Posts tagged perbedaan

Beberapa jenis kamera

Semuanya sama-sama kamera. Apa bedanya?

Kita bagi menjadi 3 jenis:

1. Kamera handphone adalah yang paling murah. Harganya berkisar dari 1 jutaan hingga belasan juta.

2. Kamera digital (DSLR atau mirrorless), kisaran harga nya sekitar 5 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

3. Cinema camera, bisa juga dikategorikan sebagai camcorder, karena memang hanya bisa merekam video. Rentang harganya mulai dari puluhan juta hingga mencapai milyaran rupiah.

Sebenarnya apa yang membedakan semua kamera itu?

Cahaya

Pada dasarnya perbedaannya cuma 1: respon kamera tersebut (dalam hal ini kemampuan sensor yang digunakan) terhadap cahaya. Sensor, semacam lempengan kaca yang menerima gambar/cahaya.

Kemampuan sensor merespon cahaya akan mempengaruhi 3 point berikut:

  • detail = sebaik apa image quality-nya
  • exposure = sebaik apa kontrol noise/grainy-nya
  • dynamic range = sebaik apa sensor membaca bagian terang dan bagian gelap dalam satu waktu.

Biaya produksi sensor sangat mempengaruhi harga jual kamera. Untuk itu diciptakanlah sensor-sensor dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga beberapa kamera bisa dijual lebih murah karena menggunakan sensor yang, katakanlah tidak sebagus sensor lainnya.

Selain itu, kemampuan (baca:harga) kamera akan mempengaruhi output yang dihasilkan (bit-depth untuk foto dan bitrate untuk video).

Dalam bahasa yang di sederhanakan dan semoga cukup mudah dimengerti, saya akan coba menjelaskan perbedaannya.

Kamera Handphone

Kamera handphone memiliki banyak keterbatasan.

Tapi perlu diingat, keterbatasan yang dimaksud adalah keterbatasan performa dan spesifikasi. Karena kreatifitas tidak dibatasi oleh apapun 😉

Ukuran dari handphone itu sendiri yang tipis dan kecil, sehingga sensor yang digunakan juga berukuran sangat kecil. Hanya sekitar 0.5 cm. Setengah centimeter. Kira-kira… sebesar baut atau anting 😉

Baik Samsung Note 10, iPhone XS, Huawei P30 dan lain sebagainya. Menggunakan sensor yang berukuran kurang lebih sama.

Sebenarnya sensor berukuran kecil pun sudah mampu menghasilkan detail yang baik. Faktor pertama terpenuhi, detail.

Hanya saja karena berukuran kecil, cahaya (faktor ke 2), tidak terpenuhi. Tidak banyak cahaya yang bisa diserap oleh sensor kecil tersebut. Minimnya cahaya yang diserap akan menghasilkan noise atau grainy pada foto dan video yang dihasilkan.

“Noise atau grainy adalah efek yang timbul pada gambar (baik foto atau video) berupa bintik-bintik kecil. Bintik-bintik kecil ini akan membuat foto/video terlihat tidak tajam dan terkesan buram (mengurangi detail)”

Katakanlah sebuah handphone (dengan sensor kecilnya) mampu menghasilkan foto/video dengan tingkat detail 100%. Tapi karena minimnya cahaya yang diserap, muncul noise atau grainy misal, sekitar 30% (noise dan grainy ini kondisional tergantung situasi pada saat pengambilan foto/video tersebut).

Sehingga hasil akhirnya, katakanlah handphone tersebut hanya menghasilkan foto/video dengan nilai 70%. Ingat, ini hanya ilustrasi, untuk mempermudah pemahaman.

Dan faktor ketiga, yaitu dynamic range. Dynamic range adalah kemampuan sensor untuk ‘melihat’ area terang dan area gelap sekaligus, dalam satu waktu.

Kemampuan dynamic range bisa dilihat dari gambar dibawah.

Sensor dengan kemampuan dynamic range yang terbatas (sensor pada kamera handphone) harus memilih salah satu dari dua kondisi;
a. Mengekspos langit untuk mendapatkan gradasi cahaya matahari yang bagus, maka bagian air, batu dan buih ombaknya akan terlihat gelap. Atau;
b. Mengekspos buih ombak dan batunya, maka bagian langit menjadi sangat terang bahkan pucat putih tanpa menyisakan bentuk apapun (baik posisi matahari atau tekstur awan).

Sensor kamera handphone tidak mampu membaca kedua bagian cahaya tersebut (mengekspos langit/matahari dan ombak) sekaligus dalam satu waktu.

Karena itu kamera handphone seringkali dilengkapi dengan fitur HDR (high dynamic range) dimana kamera akan mengambil beberapa foto sekaligus (dengan pilihan exposure yang berbeda-beda) untuk kemudian dijadikan satu foto yang baru. Tapi fitur HDR ini dilakukan secara software, bukan karena kemampuan sensornya.

Sementara itu kamera handphone akan terkendala dengan kemampuanya menghasilkan output maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan handphone itu sendiri, baik dari sisi processor, kecepatan internal storage-nya untuk memproses foto/video berkualitas tinggi, atau pun untuk menghindari resiko overheat.

Kamera Digital (DSLR atau mirrorless)

Kamera digital mempunyai ukuran sensor yang relatif lebih besar. Relatif paling besar diantara kamera-kamera lain, sehingga mampu menangkap detail yang lebih baik.

Dalam hal ini seperti Canon 1Dx, Sony A7, Nikon D750 dan lain sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang sangat besar kamera digital mampu menghasilkan foto hingga mencapai 100 megapixel dengan detail yang sangat baik. Faktor pertama yaitu detail, bernilai sangat baik.

Namun untuk faktor ke 2 yaitu exposure, masih membutuhkan pencahayaan tambahan agar terhindar dari resiko noise dan grainy. Karena itu baik photographer atau videographer yang bekerja menggunakan kamera digital DSLR atau mirrorless masih membutuhkan lampu blitz/flash atau video lighting tambahan.

Dan faktor ke 3 yaitu dynamic range. Semakin besar ukuran sebuah sensor maka secara otomatis akan semakin baik kemampuan dynamic range-nya. Jadi tanpa menambahkan teknologi-teknologi tertentu (seperti HDR), dynamic range kamera digital (karena ukurannya) lebih baik dibanding kamera handphone.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Foto tersebut biasanya dihasilkan dalam format RAW dengam bit depth hingga 16bit.

Namun kamera digital masih kesulitan menghasilkan output video berkualitas tinggi. Karena itu kebanyakan kamera digital hanya mampu menghasilkan video dengan bitrate antara 25mbps hingga 100 mbps.

Selain itu terbatas dalam durasi video yang bisa direkam. Untuk menghindari resiko overheating.

Kamera Cinema

Kamera digital dengan sensor besar harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Cinema camera yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, apakah berarti sensornya jauh lebih besar lagi??

Teknologi dan format video komersil terbesar saat ini, yaitu 4K beresolusi 3840 pixel x 2160 pixel = 8.294.400 pixel (8 megapixel). Jadi untuk membuat video beresolusi 4K hanya membutuhkan sensor dengan output 8 megapixel!!

Hanya butuh sensor seukuran sensor kamera handphone untuk menghasilkan video beresolusi 4K. Terbukti dari hampir semua handphone terbaru saat ini sudah mampu merekam video 4K.

Dimana dengan sensor kamera handphone-pun, faktor pertama (detail) sudah terpenuhi.

Tapi kenyataannya, rata-rata ukuran sensor cinema camera hanya setengah dari ukuran sensor kamera digital (sensor full-frame). Lebih tepatnya seperti ukuran sensor APS-C pada kamera digital.

Namun diluar ukuran ataupun maksimal resolusi yang mampu dihasilkan, teknologi dibelakang sensor cinema camera sangat berfokus pada kemampuannya dalam mengolah cahaya.

Dimana salah satu kemampuan tersebut terlihat dari gambar yang hampir selalu bebas noise dan grainy. Sensor cinema camera tidak selalu membutuhkan pencahayaan tambahan. Bahkan dalam kondisi yang minim cahaya pun, sensor cinema camera mampu menjaga noise dan grainy di nilai terendah. Faktor ke 2, bernilai sangat baik

Salah satu penyebabnya, karena pada cinema camera digunakan 2 atau 3 (dan bahkan lebih) sensor sekaligus. Masing-masing sensor akan melipat-gandakan kemampuan kamera tersebut terhadap exposure (mengurangi noise/grainy) dan dynamic range (menangkap detail area gelap dan terang sekaligus).

Kemampuan bebas noise dan grainy serta kemampuan dynamic range yang sangat baik ini seringkali tidak bisa dicapai oleh kamera-kamera lain. Faktor 3 bernilai sangat baik.

Kemampun mengolah cahaya juga akan mempengaruhi kempuan dynamic range-nya.

Cinema camera, dimana ada dasarnya hanya bisa digunakan untuk merekam video, mampu menghasilkan video dengan output tertinggi.

Karena cinema camera didukung oleh processor khusus, biasanya dilengkap dengan harddisk atau SSD, serta sistem pendingin sehingga bisa merekam video dalam waktu yang lama.

Kesimpulan

Jadi secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut:

Kamera handphone: Exposure yang terbatas. Selalu beresiko mengalami penurunan detail (noise dan grainy) karena sensitifitas sensor terlalu rendah. Kemampuan dynamic range yang sangat rendah dan membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan.

Kamera handphone mampu memotret cepat (atau biasa dikenal dengan istilah burst), mampu merekam video slow-motion, dan mampu merekam dalam wakt yang lama.

Hanya saja foto/video yang dihasilkan tidak dengam output maksimal karena dipengaruhi oleh kemampuan processor, kemampuan internal storage, serta kemampuan untuk menghindari overheating.

note: handphone adalah device praktis. jadi dalam prakteknya, sangat jarang pengguna kamera handphone menggunakan dukungan lighting/pencahayaan tambahan

Kamera digital: Exposure lebih baik. Tersedia seting manual untuk adaptasi terhadap berbagai kondisi dan situasi. Membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan. Kemampuan dynamic range yang lebih baik.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Tapi masih terbatas untuk video. Ditandai dengan penggunaan SD card (untuk kecepata yang lebih baik), dan kemampuan rekam video yang terbatas untuk menghindari overheating.

Kamera cinema: Mampu menghasilkan detail dan exposure yang sangat baik tanpa lighting/pencahayaan tambahan. Dan kemampuan dynamic range yang terbaik.

Kamera cinema didukung kemampuan sensor terbaik di dalam sistem yang kompleks (dengan processor, harddisk/SSD, serta sistem pendingin) sehingga mamp menghasilkan output video maksimal.

Perbedaan F-stop dan T-stop

Berikut ini sejarah singkat, diluar detail dan waktu kejadian, perbedaan kedua ‘stop’ tersebut.

Pada suatu ketika, dahulu kala, dimana pada saat itu nilai ukur (data angka) dari sebuah lensa hanya menggunakan istilah f-stop. Pada dasarnya angka yang tertera pada f-stop adalah hasil kalkulasi antara focal length berbanding besar diameter bukaan lensa.

Lensa 50mm dengan bukaan f/2.0, artinya diameter bukaannya: 25mm (50 diambil dari mm focal length kemudian dibagi 2 yang diambil dari nilai f-stop).

Jadi kita bisa mengetahui besar diameter bukaan dari sebuah lensa tanpa harus capek-capek mengukur menggunakan penggaris, apalagi sampe membongkar lensanya.

Menelusuri nilai f/stop dari beberapa lensa.

Melalui hasil penelusuran diatas, bisa dipahami bahwa perbedaan ukuran diameter bukaan (perbedaan nilai f/stop) akan mempengaruhi ukuran body lensa tersebut. Karena nilai f-stop dari lensa itu mempengaruhi diameter aperture blade. Sehingga beberapa lensa memiliki ukuran yang lebih besar dibanding beberapa lensa lainnya. Walaupun memiliki focal length yang sama.

Perbedaan fisik lensa terhadap diameter bukaan (diluar nilai f-stop-nya)

Katakanlah, lensa zoom 500mm dengan f/2.0, artinya bukaan lensa mencapai 250mm (atau 25cm). Berarti ukuran tabung lensa menjadi sangat besar.

Dibandingkan dengan, misal, lensa 500mm dengan f/5, bukaan lensa 100mm (atau 10cm), artinya ukuran fisik lensa mungkin berkisar antara 11-13cm.

Masalah pertama.

Dalam prinsip photography, semakin besar nilai f-stop sebuah lensa maka akan semakin baik kemampuan exposure-nya. Misal, lensa 50mm dengan f/1.8 memiliki kemampuan exposure yang lebih baik dari lensa 50mm f/3.5.

Namun dalam contoh berikut ini, lensa 30mm f/1.2 memiliki diameter bukaan sama persis (25mm) dengan lensa 50mm f/2.0

Artinya kedua lensa tersebut, walau memliki nilai f-stop yang berbeda, tapi memiliki kemampuan exposure yang sama.

Contoh kedua; lensa 35mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 19.5 mm (35 dibagi 1.8). Dibandingkan dengan lensa 50mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 27.8mm (50 dibagi 1.8). Walau kedua lensa tersebut memiliki nilai f-stop yang sama, tapi kemampuan exposure lensa 50mm lebih baik karena diameter bukaan yang lebih besar.

Masalah kedua.

Misal, lensa Canon 50mm 1.8 dengan lensa Sony 50mm 1.8. Kedua lensa tersebut memiliki diameter bukaan yang sama, sekitar 27.8mm.

Namun karena berbagai hal seperti konstruksi internal lensa atau kualitas material yang digunakan dan lain sebagainya, keduanya tidak memiliki kemampuan exposure yang sama.

Sehingga disimpulkan bahwa: semakin rendah nilai f-stop suatu lensa (1 lensa), semakin baik kemampuan exposurenya. Tapi f-stop sama sekali tidak bisa dijadikan patokan kemampuan exposure beberapa lensa sekaligus.

Masalah ketiga.

Kembali ke jaman dahulu kala, saat istilah videographer hanya dikenal dalam produksi film layar lebar. Dimana hal tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan team yang cukup besar. Seringkali terkendala oleh kemampuan expoure yang berbeda dari setiap lensa.

Untuk itu dibutuhkan satu nilai yang lebih akurat dalam menentukan kemampuan lensa dalam merespon cahaya. Agar proses produksi film layar lebar pada waktu itu terhindar dari kesalahan exposure yang bisa menyebabkan pengeluaran waktu dan biaya post-production yang lebih besar terkait footage yang tidak ter-exposure dengan baik.

Hingga kemudian diterapkanlah standar nilai t-stop atau ‘transmission stop’, yaitu nilai ukur kemampuan exposure dari sebuah lensa. Nilai t-stop dihitung menggunakan metode uji coba, berbeda dengan nilai f-stop yang dapat dihitung hanya berdasarkan data teknis dimensi lensa.

Dengan menggunakan standar t-stop, setiap lensa yang berbeda (baik dari focal length, atau material yang digunakan, atau penerapan sistem internal yang berbeda, atau berbagai perbedaan lainnya) tapi memiliki nilai t-stop yang sama, misal T/1.5, artinya lensa-lensa tersebut memiliki kemampuan exposure yang sama persis.

Dalam proses produksi video setiap scene dan adegan biasanya membutuhkan spesifik komposisi dan penggunaan lensa tertentu. Penerapan standar t-stop ini sangat membantu menjaga exposure dengan baik walau menggunakan berbagai lensa yang berbeda.

Penutup

Karena pada awalnya lensa denga nilai t-stop adalah sebuah solusi terkait produksi film layar lebar (video), maka hingga hari ini lensa dengan standar t-stop tetap lebih populer digunakan dalam dunia videography dan dikenal dengan nama cinema lens.

Sedangkan untuk lensa photography pada umumnya masih tetap menggunakan standar f-stop.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Perbedaan Handphone iPhone dan Android

Pengalaman saya sebagai pengguna iPhone sekaligus Android. Beberapa waktu yang lalu sebelum saya memiliki iPhone cukup banyak teman-teman yang sangat ‘pro’ Android dan sekaligus sangat ‘kontra’ terhadap iPhone.

Kenapa? Hanya ada satu jawaban, spesifikasi. Bagaimana dengan harga? Harga adalah bahasan relatif. Acuan harga, ‘iPhone terlalu mahal’, menurut saya tidak lebih dari sekedar pernyataan ketidakmampuan.

Secara spesifikasi iPhone memang sangat jauh tertinggal dari Android. Tentang core dan clock processornya, tentang kapasitas ram-nya, tentang resolusi kameranya, tentang kualitas layarnya, dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan atau mempromosikan smartphone tertentu. Hanya mencoba secara objektif mengajak pembaca untuk lebih bijak menanggapi perbedaannya. Penulis sendiri memiliki pengalaman menggunakan 2 smartphone Android (Samsung S4 Mini dan Samsung Note 2) dan 2 produk Apple (Ipod Touch 5th dan iPhone 5s).

Samsung S4 Mini rilis tahun 2013
Snapdragon 400 Dual Core 1.7 GHz, 1.5 Gb RAM, 8 MP camera
Samsung Note 2 rilis tahun 2012
Exynos 4412 Quad Core 1.6 GHz, 2 Gb RAM, 8 MP camera
iPod Touch 5th rilis tahun 2011
Apple A5 Dual Core 1 GHz, 512 Mb RAM, 8 MP camera
iPhone 5s Rilis tahun 2013
Apple A7 Dual Core 1.3 GHz, 1 Gb RAM, 8 MP camera

Processor

Smartphone Android saat ini berlomba-lomba dengan multi-core processornya. Quad-core, octa-core, dan bahkan 2 processor sekaligus (misal 1 octa-core berpasangan dengan 1 quad-core). Belum lagi masalah clock processornya yang semakin tinggi. Sebagai contoh adalah Samsung S6 memiliki 2 processor; quad-core 2.1 GHz dan quad-core 1.5 GHz.

Sedangkan iPhone, bahkan seri terakhir iPhone 6S Plus pun, hanya menawarkan 1 (satu) processor dual-core dan dengan clock hanya 1.8 GHz.

Sebenarnya kedua processor tersebut tidak layak dibandingkan. Membandingkan kedua processor tersebut seperti membandingkan antara mobil dengan motor. Sama-sama alat transportasi tapi dengan filosopi, teori, fisik, dan berbagai hal lainnya yang sangat berbeda.

Saat ini kita mengenal 3 processor yang umum digunakan. Processor PC/laptop, processor Android dan processor iPhone. Walaupun sama-sama processor, tapi ada banyak faktor yang membedakan antara satu dan lainnya.

Processor Android selayaknya processor PC/laptop, diciptakan untuk menangani banyak hal sekaligus. Sebagaimana kita menggunakan PC/laptop, bisa digunakan untuk browsing internet, menonton, bermain game, rendering/editing dan sebagainya. Yang dalam prakteknya, dengan segala kelebihan tersebut (core dan clock yg sangat bagus), bahkan ternyata sebuah smartphone tidak benar-benar membutuhkan semua kelebihan tersebut.

Berbeda dengan processor iPhone, diciptakan hanya untuk menangani apa yang dibutuhkan. Apple hanya berfokus pada efektifitas dibanding kuantitas. Hasilnya, kualitas yang lebih baik. Sebagai contoh processor A6 (dual-core) Apple dengan clock hanya 1 GHz memiliki performa setara dengan processor Android Exynos (quad-core) 1.4 GHz.

Dan jangan lupakan tentang monopoli Apple terhadap produknya. Perangkat keras (processor, RAM, dan sebagainya) dan perangkat lunak (sistem operasi iOS) dirancang oleh 1 orang yang sama. Setiap detail kemampuan perangkat kerasnya didukung dengan sangat baik oleh sistem operasinya. Dan setiap kemampuan sistem operasinya didukung dengan perangkat keras yang benar-benar sesuai. Dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi 1 ditambah 1 adalah 2, atau 1 dikurang 1/4 adalah 3/4, maka tidak heran walau spesifikasinya rendah tapi mampu menghadirkan performa yang sangat tinggi.

Sedangkan pada Android sistem operasi dan perangkat kerasnya dirancang terpisah. Pengembangan perangkat kerasnya  yang berbeda-beda (samsung, LG, qualcomm dll) didesain agar selalu pas dengan sistem operasinya. Dan sistem operasinya (Android, yang dikembangkan oleh Google) dirancang agar mampu bekerja dengan baik pada semua perangkat tersebut. Sehingga akan ada beberapa kekosongan (ketidak-efektifan) yang terjadi.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Apple cuma dual-core 1.8 GHz sedangkan Android octa-core 2.1 GHz”, maka jawabannya adalah “Apple hanya butuh dual-core 1.8 GHz, yang tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu mengalahkan quad-core 2.1 GHz Android”.

Processor (lanjutan)

Rata-rata smartphone Android sekarang dilengkapi 2 processor sekaligus. Dual-core dengan quad core (2 + 4), quad core dengan quad-core (4 + 4), atau bahkan octa-core dengan quad-core (8 + 4).

Dalam teorinya, kedua processor itu akan bekerja bergantian sesuai kebutuhannya. Apabila kebutuhan processornya lebih kecil maka processor A akan bekerja. Apabila kebutuhannya lebih besar maka processor B akan bekerja.

Sebenarnya iPhone juga memiliki 2 processor. Hanya saja, dengan teori yang berbeda dibanding sistem processor Android.

Pada iPhone, masing-masing processor memiliki tugas yang berbeda. Dan kedua processor tersebut selalu aktif secara bersamaan, menangani kebutuhan sesuai dengan spesialisasinya.

Battery

Dengan core dan clock yang sangat tinggi ditambah lagi dengan tuntutan 2 processor wajar apabila Android memiliki kapasitas baterai yang lebih besar. Smartphone Android menawarkan kapasitas baterai yang lebih besar justru karena tuntutan perangkat kerasnya, bukan demi kenyamanan penggunanya.

Jangan menganggap sebuah smartphone Android menggunakan baterai dengan kapasitas 2.500 mAh atau bahkan diatas 3.000 mAh dengan tujuan agar penggunanya bisa lebih lama menggunakan smartphone tanpa harus diisi ulang. Smartphone Android tersebut ‘terpaksa’ dan harus menggunakan baterai dengan kapasitas begitu besar hanya agar paling tidak bisa bertahan sekitar 10 hingga 12 jam karena permintaan daya dari perangkat kerasnya yang terlalu tinggi.

Sedangkan iPhone hanya memiliki 1 processor, dan dengan clock dan core yang rendah, sehingga baterai berkapasitas kecil pun sudah cukup untuk menyamai kemampuan bertahan baterai Android. Kenyamanan pengguna merupakan alasan utama kapasitas baterai.Karena kebutuhan daya dari perangkat keras tidak besar.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Baterai iPhone sangat kecil tidak seperti baterai Android”, maka jawabannya “Android membutuhkan baterai 3.000 mAH untuk bertahan seharian, iPhone hanya butuh 1.500 mAH untuk bertahan seharian”.

Kamera

Saat ini cukup banyak smartphone Android memiliki resolusi kamera diatas 15 Mp. Beberapa diantaranya bahkan hingga lebih dari 20 Mp. IPhone 6s Plus sebagai seri terbaru dari Apple, hanya memiliki kamera dengan resolusi 12 Mp.

Resolusi, hanya berhubungan dengan ukuran. Resolusi atau megapixel tidak berhubungan dengan kualitas hasil. Jendela berukuran lebar menawarkan area pandang yang lebih luas. Tapi kualitas pandangannya bergantung pada sebagus apa kaca pada jendela tersebut

Detail kemampuan dasar kamera seperti ISO, focus, exsposure dan sebagainya lebih menentukan dibanding sekedar hasil yang besar (resolusi).

Sebagai media pembanding menggunakan aplikasi video recording yang pada awalnya hanya dibuat untuk iPhone bernama FiLMiC Pro. Aplikasi yang sudah dinobatkan sebagai aplikasi Video Camera terbaik tersebut memaksimalkan semua kemampuan kamera pada iPhone. Dan belum lama ini aplikasi tersebut juga disediakan untuk Android. Hanya saja, terbukti, tidak semua smartphone Android bisa menikmati semua fungsi yang disediakan oleh aplikasi tersebut.

Sesuai detail spesifikasi dari pengembangnya, FiLMiC Pro kompatibel (dapat menggunakan semua fitur yang tersedia) mulai dari iPhone 4s, yang rilis tahun 2011, yang pada saat ini harga bekasnya mungkin sekitar 1.5 hingga 2 juta. Sedangkan FiLMiC Pro versi Android, dari beberapa review di play store, cukup baik digunakan di Samsung Galaxy S6, Samsung Galaxy S7 dan Samsung Note 5 (yang rilis tahun 2016 dan dengan harga diatas 10 juta).

Sesuai pengantar diawal, harga tidak etis untuk dijadikan perbandingan. Karena pada hasil review aplikasi, sebuah kamera seharga 1.5 – 2 juta memiliki fitur dan kemampuan yang sama dengan kamera bernilai diatas 10 juta.

Baca review FiLMiC Pro untuk Android dan review FiLMiC Pro untuk iPhone.

Kesimpulan.

Android dan iPhone memang sama-sama smartphone. Hanya saja kita harus lebih bijak dan bila perlu melakukan riset terlebih dahulu, sebelum berani memutuskan mana yang lebih baik. Ketika menggabungkan Android dan iPhone ke dalam kategori ‘smartphone’ dan kemudian membandingkannya, tidak berbeda seperti menggabungkan mobil dengan pesawat ke dalam kategori ‘alat transportasi’ kemudian membandingkannya.

Apabila hanya melihat dari luar, hanya membandingkan secara angka yang tertera, tidak satupun angka dari iPhone yang lebih tinggi dari Android. Diluar performa dan kemampuan, iPhone kalah telak dari Android.

Android: core processor yang lebih banyak, clock processor yang lebih tinggi, kapasitas RAM yang lebih besar, resolusi kamera yang lebih besar, ukuran layar yang lebih besar, dan sebagainya.

iPhone: core processor lebih sedikit, clock processor lebih rendah, kapasitas RAM rendah, resolusi kamera rendah, ukuran kayar lebih kecil dan sebagainya.

Tapi dalam pengalaman saya menggunakan 2 Android dan 2 produk Apple, semua kemampuan ‘rendah’ tersebut tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu menggulingkan kemampuan Android.

Hanya saja harus diakui, satu-satunya hal yang tidak lebih baik dari iPhone hanyalah kemampuan layarnya. Samsung sudah sejak lama menawarkan layar Super AMOLED untuk smartphonenya sedangkan iPhone masih menggunakan LCD IPS. Layar LCD IPS iPhone lebih baik dari kebanyakan smartphone Android hanya saja masih lebih ‘wah’ layar Super AMOLED dari Samsung.

Sangat disayangkan cukup banyak pertanyaan yang tidak mengenakkan tentang iPhone, sebelum melakukan riset atau memiliki pengalaman langsung. Bahkan beberapa pernyataan yang ada berasal dari orang-orang yang sebenarnya cukup awam dibidang teknologi.

Salah satu pernyataan yang cukup tegas adalah yang pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi seperti yang dilakukan produsen Android pada umumnya. Jangan lupakan bahwa kata ‘smartphone’ itu sendiri mulai populer digunakan pada tahun 2007 ketika Apple merilis iPhone pertamanya. Dan masih banyak inovasi-inovasi Apple lainnya seperti Siri, smartphone yang berbicara, atau “Hello Google” pada Android. Teknologi finger print atau Touch ID.

Dan ketika teknologi komunikasi seluler masih terbagi 2 antara GSM dan CDMA, iPhone telah mengasung teknologi unified LTE dan lain sebagainya.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.