Posts tagged harga

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Pengalaman Beli Vaping

Pada suatu hari dimana saya terlibat debat tak berujung ngomongin device. Bicara tentang device ga jauh beda kayak ngomongin smartphone. Mungkin sesekali perlu diadain event ‘World Mod Congress’ atau semacamnya. Ala-ala Mobile World Congress. 😀 Yang tidak hanya sekedar pameran, tapi juga seminar tentang device-device vaping. Kalo perlu sekalian sertifikasi untuk pesertanya 😀

1. Pengalaman pribadi.

Pertama kali kenal vaping pure dari internet. Apa itu vaping, apa itu mod, apa aja jenis mod, apa itu RDA atau RTA dan berbagai preview dari produk-produk vaping lainnya.

Dari semua pertimbangan, budget pasti salah satu faktor terpenting 😀

Dan belinya pun, online.

Mutusin beli Joyetech Cuboid Mini Starter Kit. Kenapa? Karena udah terkategori mod canggih dengan berbagai fitur. Dan ga perlu beli batre atau tank tambahan lagi.

Beberapa minggu awal no problem at all. Namanya baru kenal vaping, kalaupun pait-pait dikit tapi tetep aja masih lebih ‘manis’ dibanding asap rokok manapun 😀

Belakangan baru tau kalo ternyata Cuboid Mini dianggap mod yang ‘biasa aja’. Chip yang katanya ga terlalu bagus. Power yang ga terlalu gede. Tank starter yang ga oke. Dan built-in battery yang dinilai, yah, untuk berbagai alasan hal tersebut dianggap tidak bagus!

Oke, cukup! Apa gue harus ganti device? Walaupun, gue ngerasa ga ada yang salah dengan device ini. Gue masih nyaman makenya.

Sebelum menelantarkan mod yang katanya ga bagus ini gue coba browsing lagi. Hingga sampai di satu keputusan. Gue coba ganti tank dulu, tanpa harus ganti mod.

Dan gue beli RTA Goblin Mini V2.

Cuboid Mini dan Goblin Mini, menurut gue kombinasi yang ciamik. Flavor dan cloud yang jauh lebih bagus dibanding tank bawaan Cuboid Mini.

Dan sementara itu, lingkungan gue mulai banyak yang ikut nge-vaping.

Cuboid 200, iStick Pico, Wismec RX200, Evic VTC adalah mod yang biasa gue temuin kalo lagi nongkrong, device-device yang dipake temen-temen gue. Dan Avocado, Limitless, Griffin dan Serpent Mini adalah beberapa nama atomizer yang mereka pake.

Honestly, gue ga bisa ngebedain apa hebatnya mod-mod tersebut dibanding Cuboid Mini gue. Well kecuali, mod-mod mahal tersebut punya maksimal power yang lebih gede dibanding Cuboid Mini.

Setelah sekian lama. Setelah berkali-kali eksperimen coil dan ohm yang dipasang di RTA Goblin Mini tercinta, gue mulai penasaran sama RDA. The world has agreed, RDA jauh lebih baik dari RTA.

Oke, balik ke budget 😀 Gue udah punya mod yang menurut gue good. Dan gue juga udah punya RTA which is one of that famous brand, Youde Goblin Mini V2. Jadi gue ga mau berinvestasi terlalu tinggi.

Ga punya budget sih emang masalah, tapi tetap maunya gear yang ori 😀 Biasalah, egoisme manusia. Hasil riset gue membawa gue ke RDA dari brand gede, tapi dengan harga super miring. Wotofo Freakshow RDA. Versi tinggi waktu itu dijual 150 ribu, dan versi mini dijual 130 ribu. Kekurangannya? Tanpa driptip. It’s ok laa… gue punya banyak driptip dari tank starter Cuboid Mini. Belum lagi driptip cadangan dari Goblin Mini.

Dan hasilnya? I can’t really tell what’s the different between freakshow and avocado. Antara freakshow dengan limitless. Antara freakshow dengan tsunami.

Wow!! Ada apa dengan selisih harga yang begitu tingginya, tapi ternyata.. sama saja. Untuk klarifikasi, ini flavor based. Well I’m not really a cloud chasing guy.

Kesimpulan gue, harga bukan jaminan. Kapas muji feels good tanpa harus pake cotton bacon. RDA Freakshow authentic seharga 150 ribu feel better than Limitless seharga 300 ribu atau bahkan yang seharga 375 ribu. Cuboid Mini gue, alive and kickin until today. 😉

 

2. Pengalaman bantuin teman (lifestyle).

Setelah sekian lama kenal dunia vaping mulai banyak teman yang konsultasi ke gue. Nanya device, nanya liquid, termasuk minta bimbingan cari device.

Tipikal orang yang paling sering gue temuin adalah yang tipe lifestyle. Menurut gue ini tipikal korban iklan banget.

Masih belajar nge-vaping dan ngakunya ga paham. Tapi dalam prosesnya, mereka ternyata ‘jauh lebih paham’ dari gue. Mereka udah bisa bilang mana device yang bagus dan mana yang jelek. Dan kategori ini biasanya udah terpaku sama suatu brand tertentu.

Udah bisa nge-judge mana device yang bagus mana yang jelek. Okay. Tell me? “Hmm… Ngg…”. Mostly jawaban mereka ‘tau dari teman’. “Tapi gue ga nanya sih.. katanya sih gitu”. Ah…

3. Pengalaman bantuin teman (on budget).

Selanjutnya pengalaman dengan mereka yang memang punya budget gede. Beberapa teman gue ada yang make Therion atau Wismec RX200 atau sekelasnya. Hanya karena alasan mereka mampu.

Dengan mod seharga 900 hingga hampir 2 juta. Dengan maksimal power 150 W hingga 200 W, tapi beberapa dari mereka bahkan main ga lebih dari 30 watt.

Well, when you have the money you can do anything you want. That’s it.

4. Conclusion

Jadi kalo ada rencana mau beli device, try it. Cobain sendiri sebelum berkomentar. Jangan skeptis. Toko vaping jauh lebih baik dibanding toko baju. Tanya ke penjual. Minta tester. Minta bimbingan. Dan cari wawasan sendiri.

Harga bukan jaminan. Brand bukan kepastian. Especially when you have a very limited budget.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Featured Image by Tbel Abuseridze on Unsplash

iPhone atau Android?

Postingan lama, april 2016, dengan judul asli Pertimbangan untuk Memilih antara iPhone atau Android. Yang mungkin postingan ini akan mendiskreditkan Android. Tapi anyway, dibaca aja dulu.

Bingung harus membeli iPhone atau Android? Atau paling ga mau tahu apa aja hal-hal yang sebaiknya jadi pertimbangan kalo mau ‘ngebandingin’ iPhone sama Android?

*ngebandingin (dalam tanda kutip); karena menurut gw ke dua smartphone tersebut ga layak dibandingin.

Misal, iPhone X, processor A11 6 core 2.4 GHz, dengan RAM 3 Gb dan dijual sekitar 12-15 jutaan. Kalo dibandingin sama Android yang spek-nya mirip, mungkin Snapdragon 625 (8 core 2.0 Ghz), misalnya Redmi Note 5 yang sama-sama pake RAM 3 Gb. Dan Redmi Note 5 (kalo masih ada yang baru) sekarang sekitar 2 jutaan.

Percobaan ngebandingin iPhone sama Android hanya berakhir dengan ke-frustasi-an. Jadi perdebatan yang gak akan ada habisnya 😀

Tapi biar gak terlalu bingung, berikut ini ada beberapa point yang mungkin bisa dijadiin perbandingan yang sebenernya (dalam pemakaian, gak cuma ngomongin spek).

1. Bentuk fisik

iPhone terkenal dengan body aluminium/kacanya. Beberapa produsen Android kaya Samsung atau Xiaomi juga mulai pake material yang sama. Tapi secara umum, banyak smartphone Android masih pake bahan plastik khusus.

Jadi iPhone keliatan lebih eksklusif. Gak sekedar jadi casing ‘pembungkus’, tapi body iPhone emang di disain secara khusus. Yang setelahnya, banyal produsen Android ikut pake desain yang mirip.

Misalnya contoh di atas, layar iPhone lebih full, ketebalan bezel-nya kiri kanan atas bawah lebih seimbang.

2. Kostumasi

Kalo senengnya sama perubahan, Android adalah smartphone yang tepat. Kita bisa ganti hampir semua hal yang ada di Android. Yang sekaligus menjadi kekurangan, kalo kita tipe yang ga suka repot sama berbagai settingan. Buat ngeganti/ngelakuin sesuatu harus ngelewatin beberapa langkah dulu.

Tapi kalo sukanya sama yang praktis, iPhone pilihan yang tepat. Yang sekaligus jadi kekurangan, ga banyak yang bisa diganti. Yang kalo kata pengguna Android, bisa bikin bosen.

3. Legalitas

Android adalah sistem yang bebas dan kebuka. Yang ga kebuka, kalo Androidnya itu udah dipasang di satu smartphone produksi produsen tertentu, misalnya ColorOS atau MIUI. Yang kalo kita ubah, bisa ngerusak garansi. Tapi selain dari itu, Android sistem yang gratis dan kebuka. Kita bisa bebas masukin lagu, video, aplikasi, atau sekalian ngerubah sistemnya itu sendiri. Pake costum ROM misalnya. Tap lagu atau video atau aplikasi itu mungkin bersifat illegal. Dan yang namanya hal illegal rentan virus atau hacker. Apalagi, kalo kita pake custom ROM yang emang jelas-jelas gak ada dukungan resminya.

Sedangkan iPhone sifatnya lebih ketutup. Atau terlalu tertutup. Banyak hal yang jadi perhatian Apple. Salah satunya adalah masalah legalitas dan masalah keamanannya. iPhone memang lebih terstruktur. Yang dengan struktur yang baik, ga ngerugiin orang lain (produsen aplikasi atau media berlisensi yang ada), ga ngerugiin Apple sendiri (sebagai produsennya) dan ga ngerugiin end-user (pengguna) iPhone itu sendiri.

4. Availability

Apple satu-satunya produsen iPhone. Dan setiap tahunnya cuma ngeliris (sebelumnya cuma 1) 2 jenis iPhone. Mulai dari tahun 2014, iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Tahun 2015, iPhone 6s dan iPhone 6s Plus.  Tahun 2016 iPhone 7 dan iPhone 7 Plus. Tahun 2017, iPhone 8 dan iPone 8 Plus. Sampe tahun 2019, iPhone iPhone 11 dan iPhone 11 Pro.

Jadi pilihannya lebih jelas, dan ga perlu pake istilah flagship. Karena setiap tahunnya Apple selalu merilis iPhone berkelas flagship.

Sedangkan Android, produsennya ada banyak banget. Dan masing-masing produsen punya kelas rilis masing-masing. Kalo misal setiap produsen punya 3 kelas standar; entry, mid dan hi-end . Dan misal ada 10 produsen yang ada (Samsung, Xiaomi, Oppo, Realme, Vivo, Oneplus, Asus, LG, Nokia dan Huawei), jadi setiap tahunnya ada sekitar 30 smartphone yang dirilis. Yang bisa dibilang kurang dari seminggu selalu ada hp baru yang masuk pasar.

Jadi wajar kalo ada kebingungan di waktu milih smartphone.

5. Stabilitas OS (iOS dan Android)

Sebenernya ini salah satu hal yang paling mencolok dan keduanya.

6. Harga

Saya coret karena menurut saya harga tidaklah relefan menjadi bahan pertimbangan. Ketika anda bingung memilih iPhone atau Android dengan budget 3 juta, maka jelas anda harus memilih Android. Karena tidak ada iPhone dengan harga 3 juta 😉

Apabila anda bingung dan memiliki budget sekitar 10 juta, maka silahkan diulang dari point 1 hingga 3. Karena sesuai pengantar diatas, iPhone dan Android sangat sulit untuk dibandingkan. iPhone dan Android dengan harga yang sama sebenarnya memiliki kemampuan yang sama-sama bagus. Semuanya kembali ke kebutuhan anda masing-masing.

Penutup

Saya jelaskan 4 point namun hanya memberikan 3 pilihan untuk anda. Jadi anda tidak akan terus merasa bingung mendapatkan hasil 2-2 😉

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.