adalah device praktis. jadi dalam prakteknya, sangat jarang pengguna kamera handphone menggunakan dukungan lighting/pencahayaan tambahan

Kamera digital: Exposure lebih baik. Tersedia seting manual untuk adaptasi terhadap berbagai kondisi dan situasi. Membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan. Kemampuan dynamic range yang lebih baik.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Tapi masih terbatas untuk video. Ditandai dengan penggunaan SD card (untuk kecepata yang lebih baik), dan kemampuan rekam video yang terbatas untuk menghindari overheating.

Kamera cinema: Mampu menghasilkan detail dan exposure yang sangat baik tanpa lighting/pencahayaan tambahan. Dan kemampuan dynamic range yang terbaik.

Kamera cinema didukung kemampuan sensor terbaik di dalam sistem yang kompleks (dengan processor, harddisk/SSD, serta sistem pendingin) sehingga mamp menghasilkan output video maksimal.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

iPhone atau Android?

Postingan lama, april 2016, dengan judul asli Pertimbangan untuk Memilih antara iPhone atau Android. Yang mungkin postingan ini akan mendiskreditkan Android. Tapi anyway, dibaca aja dulu.

Bingung harus membeli iPhone atau Android? Atau paling ga mau tahu apa aja hal-hal yang sebaiknya jadi pertimbangan kalo mau ‘ngebandingin’ iPhone sama Android?

*ngebandingin (dalam tanda kutip); karena menurut gw ke dua smartphone tersebut ga layak dibandingin.

Misal, iPhone X, processor A11 6 core 2.4 GHz, dengan RAM 3 Gb dan dijual sekitar 12-15 jutaan. Kalo dibandingin sama Android yang spek-nya mirip, mungkin Snapdragon 625 (8 core 2.0 Ghz), misalnya Redmi Note 5 yang sama-sama pake RAM 3 Gb. Dan Redmi Note 5 (kalo masih ada yang baru) sekarang sekitar 2 jutaan.

Percobaan ngebandingin iPhone sama Android hanya berakhir dengan ke-frustasi-an. Jadi perdebatan yang gak akan ada habisnya 😀

Tapi biar gak terlalu bingung, berikut ini ada beberapa point yang mungkin bisa dijadiin perbandingan yang sebenernya (dalam pemakaian, gak cuma ngomongin spek).

1. Bentuk fisik

iPhone terkenal dengan body aluminium/kacanya. Beberapa produsen Android kaya Samsung atau Xiaomi juga mulai pake material yang sama. Tapi secara umum, banyak smartphone Android masih pake bahan plastik khusus.

Jadi iPhone keliatan lebih eksklusif. Gak sekedar jadi casing ‘pembungkus’, tapi body iPhone emang di disain secara khusus. Yang setelahnya, banyal produsen Android ikut pake desain yang mirip.

Misalnya contoh di atas, layar iPhone lebih full, ketebalan bezel-nya kiri kanan atas bawah lebih seimbang.

2. Kostumasi

Kalo senengnya sama perubahan, Android adalah smartphone yang tepat. Kita bisa ganti hampir semua hal yang ada di Android. Yang sekaligus menjadi kekurangan, kalo kita tipe yang ga suka repot sama berbagai settingan. Buat ngeganti/ngelakuin sesuatu harus ngelewatin beberapa langkah dulu.

Tapi kalo sukanya sama yang praktis, iPhone pilihan yang tepat. Yang sekaligus jadi kekurangan, ga banyak yang bisa diganti. Yang kalo kata pengguna Android, bisa bikin bosen.

3. Legalitas

Android adalah sistem yang bebas dan kebuka. Yang ga kebuka, kalo Androidnya itu udah dipasang di satu smartphone produksi produsen tertentu, misalnya ColorOS atau MIUI. Yang kalo kita ubah, bisa ngerusak garansi. Tapi selain dari itu, Android sistem yang gratis dan kebuka. Kita bisa bebas masukin lagu, video, aplikasi, atau sekalian ngerubah sistemnya itu sendiri. Pake costum ROM misalnya. Tap lagu atau video atau aplikasi itu mungkin bersifat illegal. Dan yang namanya hal illegal rentan virus atau hacker. Apalagi, kalo kita pake custom ROM yang emang jelas-jelas gak ada dukungan resminya.

Sedangkan iPhone sifatnya lebih ketutup. Atau terlalu tertutup. Banyak hal yang jadi perhatian Apple. Salah satunya adalah masalah legalitas dan masalah keamanannya. iPhone memang lebih terstruktur. Yang dengan struktur yang baik, ga ngerugiin orang lain (produsen aplikasi atau media berlisensi yang ada), ga ngerugiin Apple sendiri (sebagai produsennya) dan ga ngerugiin end-user (pengguna) iPhone itu sendiri.

4. Availability

Apple satu-satunya produsen iPhone. Dan setiap tahunnya cuma ngeliris (sebelumnya cuma 1) 2 jenis iPhone. Mulai dari tahun 2014, iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Tahun 2015, iPhone 6s dan iPhone 6s Plus.  Tahun 2016 iPhone 7 dan iPhone 7 Plus. Tahun 2017, iPhone 8 dan iPone 8 Plus. Sampe tahun 2019, iPhone iPhone 11 dan iPhone 11 Pro.

Jadi pilihannya lebih jelas, dan ga perlu pake istilah flagship. Karena setiap tahunnya Apple selalu merilis iPhone berkelas flagship.

Sedangkan Android, produsennya ada banyak banget. Dan masing-masing produsen punya kelas rilis masing-masing. Kalo misal setiap produsen punya 3 kelas standar; entry, mid dan hi-end . Dan misal ada 10 produsen yang ada (Samsung, Xiaomi, Oppo, Realme, Vivo, Oneplus, Asus, LG, Nokia dan Huawei), jadi setiap tahunnya ada sekitar 30 smartphone yang dirilis. Yang bisa dibilang kurang dari seminggu selalu ada hp baru yang masuk pasar.

Jadi wajar kalo ada kebingungan di waktu milih smartphone.

5. Stabilitas OS (iOS dan Android)

Sebenernya ini salah satu hal yang paling mencolok dan keduanya.

6. Harga

Saya coret karena menurut saya harga tidaklah relefan menjadi bahan pertimbangan. Ketika anda bingung memilih iPhone atau Android dengan budget 3 juta, maka jelas anda harus memilih Android. Karena tidak ada iPhone dengan harga 3 juta 😉

Apabila anda bingung dan memiliki budget sekitar 10 juta, maka silahkan diulang dari point 1 hingga 3. Karena sesuai pengantar diatas, iPhone dan Android sangat sulit untuk dibandingkan. iPhone dan Android dengan harga yang sama sebenarnya memiliki kemampuan yang sama-sama bagus. Semuanya kembali ke kebutuhan anda masing-masing.

Penutup

Saya jelaskan 4 point namun hanya memberikan 3 pilihan untuk anda. Jadi anda tidak akan terus merasa bingung mendapatkan hasil 2-2 😉

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Inovasi atau Perkembangan Apple (iPhone)

Banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi dengan teknologinya.

Ketika Android tidak hanya menawarkan processor quad-core tapi bahkan octa-core. Ketika Android tidak hanya menawarkan RAM 2 Gb tapi bahkan hingga 6 Gb.

Sedangkan iPhone baru belakangan ini menggunakan processor quad core dan RAM yang telah ditingkatkan (hanya) menjadi 4 Gb.

Penemuan, adalah penciptaan hal baru yang sebelumnya tidak ada. Sedangkan inovasi, adalah pemanfaatan, atau pemaksimalan, hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Tidak semua hal yang terdapat di dalam sebuah iPhone adalah hasil penemuan Apple. Tapi berkat iPhone, beberapa teknologi tersebut menjadi lebih bermanfaat, ketimbang dilupakan.

Berikut ini beberapa inovasi dari Apple, dimana beberapa teknologi diantaranya bukan milik Apple. Namun lebih dulu disematkan pada sebuah iPhone.

Mendefinisikan ulang arti ‘smartphone’

Smartphone bukan inovasi Apple. Apple, jelas bukan perusahaan pertama yang menciptakan smartphone.

Sesuai namanya, smartphone pada dasarnya adalah sebuah telepon (phone), tapi juga mampu melakukan banyak hal (smart: selain hanya melakukan/menerima panggilan telepon).

Apple mendefinikan ulang arti sebuah smartphone. Dimana smartphone, pada dasarnya adalah sebuah perangkat pintar (smart device), yang bisa melakukan banyak hal. Dan telepon, hanyalah salah satu diantaranya.

Desain dan Penggunaan.

Salah satu bentuk pendefinisian ulang tersebut adalah dengan bagaimana sebuah smartphone digunakan. Ketika layar touchscreen berfungsi (biasanya) dengan satu sentuhan, Apple menerapkan beberapa sentuhan sekaligus (multi touch).

Karena kebanyakan smartphone masih menggunakan 3 button (home button, back/kembali, dan menu button), dan penggunaan beberapa fungsi yang ada membutuhkan bantuan langsung dari tombol fisik. Tergantung seberapa baik desainnya, beberapa smartphone cukup sulit digunakan menggunakan satu tangan.

Sejak awal dirilis, iPhone sudah berinovasi dengan menghadirkan smartphone yang sangat kompak dan simpel. iPhone hanya memiliki 1 tombol (home button) dan bahkan, hingga hari ini, tanpa botton sama sekali.

Fisik

Bandingkan bagaimana bentuk/desain sebuah perangkat selular, telepon, dan smartphone sebelum dan setelah iPhone diluncurkan.

Internet Cepat

Apple bukan penemu teknologi internet cepat, namun melalui kerjasama dengan provider telekomunikasi dari negara asalnya, iPhone terintegrasi dengan teknologi internet cepat seperti 3G, HSDPA serta 4G LTE.

Apabila pada saat itu Apple tidak melakukan inovasi tersebut, tidak tertutup kemungkinan kita hanya akan bisa menikmati koneksi internet menggunakan modem atau fiber optic. Mungkin saja, tidak ada internet cepat dalam genggaman tangan.

Dan hari ini, setiap produsen smartphone saling berlomba-lomba menyematkan teknologi koneksi data tercepat, 4G, 4.5G, LTE, 5G dst..

Application Store & Media Stream

Apple bukan penemu media penjualan produk digital. Nokia Store sudah cukup populer sebelumnya. Napster, dan sejenisnya, sudah lebih dulu menjual media streaming. Tapi sebelumnya, digital store tersebut terpisah sesuai tipe media yang dijual.

Apple berinovasi dengan satu store untuk berbagai media digital (aplikasi, musik, film hingga buku) dan menyematkan semuanya dalam setiap produknya (iPhone, iPad, iPod, hinggaa Mac OS) yang bernama iTunes Store.

Pengguna Apple bisa menikmati musik, film, buku, menginstall berbagai aplikasi, hanya dalam satu device.

Kamera

Salah satu inovasi terbesar iPhone ada pada sektor kamera. Smartphone berkamera? Tentu bukan penemuan Apple. Jauh sebelum iPhone diciptakan sudah cukup banyak smartphone yang berkamera. Kamera untuk foto, udah pasti. Walau beberapa ada yang mendukung kemampuan rekam video juga, dalam fungsi yang lebih terbatas (biasanya berhubungan dengan resolusi).

Bagi Apple, smartphone adalah device yang bisa melakukan banyak hal. Jadi selain untuk mengambil foto, sebuah kamera juga udah seharusnya mampu merekam video. Kualitas foto yang lebih baik, dan kemampuan rekam video selayaknya camcorder/handycam.

Bahkan lebih jauh lagi, iPhone juga dilengkapi dengan kemampuan perangkat keras dan sistem operasi untuk editingfoto atau video tersebut.

Dual camera? Bokeh? Editing hanya dari smartphone?

Fitur-fitur.

Berbicara tentang spesifikasi, Apple bukanlah perusahaan yang mengejar kuantitas (angka). Secara spesifikasi hampir semua bagian dari sebuah iPhone yang bisa dinilai dengan angka, selalu lebih rendah dibanding smartphone lain.

Core dan clock processor, kapasitas RAM, megapixel kamera, aperture kamera, ukuran inch, resolusi display, kapasitas baterai, dan lain sebagainya. Angka tertinggi dari sebuah iPhone, mungkin hanya harga 😉

Tapi harga tersebut setimpal dengan fitur dan kemampuan sebuah smartphone. Dengan kemampuan yang sangat efektif dan mengintegrasikan banyak hal, beberapa inovasinya diantaranya:

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Handphone iPhone dan Android

Pengalaman saya sebagai pengguna iPhone sekaligus Android. Beberapa waktu yang lalu sebelum saya memiliki iPhone cukup banyak teman-teman yang sangat ‘pro’ Android dan sekaligus sangat ‘kontra’ terhadap iPhone.

Kenapa? Hanya ada satu jawaban, spesifikasi. Bagaimana dengan harga? Harga adalah bahasan relatif. Acuan harga, ‘iPhone terlalu mahal’, menurut saya tidak lebih dari sekedar pernyataan ketidakmampuan.

Secara spesifikasi iPhone memang sangat jauh tertinggal dari Android. Tentang core dan clock processornya, tentang kapasitas ram-nya, tentang resolusi kameranya, tentang kualitas layarnya, dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan atau mempromosikan smartphone tertentu. Hanya mencoba secara objektif mengajak pembaca untuk lebih bijak menanggapi perbedaannya. Penulis sendiri memiliki pengalaman menggunakan 2 smartphone Android (Samsung S4 Mini dan Samsung Note 2) dan 2 produk Apple (Ipod Touch 5th dan iPhone 5s).

Samsung S4 Mini rilis tahun 2013
Snapdragon 400 Dual Core 1.7 GHz, 1.5 Gb RAM, 8 MP camera
Samsung Note 2 rilis tahun 2012
Exynos 4412 Quad Core 1.6 GHz, 2 Gb RAM, 8 MP camera
iPod Touch 5th rilis tahun 2011
Apple A5 Dual Core 1 GHz, 512 Mb RAM, 8 MP camera
iPhone 5s Rilis tahun 2013
Apple A7 Dual Core 1.3 GHz, 1 Gb RAM, 8 MP camera

Processor

Smartphone Android saat ini berlomba-lomba dengan multi-core processornya. Quad-core, octa-core, dan bahkan 2 processor sekaligus (misal 1 octa-core berpasangan dengan 1 quad-core). Belum lagi masalah clock processornya yang semakin tinggi. Sebagai contoh adalah Samsung S6 memiliki 2 processor; quad-core 2.1 GHz dan quad-core 1.5 GHz.

Sedangkan iPhone, bahkan seri terakhir iPhone 6S Plus pun, hanya menawarkan 1 (satu) processor dual-core dan dengan clock hanya 1.8 GHz.

Sebenarnya kedua processor tersebut tidak layak dibandingkan. Membandingkan kedua processor tersebut seperti membandingkan antara mobil dengan motor. Sama-sama alat transportasi tapi dengan filosopi, teori, fisik, dan berbagai hal lainnya yang sangat berbeda.

Saat ini kita mengenal 3 processor yang umum digunakan. Processor PC/laptop, processor Android dan processor iPhone. Walaupun sama-sama processor, tapi ada banyak faktor yang membedakan antara satu dan lainnya.

Processor Android selayaknya processor PC/laptop, diciptakan untuk menangani banyak hal sekaligus. Sebagaimana kita menggunakan PC/laptop, bisa digunakan untuk browsing internet, menonton, bermain game, rendering/editing dan sebagainya. Yang dalam prakteknya, dengan segala kelebihan tersebut (core dan clock yg sangat bagus), bahkan ternyata sebuah smartphone tidak benar-benar membutuhkan semua kelebihan tersebut.

Berbeda dengan processor iPhone, diciptakan hanya untuk menangani apa yang dibutuhkan. Apple hanya berfokus pada efektifitas dibanding kuantitas. Hasilnya, kualitas yang lebih baik. Sebagai contoh processor A6 (dual-core) Apple dengan clock hanya 1 GHz memiliki performa setara dengan processor Android Exynos (quad-core) 1.4 GHz.

Dan jangan lupakan tentang monopoli Apple terhadap produknya. Perangkat keras (processor, RAM, dan sebagainya) dan perangkat lunak (sistem operasi iOS) dirancang oleh 1 orang yang sama. Setiap detail kemampuan perangkat kerasnya didukung dengan sangat baik oleh sistem operasinya. Dan setiap kemampuan sistem operasinya didukung dengan perangkat keras yang benar-benar sesuai. Dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi 1 ditambah 1 adalah 2, atau 1 dikurang 1/4 adalah 3/4, maka tidak heran walau spesifikasinya rendah tapi mampu menghadirkan performa yang sangat tinggi.

Sedangkan pada Android sistem operasi dan perangkat kerasnya dirancang terpisah. Pengembangan perangkat kerasnya  yang berbeda-beda (samsung, LG, qualcomm dll) didesain agar selalu pas dengan sistem operasinya. Dan sistem operasinya (Android, yang dikembangkan oleh Google) dirancang agar mampu bekerja dengan baik pada semua perangkat tersebut. Sehingga akan ada beberapa kekosongan (ketidak-efektifan) yang terjadi.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Apple cuma dual-core 1.8 GHz sedangkan Android octa-core 2.1 GHz”, maka jawabannya adalah “Apple hanya butuh dual-core 1.8 GHz, yang tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu mengalahkan quad-core 2.1 GHz Android”.

Processor (lanjutan)

Rata-rata smartphone Android sekarang dilengkapi 2 processor sekaligus. Dual-core dengan quad core (2 + 4), quad core dengan quad-core (4 + 4), atau bahkan octa-core dengan quad-core (8 + 4).

Dalam teorinya, kedua processor itu akan bekerja bergantian sesuai kebutuhannya. Apabila kebutuhan processornya lebih kecil maka processor A akan bekerja. Apabila kebutuhannya lebih besar maka processor B akan bekerja.

Sebenarnya iPhone juga memiliki 2 processor. Hanya saja, dengan teori yang berbeda dibanding sistem processor Android.

Pada iPhone, masing-masing processor memiliki tugas yang berbeda. Dan kedua processor tersebut selalu aktif secara bersamaan, menangani kebutuhan sesuai dengan spesialisasinya.

Battery

Dengan core dan clock yang sangat tinggi ditambah lagi dengan tuntutan 2 processor wajar apabila Android memiliki kapasitas baterai yang lebih besar. Smartphone Android menawarkan kapasitas baterai yang lebih besar justru karena tuntutan perangkat kerasnya, bukan demi kenyamanan penggunanya.

Jangan menganggap sebuah smartphone Android menggunakan baterai dengan kapasitas 2.500 mAh atau bahkan diatas 3.000 mAh dengan tujuan agar penggunanya bisa lebih lama menggunakan smartphone tanpa harus diisi ulang. Smartphone Android tersebut ‘terpaksa’ dan harus menggunakan baterai dengan kapasitas begitu besar hanya agar paling tidak bisa bertahan sekitar 10 hingga 12 jam karena permintaan daya dari perangkat kerasnya yang terlalu tinggi.

Sedangkan iPhone hanya memiliki 1 processor, dan dengan clock dan core yang rendah, sehingga baterai berkapasitas kecil pun sudah cukup untuk menyamai kemampuan bertahan baterai Android. Kenyamanan pengguna merupakan alasan utama kapasitas baterai.Karena kebutuhan daya dari perangkat keras tidak besar.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Baterai iPhone sangat kecil tidak seperti baterai Android”, maka jawabannya “Android membutuhkan baterai 3.000 mAH untuk bertahan seharian, iPhone hanya butuh 1.500 mAH untuk bertahan seharian”.

Kamera

Saat ini cukup banyak smartphone Android memiliki resolusi kamera diatas 15 Mp. Beberapa diantaranya bahkan hingga lebih dari 20 Mp. IPhone 6s Plus sebagai seri terbaru dari Apple, hanya memiliki kamera dengan resolusi 12 Mp.

Resolusi, hanya berhubungan dengan ukuran. Resolusi atau megapixel tidak berhubungan dengan kualitas hasil. Jendela berukuran lebar menawarkan area pandang yang lebih luas. Tapi kualitas pandangannya bergantung pada sebagus apa kaca pada jendela tersebut

Detail kemampuan dasar kamera seperti ISO, focus, exsposure dan sebagainya lebih menentukan dibanding sekedar hasil yang besar (resolusi).

Sebagai media pembanding menggunakan aplikasi video recording yang pada awalnya hanya dibuat untuk iPhone bernama FiLMiC Pro. Aplikasi yang sudah dinobatkan sebagai aplikasi Video Camera terbaik tersebut memaksimalkan semua kemampuan kamera pada iPhone. Dan belum lama ini aplikasi tersebut juga disediakan untuk Android. Hanya saja, terbukti, tidak semua smartphone Android bisa menikmati semua fungsi yang disediakan oleh aplikasi tersebut.

Sesuai detail spesifikasi dari pengembangnya, FiLMiC Pro kompatibel (dapat menggunakan semua fitur yang tersedia) mulai dari iPhone 4s, yang rilis tahun 2011, yang pada saat ini harga bekasnya mungkin sekitar 1.5 hingga 2 juta. Sedangkan FiLMiC Pro versi Android, dari beberapa review di play store, cukup baik digunakan di Samsung Galaxy S6, Samsung Galaxy S7 dan Samsung Note 5 (yang rilis tahun 2016 dan dengan harga diatas 10 juta).

Sesuai pengantar diawal, harga tidak etis untuk dijadikan perbandingan. Karena pada hasil review aplikasi, sebuah kamera seharga 1.5 – 2 juta memiliki fitur dan kemampuan yang sama dengan kamera bernilai diatas 10 juta.

Baca review FiLMiC Pro untuk Android dan review FiLMiC Pro untuk iPhone.

Kesimpulan.

Android dan iPhone memang sama-sama smartphone. Hanya saja kita harus lebih bijak dan bila perlu melakukan riset terlebih dahulu, sebelum berani memutuskan mana yang lebih baik. Ketika menggabungkan Android dan iPhone ke dalam kategori ‘smartphone’ dan kemudian membandingkannya, tidak berbeda seperti menggabungkan mobil dengan pesawat ke dalam kategori ‘alat transportasi’ kemudian membandingkannya.

Apabila hanya melihat dari luar, hanya membandingkan secara angka yang tertera, tidak satupun angka dari iPhone yang lebih tinggi dari Android. Diluar performa dan kemampuan, iPhone kalah telak dari Android.

Android: core processor yang lebih banyak, clock processor yang lebih tinggi, kapasitas RAM yang lebih besar, resolusi kamera yang lebih besar, ukuran layar yang lebih besar, dan sebagainya.

iPhone: core processor lebih sedikit, clock processor lebih rendah, kapasitas RAM rendah, resolusi kamera rendah, ukuran kayar lebih kecil dan sebagainya.

Tapi dalam pengalaman saya menggunakan 2 Android dan 2 produk Apple, semua kemampuan ‘rendah’ tersebut tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu menggulingkan kemampuan Android.

Hanya saja harus diakui, satu-satunya hal yang tidak lebih baik dari iPhone hanyalah kemampuan layarnya. Samsung sudah sejak lama menawarkan layar Super AMOLED untuk smartphonenya sedangkan iPhone masih menggunakan LCD IPS. Layar LCD IPS iPhone lebih baik dari kebanyakan smartphone Android hanya saja masih lebih ‘wah’ layar Super AMOLED dari Samsung.

Sangat disayangkan cukup banyak pertanyaan yang tidak mengenakkan tentang iPhone, sebelum melakukan riset atau memiliki pengalaman langsung. Bahkan beberapa pernyataan yang ada berasal dari orang-orang yang sebenarnya cukup awam dibidang teknologi.

Salah satu pernyataan yang cukup tegas adalah yang pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi seperti yang dilakukan produsen Android pada umumnya. Jangan lupakan bahwa kata ‘smartphone’ itu sendiri mulai populer digunakan pada tahun 2007 ketika Apple merilis iPhone pertamanya. Dan masih banyak inovasi-inovasi Apple lainnya seperti Siri, smartphone yang berbicara, atau “Hello Google” pada Android. Teknologi finger print atau Touch ID.

Dan ketika teknologi komunikasi seluler masih terbagi 2 antara GSM dan CDMA, iPhone telah mengasung teknologi unified LTE dan lain sebagainya.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Tips dan Trik Memilih Handphone

Pernah kebingungan waktu mau beli smartphone?

Pilhan beragam membuat banyak orang bingung harus memilih yang mana yang harus dimiliki. Karena untuk beberapa seri dari brand yang sama memiliki perbedaan yang ternyata sangat tipis.

Hingga belum lama ini, hal inilah yang membedakan iPhone dengan smartphone dari produsen lain. Dibawah kepemimpinan Steve Jobs Apple hanya merilis satu iPhone dalam jangka waktu yang cukup lama.

Bisa dikatakan Apple membuat sebuah smartphone, melakukan riset untuk memaksimalkan kemampuannya dan baru akan merilisnya satu tahun kemudian. Sedangkan produsen smartphone lain selalu merilis smartphone terbaru bersamaan dengan adanya teknologi baru. Sehingga beberapa produsen smartphone merilis beberapa seri sekaligus dalam satu tahun.

Sebenarnya apa saja yang perlu dipertimbangkan pada saat memilih smartphone sesuai dengan yang kita butuhkan?

1. Ukuran.

Ukuran yang besar katakan 5′ keatas menawarkan keleluasaan dalam menggunakannya. Dan khususnya untuk kaum hawa, biasanya smartphone disimpan di dalam tas tangan. Sedangkan kaum adam biasanya lebih memilih smartphone yang praktis dan kecil karena biasanya disimpan di dalam kantong pakaian.

Selain ukuran fisik sebagai faktor kenyamanan, ukuran juga mempengaruhi tujuan penggunaannya. Beberapa fungsi smartphone akan lebih baik apabila didukung ukuran layar yang besar.

2. Processor.

Beberapa fungsi smartphone membutuhkan performa processor yang tinggi. Setelah menentukan ukuran layar dan tujuan penggunaan, kita mempersempit area pencarian.
Apabila kebutuhan smartphone tidak lebih dari kebutuhan harian seperti telepon, aplikasi sosial media atau game-game ringan, pilihan processor quad-core (misal 1.2 GHz atau 1.5 GHz) sudah cukup.

Apabila penggunaan smartphone untuk kebutuhan yang lebih tinggi seperti merekam video, bermain game berat maka pemilihan processor quad-core atau yang lebih bagus adalah keharusan. Smartphone seri terbaru belakangan ini juga dilengkapi dengan 2 processor sekaligus.

3. RAM.

Untuk tahun 2016 smartphone dengan RAM minimal 1.5Gb sudah menjadi keharusan. Untuk pemakaian jangka panjang minimal anda harus memilih smartphone dengan RAM 2Gb. Agar 1 atau 2 tahun kedepan smartphone anda masih nyaman digunakan.

RAM (random access memory, bukan ROM atau storage) berfungsi untuk meningkatkan respon, mempercepat proses membuka aplikasi, dan kenyamanan pemakaian aplikasi. RAM yang kecil akan membuat smartphone lebih lemot. RAM tidak berhubungan dengan seberapa banyak anda bisa menginstall aplikasi atau menyimpan lagu.

4. Internal Storage.

Internal storage lah yang mempengaruhi berapa banyak anda bisa menginstall aplikasi atau menyimpan lagu dan foto.

Fungsi utama internal storage terbagi 2. Sebagai ROM (tempat sistem operasi smartphone) dan internal storage general (umum). ROM adalah bagian dari internal storage yang ‘tidak tersentuh’. Sedangkan internal storage biasanya dimanfaatkan untuk tempat aplikasi-aplikasi terinstall.

Untuk itu internal storage perlu menjadi perhatian anda. Internal storage 8 Gb, biasanya hanya menyisakan ruang relatif sekitar 6Gb. Karena 2 Gb lainnya sudah digunakan oleh sistem operasi. Ruang 6Gb inilah yang nanti digunakan untuk menyimpan aplikasi. Internal storage yang kecil membuat anda terbatas hanya bisa menginstall beberapa aplikasi saja.

Selain internal storage sebenarnya masih ada pilihan ekspansi storage berupa microSD. Namun microSD berfungsi sebagai tempat penyimpanan data seperti foto, lagu dan video. Karena beberapa aplikasi harus diinstall di internal storage (tidak bisa di microSD).

Jadi apabila anda membutuhkan smartphone dengan banyak aplikasi, sebaiknya anda tidak memilih smartphone dengan internal storage yang kecil.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.