Posts tagged samsung

Huawei Honor Band 5

Awalnya dari ngedit video temen yang suka ikut marathon. Walaupun keliatannya ‘cuma lari doang’, tapi ternyata modalnya gede juga.

Bajunya, celana, sepatu, belum lagi biaya daftar event marathon itu sendiri. Dan salah satu yang paling mahal adalah fitness tracker-nya. Kebetulan, dia pakenya yang merk Garmin. Jutaan sih..

Beres ngedit video itu gue jadi penasaran sama alat ini. Tapi gue kan bukan pelari profesional. Belum lagi, budget pas-pasan. Ya kali kaya gue mau beli Garmin juga. Budgetnya ga bisa buat smartwatch, paling cuma bisa buat smartband (yang juga punya fitur fitness tracker).

Update!! Ada beberapa update yang gue selipin di bagian-bagian tertentu yang ditandai dengan tulisan tebal (bold). Update-nya berkaitan dengan Mi Band 4 punya teman gue.

Sebelum mutusin beli, ada 4 smartband yang masuk pilihan gue; Huawei Band 3 Pro, Mi Band 4, Samsung Fit-E, dan Honor Band 5.

Ke 4 nya masuk dalam kategori smartband. Selain karena bentuknya yang memanjang selayaknya band (gelang), bukan bulet atau kotak (square), harganya pun dalam range yang sama. Samsung Fit-E dan Huawei Band 3 Pro sekitar Rp. 650.000. Sedangkan Mi Band 4 dan Honor Band 5 sekitar Rp. 450.000.

Eliminasi pertama gue adalah display dari smartband tersebut. Gue eliminasi Samsung Fit-E dan Huawei Band 3 Pro karena display-nya belum AMOLED. Karena gue ngeliat smartwatch temen gue yang lain, Amazfit Bip, yang kualitas display-nya menurut gue biasa banget. Malahan yang Samsung Fit-E masih monokrom.

Jadi, Mi Band 4 dan Honor Band 5 display-nya udah pake AMOLED. Berwarna, pixel yang lebih rapet, dan pasti lah lebih kece dibanding yang bukan AMOLED.

Jadi tersisa 2 pilihan ini, Mi Band 4 atau Honor Band 5 yang walaupun, FYI, keduanya belum resmi ada di Indonesia. Di official website Mi Indonesia, smartband ter-update-nya masih Mi Band 3. Sedangkan di official website Honor global ter-update Honor Band 4 (Honor Indonesia cuma jualan smartphone, jadi sama sekali ga ada smartband atau pun smartwatch).

Dari riset lanjutan melalui artikel, berita, atau video (yang kebanyakan tentang Mi Band 4 dan sangat sedikit sekali yang membahas Honor Band 5), buat gue ada 2 hal paling mencolok diantara keduanya.

Bahkan cuma lewat foto (atau video), gue jauh lebih suka desain Mi Band 4! Simple dan sekaligus low profile. Sejalan dengan fungsinya sebagai data collector terhadap aktifitas si pemakai. Jadi ga perlu terlihat elegan sebagai aksesoris (hiasan) sekaligus.

Sementara Honor Band 5 kelihatan lebih elegan. Tapi bukan karena ke-eleganan-nya ya, memang gue lebih sreg aja sama desain Mi Band 4. Walaupun, Honor Band 5 punya 1 fitur tambahan yang ga ada di Mi Band 4, oxygen saturation.

Pilih desain yang lebih kece, tapi ga ada fitur oxygen saturation. Atau pilih yang ada oxygen saturation tapi desainnya kurang gue suka. Dua hal yang membuat gue galau.

Jadi, kalo diulang dari bahasan awal, gue bukan pelari profesional (atau yang giat berolahraga). Apalagi budget pun terbatas. Kenapa ga beli yang fiturnya lebih komplit aja. Karena ini kan fitness tracker, bukan jam yang akan gue pake setiap hari. Bukan sesuatu yang akan jadi aksesoris gue dalam berbagai kegiatan. Dan menurut gue, ga masuk dalam daftar device/gadget yang akan gue upgrade suatu saat nanti.

Beda ya kalo misalnya ngomongin smartphone, atau laptop, atau misalnya smart TV. Suatu saat mungkin device/gadget itu akan out-of-date, terasa lemot, atau ketinggalan fitur/teknologi baru. Dengan meng-upgrade (mengganti) ke yang lebih baru, performanya jadi lebih baik dan (biasanya) kebagian fitur/teknologi terbaru yang ada saat itu.

Tapi kalo ngomongin smartband, gue rasa ga ada yang namanya degradasi perfoma. Karena setiap data yang diambil langsung ditransfer ke handphone. Dan, kalo ngomongin evolusi, ga banyak evolusi di area ini.

Fitness tracker (baik smartband atau pun smartwatch), adalah kompilasi antara pedometer, accelerometer dan altimeter buat ngumpulin data aktifitas. Kalaupun ada evolusi, ditambahin jam (karena pada dasarnya fitness tracker hanyalah alat kecil yang ga butuh display). Kalaupun ada evolusi, ditambahin music player controller atau remote camera shutter. Kalaupun ada evolusi, ditambahin informasi cuaca. Kalaupun ada evolusi, bisa me-relay notifikasi yang ada di smartphone.

Fitur-fitur out of the box yang walaupun memang berguna, tapi kadang gue ngerasa sebenarnya itu lebih ke urusan strategi penjualan dari produsennya. Menambahkan fitur sebanyak-banyaknya (walaupun ga ada hubungan sama sekali dengan fitness atau kesehatan), agar produknya terjual lebih banyak.

Evolusi gede dan paling penting yang ada di smartband (atau pun smartwatch) adalah adanya fitur heart rate detector. Yang lalu dikembangkan menjadi ada sleep analyze, dan sekarang ada fitur blood oxygen saturation.

Jadi kira-kira akan ada evolusi apa lagi (yang berhubungan dengan fitness/kesehatan) di smartband (atau smartwatch) nantinya?

Jadi gue rasa Honor Band 5 ini udah sangat mewakilkan semua kebutuhan (yang berhubungan dengan fitness/kesehatan) baik hari ini atau mungkin beberapa tahun ke depan. Ini lah yang membuat gue memutuskan memilih Honor Band 5.

Kemasan

Pesen di toko online pake gojek instant. Semua tulisan yang ada di box-nya berbahasa Cina. Kecuali angka 5, dan nama Honor itu sendiri di bagian depan. Setelah di buka, manual-nya pun berbahasa Cina.

Beda dengan Mi Band 4, ada versi Cina dan versi global. Yang versi Cina berbahasa Cina semua, nyala dalam bahasa Cina (yang otomatis berganti ke bahasa inggris kalo udah konek ke smartphone), dan manual-nya pun cuma lembaran kertas berbahasa Cina. Sedangkan versi globalnya box-nya campuran antara inggris dan Cina, nyala dalam posisi bahasa inggris, dan manual-nya berbentuk buku dalam beberapa bahasa.

Sedangkan Honor Band 5 ini, yang bahkan di official website-nya sendiri belum ada informasi apapun, semuanya berbahasa Cina. Nyala pertama dalam posisi bahasa Cina. Manualnya pun lembaran kertas berbahasa Cina.

Tapi..

Menurut gue smartband ini kelihatan mewah. Memang, harganya ga 100-200 ribu. Karena gue pernah liat smartwatch 200 ribuan di salah satu konter hp, yang kelihatan ‘barang cina banget’. Jadi sebelumnya gue sempet underestimate karena Honor (atau Huawei itu sendiri) memang perusahaan Cina.

Tapi finishing Honor Band 5 ini nya bagus dan rapi. Diluar bayangan gue ya, kalo dibandingin sama smartwatch 200 ribu yang pernah gue liat itu.

Kuncian strap-nya ada logo honor dan dibagian bawah strap-nya ada signature dari Huawei. Strap-nya lembut, dengan desain seperti strap jam pada umumnya. Dibanding strap Mi Band 4 yang mirip Apple Watch yang karena posisi lobang-lobangnya katanya seringkali ga bener-bener pas sama pergelangan tangan dan agak sulit dipasang karena harus di tekan.

HUAWEI TECHNOLOGY CO.LTD
SHENZHEN.516129.PRC MADE IN CHINA
Signature di bagian dalam strap.

Selain itu Honor Band 5 ini terasa lebih praktis karena bisa di charger langsung tanpa harus ngelepas strap.

Mi Band 4 juga punya desain dan finishing yang bagus dan rapi. Sama-sama kelihatan mewah. Tapi untuk selera pribadi, gue sendiri lebih suka desain dari Mi Band 4.

Btw, sempat bingung gimana cara nyalain smartband ini. Ga ada tombol fisik. Manual-nya pun dalam bahasa Cina yang setelah di scan pake google translate, ga ada bagian yang ngejelasin cara nyalain smartband ini. Setelah googling, ternyata harus di konek ke charger.

Update Firmware

Install dan buka aplikasi Huawei Health, memang ada pilihan Honor Band 5 (padahal di official website-nya aja belum ada). Pairing, bahasa di smartband langsung berganti ke english, dan ada notif untuk update firmware.

Langsung pilih update. Layar di smartband berubah ke gambar panah dengan lingkaran muter-muter. Sampe progress 100%, smartband masih dengan panah dan lingkaran muter-muter, tapi status di aplikasi disconnect. Kok disconnect??

2 menit, 5 menit, kok stuck disitu?? Nyari di google ga ada informasi apa-apa. Baru mau nge-chat penjualnya, eh layarnya udah di tampilan jam.

Waw, memang beda. Jelas lebih bagus dari display di Amazfit Bip punya temen gue. Walaupun, tampilan ikon atau watch face-nya biasa aja. Display sih udah AMOLED, berwarna dan nyala lebih bagus. Tapi watch face dan icon-icon-nya kok biasa aja ya. Kurang greget gitu. Swipe-up, swipe-down atau swipe-right sepertinya udah jadi fungsi standar pengoperasian smartwatch atau smartband.

Cek aplikasi, ternyata ada notifikasi update lagi. Oke, gue harus baca dulu. Salah satunya tentang optimalisasi pilihan workout, dan di bagian bawahnya ada catatan membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Jadi sepertinya memang proses update-nya lama.

Langsung gue update lagi.

Setelah sekitar 20 menit ternyata smartband-nya nge-restart, dan setelah boot-up ternyata tampilannya lebih oke!! Berasa banget ya, kalo display AMOLED didukung desain watch face atau icon yang cakep. Ikon-ikonnya lebih kece karena pake background berwarna.

Beda dengan icon yang ada di Mi Band 4, icon-icon Honor Band 5 kelihatan lebih kece.

Menu

Default-nya ada 8 menu; pedometer (catatan langkah), sleep analyze, message (relay notifikasi dari smartphone), workout (pilihan aktifitas), heart rate, blood oxygen, more (atau setting), dan Alipay.

Icon-nya ga cuma gambar orang lari. Tapi dikasih background pendaran warna orange di belakangnya.

Gue rasa cukup. Ga ada yang kurang dan gue ga mikirin lebih.

Fitur kebugarannya (fitness) komplit; pedometer, workout, sleep analyze, heart rate detector, dan blood oxygen saturation detector. Ada 5 point.

Layarnya responsif buat swipe-up, swipe down, swipe-right dan tombol utama dibagian bawah dengan lingkaran putih.

Aplikasi Huawei Health

Aplikasinya juga punya 5 card (bagian informasi) yang anehnya, justru nampilin informasi weight ketimbang blood oxygen.

Jadi 4 informasi lain tetap ada; pedometer, heart rate, workout, sleep analyze, dan, weight(?). Ga ada bagian khusus untuk blood oxygen saturation. Jadi menu blood oxygen saturation ini hanya ada di smartband.

Di bagian setting, semuanya adalah detail setting untuk smartband itu sendiri. Jadi aplikasi Huawei Health ini minim kostumasi, tapi punya kostumasi komplit buat smartband-nya.

Ada pilihan buat ngeaktifin fitur Huawei TruSleep yang katanya lebih akurat dalam mendeteksi tidur.

Pilihan untuk continuous heart rate monitoring untuk terus menerus mengukur detak jantung. Jadi kita ga perlu manual harus buka menu heart rate di smartband. Pilihannya juga ada 2, smart monitoring nentuin sendiri kapan akan mengukur detak jantung berdasarkan aktifitas yang sedang dilakukan, dan real-time yang berarti terus menerus mendeteksi selama 24 jam. Tentunya dengan catatan akan lebih menguras daya.

Ada juga menu alarm, jadi bisa di set lewat smartphone dan otomatis update ke smartband-nya.

Walaupun ga ada menu DND (do not disturb) di smartband, tapi fitur DND bisa diaktifin lewat aplikasi. Malahan ada beberapa pilihan untuk DND salah satunya untuk auto DND kalo smartband-nya lagi gak kita pake. Jadi lebih irit daya dan ga lucu juga tau-tau smartband-nya getar atau layarnya nyala padahal cuma ditaro di atas meja.

Ada pilihan untuk kostumasi menu utama smartband. Salah satunya, gue menonaktifin menu Alipay karena ga bisa dipake di Indonesia. Dari awalnya ada 8 menu, tinggal 7 menu.

Jadi menurut gue Honor Band 5 ini bener-bener fitness tracker yang sesuai dengan fungsinya. Dari 7 menu, 5 adalah menu kesehatan walau ada 2 menu pendukung (setting dan notifikasi).

Kalaupun ada menu atau fitur tambahan, disimpan di dalam menu setting (misalnya alarm, stopwatch, atau watch faces). Tapi bukan sebagai menu utama. Malah gue sendiri lebih milih kalo menu notifikasi dimasukin ke menu setting sekalian. Biar ada 6 menu, 5 menu aktifitas dan 1 menu pendukung. Tapi begini pun menurut gue udah oke.

Jadi ga perlu repot apalagi sampe membuang waktu karena terlalu banyak menu yang sebenarnya ga dibutuhin. Ga perlu menu khusus untuk music player atau remote camera shutter, ga perlu menu khusus untuk bluetooth atau koneksi-koneksi lain, ga perlu menu atau fitur lain yang ga ada hubungan dengan fitness, ga perlu menu-menu lain yang mungkin saja hanya sekedar strategi marketing dari produsennya.

Tapi minim menu ga berarti minim kemampuan dan ga bisa diapa-apain. Karena semua menu dan fitur yang ada bisa di akses dan di kostumisasi dari aplikasinya. Jadi fungsi smartband-nya lebih maksimal. Ga perlu sering disentuh, ga perlu sering di setting, dan sebenernya malah, ga sesering itu juga buat kita liat.

Buat gue ini adalah fitness tracker yang sebenarnya. Cuma 2 alasan buat gue ngeliat dan nyentuh smartband ini; melihat waktu (jam), dan untuk mengukur blood oxygen saturation (karena memang cuma ada di smartband).

Akurasi

Kalo dibandingin sama Amazfit Bip atau Huawei Band 3 Pro, Honor Band 5 ini (dan Mi Band 4) memang ga ada GPS-nya. Tapi paling ga Honor Band 5 ini (dan juga Mi Band 4) bisa ngambil data GPS dari smartphone yang di pairing. Jadi rasanya ga harus spesifik pake fitness tracker yang ber-GPS. Belum lagi ngomongin kualitas GPS-nya, yang belum tentu selalu akurat.

Tapi untuk pedometer-nya, data dari Honor Band 5 ini hampir sama dengan data dari data Google Fit (aplikasi) gue yang ada di smartphone yang lain (ga pairing dengan smartband).

Data di atas adalah langkah gue seharian penuh.  Memang bener seharian gue ga lari, jadi walking persis 100%. Cuma berhubung belum ada halaman resmi Honor Band 5 ini di official website-nya, setau gue memang Honor Band 5 memang ga support untuk tracking climbing (perpindahan ketinggian/berpindah lantai).

Untuk heart rate monitoring, karena hampir semua smartband atau smartwatch, baik yang murah sampe yang mahal sekalipun pake sensor Photo Plethys Mograph (PPG). Sementara secara medis, deteksi denyut jantung dilakukan menggunakan sensor Elektro Cardiography (ECG).

Jadi harusnya akurasi data antara sesama sensor PPG ga akan jauh beda selama pemakaian smartwatch/band ‘benar’ (dianggap benar apabila sensor/LED tidak tertutup kotoran, menempel dengan baik di kulit, dan tubuh dalam keadaan diam).

Gue sendiri nyalain continuous heart rate monitoring 24 jam dan hasil monitoring di aplikasi ditampilkan seperti ini.

Data ditampilin dalam bentuk grafik yang berwarna. Tapi sayang detail grafiknya ga bisa di zoom. Jadi misalnya di grafik di atas, heart rate 122 bpm gue ada di antara jam 6 hingga jam 12. Karena ga bisa di zoom jadi gue cuma bisa nginget-nginget itu sekitar jam 08:00 sampai 09:00 waktu gue lagi berangkat kerja.

Beberapa jam setelah gue menerima smartband ini, gue sempet ketiduran yang ‘seinget’ gue sekitar 1 jam. Gue sempet liat jam 16:25 sebelum tidur dan gue bangun jam 17:30. Data yang terekam gue tidur 58 menit. Gue rasa akurasinya pas, walau aplikasi Huawei Health menjelaskan untuk mengaktifkan dan mendapatkan data TruSleep dibutuhkan waktu tidur lebih dari 3 jam.

Kalo waktu tidurnya kurang dari 3 jam Huawei TruSleep-nya ga bisa ngasih analisa. Data tidur kurang dari 3 jam hanya ditampilan seperti gambar dibawah ini.

Jadi data tidur gue terekam hanya sebagai normal sleep, walau heart rate terendah gue di sore itu tercatat sampai 62. Masih wajar sih ya, karena detak jantung diwaktu tidur itu antara 50-80.

Tapi kalo waktu tidurnya lebih dari 3 jam, Huawei TruSleep-nya bisa ngasih data yang komplit beserta grafiknya yang berwarna. Seperti gambar dibawah ini.

Untuk sensor blood oxygen saturation gue kurang punya perbandingan. Dalam dunia medis salah satu tekniknya memang menggunakan sensor (teknik lain yaitu dengan mengambil darah dari pembuluh arteri, yang katanya lebih sakit).

Baca-baca artikel tentang ini gue jadi inget beberapa tahun yang lalu waktu temen gue beli Samsung Galaxy Note 5 yang punya fitur blood oxygen measure. Di sebelah kameranya ada 2 sensor tambahan. Bedanya blood oxygen saturation di Note 5 itu diukur dengan menempelkan ujung jari di sensor tersebut (bukan di pergelangan tangan).

Dan FYI, sistem deteksi blood oxygen dengan sensor ini punya tingkat kesalahan 2%. Dua persen kalo menurut gue sangat-sangat rendah dan sangat bisa diterima dibanding nyolok-nyolok pembuluh arteri. Bener?

Jadi fitur blood oxygen saturation ini adalah satu-satunya fitur yang ga tercatat dan ga ditampilkan di aplikasi. Hanya bisa di akses dan digunakan dari smartband-nya sendiri, dan berlaku untuk satu waktu saja (saat kita klik menu itu aja).

Dan BTW, data blood oxygen saturation hanya ditampilkan dalam nilai persentase. Jadi ga ada istilah medis di smartband ini. Ga ada nilai sekian per sekian atau semacamnya. Hanya 0%-100% dan 95-100% dianggap kadar oksigen normal.

Untuk menu workout belum bisa gue coba, karena memang gue bukan orang yang aktif berolahraga 😀

Kesimpulan

Secara keseluruhan gue suka smartband ini. Berfungsi sesuai dengan kebutuhan gue, dan memang menegaskan definisi dari fitness tracker itu sendiri. Bukan device multi-purpose tanpa tujuan yang jelas. Bukan device multi-purpose yang dengan segala macam fiturnya tapi kemudian dilabeli sebagai fitness tracker. Dan bukan fitness tracker yang ber-price tag tinggi hanya karena memiliki fitur-fitur yang sebenarnya ga berhubungan dengan fitness itu sendiri.

Kalaupun ada kekurangan dan harapan peningkatan, ada 3 hal yang menjadi catatan gue.

1. Desain

Diluar urusan selera gue, Honor Band 5 ini kembar siam sama kakaknya Honor Band 4. Setidaknya Mi Band 4 ada sedikit perbedaan dengan Mi Band 3.

Tapi tetap, gue ga bisa nutupin selera pribadi gue. Buat gue Mi Band 4 kelihatan lebih kece. Entah dalam bentuk apa, andai Honor Band 5 ini (atau Honor Band 6 nantinya) punya desain yang beda.

2. Menu Message/Notification

Seandainya menu ini digabung ke more (menu setting), jadi menu utama lebih clear hanya untuk aktifitas.

3. Blood Oxygen di aplikasi Huawei Health

Entah karena belum ada, atau mungkin memang gak dibutuhin. Karena menu ini hanya ada di smartband dan ga ada catatan atau menu khusus di aplikasi. Tapi bisa jadi memang blood oxygen saturation memang gak perlu dipantau secara khusus.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Fotografi & Videografi iPhone

Sebelumnya gw pengen cerita dulu.

Dulu pengen banget bisa bikin video. Yang belakangan gw tau istilahnya, jadi videographer. Kenapa? Ga ada alasan khusus. Rasanya keliatan keren aja haha.. Dan yang gw tau, bikin video itu butuh kamera. Maksudnya, kamera dalam wujud yang ikon-ikon yang kita kenal selama ini. Handycam, camcorder, atau semacam DSLR. Belum kebayang waktu itu, bikin video cuma pake handphone.

Malahan gw baru tau, setelah selesai nge-record video, ada proses editing setelahnya 😀 Karena asumsi gw, kamera (lagi-lagi, secamam handycam atau camcorder) itu harganya mahal. Mungkin ada semacam teknologi yang bisa bikin setiap hasil rekaman jadi video utuh yang udah layak tonton hahaha..

Jadi gw harus beli kamera. Tapi harganya?

Dari orang-orang yang sama seperti gw, yang sama ga ngertinya tentang dunia photographer dan videographer, semua ngasih jawaban yang sama, DSLR!! Apalagi dari mereka yang memang pengguna DSLR itu sendiri, “Harga DSLR udah cukup terjangkau kok”.

Ok, DSLR memang sebuah kamera. Gw juga tau, dan gw setuju. Tapi kenapa kalo ngomongin kamera kayanya semua orang cuma mikirin still image? Bukankah handycam, atau camcorder, atau pocket camera, atau broadcast camera, atau cinema camera, semua itu juga adalah ‘kamera’? Dan sebagian besarnya malah ga bisa buat still image. Hanya bisa buat video. Mereka yang sama amatirnya kaya gw diam. Wajar. Tapi mereka pengguna DSLR itu sendiri bingung. Halah..!!

Gw coba nyari tau sendiri. Beberapa ‘kamera’ (dalam hal ini DSLR) dengan harga yang cukup terjangkau waktu itu, belum semuanya bisa merekam video. Beberapa diantaranya, dengan harga yang lebih tinggi, bisa rekam video tapi masih terbatas dengan durasi. Entah karena masalah overheat atau semacamnya, kamera-kamera tersebut memang belum bisa untuk merekam video durasi panjang.

Jadi kepikiran pengen beli handycam atau yang semacamnya. Kamera yang memang dikhususkan untuk video recording. Ada alternatif GoPro tapi harganya cukup tinggi. Masih lebih terjangkau handycam, diluar perbedaan spek yang waktu itu gw belum ngerti.

Tapi kemudian, seorang teman merekomendasikan iPhone ke gw. Smartphone?? Nah ini, karena selama ini gw taunya buat bikin video itu pasti lah perlu kamera khusus. Kamera-kamera yang biasa di taaro di bahu gitu. Atau minimal handycam. Dan yang pasti bukan smartphone.

Ga percaya dan ragu. Tapi logika gw mikir, iPhone lebih mahal dibanding smartphone lain, pastilah ada sesuatu yang membuat harganya begitu tinggi. Tapi gimana pun, apa iya kualitas kameranya cukup layak untuk nanti repot-repot diedit dan lain sebagainya?

Lagi-lagi, gw nyari jawaban sendiri. Baca berbagai reviwe tentang kamera iPhone. Nonton berbagai channel youtube. Dan ngeliat berbagai hasil dari iPhone image quality di google image.

Dan waktu itu, gw memutuskan buat beli iPhone 5S. iPhone yang sebenernya udah tertinggal karena di waktu itu, udah rilis iPhone 6S. Di tengahnya, ada iPhone 6.

Untuk smartphone uzur yang tertinggal 3 generasi dari rilisan terbaru, berikut beberapa point penting gw tentang iPhone:

“Gw suka warna yang dihasilkan. Beberapa smartphone android ngasilin foto dengan saturasi/vibrance yang terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Better untuk still image,ga jauh beda untuk video. The best among smartphones if I can say. Auto, tanpa setingan, memang seperti itulah output dari sensor kameranya. DSLR punya white balance dan color temperature yang lebih baik, tapi banyak pengguna DSLR yang bahkan ga merhatiin hal ini. Yah, mungkin cuma masalah cara penggunaan aja. Ga semua orang mau repot. Mungkin menurut mereka “Udah DSLR ini, tinggal jepret juga bagus”

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

“Mega pixel bukan acuan kualitas gambar. Nikon D700 12.1 MP seharga 7 jutaan. Smartphone Infinix Zero 3 aja lebih bagus, 20 MP, tapi harganya cuma 2.5 jutaan. Kenapa capek-capek beli Nikon? Nikon D700 12.1 MP memiliki pixel pitch 8.4 µm. Gw sendiri sampai hari ini masih menggunakan iPhone 5s, yang cuma 8 MP tapi dengan pixel pitch 1.5 µm. Lebih dari cukup untuk di upload ke media sosial, atau dilihat dari TV/monitor Full HD 1080. Samsung Galaxy Note 5 16 MP (dan rata-rata smartphone lain) hanya memiliki pixel pitch 1.12 µm. Gw belum pernah dan belum ada rencana untuk cetak gede, yang membutuhkan pixel super gede dengan pixel pitch yang lebih tinggi seperti DSLR.”

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

DSLR punya segudang fitur manual. Yang karena semua fitur tersebut, user DSLR punya persiapan yang lebih matang sebelum mengambil gambar. Setting white balance, color temperature, focus, exposure, shutter speed dan lain sebagainya. Belum lagi lighting atau ganti lensa entah itu buat macro atau bokeh, tripod, steady-cam, stabilizer dan lain-lain. Walaupun ga se ‘kaya’ DSLR, iPhone juga punya beberapa fitur yang bisa maksimalin, seperti manual focus, manual exposure, tripod, stabilizer atau lensa tambahan. Ketika hasil lebih maksimal dari DSLR dengan persiapan matang, kenapa tidak melakukan hal yang sama ketika menggunakan iPhone? (or even Android phones).

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Tapi yang membuat gw akhirnya menyingkirkan camcorder sebagai pilihan, karena iPhone udah support slo-mo video. Kebanyakan DSLR dan camcorder mampu merekan video hingga 60 fps di 720p (camcorder 60 fps di 1080p). Beberapa mirrorless canggih saat ini bisa merekam very high frame rates, 980 fps, tapi harganya masih diatas 25 jutaan. iPhone 5s sendiri mampu merekam 120 fps di 720p dan 30 fps di 1080p(camera default hanya menyediakan 2 mode, 30 fps dan 120 fps). Sedangkan untuk iPhone SE, iPhone 6 dan iPhone 7 bisa merekam 30 fps untuk 2160p/4k, 120 fps di 1080p, dan 240 fps di 720p.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Satu hal lagi yang membuat gw takjub. Dengan aplikasi yang tepat, FilMiC Pro, iPhone 5S gw bisa setting manual focus yang terpisah dari manual exposure, slider pengganti ring layaknya lensa DSLR untuk follow focus/exposure, depth of field yang lebih dalam, manual frame-rate (24p, 25p, 30p, 60p dsb), manual white balance dan color temperature, hingga rekam video up-to 3k. Padahal default cameranya, official-nya, iPhone 5s hanya bisa sampai UHD. Untuk 3k (walau video-only) bisa merekam video dengan bitrate hingga 50MB. Setau gw iPhone 6 bisa 4k dengan bitrate 100MB dan Samsung Note 5 4k hanya dengan bitrate 8MB.

Banyak hal bagus tentang iPhone. Banyak pernyataan yang berusaha menyetarakan iPhone dengan DSLR. Lalu apa kekurangan iPhone? Berikut ini beberapa point yang gw rangkum:

Sensor dan aperture yang lebih kecil dibanding DSLR. Sensor mempengaruhi lebar angel of view.iPhone 5s memiliki ukuran sensor 1/3 dari full frame sensor. Gambar terlihat lebih sempit, seperti efek zoom atau crop, tidak se lebar gambar dari kebanyakan DSLR. Untuk mendapatkan angle of view yang lebih lebar kita harus lebih menjauh dari objek yang akan di capture.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Aperture mempengaruhi tingkat fokus (serta out-of-focus) dan pencahayaan gambar.Aperture pada DSLR dapat diatur manual dengan rentang antara f/1.4 hingga f/22. iPhone 5s memiliki fixed aperture f/2.2. Sebagai pembanding Samsung Note 5 menggunakan fixed aperture f/1.9. Secara teori Note 5 harusnya lebih tajam (di area fokus dan lebih blurry di out-of-focus) dan lebih bagus untuk low-light dibanding iPhone 5s.Tapi karena sensor kamera yang lebih kecil (1.26, lebih kecil dari iPhone 5s : 1.3), keduanya terlihat sama.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

So it’s a bit tricky untuk memaksimalkan gambar dari iPhone. Entah itu dengan mengatur jarak antara kamera, objek atau background, serta meminimalkan penggunaan iPhone di area low-light.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Dan satu kekurangan iPhone yang terlihat secara physically adalah lensa.Walaupun tersedia lensa add-on untuk smartphone tapi menurut gw not worth it. Lensa tele dan wide angel yang blurry. Lumayan untuk lensa macro, yang bersifat manual, kita harus mengatur jarak antara lensa dengan objek (physically manually, not optical or digitally 😀 ).

 

[vimeo 208143473 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction), handheld, default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

Tapi kita ga ngomongin photographer atau videografer professional dengan bayaran puluhan juta, bermodal equipment ratusan juta. Katakanlah photographer atau videographer semi-pro, yang menerapkan 2 prinsip yang sudah tidak asing lagi di dunia fotografi. The best camera is the one that’s with you,mengenal kemampuan kamera yang kita miliki beserta fitur-fiturnya. Dan bersikap sebagai the man behind the gun yang baik, mampu memaksimalkan kemampuan dan fitur-fitur tersebut.

[vimeo 208143423 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction, edited in iMovie), handheld, default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

iPhone adalah kamera untuk everyday life moment capture. Selfie, still image atau video teman-teman dan keluarga. Wide shot landscape, sunset atau sunrise, bangunan dan lain-lain. Walaupun lensa macro smartphone cukup ok tapi bisa dibilang gw ga pernah capture micro object. Gw juga ga pernah foto objek yang jauh karena bahkan DSLR sendiri butuh telephoto lens. Untuk kebanyakan event, exposure udah cukup kebantu lighting yang ada di area event, seperti wedding atau konser. Bahkan untuk indoor malam hari pun gw cukup puas. Outdoor malam? Well, that’s what we call a problem, right? 😀 Oh ya, gw hampir lupa kalo 5s ini ada dual led flash, karena untuk moment apapun gw ga pernah menggunakannya 😀 Bukan karena males, tapi sadar lingkungan dan kemampuan kameranya aja. Mungkin kapan-kapan gw maksimalin dual flash ini.

[vimeo 208143243 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction), default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

Memiliki equipment yang mahal tidak serta merta membuat kita menjadi seorang photographer atau videographer professional. Dan bukan tidak mungkin, tanpa modal sekalipun, at least we can take a better pictures than the others. Tergantung apa yang ada di tangan kita saat ini. Be the right man behind the gun.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Handphone iPhone dan Android

Pengalaman saya sebagai pengguna iPhone sekaligus Android. Beberapa waktu yang lalu sebelum saya memiliki iPhone cukup banyak teman-teman yang sangat ‘pro’ Android dan sekaligus sangat ‘kontra’ terhadap iPhone.

Kenapa? Hanya ada satu jawaban, spesifikasi. Bagaimana dengan harga? Harga adalah bahasan relatif. Acuan harga, ‘iPhone terlalu mahal’, menurut saya tidak lebih dari sekedar pernyataan ketidakmampuan.

Secara spesifikasi iPhone memang sangat jauh tertinggal dari Android. Tentang core dan clock processornya, tentang kapasitas ram-nya, tentang resolusi kameranya, tentang kualitas layarnya, dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan atau mempromosikan smartphone tertentu. Hanya mencoba secara objektif mengajak pembaca untuk lebih bijak menanggapi perbedaannya. Penulis sendiri memiliki pengalaman menggunakan 2 smartphone Android (Samsung S4 Mini dan Samsung Note 2) dan 2 produk Apple (Ipod Touch 5th dan iPhone 5s).

Samsung S4 Mini rilis tahun 2013
Snapdragon 400 Dual Core 1.7 GHz, 1.5 Gb RAM, 8 MP camera
Samsung Note 2 rilis tahun 2012
Exynos 4412 Quad Core 1.6 GHz, 2 Gb RAM, 8 MP camera
iPod Touch 5th rilis tahun 2011
Apple A5 Dual Core 1 GHz, 512 Mb RAM, 8 MP camera
iPhone 5s Rilis tahun 2013
Apple A7 Dual Core 1.3 GHz, 1 Gb RAM, 8 MP camera

Processor

Smartphone Android saat ini berlomba-lomba dengan multi-core processornya. Quad-core, octa-core, dan bahkan 2 processor sekaligus (misal 1 octa-core berpasangan dengan 1 quad-core). Belum lagi masalah clock processornya yang semakin tinggi. Sebagai contoh adalah Samsung S6 memiliki 2 processor; quad-core 2.1 GHz dan quad-core 1.5 GHz.

Sedangkan iPhone, bahkan seri terakhir iPhone 6S Plus pun, hanya menawarkan 1 (satu) processor dual-core dan dengan clock hanya 1.8 GHz.

Sebenarnya kedua processor tersebut tidak layak dibandingkan. Membandingkan kedua processor tersebut seperti membandingkan antara mobil dengan motor. Sama-sama alat transportasi tapi dengan filosopi, teori, fisik, dan berbagai hal lainnya yang sangat berbeda.

Saat ini kita mengenal 3 processor yang umum digunakan. Processor PC/laptop, processor Android dan processor iPhone. Walaupun sama-sama processor, tapi ada banyak faktor yang membedakan antara satu dan lainnya.

Processor Android selayaknya processor PC/laptop, diciptakan untuk menangani banyak hal sekaligus. Sebagaimana kita menggunakan PC/laptop, bisa digunakan untuk browsing internet, menonton, bermain game, rendering/editing dan sebagainya. Yang dalam prakteknya, dengan segala kelebihan tersebut (core dan clock yg sangat bagus), bahkan ternyata sebuah smartphone tidak benar-benar membutuhkan semua kelebihan tersebut.

Berbeda dengan processor iPhone, diciptakan hanya untuk menangani apa yang dibutuhkan. Apple hanya berfokus pada efektifitas dibanding kuantitas. Hasilnya, kualitas yang lebih baik. Sebagai contoh processor A6 (dual-core) Apple dengan clock hanya 1 GHz memiliki performa setara dengan processor Android Exynos (quad-core) 1.4 GHz.

Dan jangan lupakan tentang monopoli Apple terhadap produknya. Perangkat keras (processor, RAM, dan sebagainya) dan perangkat lunak (sistem operasi iOS) dirancang oleh 1 orang yang sama. Setiap detail kemampuan perangkat kerasnya didukung dengan sangat baik oleh sistem operasinya. Dan setiap kemampuan sistem operasinya didukung dengan perangkat keras yang benar-benar sesuai. Dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi 1 ditambah 1 adalah 2, atau 1 dikurang 1/4 adalah 3/4, maka tidak heran walau spesifikasinya rendah tapi mampu menghadirkan performa yang sangat tinggi.

Sedangkan pada Android sistem operasi dan perangkat kerasnya dirancang terpisah. Pengembangan perangkat kerasnya  yang berbeda-beda (samsung, LG, qualcomm dll) didesain agar selalu pas dengan sistem operasinya. Dan sistem operasinya (Android, yang dikembangkan oleh Google) dirancang agar mampu bekerja dengan baik pada semua perangkat tersebut. Sehingga akan ada beberapa kekosongan (ketidak-efektifan) yang terjadi.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Apple cuma dual-core 1.8 GHz sedangkan Android octa-core 2.1 GHz”, maka jawabannya adalah “Apple hanya butuh dual-core 1.8 GHz, yang tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu mengalahkan quad-core 2.1 GHz Android”.

Processor (lanjutan)

Rata-rata smartphone Android sekarang dilengkapi 2 processor sekaligus. Dual-core dengan quad core (2 + 4), quad core dengan quad-core (4 + 4), atau bahkan octa-core dengan quad-core (8 + 4).

Dalam teorinya, kedua processor itu akan bekerja bergantian sesuai kebutuhannya. Apabila kebutuhan processornya lebih kecil maka processor A akan bekerja. Apabila kebutuhannya lebih besar maka processor B akan bekerja.

Sebenarnya iPhone juga memiliki 2 processor. Hanya saja, dengan teori yang berbeda dibanding sistem processor Android.

Pada iPhone, masing-masing processor memiliki tugas yang berbeda. Dan kedua processor tersebut selalu aktif secara bersamaan, menangani kebutuhan sesuai dengan spesialisasinya.

Battery

Dengan core dan clock yang sangat tinggi ditambah lagi dengan tuntutan 2 processor wajar apabila Android memiliki kapasitas baterai yang lebih besar. Smartphone Android menawarkan kapasitas baterai yang lebih besar justru karena tuntutan perangkat kerasnya, bukan demi kenyamanan penggunanya.

Jangan menganggap sebuah smartphone Android menggunakan baterai dengan kapasitas 2.500 mAh atau bahkan diatas 3.000 mAh dengan tujuan agar penggunanya bisa lebih lama menggunakan smartphone tanpa harus diisi ulang. Smartphone Android tersebut ‘terpaksa’ dan harus menggunakan baterai dengan kapasitas begitu besar hanya agar paling tidak bisa bertahan sekitar 10 hingga 12 jam karena permintaan daya dari perangkat kerasnya yang terlalu tinggi.

Sedangkan iPhone hanya memiliki 1 processor, dan dengan clock dan core yang rendah, sehingga baterai berkapasitas kecil pun sudah cukup untuk menyamai kemampuan bertahan baterai Android. Kenyamanan pengguna merupakan alasan utama kapasitas baterai.Karena kebutuhan daya dari perangkat keras tidak besar.

Ketika kebanyakan orang berpendapat “Baterai iPhone sangat kecil tidak seperti baterai Android”, maka jawabannya “Android membutuhkan baterai 3.000 mAH untuk bertahan seharian, iPhone hanya butuh 1.500 mAH untuk bertahan seharian”.

Kamera

Saat ini cukup banyak smartphone Android memiliki resolusi kamera diatas 15 Mp. Beberapa diantaranya bahkan hingga lebih dari 20 Mp. IPhone 6s Plus sebagai seri terbaru dari Apple, hanya memiliki kamera dengan resolusi 12 Mp.

Resolusi, hanya berhubungan dengan ukuran. Resolusi atau megapixel tidak berhubungan dengan kualitas hasil. Jendela berukuran lebar menawarkan area pandang yang lebih luas. Tapi kualitas pandangannya bergantung pada sebagus apa kaca pada jendela tersebut

Detail kemampuan dasar kamera seperti ISO, focus, exsposure dan sebagainya lebih menentukan dibanding sekedar hasil yang besar (resolusi).

Sebagai media pembanding menggunakan aplikasi video recording yang pada awalnya hanya dibuat untuk iPhone bernama FiLMiC Pro. Aplikasi yang sudah dinobatkan sebagai aplikasi Video Camera terbaik tersebut memaksimalkan semua kemampuan kamera pada iPhone. Dan belum lama ini aplikasi tersebut juga disediakan untuk Android. Hanya saja, terbukti, tidak semua smartphone Android bisa menikmati semua fungsi yang disediakan oleh aplikasi tersebut.

Sesuai detail spesifikasi dari pengembangnya, FiLMiC Pro kompatibel (dapat menggunakan semua fitur yang tersedia) mulai dari iPhone 4s, yang rilis tahun 2011, yang pada saat ini harga bekasnya mungkin sekitar 1.5 hingga 2 juta. Sedangkan FiLMiC Pro versi Android, dari beberapa review di play store, cukup baik digunakan di Samsung Galaxy S6, Samsung Galaxy S7 dan Samsung Note 5 (yang rilis tahun 2016 dan dengan harga diatas 10 juta).

Sesuai pengantar diawal, harga tidak etis untuk dijadikan perbandingan. Karena pada hasil review aplikasi, sebuah kamera seharga 1.5 – 2 juta memiliki fitur dan kemampuan yang sama dengan kamera bernilai diatas 10 juta.

Baca review FiLMiC Pro untuk Android dan review FiLMiC Pro untuk iPhone.

Kesimpulan.

Android dan iPhone memang sama-sama smartphone. Hanya saja kita harus lebih bijak dan bila perlu melakukan riset terlebih dahulu, sebelum berani memutuskan mana yang lebih baik. Ketika menggabungkan Android dan iPhone ke dalam kategori ‘smartphone’ dan kemudian membandingkannya, tidak berbeda seperti menggabungkan mobil dengan pesawat ke dalam kategori ‘alat transportasi’ kemudian membandingkannya.

Apabila hanya melihat dari luar, hanya membandingkan secara angka yang tertera, tidak satupun angka dari iPhone yang lebih tinggi dari Android. Diluar performa dan kemampuan, iPhone kalah telak dari Android.

Android: core processor yang lebih banyak, clock processor yang lebih tinggi, kapasitas RAM yang lebih besar, resolusi kamera yang lebih besar, ukuran layar yang lebih besar, dan sebagainya.

iPhone: core processor lebih sedikit, clock processor lebih rendah, kapasitas RAM rendah, resolusi kamera rendah, ukuran kayar lebih kecil dan sebagainya.

Tapi dalam pengalaman saya menggunakan 2 Android dan 2 produk Apple, semua kemampuan ‘rendah’ tersebut tidak hanya menyamai, tapi bahkan mampu menggulingkan kemampuan Android.

Hanya saja harus diakui, satu-satunya hal yang tidak lebih baik dari iPhone hanyalah kemampuan layarnya. Samsung sudah sejak lama menawarkan layar Super AMOLED untuk smartphonenya sedangkan iPhone masih menggunakan LCD IPS. Layar LCD IPS iPhone lebih baik dari kebanyakan smartphone Android hanya saja masih lebih ‘wah’ layar Super AMOLED dari Samsung.

Sangat disayangkan cukup banyak pertanyaan yang tidak mengenakkan tentang iPhone, sebelum melakukan riset atau memiliki pengalaman langsung. Bahkan beberapa pernyataan yang ada berasal dari orang-orang yang sebenarnya cukup awam dibidang teknologi.

Salah satu pernyataan yang cukup tegas adalah yang pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi seperti yang dilakukan produsen Android pada umumnya. Jangan lupakan bahwa kata ‘smartphone’ itu sendiri mulai populer digunakan pada tahun 2007 ketika Apple merilis iPhone pertamanya. Dan masih banyak inovasi-inovasi Apple lainnya seperti Siri, smartphone yang berbicara, atau “Hello Google” pada Android. Teknologi finger print atau Touch ID.

Dan ketika teknologi komunikasi seluler masih terbagi 2 antara GSM dan CDMA, iPhone telah mengasung teknologi unified LTE dan lain sebagainya.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.