Posts tagged lensa

Teori dan Teknik Foto Bokeh

Jadi sekarang lagi jamannya foto bokeh. Teknik fotografi yang memisahkan foreground terlihat fokus dan tajam, dengan background nge-blur bahkan menghasilkan pendaran berwarna warni. Atau sebaliknya.

Saking populernya, kamera handphone yang secara teknis sebenarnya ga bisa menghasilkan foto bokeh, di setting dengan teknologi yang sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan foto yang terlihat bokeh.

Emang kamera handphone ga bisa?? Secara teknis ga bisa. Jawaban jadi bahasan utama postingan ini.

Lensa

Lensa adalah kunci utama untuk menghasilkan foto bokeh. Lensa yang bagaimana?

Lensa dengan bukaan besar.

Bukaan yang dimaksud adalah bener-bener diameter fisik rongga lensa tersebut. Jadi bukan hanya melihat nilai f-stop nya. Bukan, misal, f/1.9 atau f/2.0 dan sebagainya. Tapi benar-benar berapa (centimeter/milimeter) diameter rongga lensa.

Di postingan lain juga udah ada bahasan ini. Bahwa f-stop di kamera handphone, memang akan mempengaruhi exposure, tapi sebesar-besarnya tidak lebih besar dari 3mm. Silahkan langsung dilihat di bagian kamera dari handphone masing-masing. Kira-kira sebesar diameter batang korek api. Sekitar 0.2 cm, agar lebih mudah dibayangkan.

Sementara pada kamera digital (seperti DSLR atau mirrorless) bahkan lensa kit (seringkali dianggap sebagai lensa murah dan tidak banyak kemampuan) setidaknya memiliki diameter bukaan 0.4cm. 2x lipat rata-rata bukaan lensa kamera handphone.

Pada gambar diatas terlihat perbedaan diameter (lensa DSLR/mirrorless) antara bukaan terbesarnya (f/2.8 terlihat jelas) dengan bukaan terkecilnya (f/16 yang keliatan lebih ‘mengintip’).

Tapi FYI, foto-foto bokeh dari fotografer profesional yang biasanya terlihat sangat cantik dan keren banget itu dihasilkan dari lensa dengan diameter bukaan 3.5 cm bahkan hingga 6 cm.

Yah, itu sekitar 15 hingga 30x lebih besar dibanding 0.2 cm

Jauh ya…

Jadi secara teori, kamera handphone memang ga bisa bikin foto bokeh. Dual kamera untuk foto bokeh pada kamera handphone dilakukan secara digital. Satu lensa sebagai lensa fokus dan lensa yang lain sebagai lensa blur, secara digital akan dilakukan penggabungan ke dua foto tersebut untuk menghasilkan foto yang terlihat bokeh. Jadi bokehnya adalah hasil manipulasi dari 2 foto. Bukan karena kemampuan lensanya.

Info lebih lanjut tentang angka-angka ini bisa dibaca di postingan ini dan ini.

Jarak

Setiap kamera akan menentukan area fokus sebelum menangkap/menyimpan gambar.

Pada lensa kamera digital dengan bukaan besar (masih mengacu pada postingan ini dan ini), area fokus ini bisa sangat sempit. Bisa se lebar hitungan centimeter atau meter. Bahkan bisa menjadi lebih sempit hingga hitungan milimeter.

Dan sisanya (diluar area fokus tersebut) akan menjadi blur atau kita sebut bokeh.

Karena itu dalam hal ini kita berbicara tentang jarak.

Ilustrasinya seperti gambar dibawah. Katakanlah area fokusnya selebar 1 meter, 1 langkah di depan dan 1 langkah di belakang model (kotak hijau). Dan sisanya (diluar kotak) akan blur. Semakin jauh dari area fokus (semakin rendah garis merah) maka objek akan semakin blur.

Sementara pada kamera handphone (atau misal lensa kit kamera digital), karena diameter lensanya hanya 0.2 cm atau 0.4 cm, area fokusnya lebih lebar. Bisa dalam hitungan meter. Artinya, hampir terlihat fokus semua. Terlihat tidak ada blur.

Sebenernya tetep ada, tapi terlalu tipis dan tidak berasa. Seperti pada ilustrasi di atas. Bunga yang ada di background, sebenarnya sudah di luar area fokus. Tapi garis merah belum terlalu rendah (efek blur belum terlalu kuat), sehingga memberi kesan bunga masih terlihat fokus.

Karena pengaruh jarak ini, bokeh yang dihasilkan dari dual kamera handphone terlihat maksa dan aneh. Idealnya dibutuhkan jarak yang cukup diluar area fokus untuk menghasilkan blur yang tinggi (bokeh). Bisa jadi 2 atau 3 meter dari titik fokus agar terlihat blur. Sementara pada handphone dual kamera, efek bokeh bisa didapat bahkan untuk jarak kurang dari 1 meter.

Tapi ya, dengan ‘editing’ (manipulasi) apa aja bisa dilakukan.

Jadi dalam hal jarak ini tedapat 2 opsi untuk menghasilkan bokeh yang baik. Menempatkan foreground (blur) se dekat-dekatnya dengan kamera, dengan model (fokus) yang lebih jauh. Atau sebaliknya, menempatkan model (fokus) dengan jarak sejauh-jauhnya dari background (blur)

Lensa tele

Teknik bokeh ini hanya bisa dilakukan pada kamera digital yang menggunakan lensa tele.

Sebenernya ga ada definisi khusus tentang lensa tele. Tapi sebagian orang mengkategorikan lensa tele adalah lensa dengan focal length diatas 85mm.

Dual lensa pada kamera handphone (biasanya memiliki kemampuan zoom), tapi focal length pada kamera handphone terlalu pendek. 85mm pada lensa kamera digital, atau 8.5cm dalam ukuran yang biasa kita kenal.

Kamera handphone, setebal-tebal body-nya, ga lebih tebal dari 1cm. Yang apabila memang dimaksimalin, focal length kamera handphone maksimal hanya 10mm (1cm tebal handphone itu sendiri).

Anyway, lensa tele (penggunaan focal length tinggi) otomatis akan menghasilkan bokeh yang cantik. Bahkan walaupun f-stop yang digunakan kecil (angka besar).

Karena pada saat menggunakan fungsi tele (focal length diatas 85mm) diameter bukaan lensa otomatis akan semakin membesar. Secara fisik bisa dilihat dari ukuran lensa tele yang memang lebih besar dibanding lensa zoom atau lensa fixed biasa.

Hal ini berkaitan dengan point pertama dari postingan ini, tentang diameter bukaan lensa. Dan kembali mengacu pada postingan ini.

Dengan mengetahui teori-teori ini semoga bisa membuat kita lebih menghargai (atau mencaci maki) peralatan ‘bokeh’ yang kita miliki.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera DSLR dengan Mirrorless

Ada yang bilang DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video.

Ada yang bilang kualitas foto mirrorless masih belum bisa menyamai kualitas foto DSLR.

Ada juga yang bilang, well, sangat merekomendasikan DSLR. Untuk alasan yang sebenarnya tidak terjelaskan, banyak orang lebih menyarankan DSLR daripada mirrorless.

Sebenarnya apa sih DSLR dan mirrorless itu?

Perbedaan cara kerja DSLR dengan mirrorless

Digital Single Lens Reflect atau DSLR. Sesuai namanya, adalah kamera kamera digital yang memiliki single/sesuatu yang merefleksikan lensa.

Sesuatu tersebut adalah mirror, dimana dalam prakteknya, cahaya (dalam hal ini adalah gambar) masuk melalui lensa dan mengenai mirror tersebut. Mirror ini akan merefleksikan cahaya tersebut ke viewfinder.

Dengan viewfinder maka kita bisa mengatur komposisi atau exposure dan lain sebagainya.

That’s it! Itu lah yang disebut dengan single lens reflect.

Dengan penjelasan diatas, rasanya cukup mudah untuk menjelaskan pengertian mirrorless. Dimana artinya adalah ‘tanpa mirror‘. Karena tidak ada mirror maka cahaya (atau gambar) dari lensa langsung mengenai sensor.

Dan sebenarnya, se-simpel itu lah sistem yang dinamakan mirrorless.

Dan dalam hal ini, yang digolongkan sebagai kamera DSLR atau mirrorless adalah kamera yang bisa diganti lensanya (interchangeable lens atau ICL). Karena khususnya mirrorles, kamera handphone, kamera pocket, handycam dan beberapa kamera lainnya  juga menggunakan sistem mirrorless. Hanya saja tidak bisa diganti lensanya.

Optical vs Eletrical

Pada DSLR, posisi mirror tersebut berada tepat di depan sensor, sehingga menghalangi cahaya menyentuh sensor. Karena untuk sementara cahaya tersebut dibutuhkan untuk direfleksikan ke viewfinder. Refleksi  viewfinder menggunakan media mirror ini dikenal dengan nama optical viewfinder.

Jadi hingga titik ini, sensor belum bekerja dan belum dibutuhkan.

Apabila komposisi dan exposure susah sesuai maka pada saat tombol shutter ditekan, mirror akan berubah posisi, viewfinder menjadi gelap (karena tidak ada refleksi lagi), cahaya mengenai sensor, dan sensor akan merekamnya menjadi sebuah gambar.

Jadi pada sistem DSLR sensor hanya bekerja/dibutuhkan pada saat tombol shutter ditekan.

Jadi, penggunaan mirror pada sistem single lens reflect ini adalah tentang bagaimana kamera bekerja pada tombol shutter belum ditekan.

Sementara pada mirrorless, karena tidak memiliki mirror untuk merefleksikan cahaya ke viewfinder, maka sensor lah yang bertugas untuk menampilkan gambar ke LCD/viewfinder, atau disebut electronic viewfinder.

Oleh karena itu sensor akan selalu bekerja selama kamera on. Sensor akan selalu digunakan baik sebelum, atau pada saat, atau setelah tombol shutter ditekan.

Hal ini lah yang menyebabkan daya tahan baterai sistem mirrorless lebih rendah.

Optical Viewfinder dan Eletronic Viewfinder

Karena refleksi dilakukan secara optical, tampilan viewfinder pada DSLR lebih realistis. Ibarat menonton bola, langsung di stadion.

Sementara electronic viewfinder kurang realistis karena dipengaruhi kualitas dari display viewfinder itu sendiri. Ibarat menonton bola, tapi di televisi.

Pada dasarnya hal tersebut di atas lah yang membedakan DSLR dengan mirrorless. 2 sistem berbeda, dimana perbedaan itu justru terjadi pada saat kamera tidak mengambil gambar. Pada saat pengambilan gambar, kedua sistem ini akan bekerja dengan cara yang sama.

Perbedaan ukuran body

Karena perbedaan mekanisme kerjanya, perbedaan selanjutnya bisa dilihat dari gambar berikut ini.

Secara fisik, DSLR membutuhkan space internal yang lebih luas karena dibutuhkan jarak-jarak tertentu untuk mendapatkan refleksi optical yang sempurna yang menyebabkan body keseluruhan menjadi besar.

Sementara mirrorless tidak membutuhkan space besar karena, well, katakanlah hanya berisi beberapa kabel atau papan sirkuit sehingga desain dan body-nya menjadi lebih compact.

Jadi hingga titik ini beberapa point yang bisa disimpulkan adalah:
– DSLR menggunakan mirror untuk merefleksikan lensa (optical viewfinder) sehingga viewfinder menghasilkan gambar yang realistis.
Mirrorless menggunakan sinyal elektrik dari sensor (electronic viewfinder). Karena sensor selalu digunakan, daya tahan baterai lebih rendah.
– Pada satu moment saat tombol shutter ditekan, kedua kamera akan menggunakan teori yang sama (cahaya dari lensa langsung mengenai sensor, tidak membutuhkan mirror).
– Karena perbedaan cara kerja, mempengaruhi ukuran fisik. DSLR lebih besar dibanding mirrorless

Adaptasi Kedua Sistem

Pada awalnya, kamera DSLR memang hanya memiliki kemampuan photography. Seiring perkembangan jaman kamera DSLR juga memiliki kemampuan videography. Untuk kebutuhan videography, penggunaan metode mirrorless ini (penggunaan sistem electronic viewfinder) sangat dibutuhkan. Electronic viewfinder akan menampilkan secara real-time setiap perubahan yang dilakukan pada setingan kamera.

Hingga kemudian, DSLR pun bisa difungsikan seperti mirrorless (bahkan sebelum kamera mirrorless dikenal). Pada kamera Canon, fungsi ini bernama mode Live-View. Pada mode ini, mirror akan selalu menutup, Tidak ada refleksi optik yang terjadi sehingga viewfinder menjadi gelap. Dan LCD display akan menampilkan cahaya dari sensor (electronic viewfinder).

Mungkin pada awalnya ide mirrorless ini hanya sebagai shortcut, dimana mode Live-View (dalam hal ini terhadap kamera Canon) dijadikan mode utama. Dimana mirror tersebut tidak hanya berubah posisi, tapi benar-benar dihilangkan dan tidak digunakan lagi.

Sementara itu sistem mirrorless-pun melakukan perbaikan dari sisi kualitas display electronic viewfinder-nya untuk bisa menghasilkan tampilan viewfinder yang lebih realistis.

Image quality

Berbicara tentang image quality, sangat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti kualitas sensor, image processor yang digunakan, kualitas lensa, dan berbagai hal lainnya.

Dan sebaliknya kualitas gambar tidak dipengaruhi oleh sistem digunakan (DSLR atau mirrorless). Karena, sekali lagi, perbedaan sistem tersebut hanya berlaku sebelum atau setelah pengambilan gambar. Pada saat pengambilan gambar, keduanya menggunakan teori yang sama.

Kesimpulan

Jadi kembali ke pernyataan pembuka tulisan ini, ‘DSLR lebih bagus untuk foto, mirrorless bagus buat video’, adalah tentang pemanfaatan sistem yang digunakan. Bukan tentang kualitas foto/video yang dihasilkan.

Pandangan-pandangan lainnya bersifat lebih subjektif. Seperti mirrorless yang lebih kecil dan compact sehingga dirasa lebih efektif dan praktis digunakan. Atau seperti kenyamanan penggunakan DSLR yang bersifat semi elektrik dan ber-body besar yang lebih kokoh di pegangan.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan lensa handphone dengan kamera digital.

Bukaan lensa seringkali disebut f/x.x atau dalam format resminya f-stop. F-stop sebenarnya hanya data teknis kalkulasi dari focal length dibagi diameter aperture blade.

Bingung?

Tapi sebelumnya, tau kan apa itu aperture blade? Itu lho, bilah-bilah yang membentuk lingkaran (bolongan/bukaan) di dalam lensa kamera.

Jadi, katakanlah f/2.0, baik itu di handphone atau di DSLR atau di kamera-kamera lainnya. Apa sih f/2.0 itu? Berapa besar nilai f/2.0 itu sebenarnya? Apa efeknya? Dan lain sebagainya.

Tapi jangan dulu berbicara tentang efek bokehnya, atau seberapa bagus hasil exposure-nya. Sebelumnya kita harus tahu apa arti f-stop itu sebenarnya.

Seperti yang dijelaskan di pembuka diatas, f-stop adalah data teknis, hasil kalkulasi dimensi lensa pada sebuah kamera.

Lalu hasil kalkulasi darimana? Tergantung dimana angka f/2.0 itu tertera.

Misal, f/2.0 itu tertera pada lensa DSLR Canon 50mm. Yang dimaksud data teknis adalah, lensa tersebut memiliki focal length sepanjang 50 mm, dan pergeseran aperture blade yang ada di dalam lensa tersebut membuat diameter terbuka sebesar 25 mm. 50 dibagi 25, hasilnya 2. Angka 2 itu lah yang ditulis pada body lensa tersebut menjadi f/2.0

Jadi, misal lensa 50 mm dengan f/1.4, artinya aperture blade-nya bisa bergerak dan membuat lubang/bukaan sebesar 35.8 mm.

Mulai paham?

Sekali lagi, F/2.0 adalah hasil bagi focal length dengan diameter aperture blade yang terbuka.

Lensa Nikon NIKKOR Z 50 mm f/1.8. Artinya lensa ini memiliki diameter aperture blade selebar 27.8 mm

Jadi, f/2.0 bukan nilai bukaan lensa. Berbicara tentang nilai, yang berkaitan dengan angka, selalu diiringi oleh satuan matematika. Entah itu centimeter, milimeter, kilometer, inchi, kilogram, liter dan sebagainya.

F-stop bukanlah satuan matematika untuk mewakilkan nilai.

Masih bingung? Kita lanjutin lagi.

Misal, f/2.0 itu tertera pada sebuah camcorder/handycam dengan focal length 28mm. Artinya diameter bukaan lensanya (diameter aperture blade-nya) adalah 14mm (28 dibagi 2). Atau 1.4 cm. Atau setara dengan f/3.5 pada lensa 50mm

Sony camcorder dengan lensa f/1.8 focal length 3.8-38mm

Lalu, apa gunanya f-stop kalau ternyata, yah, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya.

Nah, f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Misal, lensa 24 mm. Ketika menggunakan f-stop f/1.8, akan menghasilkan exposure yang lebih baik dan efek blur (bokeh) yang lebih dalam dibandingkan menggunakan f/5.6.

Atau dalam kondisi lain, masih tentang lensa 24 mm. Dengan f/3.5 exposure (yang ter-detect di layar kamera) minus. Jadi kita harus buka lagi misal, jadi f/2.8. Tapi ternyata masih minus, walau udah mendekati garis exposure netral. Karena lensa itu hanya f/2.8, berarti kita harus setup lighting, biar exposure bisa di posisi netral.

Tampilan exposure bar pada kamera digital.

Tampilan exposure bar pada salah satu kamera smartphone (pojok anan bawah).

Karena itu ada data EXIF. Saat melihat data EXIF dari sebuah foto, misal, menggunakan lensa dengan f/1.8, kita juga perlu melihat focal length dari lensa tersebut.

Pada data diatas terlihat ApertureValueyang digunakan adalah f/14 menggunakan lensa 55.0mm

Selanjutnya kita akan melihat nilai f-stop pada kamera handphone.

Focal length adalah jarak lensa dengan sensor. Pada 3 contoh diatas, contoh pertama lensa focal length 50mm. Atau dalam nilai sehari-hari yang biasa kita gunakan, 5cm. Dan di contoh kedua focal length 28mm, atau 2.8 cm. Contoh ke tiga, lensa 24 mm.

Body handphone, setebal-tebalnya, rasanya tidak akan lebih tebal dari 1 cm. Jadi sejauh-jauhnya, jarak maksimal antara lensa dengan sensor pada handphone hanya 10mm. Itu pun kemungkinan akan mononjol keluar dari body. Anyway, kita langsung saja ke kenyataanya, rata-rata focal length pada kamera handphone hanya 4mm, atau 0.4 cm.

Yah, sekitar setengah dari ketebalan body handphone itu sendiri.

Berbagai ukuran handphone

Dan katakanlah handphone tersebut memiliki nilai f-stop f/2.0. Dengan kalkulasi yang sama, 4mm dibagi 2 artinya besar bukaan lensanya hanya 2mm. Mmm… kebayang kan seberapa besar 2mm itu?

Kalau dibandingin dengan lensa 28 mm seperti yang terdapat pada camcorder/handycam, 2mm itu setara dengan f/14.

Sedangkan kalau dibandingin dengan lensa 50 mm,  2mm itu setara dengan f/25.

Wow!! Bahkan sekecil-kecilnya, untuk foto produk saya hanya menggunakan f-13.

F/25?? Itu kaya apa ya. Mungkin kaya lubang di kancing baju.

Kiri: lensa 50mm di f/5.6 (diameter bukaan 0.8cm). Kanan: lensa 50mm di f/1.4 (diameter bukaan 3.5cm)

Mulai paham?

Jadi ada kesalahan persepsi dalam istilah yang digunakan. Nilai f-stop tidak mewakilkan nilai bukaan. Nilai f-stop, katakanlah, hanya sebuah rumus untuk menentukan bukaan. Nilai f-stop adalah data teknik spesifikasi di bidang photography.

Perlu di ingat, nilai f-stop dibutuhkan ketika kita berbicara tentang 1 lensa saja. Ketika kita membutuhkan/mencari pengaruh f-stop atas 1 lensa.

Misal, sebagai contoh lain, kita akan memotret objek dengan konsep all-focus tanpa ada bagan blue/bokeh. Menggunakan f/11, setelah di cek detail, ternyata masih ada area blur. Kita turunin lagi jadi f/13, dimana artinya exposure juga ikut turun, jadi kita naikin ISO atau shutter speed bla….bla…. mungkin ini diluar bahasan utama dan perlu satu bahasan khusus lain.

Tapi anyway, itu lah guna f-stop.Menentukan pengaruh/efek atas 1 lensa saja.

Jadi rasanya cukup bisa dipahami untuk ga wondering lagi, kenapa kok lensa A pake ‘bukaan’ cuma f/3.5 tapi hasilnya lebih terang dan bokehnya lebih terasa di banding lensa B padahal ‘bukaan’-nya udah f/1.8.

Lensa kit pada kamera digital, misal 16mm f/3.5. Artinya memiliki besar bukaan sekitar 4.5mm. Nilai bukaan yang masih 2x lipat lebih besar dibanding nilai bukaan f/2.0 pada kamera handphone.

Lensa kit DSLR, hanya dengan f/3.5 masih memungkinkan untuk bokeh (blur background), dan menghasilkan exposure yang lebih baik dibandingkan f/2.0 pada kamera handphone.

Jadi dengan kalkulasi di atas, rasanya cukup bisa dipahami mengapa sebuah kamera handphone, bahkan dengan nilai f-stop hingga f/1.6, tetap tidak menghasilkan exposure yang maksimal dan tidak bisa menghasilkan foto bokeh layaknya kamera digital.

Mungkin ini salah satu trik (karena kebetulan saya pake iPhone) dari Apple, desain iPhone 6s (iPhone 6s di 2019??) pada bagian kameranya agak sedikit menonjol dari bodynya. Dengan body yang relatif lebih tipis dibanding handphone lain pada waktu perilisannya, tapi tetap mempertahankan focal length 4.15mm.

Focal length 4.15mm dengan f/2.2, artinya iPhone 6s memiliki diameter bukaan 1.8mm. Wow!! Setara dengan f/27 pada lensa DSLR 50mm 😀

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan F-stop dan T-stop

Berikut ini sejarah singkat, diluar detail dan waktu kejadian, perbedaan kedua ‘stop’ tersebut.

Pada suatu ketika, dahulu kala, dimana pada saat itu nilai ukur (data angka) dari sebuah lensa hanya menggunakan istilah f-stop. Pada dasarnya angka yang tertera pada f-stop adalah hasil kalkulasi antara focal length berbanding besar diameter bukaan lensa.

Lensa 50mm dengan bukaan f/2.0, artinya diameter bukaannya: 25mm (50 diambil dari mm focal length kemudian dibagi 2 yang diambil dari nilai f-stop).

Jadi kita bisa mengetahui besar diameter bukaan dari sebuah lensa tanpa harus capek-capek mengukur menggunakan penggaris, apalagi sampe membongkar lensanya.

Menelusuri nilai f/stop dari beberapa lensa.

Melalui hasil penelusuran diatas, bisa dipahami bahwa perbedaan ukuran diameter bukaan (perbedaan nilai f/stop) akan mempengaruhi ukuran body lensa tersebut. Karena nilai f-stop dari lensa itu mempengaruhi diameter aperture blade. Sehingga beberapa lensa memiliki ukuran yang lebih besar dibanding beberapa lensa lainnya. Walaupun memiliki focal length yang sama.

Perbedaan fisik lensa terhadap diameter bukaan (diluar nilai f-stop-nya)

Katakanlah, lensa zoom 500mm dengan f/2.0, artinya bukaan lensa mencapai 250mm (atau 25cm). Berarti ukuran tabung lensa menjadi sangat besar.

Dibandingkan dengan, misal, lensa 500mm dengan f/5, bukaan lensa 100mm (atau 10cm), artinya ukuran fisik lensa mungkin berkisar antara 11-13cm.

Masalah pertama.

Dalam prinsip photography, semakin besar nilai f-stop sebuah lensa maka akan semakin baik kemampuan exposure-nya. Misal, lensa 50mm dengan f/1.8 memiliki kemampuan exposure yang lebih baik dari lensa 50mm f/3.5.

Namun dalam contoh berikut ini, lensa 30mm f/1.2 memiliki diameter bukaan sama persis (25mm) dengan lensa 50mm f/2.0

Artinya kedua lensa tersebut, walau memliki nilai f-stop yang berbeda, tapi memiliki kemampuan exposure yang sama.

Contoh kedua; lensa 35mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 19.5 mm (35 dibagi 1.8). Dibandingkan dengan lensa 50mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 27.8mm (50 dibagi 1.8). Walau kedua lensa tersebut memiliki nilai f-stop yang sama, tapi kemampuan exposure lensa 50mm lebih baik karena diameter bukaan yang lebih besar.

Masalah kedua.

Misal, lensa Canon 50mm 1.8 dengan lensa Sony 50mm 1.8. Kedua lensa tersebut memiliki diameter bukaan yang sama, sekitar 27.8mm.

Namun karena berbagai hal seperti konstruksi internal lensa atau kualitas material yang digunakan dan lain sebagainya, keduanya tidak memiliki kemampuan exposure yang sama.

Sehingga disimpulkan bahwa: semakin rendah nilai f-stop suatu lensa (1 lensa), semakin baik kemampuan exposurenya. Tapi f-stop sama sekali tidak bisa dijadikan patokan kemampuan exposure beberapa lensa sekaligus.

Masalah ketiga.

Kembali ke jaman dahulu kala, saat istilah videographer hanya dikenal dalam produksi film layar lebar. Dimana hal tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan team yang cukup besar. Seringkali terkendala oleh kemampuan expoure yang berbeda dari setiap lensa.

Untuk itu dibutuhkan satu nilai yang lebih akurat dalam menentukan kemampuan lensa dalam merespon cahaya. Agar proses produksi film layar lebar pada waktu itu terhindar dari kesalahan exposure yang bisa menyebabkan pengeluaran waktu dan biaya post-production yang lebih besar terkait footage yang tidak ter-exposure dengan baik.

Hingga kemudian diterapkanlah standar nilai t-stop atau ‘transmission stop’, yaitu nilai ukur kemampuan exposure dari sebuah lensa. Nilai t-stop dihitung menggunakan metode uji coba, berbeda dengan nilai f-stop yang dapat dihitung hanya berdasarkan data teknis dimensi lensa.

Dengan menggunakan standar t-stop, setiap lensa yang berbeda (baik dari focal length, atau material yang digunakan, atau penerapan sistem internal yang berbeda, atau berbagai perbedaan lainnya) tapi memiliki nilai t-stop yang sama, misal T/1.5, artinya lensa-lensa tersebut memiliki kemampuan exposure yang sama persis.

Dalam proses produksi video setiap scene dan adegan biasanya membutuhkan spesifik komposisi dan penggunaan lensa tertentu. Penerapan standar t-stop ini sangat membantu menjaga exposure dengan baik walau menggunakan berbagai lensa yang berbeda.

Penutup

Karena pada awalnya lensa denga nilai t-stop adalah sebuah solusi terkait produksi film layar lebar (video), maka hingga hari ini lensa dengan standar t-stop tetap lebih populer digunakan dalam dunia videography dan dikenal dengan nama cinema lens.

Sedangkan untuk lensa photography pada umumnya masih tetap menggunakan standar f-stop.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Kamera

Seringnya, gak semua orang yang mau beli kamera ngerti segala spesifikasi dari sebuah kamera. Gak semua calon pembeli adalah professional photographer or videographer.

Malah katanya, siswa atau mahasiswa (yang belajar photography dan videography) udah disarankan untuk punya kamera terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus teori dasarnya.

Dan kalaupun si calon pembeli ngerti tentang kamera, mungkin ga jauh dari tau ukuran megapixel yang bisa dihasilkan saja.

Berikut ini beberapa hal, dengan penjelasan yang semoga mudah untuk dipahami, yang bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum memutuskan membeli kamera.

Atau mungkin, sebagai acuan perbandingan antara beberapa kamera yang sudah di targetkan sebelumnya, sehingga lebih mudah memilih.

Dijelaskan dan diilustrasikan menggunakan bahasa yang ringan agar lebih mudah dipahami.

1. UKURAN SENSOR

Sensor adalah satu bidang rata di dalam body kamera yang melihat dan merekam gambar yang diproyeksikan oleh lensa. Layaknya media kaca pada mesin foto-copy.

Perbandingan ukuran sensor kamera.

Terdapat 3 ukuran sensor yang populer saat ini:

Full-frame. sensor yang berukuran 36mm x 24mm. Disebut juga sebagai format 35mm karena ukuran sensor tersebut sama seperti ukuran panjang 1 frame pita rol film (klise foto) kamera analog. Dan format 35mm menjadi acuan terhadap beberapa spesifikasi kamera digital.

Karena berukuran besar, sensor full-frame mampu melihat (menangkap) detail dengan lebih baik. Dan ibarat jendela berukuran besar, lebar pandangan (field of view) cukup luas. Sehingga menjadi ‘senjata wajib’ para professional.

Field of view pada kamera dengan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini memiliki harga yang tinggi. Ukuran yang lebih besar, detail yang lebih baik, dan senjata wajib para profesional.

APS-C (disebut juga sebagai format super-35mm) dengan ukuran fisik sekitar 24mm x 16mm. Awalnya, sensor APS-C hanya sebagai alternatif karena biaya produksi sensor full-frame yang cukup tinggi. Tapi dalam perkembangannya sensor APS-C punya tempat sendiri dalam dunia fotografi. Dan hingga hari ini format APS-C menjadi format populer untuk ukuran sensor kamera. APS-C sering juga disebut sebagai super-35mm karena ukuran sensornya ‘hampir mirip’ dengan sensor full-frame.

Walau lebih kecil tapi sensor APS-C tetap mampu menghasilkan detail yang tinggi. Tapi karena ukuran fisiknya yang lebih kecil, cahaya yang menyentuh permukaan sensor tidak sebanyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor full-frame. Jadi sensor APS-C tidak sebaik sensor full-frame di kondisi gelap/kurang cahaya.

Dan karena ukuran ‘jendela yang lebih kecil’, lebar pandang (field of view) tidak seluas full-frame. Sensor APS-C butuh lensa dengan focal length yang lebih pendek (lensa wide) untuk menghasilkan field of view yang sama seperti field of view pada sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor APS-C dengan sensor full frame.

Sensor ini, relatif lebih murah dibanding sensor full frame. Kamera yang menggunakan sensor ini mayoritas memiliki fitur yang mirip dengan kamera bersensor full frame. Bedanya? Ukuran sensornya itu sendiri.

Micro Four-Third (biasa disebut M4/3 atau MFT) dengan ukuran fisik sensor sekitar 18mm x 13mm. Disebut micro, karena ukuran fisik-nya jauh lebih kecil dibanding sensor full-frame. Dan maksud four-third adalah ratio panjang berbanding lebar dari sensor itu sendiri. Sensor full-frame memiliki ratio 3:2 (36mm x 24mm) sedangkan MFT memiliki ratio 4:3 (18mm x 13mm)

Sensor MFT masih mampu menangkap detail yang baik (bahkan sensor kamera smartphone yang cuma berukuran sekitar 5mm masih mampu menangkap detail baik). Tapi kemampuan MFT dibawah kondisi gelap/kurang cahaya tidak sebaik sensor-sensor yang berukuran lebih besar.

Namun begitu, kamera dengan sensor MFT biasanya memiliki fitur yang membantu dalam kondisi gelap/kurang cahaya (baik melalui image processor, sensitifitas ISO dan lain sebagainya).

Dan dikarenakan ‘jendela’ yang jauh lebih kecil, dibutuhkan focal length yang lebih pendek lagi (lensa yang lebih wide lagi) untuk menyamai field of view sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor MFT dengan sensor APS-C dan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini, memiliki range harga yang sangat lebar. Di beberapa jenis bisa lebih murah dibanding kamera dengan sensor APS-C, di jenis lainnya bisa jadi sama mahalnya dengan kamera bersensor full-frame.

Karena pada beberapa jenis kamera, dengan kemampuan sensor yang lebih terbatas, fitur yang didukung bisa jadi melebihi fitur yang terdapat pada kamera bersensor full-frame. Beberapa fitur diantaranya adalah dukungan IBIS (in body image stabilizer), 4k video recording, slo-mo video recording, hybrid autofocus, dan lain sebagainya.

Perbedaan dari 3 ukuran sensor tersebut akan mempengaruhi 3 hal berikut:
– Kualitas image yang bisa ditangkap
– Kemampuan kamera bekerja dalam kondisi kurang cahaya
Field of view (lebar pandangan) yang dihasilkan

Pengaruh perbedaan ukuran sensor terhadap field of view

2. MIRRORLESS ATAU DSLR

Bisa dikatakan, kamera DSLR adalah kamera semi-analog. Beberapa bagian dan sistem kerjanya masih menggunakan sistem analog. Sedangkan mirrorless sudah sepenuhnya elektrik. Karena selalu menggunakan sistem elektrik maka kamera mirrorless lebih boros daya dibanding DSLR.

Perbedaan sistem kerja DSLR dengan Mirrorless

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, ada 2 catatan penting yang membuat DSLR lebih baik dari mirrorless adalah:

1. Optical viewfinder (DSLR) dan electronic viewfinder (mirrorless)

OVF (optical viewfinder) menampilkan preview yang realistis. karena menggunakan cermin untuk merefleksikan apa yang dilihat oleh lensa. Sementara EVF (electronic viewfinder) tidak se-realistis optical viewfinder karena pengaruh kualitas viewfinder itu sendiri. Ibaratnya seperti menonton bola di TV atau melihat langsung di stadion.

2. Contrast detect autofocus (DSLR) dan phase detect autofocus (mirrorless)

Contrast detection autofocus yang digunakan di sistem DSLR bisa tetap bekerja di kondisi kurang cahaya (low light). Sedang phase detection autofocus pada mirrorless membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bisa bekerja dengan baik.

Tapi hari ini, kedua perbedaan itu semakin samar. Kedua sistem (DSLR dan mirrorless) saling beradaptasi dan saling menutupi kekurangan. EVF pada mirrorless semakin baik untuk menampilkan preview yang lebih realistis. DSLR sendiri menggunakan kedua viewfinder tersebut, OVF dan EVF pada LCD display-nya.

Dan beberapa jenis mirrorless mulai menggunakan sistem autofocus hybrid (contrast detection dan phase detection) sekaligus. Didukung juga dengan perkembangan battery dari mirrorless yang semakin baik sehingga bisa bertahan lebih lama.

Kedua tipe kamera tersebut saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. DSLR lebih disukai karena berukuran lebih besar dan berkesan kokoh. Mirrorless sendiri lebih praktis karena berukuran kecil.

DSLR lebih disukai, karena untuk mode photography, optical viewfinder merefleksikan detail dengan baik. Sementara mirrorless lebih disukai untuk videography, karena sistem EVF menerapkan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get). Dimana exposure, warna dan detail yang terlihat di EVF sebelum merekam video, persis seperti layaknya video yang sudah direkam.

Hingga pada akhirnya pilihan antara ke dua kamera ini lebih kepada kenyamanan penggunaan. Seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan di waktu menggunakan kamera.

3. IMAGE PROCESSOR

Seperti pada kamera analog, ‘image processor’-nya adalah manusia dengan segala peralatannya yang berada di kamar gelap. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung dari berbagai hal dan proses. Mulai dari kualitas klise foto, kualitas material yang digunakan, kualitas media cetak yang digunakan dan lain sebagainya.

Pada kamera digital, setiap gambar yang dihasilkan adalah hasil proses dari image processor-nya. Pada kamera Canon dikenal processor DIGIC (DIGIC 4, DIGIC 5, DIGIC 5+, DIGIC 7 dan sebagainya). Pada kamera Fuji atau Nikon dikenal processor Expeed (Expeed 4, Expeed 5 dan sebagainya). Sedangkan pada kamera Sony dikenal processor BionZ.

Beberapa jenis image processor

Walau dalam prakteknya terdapat banyak hal yang mempengaruhi kualitas (ukuran sensor, sensitifitas ISO, kualitas lensa dan lain sebagainya), cukup sulit untuk membandingkan antara 2 image processor berbeda (misal antara DIGIC dengan Expeed).

Namun ketika kita kesulitan dalam memilih dua (atau lebih) kamera dari brand yang sama, tidak ada salahnya memastikan image processor yang tertanam pada kamera lebih baru (misal Canon dengan processor DIGIC 7, dengan asumsi memiliki kemampuan yang lebih baik) dibanding kamera Canon lain yang menggunakan processor DIGIC 4.

3. SENSITIFITAS ISO

ISO adalah satuan standar tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Pada ISO minimal, sensor akan merekam gambar dengan kemampuan terbaiknya, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan terlihat sangat baik.

Namun dalam kondisi kurang cahaya, tidak banyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor. Sensitifitas sensor dibutuhkan (meningkatkan nilai ISO) agar lebih peka terhadap cahaya.

Meningkatkan nilai ISO akan membantu sensor menyerap cahaya namun kualitas gambar menjadi tidak terlalu baik. Gambar akan terlihat berbintik atau dikenal dengan istilah noise atau grainy. Dan semakin tinggi nilai ISO maka semakin banyak noise/grainy yang dihasilkan.

Dengan prinsip tersebut, diilustrasikan 2 kamera dengan kemampuan ISO yang berbeda.

Kamera A dengan sensitifitas ISO yang lebih tinggi, misal 12800, masih mampu menghasilkan gambar dengan grainy/noise yang cukup baik dibandingkan dengan kamera B dengan sensitifitas ISO hanya 6400.

Kamera A (ISO range 100-12800) masih mampu mengontrol grainy/noise di ISO 3200 karena hanya menggunakan sekitar 30% dari kemampuan ISO maksimalnya.

Sedangkan kamera B (ISO range 100-6400) walau sama-sama menggunakan ISO 3200 tapi menghasilkan grainy/noise yang lebih tinggi karena sudah menggunakan 50% kemampuan ISO maksimalnya.

Ilustrasi ini hanya dimaksud untuk mempermudah pemahaman, karena dalam prakteknya, banyak hal lain yang mempengaruhi kualitas grainy/noise.

Selain itu, kamera dengan sensitifitas ISO tinggi (misal 52000) memiliki kemampuan low light yang jauh lebih baik dibanding karena dengan ISO maksimal, misal hanya 12800.

4. PILIHAN LENSA

Setiap brand kamera memiliki standar dudukan lensa (lens mounting) masing-masing. Setiap kamera hanya bisa dipasangi lensa dengan mounting yang sama.

Kamera Canon yang menggunakan mounting EF (untuk seri DSLR full-frame), EF-S (untuk seri DSLR APS-C) dan mounting EF-M (untuk seri mirrorless). Pada Sony misalnya, terdapat A-mount (untuk seri DSLR) dan E-mount (untuk seri mirrorless).

Jajaran lensa dari beberapa brand terkemuka

Pilihan lensa mempengaruhi fleksibilitas penggunaan kamera itu sendiri. Tapi selain itu, karena pertimbangan harga dari lensa itu sendiri.

Beberapa orang memilih kamera dengan brand tertentu karena tersedia cukup banyak pilihan lensa. Sedangkan beberapa orang yang lain menghindari brand tertentu karena harga lensanya yang lebih tinggi.

Ketika memilih satu brand tertentu, sebaiknya pertimbangkan juga kebutuhan dan ketersediaan lensa dari brand tersebut.

Memilih satu brand tertentu karena harga kameranya (body) yang lebih murah, tapi (apabila dibutuhkan) memiliki pilihan lensa yang terbatas, tentu tidak baik.

Atau memilih satu brand tertentu karena ketersediaan lensanya yang sangat variatif, tapi mungkin saja tidak kita butuhkan (atau belum tentu mampu kita miliki), sama tidak baiknya.

Untuk itu sebaiknya memilih satu kamera disesuaikan dengan kebutuhan dan budget tersedia.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Beberapa Komposisi Kamera Untuk Fotografi

Fotografi adalah sebuah cerita. Sebuah foto yang baik mampu menyampaikan sebuah cerita, atau membuat orang yang melihatnya mengasumsikan sebuah cerita. Tidak percaya?

Berikut ini beberapa komposisi fotografi yang cukup populer. Komposisi-komposisi berikut ini bisa anda jadikan sebagai referensi.

Rules of Third

Rules of third adalah salah satu komposisi dasar dari fotografi. Pelajaran pertama, fotografi (foto yang baik dan indah) bukan sekedar proses bidik dan potret. Seorang fotografer berusaha menyampaikan ceritanya melalui sebuah frame dengan cara unik.

Rules of third adalah komposisi dengan cara membagi framing sebuah foto menjadi 9 kotak simetris dan meletakkan objek atau point focus foto tersebut di salah salah satu garis, atau titik pertemuan garis tersebut.

Penempatan objek fokus di tengah framing tidak lah salah. Hanya saja mungkin kurang menarik dilihat dan berkesan statis. Apalagi jika framing objek tersebut memenuhi frame. Mungkin lebih terlihat sebagai foto dari sebuah berita.

Pada foto diatas terlihat fotografernya hanya menyampaikan sebuah pernyataan, bukan sebuah cerita. “Hey, ini buku”. Terlihat lebih kaku dan menggambarannya cukup dengan sebuah kalimat.

Sedangkan pada foto diatas terlihat fotografernya menyampaikan sebuah cerita, mungkin seperti “Hey, ini kupu-kupu. Dan dia sedang menggantung di sebuah ranting tanaman. Di waktu hari mulai senja”.

Pada foto diatas selain menempatkan objek utama di titik pertamuan garis, fotografernya juga memanfaatkan salah satu garis horizontalnya sebagai guide cakrawala.

Leading Lines

Leading lines adalah komposisi fotografi yang memanfaatkan objek tertentu dan mencoba mengarahkan mata orang yang melihatkan menuju suatu titik.

Seperti pada foto diatas, fotografernya menggunakan bunga sebagai petunjuk arah untuk mengarahkan mata kita menuju kincir anginnya. Cukup aneh dengan pernyataan sebuah bunga yang kecil bisa dijadikan petunjuk arah. Namun dalam komposisi tersebut terlihat bagaimana si fotografer mampu medapatkan angel yang baik.

Deep of Field

Atau dikenal juga dengan sebutan bokeh, adalah mempersempit area fokus agar objek atau area tertentu menjadi lebih menonjol dari yang lainnya. Pada umumnya foto bokeh lebih banyak menampilkan area out-of-focus dibanding area focusnya.

Seperti pada foto diatas, area focusnya hanya disekitar satu lilitan kawat saja dan area lainnya out-of-focus.

Macro

Foto macro sebenarnya mirip dengan bokep atau deep of field. Hanya saja foto makro menampilkan objek yang kecil. Foto macro digunakan oleh fotografer untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin ada disekitar kita, namun hampir tidak pernah kita perhatikan.

Karena pengaruh objek yang kecil, efek dari lensa mengakibatkan area lain dari objek menjadi out-of-focus. Jadi semakin menonjolkan dan mempertegas objek utama yang ditampilkan.

Silhouettes

Foto siluet hanya menampilan bentuk dari objek dengan memanfaatkan kemampuan kamera, atau hanya dengan pengambilan angel yang tepat. Sebenarnya foto siluet lebih tepat disebut sebagai teknik fotografi.

Namun dengan memanfaatkan beberapa komposisi diatas dan menggabungkannya dengan teknik siluet, kita bisa mendapatkan sebuah foto yang indah.

Reflection

Foto refleksi terlihat seperti membagi dua sebuah gambar sehingga memberi efek cermin.

Walaupun foto refleksi adalah teknik fotografi, namun tetap harus mempertimbangkan komposisi dan angel pengambilan gambar.

Pada gambar di atas terlihat fotografernya menggabungkan teknik reflection dengan teknik siluet.

“S” Curve

Komposisi S curve adalah angel pengambilan foto yang menghasilkan objek melengkung.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.