Posts tagged ISO

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Kamera

Seringnya, gak semua orang yang mau beli kamera ngerti segala spesifikasi dari sebuah kamera. Gak semua calon pembeli adalah professional photographer or videographer.

Malah katanya, siswa atau mahasiswa (yang belajar photography dan videography) udah disarankan untuk punya kamera terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus teori dasarnya.

Dan kalaupun si calon pembeli ngerti tentang kamera, mungkin ga jauh dari tau ukuran megapixel yang bisa dihasilkan saja.

Berikut ini beberapa hal, dengan penjelasan yang semoga mudah untuk dipahami, yang bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum memutuskan membeli kamera.

Atau mungkin, sebagai acuan perbandingan antara beberapa kamera yang sudah di targetkan sebelumnya, sehingga lebih mudah memilih.

Dijelaskan dan diilustrasikan menggunakan bahasa yang ringan agar lebih mudah dipahami.

1. UKURAN SENSOR

Sensor adalah satu bidang rata di dalam body kamera yang melihat dan merekam gambar yang diproyeksikan oleh lensa. Layaknya media kaca pada mesin foto-copy.

Perbandingan ukuran sensor kamera.

Terdapat 3 ukuran sensor yang populer saat ini:

Full-frame. sensor yang berukuran 36mm x 24mm. Disebut juga sebagai format 35mm karena ukuran sensor tersebut sama seperti ukuran panjang 1 frame pita rol film (klise foto) kamera analog. Dan format 35mm menjadi acuan terhadap beberapa spesifikasi kamera digital.

Karena berukuran besar, sensor full-frame mampu melihat (menangkap) detail dengan lebih baik. Dan ibarat jendela berukuran besar, lebar pandangan (field of view) cukup luas. Sehingga menjadi ‘senjata wajib’ para professional.

Field of view pada kamera dengan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini memiliki harga yang tinggi. Ukuran yang lebih besar, detail yang lebih baik, dan senjata wajib para profesional.

APS-C (disebut juga sebagai format super-35mm) dengan ukuran fisik sekitar 24mm x 16mm. Awalnya, sensor APS-C hanya sebagai alternatif karena biaya produksi sensor full-frame yang cukup tinggi. Tapi dalam perkembangannya sensor APS-C punya tempat sendiri dalam dunia fotografi. Dan hingga hari ini format APS-C menjadi format populer untuk ukuran sensor kamera. APS-C sering juga disebut sebagai super-35mm karena ukuran sensornya ‘hampir mirip’ dengan sensor full-frame.

Walau lebih kecil tapi sensor APS-C tetap mampu menghasilkan detail yang tinggi. Tapi karena ukuran fisiknya yang lebih kecil, cahaya yang menyentuh permukaan sensor tidak sebanyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor full-frame. Jadi sensor APS-C tidak sebaik sensor full-frame di kondisi gelap/kurang cahaya.

Dan karena ukuran ‘jendela yang lebih kecil’, lebar pandang (field of view) tidak seluas full-frame. Sensor APS-C butuh lensa dengan focal length yang lebih pendek (lensa wide) untuk menghasilkan field of view yang sama seperti field of view pada sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor APS-C dengan sensor full frame.

Sensor ini, relatif lebih murah dibanding sensor full frame. Kamera yang menggunakan sensor ini mayoritas memiliki fitur yang mirip dengan kamera bersensor full frame. Bedanya? Ukuran sensornya itu sendiri.

Micro Four-Third (biasa disebut M4/3 atau MFT) dengan ukuran fisik sensor sekitar 18mm x 13mm. Disebut micro, karena ukuran fisik-nya jauh lebih kecil dibanding sensor full-frame. Dan maksud four-third adalah ratio panjang berbanding lebar dari sensor itu sendiri. Sensor full-frame memiliki ratio 3:2 (36mm x 24mm) sedangkan MFT memiliki ratio 4:3 (18mm x 13mm)

Sensor MFT masih mampu menangkap detail yang baik (bahkan sensor kamera smartphone yang cuma berukuran sekitar 5mm masih mampu menangkap detail baik). Tapi kemampuan MFT dibawah kondisi gelap/kurang cahaya tidak sebaik sensor-sensor yang berukuran lebih besar.

Namun begitu, kamera dengan sensor MFT biasanya memiliki fitur yang membantu dalam kondisi gelap/kurang cahaya (baik melalui image processor, sensitifitas ISO dan lain sebagainya).

Dan dikarenakan ‘jendela’ yang jauh lebih kecil, dibutuhkan focal length yang lebih pendek lagi (lensa yang lebih wide lagi) untuk menyamai field of view sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor MFT dengan sensor APS-C dan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini, memiliki range harga yang sangat lebar. Di beberapa jenis bisa lebih murah dibanding kamera dengan sensor APS-C, di jenis lainnya bisa jadi sama mahalnya dengan kamera bersensor full-frame.

Karena pada beberapa jenis kamera, dengan kemampuan sensor yang lebih terbatas, fitur yang didukung bisa jadi melebihi fitur yang terdapat pada kamera bersensor full-frame. Beberapa fitur diantaranya adalah dukungan IBIS (in body image stabilizer), 4k video recording, slo-mo video recording, hybrid autofocus, dan lain sebagainya.

Perbedaan dari 3 ukuran sensor tersebut akan mempengaruhi 3 hal berikut:
– Kualitas image yang bisa ditangkap
– Kemampuan kamera bekerja dalam kondisi kurang cahaya
Field of view (lebar pandangan) yang dihasilkan

Pengaruh perbedaan ukuran sensor terhadap field of view

2. MIRRORLESS ATAU DSLR

Bisa dikatakan, kamera DSLR adalah kamera semi-analog. Beberapa bagian dan sistem kerjanya masih menggunakan sistem analog. Sedangkan mirrorless sudah sepenuhnya elektrik. Karena selalu menggunakan sistem elektrik maka kamera mirrorless lebih boros daya dibanding DSLR.

Perbedaan sistem kerja DSLR dengan Mirrorless

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, ada 2 catatan penting yang membuat DSLR lebih baik dari mirrorless adalah:

1. Optical viewfinder (DSLR) dan electronic viewfinder (mirrorless)

OVF (optical viewfinder) menampilkan preview yang realistis. karena menggunakan cermin untuk merefleksikan apa yang dilihat oleh lensa. Sementara EVF (electronic viewfinder) tidak se-realistis optical viewfinder karena pengaruh kualitas viewfinder itu sendiri. Ibaratnya seperti menonton bola di TV atau melihat langsung di stadion.

2. Contrast detect autofocus (DSLR) dan phase detect autofocus (mirrorless)

Contrast detection autofocus yang digunakan di sistem DSLR bisa tetap bekerja di kondisi kurang cahaya (low light). Sedang phase detection autofocus pada mirrorless membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bisa bekerja dengan baik.

Tapi hari ini, kedua perbedaan itu semakin samar. Kedua sistem (DSLR dan mirrorless) saling beradaptasi dan saling menutupi kekurangan. EVF pada mirrorless semakin baik untuk menampilkan preview yang lebih realistis. DSLR sendiri menggunakan kedua viewfinder tersebut, OVF dan EVF pada LCD display-nya.

Dan beberapa jenis mirrorless mulai menggunakan sistem autofocus hybrid (contrast detection dan phase detection) sekaligus. Didukung juga dengan perkembangan battery dari mirrorless yang semakin baik sehingga bisa bertahan lebih lama.

Kedua tipe kamera tersebut saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. DSLR lebih disukai karena berukuran lebih besar dan berkesan kokoh. Mirrorless sendiri lebih praktis karena berukuran kecil.

DSLR lebih disukai, karena untuk mode photography, optical viewfinder merefleksikan detail dengan baik. Sementara mirrorless lebih disukai untuk videography, karena sistem EVF menerapkan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get). Dimana exposure, warna dan detail yang terlihat di EVF sebelum merekam video, persis seperti layaknya video yang sudah direkam.

Hingga pada akhirnya pilihan antara ke dua kamera ini lebih kepada kenyamanan penggunaan. Seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan di waktu menggunakan kamera.

3. IMAGE PROCESSOR

Seperti pada kamera analog, ‘image processor’-nya adalah manusia dengan segala peralatannya yang berada di kamar gelap. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung dari berbagai hal dan proses. Mulai dari kualitas klise foto, kualitas material yang digunakan, kualitas media cetak yang digunakan dan lain sebagainya.

Pada kamera digital, setiap gambar yang dihasilkan adalah hasil proses dari image processor-nya. Pada kamera Canon dikenal processor DIGIC (DIGIC 4, DIGIC 5, DIGIC 5+, DIGIC 7 dan sebagainya). Pada kamera Fuji atau Nikon dikenal processor Expeed (Expeed 4, Expeed 5 dan sebagainya). Sedangkan pada kamera Sony dikenal processor BionZ.

Beberapa jenis image processor

Walau dalam prakteknya terdapat banyak hal yang mempengaruhi kualitas (ukuran sensor, sensitifitas ISO, kualitas lensa dan lain sebagainya), cukup sulit untuk membandingkan antara 2 image processor berbeda (misal antara DIGIC dengan Expeed).

Namun ketika kita kesulitan dalam memilih dua (atau lebih) kamera dari brand yang sama, tidak ada salahnya memastikan image processor yang tertanam pada kamera lebih baru (misal Canon dengan processor DIGIC 7, dengan asumsi memiliki kemampuan yang lebih baik) dibanding kamera Canon lain yang menggunakan processor DIGIC 4.

3. SENSITIFITAS ISO

ISO adalah satuan standar tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Pada ISO minimal, sensor akan merekam gambar dengan kemampuan terbaiknya, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan terlihat sangat baik.

Namun dalam kondisi kurang cahaya, tidak banyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor. Sensitifitas sensor dibutuhkan (meningkatkan nilai ISO) agar lebih peka terhadap cahaya.

Meningkatkan nilai ISO akan membantu sensor menyerap cahaya namun kualitas gambar menjadi tidak terlalu baik. Gambar akan terlihat berbintik atau dikenal dengan istilah noise atau grainy. Dan semakin tinggi nilai ISO maka semakin banyak noise/grainy yang dihasilkan.

Dengan prinsip tersebut, diilustrasikan 2 kamera dengan kemampuan ISO yang berbeda.

Kamera A dengan sensitifitas ISO yang lebih tinggi, misal 12800, masih mampu menghasilkan gambar dengan grainy/noise yang cukup baik dibandingkan dengan kamera B dengan sensitifitas ISO hanya 6400.

Kamera A (ISO range 100-12800) masih mampu mengontrol grainy/noise di ISO 3200 karena hanya menggunakan sekitar 30% dari kemampuan ISO maksimalnya.

Sedangkan kamera B (ISO range 100-6400) walau sama-sama menggunakan ISO 3200 tapi menghasilkan grainy/noise yang lebih tinggi karena sudah menggunakan 50% kemampuan ISO maksimalnya.

Ilustrasi ini hanya dimaksud untuk mempermudah pemahaman, karena dalam prakteknya, banyak hal lain yang mempengaruhi kualitas grainy/noise.

Selain itu, kamera dengan sensitifitas ISO tinggi (misal 52000) memiliki kemampuan low light yang jauh lebih baik dibanding karena dengan ISO maksimal, misal hanya 12800.

4. PILIHAN LENSA

Setiap brand kamera memiliki standar dudukan lensa (lens mounting) masing-masing. Setiap kamera hanya bisa dipasangi lensa dengan mounting yang sama.

Kamera Canon yang menggunakan mounting EF (untuk seri DSLR full-frame), EF-S (untuk seri DSLR APS-C) dan mounting EF-M (untuk seri mirrorless). Pada Sony misalnya, terdapat A-mount (untuk seri DSLR) dan E-mount (untuk seri mirrorless).

Jajaran lensa dari beberapa brand terkemuka

Pilihan lensa mempengaruhi fleksibilitas penggunaan kamera itu sendiri. Tapi selain itu, karena pertimbangan harga dari lensa itu sendiri.

Beberapa orang memilih kamera dengan brand tertentu karena tersedia cukup banyak pilihan lensa. Sedangkan beberapa orang yang lain menghindari brand tertentu karena harga lensanya yang lebih tinggi.

Ketika memilih satu brand tertentu, sebaiknya pertimbangkan juga kebutuhan dan ketersediaan lensa dari brand tersebut.

Memilih satu brand tertentu karena harga kameranya (body) yang lebih murah, tapi (apabila dibutuhkan) memiliki pilihan lensa yang terbatas, tentu tidak baik.

Atau memilih satu brand tertentu karena ketersediaan lensanya yang sangat variatif, tapi mungkin saja tidak kita butuhkan (atau belum tentu mampu kita miliki), sama tidak baiknya.

Untuk itu sebaiknya memilih satu kamera disesuaikan dengan kebutuhan dan budget tersedia.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Fotografi & Videografi

Punya keinginan jadi fotografer atau videografer?

Kalau dulu modalnya lumayan. Ga semua orang mampu beli peralatannya yang memang tidak murah. Untuk foto harga pocket photo atau tustel sekitar 500 ribuan. Sedangkan untuk video, handycam harganya lebih tinggi lagi, bisa 800 ribu atau 1 jutaan.

Istilah fotografi atau videografi mencakup pelaku dan alatnya. Sedangkan istilah fotografer atau videografer adalah tentang man behind the gun. Tentang siapa yang melakukannya. Terlepas dari secanggih apa alatnya, hasil yang bagus sedikit banyaknya adalah karena peran siapa yang menggunakan alat tersebut.

Jadi, siapapun bisa menjadi fotografer. Siapapun bisa menjadi videografer. Tentu saja kembali ke kemampuan orangnya. Membutuhkan latihan dan pengalaman untuk mengasah kemampuan. Alatnya?

Smartphone yang ada di tangan anda adalah jawaban yang paling tepat. Tidak peduli apakah smartphone anda punya kemampuan yang super canggih atau yang teramat sangat jelek, sebuah kamera adalah kamera. Dibuat, dipasang di smartphone anda, dan berfungsi sebagaimana filosopi kamera tersebut diciptakan.

Siapapun bisa menjadi apapun, yang penting niat. Begitu orang bilang. Tapi untuk fotografi dan videografi, menurut saya lebih dimudahkan. Niat sudah dibulatkan. Alat? Sudah ada di tangan entah sejak kapan, mungkin bertahun-tahun yang lalu.

Apabila anda punya smartphone dengan kamera yang sangat baik, sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. taking a picture doesn’t kill you. Memotret atau membuat video tidak akan membunuh kita. Tinggal 1-2 sentuh, smartphone anda siap merekam atau memotret sesuatu. Apabila anda merasa kamera smartphone anda tidak bagus, anda hanya butuh beberapa trik untuk menghasilkan foto atau video yang cukup layak.

1. Kenali kamera smartphone anda.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara kamera smartphone mahal dengan smartphone murah adalah kemampuan low-light nya. Kemampuan kamera untuk menangkap gambar dalam kondisi kekurangan cahaya. Yang dimaksud low-light
adalah apa yang terlihat dari kamera. Bukan apa yang terlihat oleh mata kita. Bahkan idealnya, bisa dibilang semua kamera smartphone apabila selalu didampingi oleh pencahayaan yang baik, berupa lighting set.

Apabila kemampuan kamera smartphone anda sudah cukup baik, anda perlu mempertimbangkan lokasi atau posisi pengambilan gambar agar cahaya yang ditangkap kamera lebih baik. Apabila kemampuan kamera smartphone anda tidak terlalu bagus terhadap low-light, sangat tidak disarankan untuk pengambilan gambar indoor (dalam ruangan). Usahakan selalu di area terbuka dan dalam kondisi cahaya matahari yang bagus.

Sudah punya niat tapi alat tidak mendukung? Anda pasti bisa menjadi fotografer atau videografer. Anda hanya butuh ketepatan waktu dan lokasi saja.

Selain kemampuan fisiknya, setiap smartphone menawarkan fitur yang berbeda untuk kameranya. Seperti kemampuan manual focus, manual exposure, resolusi dan sebagainya. Untuk smartphone dengan fitur yang minim anda bisa mencari beberapa aplikasi kamera untuk memaksimalkan kemampuan fisiknya.

Dengan mengenali kamera smartphone, anda bisa memilah apa yang bisa dan apa yang jangan anda lakukan. Kamera yang tidak terlalu bagus dalam kondisi low-light, jangan melakukan pengambilan gambar indoor. Tidak ada pengaturan focus, jangan mengambil gambar yang terlalu deket dan kecil. Apabila resolusinya kecil, usahakan mengambil gambar sesuai kebutuhan, tapi apabila resolusinya cukup besar anda punya kesempatan untuk membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan pada saat proses editing. Dan sebagainya.

2. Pelajari komposisi fotografi dan videografi.

Secara teori ada beberapa aturan komposisi yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah rules of third. Aturan 1/3 gambar.

Beberapa foto dan video yang dianggap unik adalah karena ketidak terbatasan cara pengambilannya. Anda bisa memotret sebuah motor persis lurus dari salah satu sisinya. Tapi anda juga bisa mengambil gambar dari posisi serong, misalnya dari arah kaca spion dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Anda bisa mengambil gambar orang lain dalam
posisi eye-level, posisi sebagaimana kita melihat orang lain. Tapi anda juga bisa mengambil gambar orang dalam posisi sebagai kucing (lebih rendah atau sangat rendah) atau dalam posisi bird-eye (posisi yang lebih tinggi).

Dan untuk menambah pengetahuan anda bisa melihat beberapa karya foto dan video yang dibuat oleh orang lain. Tanyakan kepada diri anda sendiri dan buat asumsinya. Kenapa pohonnya tidak terlihat hingga ke ranting paling tinggi. Kenapa foto kucing tapi kucingnya tidak di tengah gambar. Kenapa foto langit harus memperlihatkan gedung
dibawahnya kenapa tidak langit biru semuanya. Dan lain sebagainya.

3. Pelajari beberapa istilah

Untuk semakin membantu pemahaman, ada beberapa istilah fotografi dan videografi yang perlu anda ketahui. Berguna apabila anda melakukan percakapan atau membaca beberapa artikel terkait.

Aperture
Ini adalah ukuran bukaan sensor lensa kamera. Semakin besar bukaan sensor semakin besar gambar yang bisa diambil. Tanpa harus mundur-mundur menjauh dari objek. Dan semakin besar bukaan sensor maka semakin baik kemampuan kamera dalam kondisi low-light. Tapi karena kita ada dalam bahasan smartphone, aperture smartphone sudah fixed. Terkunci dan tidak dapat diubah.

ISO
Adalah ukuran sensitifitas sensor menerima cahaya. Semakin sensitif sensor maka semakin banyak cahaya yang ditangkap. Hasilnya akan lebih terang. ISO bisa dibilang sebagai pembantu langsung terhadap aperture. Ketika aperture kecil yang menghasilkan gambar lebih gelap, ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang. Apabila ISO terlalu rendah maka gambar akan lebih gelap. Untuk kamera dengan kemampuan low-light yang tidak bagus (aperture yang kecil), meningkatkan sensitifitas ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang tapi gambar akan terlihat kasar dan berbintik.

Shutter Speed
Adalah ukuran waktu sensor kamera membuka dan menutup pada saat mengambil gambar. Semakin lama sensor membuka maka akan menghasilkan gambar yang lebih terang, namun membuat gambar menjadi lebih blur/kabur. Shutter speed yang tinggi tidak disarankan untuk mengambil gambar yang bergerak.

Diantara ketiga istilah diatas, aperture bisa dikatakan sebagai sumber penentu kualitas cahaya pengambilan gambar. Tapi karena aperture smartphone sudah terkunci dan tidak dapat diubah, maka ISO dan shutter speed bisa membantu kita mendapatkan kualitas cahaya yang diinginkan.

Satu kelebihan sekaligus kekurangan dari kamera smartphone, kita tidak bisa mengubah setting aperture, berarti kita cukup fokus dengan 2 point lainnya yaitu ISO dan shutter speed.Namun, tidak semua kamera smartphone menyediakan setting manual untuk ISO dan shutter speed. Untuk itu diperlukan aplikasi kamera tambahan yang memiliki kontrol manual ISO dan manual shutter speed.

Hanya dengan 3 point dasar diatas anda sudah cukup untuk terjun sebagai fotografer dan videografer amatir. Anda harus mengetahui detail dan kemampuan kamera smartphone anda. Sehingga anda bisa memaksimalkan secara efektif sejauh mana kemampuan kameranya. Dengan demikian anda bisa menyusun konsep yang lebih baik sebelum mulai berburu gambar dan video. Semua kegiatan yang terkonsep idealnya menjadi lebih maksimal.

Dengan pemahaman alat dan konsep yang kuat, anda bisa mulai melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan beberapa teori fotografi dan videografi. Mengambil gambar yang unik, yang tidak biasa, atau sebuah gambar yang sebenarnya biasa saja, tapi dalam komposisi yang luar biasa.

Dan dalam prakteknya, anda bisa selalu menjaga kualitas foto dan video anda selalu sesuai dengan konsep dan keinginan. Apabila dirasa ada yang kurang pas anda bisa mencoba bermain-main dengan beberapa settingan standar kamera seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.