Posts tagged kamera

iPhone 6s di 2020??

iPhone 6s, rilis 25 september 2015, atau hampir 5 tahun yang lalu.

Bahkan di waktu rilisnya pun, walau berstatus flagship, terbaik, dan terbaru milik Apple, spesifikasinya ‘biasa’ banget kalo dibandingin sama Android.

Udah lah speknya biasa, harga kelewat mahal, dan itu 4 tahun yang lalu. Nah masalahnya, sekarang udah 2020.

Jangankan buat dibeli, sekedar di omongin pun, emangnya masih layak??

Pertanyaan itu akan gw jawab dengan beberapa penjelasan dibawah ini, dimana gw pake iPhone sampe beberapa bulan yang lalu (desember 2019).

Ingat, iPhone 6s. Bukan iPhone 6 ya (atau iPhone 6 Plus). iPhone 6, yang pake ‘s’.

Gw akan tampilin kesimpulannya dulu, jadi kalo penasaran sama detailnya bisa dibaca di bagian bawah:

Performa: Masih setara smartphone mid range Android 2020.
iOS: Pake iOS yang sama dengan yang dipake iPhone 11. Sementara ga semua smartphone Android support (atau disediain update) OS Android 10.
Desain: Cukup ‘baru’, mirip iPhone 8 (2017). Kecil, enak di genggam atau masuk kantong. Rata-rata smartphone 2020 ukuran gede, biasanya 6.5 inch. Tapi memang kalah kece dibanding Android jabrik atau iPhone 2019.
Koneksi kabel: iPhone terakhir yang masih pake jack audio dan konsisten dengan lighting-nya.
Kamera foto: 12 megapixel dan bisa RAW (dalam format dng).
Single camera: Hampir semua smartphone 2020 minimal udah dual camera ‘bokeh maksa’. Makin rendah kelasnya, makin maksa hasilnya. Tapi sekarang kebanyakan Android 2020 udah quad kamera.
Kamera video: Udah 4k 30 fps, setara smartphone baru 2020. Dan bisa slo-mo juga sampe 240 fps. Ga semua smartphone bisa slo-mo, apalagi sampe 240 fps.

Spesifikasi

Hari ini, rata-rata smartphone Android udah pake processor quad, hexa, octa atau apapun lah namanya dengan core clock diatas 2 GHz.

iPhone 6s hanya pake processor A9 dual core dengan core clock 1.85 GHz. Cuma 2 core, dan clock dibawah 2 GHz pula!

Belum lagi urusan RAM, iPhone 6s cuma 2 GB. Android 2020 yang bukan flagship aja bisa punya RAM 6GB hingga 8GB. Jauh!!

Memang efektifitas kerja antara hardware dengan software (iOS) pada iPhone sangat jauh lebih baik dibanding Android. Processor (yang di desain oleh Apple sendiri) dipasangkan dengan hardware (yang dirakit oleh Apple sendiri) dan difungsikan seefektif mungkin dengan iOS (yang juga dibuat oleh Apple sendiri).

Ilustrasinya, se simpel nanya dapur ke pemilik rumah. Pemilik rumah menjawab dengan sangat mudah. Ga pake mikir, apalagi nanya ke orang lain.

Fokus Apple lebih ke gimana hardware dan software tersebut terus bekerja dalam kondisi seefektif mungkin. Jadi ga cuma ngejar jumlah core atau clock tinggi atau RAM besar, tapi komunikasi hardware dengan software kurang efektif.

Sementara Android, processor-nya diproduksi oleh pihak lain (misal Quallcom, Kyrin, Exynos, dsb), digunakan dengan hardware dari produsen lain (misal Samsung, Xiaomi, Huawei dsb), dan dipasangkan software milik pihak lain (Android itu sendiri, yang dikembangkan oleh google).

Ilustrasinya, tamu A nanya ke tamu B dimana letak dapur. Mungkin mereka berdua akan nanya ke orang lain, atau nyari pemilik rumah, atau berdua akan sama-sama nyari sendiri dimana dapur itu berada. Akan ada penurunan efektifitas (baik hardware maupun software) melalui flow yang seperti itu.

Sebenarnya ada data benchmark yang bisa dilihat di Mobile Benchmark. Secara single core, iPhone 6s (A9) masih bisa nyaingin beberapa smartphone Android yang pake Snapdragon 845. Dimana Snapdragon 845 termasuk processor flagship untuk Android, misalnya Samsung S9, Google Pixel 3 XL atau Xiaomi Pocophone.

Tapi secara multicore, iPhone 6s malah dibawah Snapdragon 660, processor kelas mid-range Android terbaik saat ini (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Dibawah rata-rata smartphone mid-range tahun 2020.

Terus kenapa masih ngomongin iPhone 6s??

Nilai benchmark, didapat karena menggunakan semua resource yang ada dalam smartphone itu. Menggunakan semua core processor-nya, dengan clock tertingginya. Agar menghasilkan angka benchmark setinggi mungkin.

Masalahnya, processor itu bukan seperti silinder pada mobil, dimana setiap silinder memiliki ukuran yang sama dan semuanya saling bekerja sama untuk menghasilkan tenaga yang besar. Processor smartphone, lebih tepatnya seperti pisau dapur. Untuk motong sayur, kita pake pisau kecil. Untuk motong daging, kita pake pisau yang gede. Dan untuk motong tulang, kita pake pisau yang paling gede.

Dalam penggunaan harian, resource yang ada akan bekerja sesuai kebutuhan. Dan seringkali, hanya beberapa core yang bekerja dalam satu waktu.

Single Core

Kalo secara single core, A9 setara dengan Snapdragon 845 sekitar 2300 point. Snapdragon 845 ada di smartphone yang harganya sekitar 10 jutaan (Samsung Note 9, Sony Xperia XZ2, Google Pixel 3, Xiaomi Pocophone, dll).

Malah keliatan mencolok sendirian, Apple A9 dual-core diantara semua processor Android 8 cores.

Multi Core

Kalo secara multicore, iPhone 6s setara dengan Samsung Galaxy S6, Xiaomi Mi Mix, atau Samsung A7. Memang kalah jauh dibanding Snapdragon 660 (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Multicore A9 hanya 3915 point sedangkan Snapdragon 660 sekitar 5600 point.

Tapi ya, balik lagi, ga ada data yang menjelaskan dalam penggunaan harian semua resource digunakan seperti pada saat benchmark.

Karena dalam penggunaan harian, silahkan dibandingin langsung kenyamanan make iPhone 6s dibanding, langsung aja, bandingin dengan android-android flagship 2019. Karena dalam penggunaan harian, semua processor dengan clock tertingginya beserta RAM berkapasitas besarnya, ga digeber seperti waktu nyari point benchmark itu.

Singkatnya, kecuali kalo processor A9 udah kelewat jauh dibanding rata-rata processor saat ini (Snapdragon 425/625/636 dsb), dan sekaligus bener-bener udah ga layak banding sama Snapdragon 845, berarti gw percuma bikin postingan ini 😉

*penggunaan baterai gede ga selalu berarti untuk ‘kepuasan’ penggunanya. Tapi lebih karena memang kebutuhan daya untuk hardware-nya yang tinggi (menjalankan processor quad/hexa/octa core, dan RAM 4GB/6GB/8GB, dsb). iPhone ga butuh baterai gede karena kebutuhan hardware lebih rendah (dual core dan clock dibawah 2GHz, RAM 2GB)

**karena kebutuhan daya yang tinggi, diperlukan baterai berkapasitas besar (agar ga cuma habis karena hardware), sehingga dibutuhkan fitur fast-charging. iPhone ga pake fitur fast-charging karena kapasitas baterai yang harus diisi tidak terlalu besar.

Tapi sepanjang apapun penjelasan gw, pastinya akan susah diterima kalo emang belum pernah ngerasain lamgsung. Kalo memang punya kesempatan, silahkan coba bandingin langsung iPhone 6s dengan Android mid-range 2019. Main-main ke konter hp misalnya 😉

iOS

Apple masih men-support semua produknya yang udah pake processor 64 bit. Termasuk iPhone 6s ini, yang udah berumur 5 tahun.

Jadi iPhone 6s make iOS yang sama persis dengan mereka yang pake iPhone 11 (yang baru rilis beberapa bulan yang lalu dan harganya belasan juta). Kecuali kalo iPhone 6s udah ga support iOS terbaru (misalnya iPhone 6).

Sementara ga semua Android punya dukungan yang seperti ini. Malah kebanyakan, kita harus ganti smartphone buat bisa ngerasain Android versi terbaru. Android harus mengganti smartphone, katakanlah, setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Desain

Gw sebenarnya masih lebih suka desain dari iPhone 5 (atau 5s atau SE). Kotak, keliatan lebih kokoh, dan berukuran lebih kecil. Tapi yah, kita ga ngebahas tentang iPhone 5 disini.

iPhone 6s masih mirip dengan iPhone seri baru (iPhone 7 dan iPhone 8). Artinya, ga ketinggalan jaman. Karena memang mulai dari iPhone 6 desain iPhone udah mulai mirip-mirip aja semuanya. Walau kalo dilihat dari layarnya, jelas beda dari iPhone X atau seri Android baru yang full frame dan pake jabrik.

Kecuali maunya pake iPhone yang jabrik, silahkan cari budget buat tebus seri X keatas hehe…

Kalo Android sebenernya hampir semua Android sekarang kayanya udah pake jabrik dan harganya jauh lebih terjangkau. Tapi ya, sayang aja cuma demi tampilan kece tapi performanya bikin greget.

Selain itu, iPhone 6s Plus punya spek sama dengan iPhone 6s. Tapi gw sendiri lebih suka iPhone 6s, karena ukurannya yang kecil. Sementara hampir semua smartphone, termasuk iPhone sendiri(7 Plus, 8 Plus, X, dst), udah mulai berukuran gede-gede. Agak susah digenggam atau buat masuk kantong.

Koneksi Kabel

Kalo mau smartphone dengan performa bagus ga ketinggalan jaman, dan ga perlu aksesoris mahal, iPhone 6s adalah seri terakhir yang masih nyediain jack audio. Jadi ga perlu keluar duit beli adaptor lightning atau wireless earphone yang harganya terlalu tinggi. Belum lagi beresiko hilang.

Kecuali kalo memang di 2020 (atau 221 nanti) jack audio udah ga dipake lagi (udah ga dijual lagi), ya berarti iPhone 6s udah ga layak pake.

Kamera Foto

Sebenarnya image quality iPhone 6 (8 megapixel) masih lebih baik dibanding iPhone 6s (12 megapixel). Apalagi kamera depan iPhone 6.

Karena ukuran megapixel harusnya sejalan dengan ukuran sensor. Masalahnya, jaman sekarang ukuran megapixel justru berbanding terbalik dengan ukuran sensor. Sementara ukuran sensor masih segitu-gitu aja, tapi makin hari megapixel-nya makin gede. Efeknya, image quality turun.

Ilustrasinya, plastik berdiameter 1 meter dipake buat nutup baskom berdiameter 1 meter. Persis sesuai ukurannya (baca:kemampuan).

Sedangkan prakteknya, plastik berdiameter 1 meter nutupin baskom berdiameter 2 meter. Yang ada plastiknya ketarik-tarik.

Ngomongin image quality ini hubungan ke photographer, atau photographer wanna be 😀 Dimana foto itu ga cuma urusan jepret dan share. Biasanya, foto-foto yang ada harus di edit terlebih dahulu. Dan dalam proses editing ini, akan terasa perbedaan (penurunan image quality) dari foto-foto dengan megapixel gede.

Karena itu smartphone flagship kaya Samsung Note 9, atau Google Pixel 3, atau iPhone X cuma pake kamera 12 megapixel. Harga udah belasan juta tapi megapixel-nya cuma segitu?

Banyak smartphone Android yang harganya cuma 1 atau 2 juta tapi bisa ngasilin 16 sampe 20-an megapixel. Kenapa coba?

Kamera digital aja (DSLR atau mirrorless) yang jelas-jelas fungsi utamanya buat bikin foto dan ga bisa nelpon cuma bisa ngasilin 16-24 megapixel. Kenapa smartphone bisa ngasilin megapixel lebih gede?

Detail tentang megapixel ini bisa diliat disini.

Seperti yang tadi gw bilang, masih lebih bagus image quality dari iPhone 6, karena cuma 8 megapixel. Tapi spek iPhone 6 masih di bawah iPhone 6s.

Ini alasan kedua kenapa iPhone 6s masih layak di tahun 2020 ini. Karena kameranya masih super untuk tahun 2020. Belum lagi, karena iPhone 6s udah bisa ngasilin foto RAW. Lagi-lagi, fitur yang sama persis dengan iPhone Xr atau Xs yang harganya belasan juta. Sama sekali belum ketinggalan jaman, masih sangat layak, walau umurnya udah 5 tahun.

Gw kurang tau smartphone Android apa yang bisa ngambil foto RAW.

Single Camera (ga bisa bokeh)

Dalam teori fotografi, bokeh itu harus didukung bukaan lensa yang gede (bukan angka f-stop, tapi diameter bukaan lensa yang sebenarnya: dalam ukuran milimeter atau centimeter).

Secara teori, kamera smartphone ga bisa bikin bokeh. Jangan samain f/2.0 di smartphone dengan f/2.0 di DSLR. Detailnya ada disini.

Jadi efek bokeh di smartphone diakalin pake manipulasi 2 kamera yang ngambil 2 fokus yang beda. Masalahnya, manipulasi itu instant dan otomatis. Kalo manipulasi manual mungkin bisa dibikin lebih real (atau meminimalisir kesan ‘maksa’) tapi pastinya ga bisa instant sekali jepret langsung jadi.

Dengan manipulasi instant dan otomatis, seringnya bokeh yang dihasilin meleset atau ya, maksa. Walau ga jarang fine-fine aja.

Kamera Video

Urusan kamera (baik foto atau video) iPhone memang terkenal punya kualitas bagus. Termasuk iPhone 6s ini. Dan walaupun udah berumur 4 tahun tapi mendukung semua kebutuhan video buat hari ini; 4K video dan slow-motion. Masih bisa ngikutin kemampuan iPhone 11 atau kemampuan smartphone flagship Android yang harganya belasan juta. Ga semua Android bisa video 4K apalagi untuk slow-motion.

Kecuali kalo misal semua smartphone yang ada hari ini udah bisa rekam 4K sekaligus slow-motion, berarti iPhone 6s ga semencolok bahasan gw ini.

Atau, kecuali kalo resolusi video smartphone terbaru udah masuk ke teknologi 6K atau 8K, udah ga jamannya 4K lagi.

Atau, kecuali kalo semua smartphone yang ada bisa bikin slo-mo diatas 240 fps atau lebih, berarti iPhone 6s biasa-biasa saja.

Harga

Dengan umurnya yang udah lewat 4 tahun, harusnya iPhone 6s udah ga ada yang baru. Pilihannya antara seken atau preloved, refurbished vendor, atau refurbished CPO dari Apple sendiri.

Harga seken iPhone 6s hari ini berkisar antara 2 hingga 3 juta. Dimana untuk kisaran harga itu, setara dengan Android mid-range baru (2020).

Karena terakhir gue beli Asus Zenfone Max Pro M2 dengan harga yang sama. Untuk perbandingan antara harga dengan performa, gue sangat merekomendasikan iPhone 6s dibanding Android mid-range 2020.

* * *

Jadi ga cuma sekedar layak diomongin, iPhone 6s memang masih sangat layak dipake di tahun 2020. Performa (processor, atau RAM, atau bahkan batre) yang masih OK, fitur dan kemampuan kamera yang masih sangat layak, dan harga yang jatohnya lebih murah dibanding smartphone 2020 yang setara.

Terakhir

Tentunya ada banyak hal (diluar performa atau berbagai point yang gue sampein di atas) yang membedakan iPhone dengan smartphone lain.

Salah satunya adalah masalah kostumasi.

Android lebih dinamis, selain dari kostumasi dari produsennya sendiri, kita sebagai user juga bisa melalukan kostumasi tambahan. Dimana berbagai hal tersebut akan beresiko terhadap stabilitas sistem. Jadi yang namanya bug, crash atau hang itu adalah hal yang biasa di Android.

Sementara update OS bisa dikatakan sangat jarang dan terbatas, sehingga untuk menutupi bug, crash, atau hang tersebut, biasanya update dilakukan melalui aplikasinya sendiri (bukan melalui operating system-nya).

Jadi setiap 2/3 hari sekali selalu ada update terbaru dari aplikasi-aplikasi yang terinstall. Satu kondisi yang buat gue sendiri cukup mengesalkan.

Karena untuk setiap beberapa hari sekali harus ngabisin kuota buat update-update tersebut.

Sementara iPhone sangat-sangat minim kostumasi. Apple mengontrol penuh berbagai hal yang ada di iPhone, bahkan sejak dari lock-screen.

Dan didukung dengan update operating system secara regular disediakan melalui OTA (misalnya dari iOS 12.1 hingga iOS 12.4). Jadi iPhone sangat-sangat minim bug, crash, atau hang. Stabilitas sistem menjaga sangat terjaga.

Sehingga update aplikasi yang terinstall pun menjadi ga terlalu sering. Ga banyak kuota yang harus terbuang karena berbagai update aplikasi.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Teori dan Teknik Foto Bokeh

Jadi sekarang lagi jamannya foto bokeh. Teknik fotografi yang memisahkan foreground terlihat fokus dan tajam, dengan background nge-blur bahkan menghasilkan pendaran berwarna warni. Atau sebaliknya.

Saking populernya, kamera handphone yang secara teknis sebenarnya ga bisa menghasilkan foto bokeh, di setting dengan teknologi yang sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan foto yang terlihat bokeh.

Emang kamera handphone ga bisa?? Secara teknis ga bisa. Jawaban jadi bahasan utama postingan ini.

Lensa

Lensa adalah kunci utama untuk menghasilkan foto bokeh. Lensa yang bagaimana?

Lensa dengan bukaan besar.

Bukaan yang dimaksud adalah bener-bener diameter fisik rongga lensa tersebut. Jadi bukan hanya melihat nilai f-stop nya. Bukan, misal, f/1.9 atau f/2.0 dan sebagainya. Tapi benar-benar berapa (centimeter/milimeter) diameter rongga lensa.

Di postingan lain juga udah ada bahasan ini. Bahwa f-stop di kamera handphone, memang akan mempengaruhi exposure, tapi sebesar-besarnya tidak lebih besar dari 3mm. Silahkan langsung dilihat di bagian kamera dari handphone masing-masing. Kira-kira sebesar diameter batang korek api. Sekitar 0.2 cm, agar lebih mudah dibayangkan.

Sementara pada kamera digital (seperti DSLR atau mirrorless) bahkan lensa kit (seringkali dianggap sebagai lensa murah dan tidak banyak kemampuan) setidaknya memiliki diameter bukaan 0.4cm. 2x lipat rata-rata bukaan lensa kamera handphone.

Pada gambar diatas terlihat perbedaan diameter (lensa DSLR/mirrorless) antara bukaan terbesarnya (f/2.8 terlihat jelas) dengan bukaan terkecilnya (f/16 yang keliatan lebih ‘mengintip’).

Tapi FYI, foto-foto bokeh dari fotografer profesional yang biasanya terlihat sangat cantik dan keren banget itu dihasilkan dari lensa dengan diameter bukaan 3.5 cm bahkan hingga 6 cm.

Yah, itu sekitar 15 hingga 30x lebih besar dibanding 0.2 cm

Jauh ya…

Jadi secara teori, kamera handphone memang ga bisa bikin foto bokeh. Dual kamera untuk foto bokeh pada kamera handphone dilakukan secara digital. Satu lensa sebagai lensa fokus dan lensa yang lain sebagai lensa blur, secara digital akan dilakukan penggabungan ke dua foto tersebut untuk menghasilkan foto yang terlihat bokeh. Jadi bokehnya adalah hasil manipulasi dari 2 foto. Bukan karena kemampuan lensanya.

Info lebih lanjut tentang angka-angka ini bisa dibaca di postingan ini dan ini.

Jarak

Setiap kamera akan menentukan area fokus sebelum menangkap/menyimpan gambar.

Pada lensa kamera digital dengan bukaan besar (masih mengacu pada postingan ini dan ini), area fokus ini bisa sangat sempit. Bisa se lebar hitungan centimeter atau meter. Bahkan bisa menjadi lebih sempit hingga hitungan milimeter.

Dan sisanya (diluar area fokus tersebut) akan menjadi blur atau kita sebut bokeh.

Karena itu dalam hal ini kita berbicara tentang jarak.

Ilustrasinya seperti gambar dibawah. Katakanlah area fokusnya selebar 1 meter, 1 langkah di depan dan 1 langkah di belakang model (kotak hijau). Dan sisanya (diluar kotak) akan blur. Semakin jauh dari area fokus (semakin rendah garis merah) maka objek akan semakin blur.

Sementara pada kamera handphone (atau misal lensa kit kamera digital), karena diameter lensanya hanya 0.2 cm atau 0.4 cm, area fokusnya lebih lebar. Bisa dalam hitungan meter. Artinya, hampir terlihat fokus semua. Terlihat tidak ada blur.

Sebenernya tetep ada, tapi terlalu tipis dan tidak berasa. Seperti pada ilustrasi di atas. Bunga yang ada di background, sebenarnya sudah di luar area fokus. Tapi garis merah belum terlalu rendah (efek blur belum terlalu kuat), sehingga memberi kesan bunga masih terlihat fokus.

Karena pengaruh jarak ini, bokeh yang dihasilkan dari dual kamera handphone terlihat maksa dan aneh. Idealnya dibutuhkan jarak yang cukup diluar area fokus untuk menghasilkan blur yang tinggi (bokeh). Bisa jadi 2 atau 3 meter dari titik fokus agar terlihat blur. Sementara pada handphone dual kamera, efek bokeh bisa didapat bahkan untuk jarak kurang dari 1 meter.

Tapi ya, dengan ‘editing’ (manipulasi) apa aja bisa dilakukan.

Jadi dalam hal jarak ini tedapat 2 opsi untuk menghasilkan bokeh yang baik. Menempatkan foreground (blur) se dekat-dekatnya dengan kamera, dengan model (fokus) yang lebih jauh. Atau sebaliknya, menempatkan model (fokus) dengan jarak sejauh-jauhnya dari background (blur)

Lensa tele

Teknik bokeh ini hanya bisa dilakukan pada kamera digital yang menggunakan lensa tele.

Sebenernya ga ada definisi khusus tentang lensa tele. Tapi sebagian orang mengkategorikan lensa tele adalah lensa dengan focal length diatas 85mm.

Dual lensa pada kamera handphone (biasanya memiliki kemampuan zoom), tapi focal length pada kamera handphone terlalu pendek. 85mm pada lensa kamera digital, atau 8.5cm dalam ukuran yang biasa kita kenal.

Kamera handphone, setebal-tebal body-nya, ga lebih tebal dari 1cm. Yang apabila memang dimaksimalin, focal length kamera handphone maksimal hanya 10mm (1cm tebal handphone itu sendiri).

Anyway, lensa tele (penggunaan focal length tinggi) otomatis akan menghasilkan bokeh yang cantik. Bahkan walaupun f-stop yang digunakan kecil (angka besar).

Karena pada saat menggunakan fungsi tele (focal length diatas 85mm) diameter bukaan lensa otomatis akan semakin membesar. Secara fisik bisa dilihat dari ukuran lensa tele yang memang lebih besar dibanding lensa zoom atau lensa fixed biasa.

Hal ini berkaitan dengan point pertama dari postingan ini, tentang diameter bukaan lensa. Dan kembali mengacu pada postingan ini.

Dengan mengetahui teori-teori ini semoga bisa membuat kita lebih menghargai (atau mencaci maki) peralatan ‘bokeh’ yang kita miliki.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera DSLR dengan Mirrorless

Ada yang bilang DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video.

Ada yang bilang kualitas foto mirrorless masih belum bisa menyamai kualitas foto DSLR.

Ada juga yang bilang, well, sangat merekomendasikan DSLR. Untuk alasan yang sebenarnya tidak terjelaskan, banyak orang lebih menyarankan DSLR daripada mirrorless.

Sebenarnya apa sih DSLR dan mirrorless itu?

Perbedaan cara kerja DSLR dengan mirrorless

Digital Single Lens Reflect atau DSLR. Sesuai namanya, adalah kamera kamera digital yang memiliki single/sesuatu yang merefleksikan lensa.

Sesuatu tersebut adalah mirror, dimana dalam prakteknya, cahaya (dalam hal ini adalah gambar) masuk melalui lensa dan mengenai mirror tersebut. Mirror ini akan merefleksikan cahaya tersebut ke viewfinder.

Dengan viewfinder maka kita bisa mengatur komposisi atau exposure dan lain sebagainya.

That’s it! Itu lah yang disebut dengan single lens reflect.

Dengan penjelasan diatas, rasanya cukup mudah untuk menjelaskan pengertian mirrorless. Dimana artinya adalah ‘tanpa mirror‘. Karena tidak ada mirror maka cahaya (atau gambar) dari lensa langsung mengenai sensor.

Dan sebenarnya, se-simpel itu lah sistem yang dinamakan mirrorless.

Dan dalam hal ini, yang digolongkan sebagai kamera DSLR atau mirrorless adalah kamera yang bisa diganti lensanya (interchangeable lens atau ICL). Karena khususnya mirrorles, kamera handphone, kamera pocket, handycam dan beberapa kamera lainnya  juga menggunakan sistem mirrorless. Hanya saja tidak bisa diganti lensanya.

Optical vs Eletrical

Pada DSLR, posisi mirror tersebut berada tepat di depan sensor, sehingga menghalangi cahaya menyentuh sensor. Karena untuk sementara cahaya tersebut dibutuhkan untuk direfleksikan ke viewfinder. Refleksi  viewfinder menggunakan media mirror ini dikenal dengan nama optical viewfinder.

Jadi hingga titik ini, sensor belum bekerja dan belum dibutuhkan.

Apabila komposisi dan exposure susah sesuai maka pada saat tombol shutter ditekan, mirror akan berubah posisi, viewfinder menjadi gelap (karena tidak ada refleksi lagi), cahaya mengenai sensor, dan sensor akan merekamnya menjadi sebuah gambar.

Jadi pada sistem DSLR sensor hanya bekerja/dibutuhkan pada saat tombol shutter ditekan.

Jadi, penggunaan mirror pada sistem single lens reflect ini adalah tentang bagaimana kamera bekerja pada tombol shutter belum ditekan.

Sementara pada mirrorless, karena tidak memiliki mirror untuk merefleksikan cahaya ke viewfinder, maka sensor lah yang bertugas untuk menampilkan gambar ke LCD/viewfinder, atau disebut electronic viewfinder.

Oleh karena itu sensor akan selalu bekerja selama kamera on. Sensor akan selalu digunakan baik sebelum, atau pada saat, atau setelah tombol shutter ditekan.

Hal ini lah yang menyebabkan daya tahan baterai sistem mirrorless lebih rendah.

Optical Viewfinder dan Eletronic Viewfinder

Karena refleksi dilakukan secara optical, tampilan viewfinder pada DSLR lebih realistis. Ibarat menonton bola, langsung di stadion.

Sementara electronic viewfinder kurang realistis karena dipengaruhi kualitas dari display viewfinder itu sendiri. Ibarat menonton bola, tapi di televisi.

Pada dasarnya hal tersebut di atas lah yang membedakan DSLR dengan mirrorless. 2 sistem berbeda, dimana perbedaan itu justru terjadi pada saat kamera tidak mengambil gambar. Pada saat pengambilan gambar, kedua sistem ini akan bekerja dengan cara yang sama.

Perbedaan ukuran body

Karena perbedaan mekanisme kerjanya, perbedaan selanjutnya bisa dilihat dari gambar berikut ini.

Secara fisik, DSLR membutuhkan space internal yang lebih luas karena dibutuhkan jarak-jarak tertentu untuk mendapatkan refleksi optical yang sempurna yang menyebabkan body keseluruhan menjadi besar.

Sementara mirrorless tidak membutuhkan space besar karena, well, katakanlah hanya berisi beberapa kabel atau papan sirkuit sehingga desain dan body-nya menjadi lebih compact.

Jadi hingga titik ini beberapa point yang bisa disimpulkan adalah:
– DSLR menggunakan mirror untuk merefleksikan lensa (optical viewfinder) sehingga viewfinder menghasilkan gambar yang realistis.
Mirrorless menggunakan sinyal elektrik dari sensor (electronic viewfinder). Karena sensor selalu digunakan, daya tahan baterai lebih rendah.
– Pada satu moment saat tombol shutter ditekan, kedua kamera akan menggunakan teori yang sama (cahaya dari lensa langsung mengenai sensor, tidak membutuhkan mirror).
– Karena perbedaan cara kerja, mempengaruhi ukuran fisik. DSLR lebih besar dibanding mirrorless

Adaptasi Kedua Sistem

Pada awalnya, kamera DSLR memang hanya memiliki kemampuan photography. Seiring perkembangan jaman kamera DSLR juga memiliki kemampuan videography. Untuk kebutuhan videography, penggunaan metode mirrorless ini (penggunaan sistem electronic viewfinder) sangat dibutuhkan. Electronic viewfinder akan menampilkan secara real-time setiap perubahan yang dilakukan pada setingan kamera.

Hingga kemudian, DSLR pun bisa difungsikan seperti mirrorless (bahkan sebelum kamera mirrorless dikenal). Pada kamera Canon, fungsi ini bernama mode Live-View. Pada mode ini, mirror akan selalu menutup, Tidak ada refleksi optik yang terjadi sehingga viewfinder menjadi gelap. Dan LCD display akan menampilkan cahaya dari sensor (electronic viewfinder).

Mungkin pada awalnya ide mirrorless ini hanya sebagai shortcut, dimana mode Live-View (dalam hal ini terhadap kamera Canon) dijadikan mode utama. Dimana mirror tersebut tidak hanya berubah posisi, tapi benar-benar dihilangkan dan tidak digunakan lagi.

Sementara itu sistem mirrorless-pun melakukan perbaikan dari sisi kualitas display electronic viewfinder-nya untuk bisa menghasilkan tampilan viewfinder yang lebih realistis.

Image quality

Berbicara tentang image quality, sangat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas sensor, image processor yang digunakan, kualitas lensa, dan berbagai hal lainnya.

Dan sebaliknya kualitas gambar tidak dipengaruhi oleh sistem digunakan (DSLR atau mirrorless). Karena, sekali lagi, perbedaan sistem tersebut hanya berlaku sebelum atau setelah pengambilan gambar. Pada saat pengambilan gambar, keduanya menggunakan teori yang sama.

Kesimpulan

Jadi kembali ke pernyataan pembuka tulisan ini, ‘DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video’, adalah tentang pemanfaatan sistem yang digunakan. Bukan tentang kualitas foto/video yang dihasilkan.

Pandangan-pandangan lainnya bersifat lebih subjektif. Seperti mirrorless yang lebih kecil dan compact sehingga dirasa lebih efektif dan praktis digunakan. Atau seperti kenyamanan penggunakan DSLR yang bersifat semi elektrik dan ber-body besar yang lebih kokoh di pegangan.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa jenis kamera

Semuanya sama-sama kamera. Apa bedanya?

Kita bagi menjadi 3 jenis:

1. Kamera handphone adalah yang paling murah. Harganya berkisar dari 1 jutaan hingga belasan juta.

2. Kamera digital (DSLR atau mirrorless), kisaran harga nya sekitar 5 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

3. Cinema camera, bisa juga dikategorikan sebagai camcorder, karena memang hanya bisa merekam video. Rentang harganya mulai dari puluhan juta hingga mencapai milyaran rupiah.

Sebenarnya apa yang membedakan semua kamera itu?

Cahaya

Pada dasarnya perbedaannya cuma 1: respon kamera tersebut (dalam hal ini kemampuan sensor yang digunakan) terhadap cahaya. Sensor, semacam lempengan kaca yang menerima gambar/cahaya.

Kemampuan sensor merespon cahaya akan mempengaruhi 3 point berikut:

  • detail = sebaik apa image quality-nya
  • exposure = sebaik apa kontrol noise/grainy-nya
  • dynamic range = sebaik apa sensor membaca bagian terang dan bagian gelap dalam satu waktu.

Biaya produksi sensor sangat mempengaruhi harga jual kamera. Untuk itu diciptakanlah sensor-sensor dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga beberapa kamera bisa dijual lebih murah karena menggunakan sensor yang, katakanlah tidak sebagus sensor lainnya.

Selain itu, kemampuan (baca:harga) kamera akan mempengaruhi output yang dihasilkan (bit-depth untuk foto dan bitrate untuk video).

Dalam bahasa yang di sederhanakan dan semoga cukup mudah dimengerti, saya akan coba menjelaskan perbedaannya.

Kamera Handphone

Kamera handphone memiliki banyak keterbatasan.

Tapi perlu diingat, keterbatasan yang dimaksud adalah keterbatasan performa dan spesifikasi. Karena kreatifitas tidak dibatasi oleh apapun 😉

Ukuran dari handphone itu sendiri yang tipis dan kecil, sehingga sensor yang digunakan juga berukuran sangat kecil. Hanya sekitar 0.5 cm. Setengah centimeter. Kira-kira… sebesar baut atau anting 😉

Baik Samsung Note 10, iPhone XS, Huawei P30 dan lain sebagainya. Menggunakan sensor yang berukuran kurang lebih sama.

Sebenarnya sensor berukuran kecil pun sudah mampu menghasilkan detail yang baik. Faktor pertama terpenuhi, detail.

Hanya saja karena berukuran kecil, cahaya (faktor ke 2), tidak terpenuhi. Tidak banyak cahaya yang bisa diserap oleh sensor kecil tersebut. Minimnya cahaya yang diserap akan menghasilkan noise atau grainy pada foto dan video yang dihasilkan.

“Noise atau grainy adalah efek yang timbul pada gambar (baik foto atau video) berupa bintik-bintik kecil. Bintik-bintik kecil ini akan membuat foto/video terlihat tidak tajam dan terkesan buram (mengurangi detail)”

Katakanlah sebuah handphone (dengan sensor kecilnya) mampu menghasilkan foto/video dengan tingkat detail 100%. Tapi karena minimnya cahaya yang diserap, muncul noise atau grainy misal, sekitar 30% (noise dan grainy ini kondisional tergantung situasi pada saat pengambilan foto/video tersebut).

Sehingga hasil akhirnya, katakanlah handphone tersebut hanya menghasilkan foto/video dengan nilai 70%. Ingat, ini hanya ilustrasi, untuk mempermudah pemahaman.

Dan faktor ketiga, yaitu dynamic range. Dynamic range adalah kemampuan sensor untuk ‘melihat’ area terang dan area gelap sekaligus, dalam satu waktu.

Kemampuan dynamic range bisa dilihat dari gambar dibawah.

Sensor dengan kemampuan dynamic range yang terbatas (sensor pada kamera handphone) harus memilih salah satu dari dua kondisi;
a. Mengekspos langit untuk mendapatkan gradasi cahaya matahari yang bagus, maka bagian air, batu dan buih ombaknya akan terlihat gelap. Atau;
b. Mengekspos buih ombak dan batunya, maka bagian langit menjadi sangat terang bahkan pucat putih tanpa menyisakan bentuk apapun (baik posisi matahari atau tekstur awan).

Sensor kamera handphone tidak mampu membaca kedua bagian cahaya tersebut (mengekspos langit/matahari dan ombak) sekaligus dalam satu waktu.

Karena itu kamera handphone seringkali dilengkapi dengan fitur HDR (high dynamic range) dimana kamera akan mengambil beberapa foto sekaligus (dengan pilihan exposure yang berbeda-beda) untuk kemudian dijadikan satu foto yang baru. Tapi fitur HDR ini dilakukan secara software, bukan karena kemampuan sensornya.

Sementara itu kamera handphone akan terkendala dengan kemampuanya menghasilkan output maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan handphone itu sendiri, baik dari sisi processor, kecepatan internal storage-nya untuk memproses foto/video berkualitas tinggi, atau pun untuk menghindari resiko overheat.

Kamera Digital (DSLR atau mirrorless)

Kamera digital mempunyai ukuran sensor yang relatif lebih besar. Relatif paling besar diantara kamera-kamera lain, sehingga mampu menangkap detail yang lebih baik.

Dalam hal ini seperti Canon 1Dx, Sony A7, Nikon D750 dan lain sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang sangat besar kamera digital mampu menghasilkan foto hingga mencapai 100 megapixel dengan detail yang sangat baik. Faktor pertama yaitu detail, bernilai sangat baik.

Namun untuk faktor ke 2 yaitu exposure, masih membutuhkan pencahayaan tambahan agar terhindar dari resiko noise dan grainy. Karena itu baik photographer atau videographer yang bekerja menggunakan kamera digital DSLR atau mirrorless masih membutuhkan lampu blitz/flash atau video lighting tambahan.

Dan faktor ke 3 yaitu dynamic range. Semakin besar ukuran sebuah sensor maka secara otomatis akan semakin baik kemampuan dynamic range-nya. Jadi tanpa menambahkan teknologi-teknologi tertentu (seperti HDR), dynamic range kamera digital (karena ukurannya) lebih baik dibanding kamera handphone.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Foto tersebut biasanya dihasilkan dalam format RAW dengam bit depth hingga 16bit.

Namun kamera digital masih kesulitan menghasilkan output video berkualitas tinggi. Karena itu kebanyakan kamera digital hanya mampu menghasilkan video dengan bitrate antara 25mbps hingga 100 mbps.

Selain itu terbatas dalam durasi video yang bisa direkam. Untuk menghindari resiko overheating.

Kamera Cinema

Kamera digital dengan sensor besar harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Cinema camera yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, apakah berarti sensornya jauh lebih besar lagi??

Teknologi dan format video komersil terbesar saat ini, yaitu 4K beresolusi 3840 pixel x 2160 pixel = 8.294.400 pixel (8 megapixel). Jadi untuk membuat video beresolusi 4K hanya membutuhkan sensor dengan output 8 megapixel!!

Hanya butuh sensor seukuran sensor kamera handphone untuk menghasilkan video beresolusi 4K. Terbukti dari hampir semua handphone terbaru saat ini sudah mampu merekam video 4K.

Dimana dengan sensor kamera handphone-pun, faktor pertama (detail) sudah terpenuhi.

Tapi kenyataannya, rata-rata ukuran sensor cinema camera hanya setengah dari ukuran sensor kamera digital (sensor full-frame). Lebih tepatnya seperti ukuran sensor APS-C pada kamera digital.

Namun diluar ukuran ataupun maksimal resolusi yang mampu dihasilkan, teknologi dibelakang sensor cinema camera sangat berfokus pada kemampuannya dalam mengolah cahaya.

Dimana salah satu kemampuan tersebut terlihat dari gambar yang hampir selalu bebas noise dan grainy. Sensor cinema camera tidak selalu membutuhkan pencahayaan tambahan. Bahkan dalam kondisi yang minim cahaya pun, sensor cinema camera mampu menjaga noise dan grainy di nilai terendah. Faktor ke 2, bernilai sangat baik

Salah satu penyebabnya, karena pada cinema camera digunakan 2 atau 3 (dan bahkan lebih) sensor sekaligus. Masing-masing sensor akan melipat-gandakan kemampuan kamera tersebut terhadap exposure (mengurangi noise/grainy) dan dynamic range (menangkap detail area gelap dan terang sekaligus).

Kemampuan bebas noise dan grainy serta kemampuan dynamic range yang sangat baik ini seringkali tidak bisa dicapai oleh kamera-kamera lain. Faktor 3 bernilai sangat baik.

Kemampun mengolah cahaya juga akan mempengaruhi kempuan dynamic range-nya.

Cinema camera, dimana ada dasarnya hanya bisa digunakan untuk merekam video, mampu menghasilkan video dengan output tertinggi.

Karena cinema camera didukung oleh processor khusus, biasanya dilengkap dengan harddisk atau SSD, serta sistem pendingin sehingga bisa merekam video dalam waktu yang lama.

Kesimpulan

Jadi secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut:

Kamera handphone: Exposure yang terbatas. Selalu beresiko mengalami penurunan detail (noise dan grainy) karena sensitifitas sensor terlalu rendah. Kemampuan dynamic range yang sangat rendah dan membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan.

Kamera handphone mampu memotret cepat (atau biasa dikenal dengan istilah burst), mampu merekam video slow-motion, dan mampu merekam dalam wakt yang lama.

Hanya saja foto/video yang dihasilkan tidak dengam output maksimal karena dipengaruhi oleh kemampuan processor, kemampuan internal storage, serta kemampuan untuk menghindari overheating.

note: handphone adalah device praktis. jadi dalam prakteknya, sangat jarang pengguna kamera handphone menggunakan dukungan lighting/pencahayaan tambahan

Kamera digital: Exposure lebih baik. Tersedia seting manual untuk adaptasi terhadap berbagai kondisi dan situasi. Membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan. Kemampuan dynamic range yang lebih baik.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Tapi masih terbatas untuk video. Ditandai dengan penggunaan SD card (untuk kecepata yang lebih baik), dan kemampuan rekam video yang terbatas untuk menghindari overheating.

Kamera cinema: Mampu menghasilkan detail dan exposure yang sangat baik tanpa lighting/pencahayaan tambahan. Dan kemampuan dynamic range yang terbaik.

Kamera cinema didukung kemampuan sensor terbaik di dalam sistem yang kompleks (dengan processor, harddisk/SSD, serta sistem pendingin) sehingga mamp menghasilkan output video maksimal.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Mengenal FiLMiC Pro Aplikasi Wajib Perekam Video untuk Smartphone

Tulisan ini sebelumnya saya post tanggal 23 April 2016. Saya lupa waktu itu review FiLMiC Pro versi berapa. Dan hari ini, Desember 2018 saya update review FilMiC Pro versi 6.

Sebelum lanjut lebih jauh, perlu diperhatikan perbedaan FiLMiC Pro terhadap jenis smartphone yang digunakan, yaitu antara Android dengan iOS. FiLMiC Pro kompatibel dengan device yang menggunakan iOS versi 11 atau lebih. Artinya support dengan iPhone 5s keatas. Dan bisa di download disini.

Sedangkan untuk Android, tidak disediakan data resmi, device Android apa saja yang kompatibel dengan FiLMiC Pro. Tapi berhubung begitu banyak produsen smartphone Android (dengan berbagai spesifikasi dan berforma yang berbeda-beda), untuk itu disediakan FiLMiC Pro Evaluator. FiLMiC Pro Evaluator ini adalah versi gratis yang berguna untuk memastikan smartphone yang digunakan kompatibel agar kemudian bisa menggunakan FiLMiC Pro versi full yang bisa di download disini.

By the way, FiLMiC Pro beberapa kali dinobatkan sebagai aplikasi video kamera terbaik. Walaupun berbayar, dengan harga 199 ribu rupiah (sebelumnya, pada postingan awal 149 ribu), namun harga yang dibayar memang layak untuk mendapatkan fitur-fitur yang disediakan.

Beberapa point penting yang membedakan FiLMiC Pro dengan aplikasi lain (atau aplikasi bawaan dari smartphone) adalah:

  • Full manual control (exposure, ISO, shutter speed, focus, zoom) dengan slider atau reticle
  • Live analytics (zebra, clipping, false color & focus peaking)
  • Berbagai pilihan resolusi, aspect ratio dan frame rate
  • Pilihan ouput encoding (video bitrate)
  • Picture profile (natural, dynamic, flat, LOG)

Fitur-fitur tersebut lebih dikenal (dan dibutuhkan) oleh seorang videographer. Untuk mereka yang bukan videographer (katakanlah, seorang yang awam di bidang produksi video), mungkin tidak mengenal dan tidak membutuhkan fungsi-fungsi tersebut di atas.

Kesimpulan singkat, FiLMiC Pro bisa diibaratkan layaknya satu set cinema camera rig (dengan berbagai fiturnya) yang dibentuk menjadi sebuah aplikasi.

Full manual control

Beberapa smartphone sudah mulai menambahkan fitur manual control untuk aplikasi kameranya. Namun pastinya, tidak semua smartphone mendukung fungsi manual ini.

Sementara pada FiLMiC Pro disediakan 5 fungsi yang bisa di kontrol manual, yaitu exposure, ISO, shutter speed, focus dan zoom. 4 fungsi diantaranya di kontrol menggunakan slider yang berada di sisi kiri dan kanan layar.

Slider di sebelah kiri digunakan untuk kontrol manual ISO dan shutter speed. Sedangkan slider di sebelah kanan digunakan untuk kontrol zoom dan focus manual. Jadi masing-masing slider mempunyai 2 fungsi sekaligus.

Sementara untuk fungsi lock exposure dan lock focus disediakan 2 reticle yang bisa diposisikan di area komposisi yang ingin di lock. Dalam posisi unlock, setiap reticle akan berwarna putih (seperti gambar dibawah). Ketika di lock, kotak reticle akan berubah menjadi merah.

Perbedaannya dengan aplikasi lain adalah, selain keterbatasan fungsi manual yang disediakan, seringkali untuk mengakses fungsi manual ini harus dilakukan sebelum melakukan proses recording. Sementara pada FiLMiC Pro, semua fungsi manual ini bisa diakses bahkan pada saat proses recording.

Live Analytics

Live analytics sering ditemui di kamera DSLR dan mirrorless. Walau demikian, bahkan DSLR atau mirrorless pun tidak menyediakan semua fungsi live analytics yang ada.

Live analytics berada di bagian atas layar dengan 4 icon berbeda. Lingkaran bertekstur, pixelate, matahari, dan FP.

Zebra adalah fungsi exposure yang berkaitan dengan detail. Bagian highlight yang terlalu terang sehingga menjadi putih flat (tanpa ada detail) atau bagian shadow yang terlalu gelap sehingga menjadi hitam flat (tanpa ada shadow) akan ditandai dengan garis-garis serong di layar komposisi.

Clipping dan histogram berfungsi sama layaknya zebra hanya saja dalam visual yang berbeda. Selain itu, clipping dan histrogram juga menganalisa warna (tidak hanya sekedar highlight dan shadow)

False color, memiliki fungsi yang berlawanan dengan zebra. Dimana zebra menandai bagian yang kehilangan detail, sementara false color berguna justru untuk menandai bagian yang memiliki detail. Fungsi ini biasanya sangat dibutuhkan pada saat menggunakan green screen.

Focus peaking

Fokus peaking akan menandai object yang fokus dengan garis-garis berwarna hijau. Hal itu sangat membantu jadi kita tidak perlu repot-repot melihat layar handphone dengan sangat detail untuk memastikan object sudah terfokus dengan baik.

Pilihan resolusi dan aspect ratio

Hampir semua smartphone saat ini sepertinya sudah menyediakan pilihan resolusi video yang akan di rekam.  Namun sebaliknya, tidak ada smartphone yang menyediakan pilihan aspect ratio. Aspect ratio adalah, diluar resolusi yang digunakan, perbandingan lebar kali tinggi dari video yang dihasilkan. Beberapa aspect ratio yang disediakan seperti 16:9 (standard wide screen), 2.59:1 (cinemarama), 1:1 (square crop), 2.2:1 (letter box) dan lain sebagainya.

Pilihan aspect ratio ini sangat membantu pada saat proses editing dimana footage yang dihasilkan sudah sesuai dengan output video yang diinginkan. Sementara apabila menggunakan aplikasi kamera bawaan (atau aplikasi lain) setiap footage harus di resize sesuai dengan timeline editing yang diinginkan.

Pilihan bitrate

Bahkan, FiLMiC Pro menyediakan konfigurasi video bit-rate untuk menjaga kualitas video pada saat proses editing, atau sekedar menjaga ukuran file video tidak terlalu besar.

Pilihan frame rate

FiLMiC Pro juga menyediakan pilihan frame-rate yang lengkap. Kita juga memiliki kebebasan untuk memisahkan frame-rate capture (pada saat merekam) dengan frame-rate playback (pada saat ditonton).

Pilihan audio input

Sebagaimana layaknya sebuah video kamera professional, FiLMiC Pro juga menawarkan fitur perekaman audio. Tergantung smartphone yang digunakan, pada iPhones terdapat 3 mic: back, front, bottom.

Integrasi hardware

Salah satu fitur yang juga sangat membantu adalah kemampuan FiLMiC Pro untuk terintegrasi dengan beberapa  perangkat keras lain yang pendukung dalam proses perekaman video layaknya professional. Diantaranya fitur kompatibilitas lensa, microphone dan gimbal.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Beberapa Komposisi Kamera Untuk Fotografi

Fotografi adalah sebuah cerita. Sebuah foto yang baik mampu menyampaikan sebuah cerita, atau membuat orang yang melihatnya mengasumsikan sebuah cerita. Tidak percaya?

Berikut ini beberapa komposisi fotografi yang cukup populer. Komposisi-komposisi berikut ini bisa anda jadikan sebagai referensi.

Rules of Third

Rules of third adalah salah satu komposisi dasar dari fotografi. Pelajaran pertama, fotografi (foto yang baik dan indah) bukan sekedar proses bidik dan potret. Seorang fotografer berusaha menyampaikan ceritanya melalui sebuah frame dengan cara unik.

Rules of third adalah komposisi dengan cara membagi framing sebuah foto menjadi 9 kotak simetris dan meletakkan objek atau point focus foto tersebut di salah salah satu garis, atau titik pertemuan garis tersebut.

Penempatan objek fokus di tengah framing tidak lah salah. Hanya saja mungkin kurang menarik dilihat dan berkesan statis. Apalagi jika framing objek tersebut memenuhi frame. Mungkin lebih terlihat sebagai foto dari sebuah berita.

Pada foto diatas terlihat fotografernya hanya menyampaikan sebuah pernyataan, bukan sebuah cerita. “Hey, ini buku”. Terlihat lebih kaku dan menggambarannya cukup dengan sebuah kalimat.

Sedangkan pada foto diatas terlihat fotografernya menyampaikan sebuah cerita, mungkin seperti “Hey, ini kupu-kupu. Dan dia sedang menggantung di sebuah ranting tanaman. Di waktu hari mulai senja”.

Pada foto diatas selain menempatkan objek utama di titik pertamuan garis, fotografernya juga memanfaatkan salah satu garis horizontalnya sebagai guide cakrawala.

Leading Lines

Leading lines adalah komposisi fotografi yang memanfaatkan objek tertentu dan mencoba mengarahkan mata orang yang melihatkan menuju suatu titik.

Seperti pada foto diatas, fotografernya menggunakan bunga sebagai petunjuk arah untuk mengarahkan mata kita menuju kincir anginnya. Cukup aneh dengan pernyataan sebuah bunga yang kecil bisa dijadikan petunjuk arah. Namun dalam komposisi tersebut terlihat bagaimana si fotografer mampu medapatkan angel yang baik.

Deep of Field

Atau dikenal juga dengan sebutan bokeh, adalah mempersempit area fokus agar objek atau area tertentu menjadi lebih menonjol dari yang lainnya. Pada umumnya foto bokeh lebih banyak menampilkan area out-of-focus dibanding area focusnya.

Seperti pada foto diatas, area focusnya hanya disekitar satu lilitan kawat saja dan area lainnya out-of-focus.

Macro

Foto macro sebenarnya mirip dengan bokep atau deep of field. Hanya saja foto makro menampilkan objek yang kecil. Foto macro digunakan oleh fotografer untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin ada disekitar kita, namun hampir tidak pernah kita perhatikan.

Karena pengaruh objek yang kecil, efek dari lensa mengakibatkan area lain dari objek menjadi out-of-focus. Jadi semakin menonjolkan dan mempertegas objek utama yang ditampilkan.

Silhouettes

Foto siluet hanya menampilan bentuk dari objek dengan memanfaatkan kemampuan kamera, atau hanya dengan pengambilan angel yang tepat. Sebenarnya foto siluet lebih tepat disebut sebagai teknik fotografi.

Namun dengan memanfaatkan beberapa komposisi diatas dan menggabungkannya dengan teknik siluet, kita bisa mendapatkan sebuah foto yang indah.

Reflection

Foto refleksi terlihat seperti membagi dua sebuah gambar sehingga memberi efek cermin.

Walaupun foto refleksi adalah teknik fotografi, namun tetap harus mempertimbangkan komposisi dan angel pengambilan gambar.

Pada gambar di atas terlihat fotografernya menggabungkan teknik reflection dengan teknik siluet.

“S” Curve

Komposisi S curve adalah angel pengambilan foto yang menghasilkan objek melengkung.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Fotografi & Videografi

Punya keinginan jadi fotografer atau videografer?

Kalau dulu modalnya lumayan. Ga semua orang mampu beli peralatannya yang memang tidak murah. Untuk foto harga pocket photo atau tustel sekitar 500 ribuan. Sedangkan untuk video, handycam harganya lebih tinggi lagi, bisa 800 ribu atau 1 jutaan.

Istilah fotografi atau videografi mencakup pelaku dan alatnya. Sedangkan istilah fotografer atau videografer adalah tentang man behind the gun. Tentang siapa yang melakukannya. Terlepas dari secanggih apa alatnya, hasil yang bagus sedikit banyaknya adalah karena peran siapa yang menggunakan alat tersebut.

Jadi, siapapun bisa menjadi fotografer. Siapapun bisa menjadi videografer. Tentu saja kembali ke kemampuan orangnya. Membutuhkan latihan dan pengalaman untuk mengasah kemampuan. Alatnya?

Smartphone yang ada di tangan anda adalah jawaban yang paling tepat. Tidak peduli apakah smartphone anda punya kemampuan yang super canggih atau yang teramat sangat jelek, sebuah kamera adalah kamera. Dibuat, dipasang di smartphone anda, dan berfungsi sebagaimana filosopi kamera tersebut diciptakan.

Siapapun bisa menjadi apapun, yang penting niat. Begitu orang bilang. Tapi untuk fotografi dan videografi, menurut saya lebih dimudahkan. Niat sudah dibulatkan. Alat? Sudah ada di tangan entah sejak kapan, mungkin bertahun-tahun yang lalu.

Apabila anda punya smartphone dengan kamera yang sangat baik, sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. taking a picture doesn’t kill you. Memotret atau membuat video tidak akan membunuh kita. Tinggal 1-2 sentuh, smartphone anda siap merekam atau memotret sesuatu. Apabila anda merasa kamera smartphone anda tidak bagus, anda hanya butuh beberapa trik untuk menghasilkan foto atau video yang cukup layak.

1. Kenali kamera smartphone anda.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara kamera smartphone mahal dengan smartphone murah adalah kemampuan low-light nya. Kemampuan kamera untuk menangkap gambar dalam kondisi kekurangan cahaya. Yang dimaksud low-light
adalah apa yang terlihat dari kamera. Bukan apa yang terlihat oleh mata kita. Bahkan idealnya, bisa dibilang semua kamera smartphone apabila selalu didampingi oleh pencahayaan yang baik, berupa lighting set.

Apabila kemampuan kamera smartphone anda sudah cukup baik, anda perlu mempertimbangkan lokasi atau posisi pengambilan gambar agar cahaya yang ditangkap kamera lebih baik. Apabila kemampuan kamera smartphone anda tidak terlalu bagus terhadap low-light, sangat tidak disarankan untuk pengambilan gambar indoor (dalam ruangan). Usahakan selalu di area terbuka dan dalam kondisi cahaya matahari yang bagus.

Sudah punya niat tapi alat tidak mendukung? Anda pasti bisa menjadi fotografer atau videografer. Anda hanya butuh ketepatan waktu dan lokasi saja.

Selain kemampuan fisiknya, setiap smartphone menawarkan fitur yang berbeda untuk kameranya. Seperti kemampuan manual focus, manual exposure, resolusi dan sebagainya. Untuk smartphone dengan fitur yang minim anda bisa mencari beberapa aplikasi kamera untuk memaksimalkan kemampuan fisiknya.

Dengan mengenali kamera smartphone, anda bisa memilah apa yang bisa dan apa yang jangan anda lakukan. Kamera yang tidak terlalu bagus dalam kondisi low-light, jangan melakukan pengambilan gambar indoor. Tidak ada pengaturan focus, jangan mengambil gambar yang terlalu deket dan kecil. Apabila resolusinya kecil, usahakan mengambil gambar sesuai kebutuhan, tapi apabila resolusinya cukup besar anda punya kesempatan untuk membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan pada saat proses editing. Dan sebagainya.

2. Pelajari komposisi fotografi dan videografi.

Secara teori ada beberapa aturan komposisi yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah rules of third. Aturan 1/3 gambar.

Beberapa foto dan video yang dianggap unik adalah karena ketidak terbatasan cara pengambilannya. Anda bisa memotret sebuah motor persis lurus dari salah satu sisinya. Tapi anda juga bisa mengambil gambar dari posisi serong, misalnya dari arah kaca spion dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Anda bisa mengambil gambar orang lain dalam
posisi eye-level, posisi sebagaimana kita melihat orang lain. Tapi anda juga bisa mengambil gambar orang dalam posisi sebagai kucing (lebih rendah atau sangat rendah) atau dalam posisi bird-eye (posisi yang lebih tinggi).

Dan untuk menambah pengetahuan anda bisa melihat beberapa karya foto dan video yang dibuat oleh orang lain. Tanyakan kepada diri anda sendiri dan buat asumsinya. Kenapa pohonnya tidak terlihat hingga ke ranting paling tinggi. Kenapa foto kucing tapi kucingnya tidak di tengah gambar. Kenapa foto langit harus memperlihatkan gedung
dibawahnya kenapa tidak langit biru semuanya. Dan lain sebagainya.

3. Pelajari beberapa istilah

Untuk semakin membantu pemahaman, ada beberapa istilah fotografi dan videografi yang perlu anda ketahui. Berguna apabila anda melakukan percakapan atau membaca beberapa artikel terkait.

Aperture
Ini adalah ukuran bukaan sensor lensa kamera. Semakin besar bukaan sensor semakin besar gambar yang bisa diambil. Tanpa harus mundur-mundur menjauh dari objek. Dan semakin besar bukaan sensor maka semakin baik kemampuan kamera dalam kondisi low-light. Tapi karena kita ada dalam bahasan smartphone, aperture smartphone sudah fixed. Terkunci dan tidak dapat diubah.

ISO
Adalah ukuran sensitifitas sensor menerima cahaya. Semakin sensitif sensor maka semakin banyak cahaya yang ditangkap. Hasilnya akan lebih terang. ISO bisa dibilang sebagai pembantu langsung terhadap aperture. Ketika aperture kecil yang menghasilkan gambar lebih gelap, ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang. Apabila ISO terlalu rendah maka gambar akan lebih gelap. Untuk kamera dengan kemampuan low-light yang tidak bagus (aperture yang kecil), meningkatkan sensitifitas ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang tapi gambar akan terlihat kasar dan berbintik.

Shutter Speed
Adalah ukuran waktu sensor kamera membuka dan menutup pada saat mengambil gambar. Semakin lama sensor membuka maka akan menghasilkan gambar yang lebih terang, namun membuat gambar menjadi lebih blur/kabur. Shutter speed yang tinggi tidak disarankan untuk mengambil gambar yang bergerak.

Diantara ketiga istilah diatas, aperture bisa dikatakan sebagai sumber penentu kualitas cahaya pengambilan gambar. Tapi karena aperture smartphone sudah terkunci dan tidak dapat diubah, maka ISO dan shutter speed bisa membantu kita mendapatkan kualitas cahaya yang diinginkan.

Satu kelebihan sekaligus kekurangan dari kamera smartphone, kita tidak bisa mengubah setting aperture, berarti kita cukup fokus dengan 2 point lainnya yaitu ISO dan shutter speed.Namun, tidak semua kamera smartphone menyediakan setting manual untuk ISO dan shutter speed. Untuk itu diperlukan aplikasi kamera tambahan yang memiliki kontrol manual ISO dan manual shutter speed.

Hanya dengan 3 point dasar diatas anda sudah cukup untuk terjun sebagai fotografer dan videografer amatir. Anda harus mengetahui detail dan kemampuan kamera smartphone anda. Sehingga anda bisa memaksimalkan secara efektif sejauh mana kemampuan kameranya. Dengan demikian anda bisa menyusun konsep yang lebih baik sebelum mulai berburu gambar dan video. Semua kegiatan yang terkonsep idealnya menjadi lebih maksimal.

Dengan pemahaman alat dan konsep yang kuat, anda bisa mulai melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan beberapa teori fotografi dan videografi. Mengambil gambar yang unik, yang tidak biasa, atau sebuah gambar yang sebenarnya biasa saja, tapi dalam komposisi yang luar biasa.

Dan dalam prakteknya, anda bisa selalu menjaga kualitas foto dan video anda selalu sesuai dengan konsep dan keinginan. Apabila dirasa ada yang kurang pas anda bisa mencoba bermain-main dengan beberapa settingan standar kamera seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.