Posts tagged spesifikasi

iPhone 6s di 2020??

iPhone 6s, rilis 25 september 2015, atau hampir 5 tahun yang lalu.

Bahkan di waktu rilisnya pun, walau berstatus flagship, terbaik, dan terbaru milik Apple, spesifikasinya ‘biasa’ banget kalo dibandingin sama Android.

Udah lah speknya biasa, harga kelewat mahal, dan itu 4 tahun yang lalu. Nah masalahnya, sekarang udah 2020.

Jangankan buat dibeli, sekedar di omongin pun, emangnya masih layak??

Pertanyaan itu akan gw jawab dengan beberapa penjelasan dibawah ini, dimana gw pake iPhone sampe beberapa bulan yang lalu (desember 2019).

Ingat, iPhone 6s. Bukan iPhone 6 ya (atau iPhone 6 Plus). iPhone 6, yang pake ‘s’.

Gw akan tampilin kesimpulannya dulu, jadi kalo penasaran sama detailnya bisa dibaca di bagian bawah:

Performa: Masih setara smartphone mid range Android 2020.
iOS: Pake iOS yang sama dengan yang dipake iPhone 11. Sementara ga semua smartphone Android support (atau disediain update) OS Android 10.
Desain: Cukup ‘baru’, mirip iPhone 8 (2017). Kecil, enak di genggam atau masuk kantong. Rata-rata smartphone 2020 ukuran gede, biasanya 6.5 inch. Tapi memang kalah kece dibanding Android jabrik atau iPhone 2019.
Koneksi kabel: iPhone terakhir yang masih pake jack audio dan konsisten dengan lighting-nya.
Kamera foto: 12 megapixel dan bisa RAW (dalam format dng).
Single camera: Hampir semua smartphone 2020 minimal udah dual camera ‘bokeh maksa’. Makin rendah kelasnya, makin maksa hasilnya. Tapi sekarang kebanyakan Android 2020 udah quad kamera.
Kamera video: Udah 4k 30 fps, setara smartphone baru 2020. Dan bisa slo-mo juga sampe 240 fps. Ga semua smartphone bisa slo-mo, apalagi sampe 240 fps.

Spesifikasi

Hari ini, rata-rata smartphone Android udah pake processor quad, hexa, octa atau apapun lah namanya dengan core clock diatas 2 GHz.

iPhone 6s hanya pake processor A9 dual core dengan core clock 1.85 GHz. Cuma 2 core, dan clock dibawah 2 GHz pula!

Belum lagi urusan RAM, iPhone 6s cuma 2 GB. Android 2020 yang bukan flagship aja bisa punya RAM 6GB hingga 8GB. Jauh!!

Memang efektifitas kerja antara hardware dengan software (iOS) pada iPhone sangat jauh lebih baik dibanding Android. Processor (yang di desain oleh Apple sendiri) dipasangkan dengan hardware (yang dirakit oleh Apple sendiri) dan difungsikan seefektif mungkin dengan iOS (yang juga dibuat oleh Apple sendiri).

Ilustrasinya, se simpel nanya dapur ke pemilik rumah. Pemilik rumah menjawab dengan sangat mudah. Ga pake mikir, apalagi nanya ke orang lain.

Fokus Apple lebih ke gimana hardware dan software tersebut terus bekerja dalam kondisi seefektif mungkin. Jadi ga cuma ngejar jumlah core atau clock tinggi atau RAM besar, tapi komunikasi hardware dengan software kurang efektif.

Sementara Android, processor-nya diproduksi oleh pihak lain (misal Quallcom, Kyrin, Exynos, dsb), digunakan dengan hardware dari produsen lain (misal Samsung, Xiaomi, Huawei dsb), dan dipasangkan software milik pihak lain (Android itu sendiri, yang dikembangkan oleh google).

Ilustrasinya, tamu A nanya ke tamu B dimana letak dapur. Mungkin mereka berdua akan nanya ke orang lain, atau nyari pemilik rumah, atau berdua akan sama-sama nyari sendiri dimana dapur itu berada. Akan ada penurunan efektifitas (baik hardware maupun software) melalui flow yang seperti itu.

Sebenarnya ada data benchmark yang bisa dilihat di Mobile Benchmark. Secara single core, iPhone 6s (A9) masih bisa nyaingin beberapa smartphone Android yang pake Snapdragon 845. Dimana Snapdragon 845 termasuk processor flagship untuk Android, misalnya Samsung S9, Google Pixel 3 XL atau Xiaomi Pocophone.

Tapi secara multicore, iPhone 6s malah dibawah Snapdragon 660, processor kelas mid-range Android terbaik saat ini (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Dibawah rata-rata smartphone mid-range tahun 2020.

Terus kenapa masih ngomongin iPhone 6s??

Nilai benchmark, didapat karena menggunakan semua resource yang ada dalam smartphone itu. Menggunakan semua core processor-nya, dengan clock tertingginya. Agar menghasilkan angka benchmark setinggi mungkin.

Masalahnya, processor itu bukan seperti silinder pada mobil, dimana setiap silinder memiliki ukuran yang sama dan semuanya saling bekerja sama untuk menghasilkan tenaga yang besar. Processor smartphone, lebih tepatnya seperti pisau dapur. Untuk motong sayur, kita pake pisau kecil. Untuk motong daging, kita pake pisau yang gede. Dan untuk motong tulang, kita pake pisau yang paling gede.

Dalam penggunaan harian, resource yang ada akan bekerja sesuai kebutuhan. Dan seringkali, hanya beberapa core yang bekerja dalam satu waktu.

Single Core

Kalo secara single core, A9 setara dengan Snapdragon 845 sekitar 2300 point. Snapdragon 845 ada di smartphone yang harganya sekitar 10 jutaan (Samsung Note 9, Sony Xperia XZ2, Google Pixel 3, Xiaomi Pocophone, dll).

Malah keliatan mencolok sendirian, Apple A9 dual-core diantara semua processor Android 8 cores.

Multi Core

Kalo secara multicore, iPhone 6s setara dengan Samsung Galaxy S6, Xiaomi Mi Mix, atau Samsung A7. Memang kalah jauh dibanding Snapdragon 660 (Xiaomi Mi A2, ReadMe 2 Pro, Samsung Galaxy A8, dsb). Multicore A9 hanya 3915 point sedangkan Snapdragon 660 sekitar 5600 point.

Tapi ya, balik lagi, ga ada data yang menjelaskan dalam penggunaan harian semua resource digunakan seperti pada saat benchmark.

Karena dalam penggunaan harian, silahkan dibandingin langsung kenyamanan make iPhone 6s dibanding, langsung aja, bandingin dengan android-android flagship 2019. Karena dalam penggunaan harian, semua processor dengan clock tertingginya beserta RAM berkapasitas besarnya, ga digeber seperti waktu nyari point benchmark itu.

Singkatnya, kecuali kalo processor A9 udah kelewat jauh dibanding rata-rata processor saat ini (Snapdragon 425/625/636 dsb), dan sekaligus bener-bener udah ga layak banding sama Snapdragon 845, berarti gw percuma bikin postingan ini 😉

*penggunaan baterai gede ga selalu berarti untuk ‘kepuasan’ penggunanya. Tapi lebih karena memang kebutuhan daya untuk hardware-nya yang tinggi (menjalankan processor quad/hexa/octa core, dan RAM 4GB/6GB/8GB, dsb). iPhone ga butuh baterai gede karena kebutuhan hardware lebih rendah (dual core dan clock dibawah 2GHz, RAM 2GB)

**karena kebutuhan daya yang tinggi, diperlukan baterai berkapasitas besar (agar ga cuma habis karena hardware), sehingga dibutuhkan fitur fast-charging. iPhone ga pake fitur fast-charging karena kapasitas baterai yang harus diisi tidak terlalu besar.

Tapi sepanjang apapun penjelasan gw, pastinya akan susah diterima kalo emang belum pernah ngerasain lamgsung. Kalo memang punya kesempatan, silahkan coba bandingin langsung iPhone 6s dengan Android mid-range 2019. Main-main ke konter hp misalnya 😉

iOS

Apple masih men-support semua produknya yang udah pake processor 64 bit. Termasuk iPhone 6s ini, yang udah berumur 5 tahun.

Jadi iPhone 6s make iOS yang sama persis dengan mereka yang pake iPhone 11 (yang baru rilis beberapa bulan yang lalu dan harganya belasan juta). Kecuali kalo iPhone 6s udah ga support iOS terbaru (misalnya iPhone 6).

Sementara ga semua Android punya dukungan yang seperti ini. Malah kebanyakan, kita harus ganti smartphone buat bisa ngerasain Android versi terbaru. Android harus mengganti smartphone, katakanlah, setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Desain

Gw sebenarnya masih lebih suka desain dari iPhone 5 (atau 5s atau SE). Kotak, keliatan lebih kokoh, dan berukuran lebih kecil. Tapi yah, kita ga ngebahas tentang iPhone 5 disini.

iPhone 6s masih mirip dengan iPhone seri baru (iPhone 7 dan iPhone 8). Artinya, ga ketinggalan jaman. Karena memang mulai dari iPhone 6 desain iPhone udah mulai mirip-mirip aja semuanya. Walau kalo dilihat dari layarnya, jelas beda dari iPhone X atau seri Android baru yang full frame dan pake jabrik.

Kecuali maunya pake iPhone yang jabrik, silahkan cari budget buat tebus seri X keatas hehe…

Kalo Android sebenernya hampir semua Android sekarang kayanya udah pake jabrik dan harganya jauh lebih terjangkau. Tapi ya, sayang aja cuma demi tampilan kece tapi performanya bikin greget.

Selain itu, iPhone 6s Plus punya spek sama dengan iPhone 6s. Tapi gw sendiri lebih suka iPhone 6s, karena ukurannya yang kecil. Sementara hampir semua smartphone, termasuk iPhone sendiri(7 Plus, 8 Plus, X, dst), udah mulai berukuran gede-gede. Agak susah digenggam atau buat masuk kantong.

Koneksi Kabel

Kalo mau smartphone dengan performa bagus ga ketinggalan jaman, dan ga perlu aksesoris mahal, iPhone 6s adalah seri terakhir yang masih nyediain jack audio. Jadi ga perlu keluar duit beli adaptor lightning atau wireless earphone yang harganya terlalu tinggi. Belum lagi beresiko hilang.

Kecuali kalo memang di 2020 (atau 221 nanti) jack audio udah ga dipake lagi (udah ga dijual lagi), ya berarti iPhone 6s udah ga layak pake.

Kamera Foto

Sebenarnya image quality iPhone 6 (8 megapixel) masih lebih baik dibanding iPhone 6s (12 megapixel). Apalagi kamera depan iPhone 6.

Karena ukuran megapixel harusnya sejalan dengan ukuran sensor. Masalahnya, jaman sekarang ukuran megapixel justru berbanding terbalik dengan ukuran sensor. Sementara ukuran sensor masih segitu-gitu aja, tapi makin hari megapixel-nya makin gede. Efeknya, image quality turun.

Ilustrasinya, plastik berdiameter 1 meter dipake buat nutup baskom berdiameter 1 meter. Persis sesuai ukurannya (baca:kemampuan).

Sedangkan prakteknya, plastik berdiameter 1 meter nutupin baskom berdiameter 2 meter. Yang ada plastiknya ketarik-tarik.

Ngomongin image quality ini hubungan ke photographer, atau photographer wanna be 😀 Dimana foto itu ga cuma urusan jepret dan share. Biasanya, foto-foto yang ada harus di edit terlebih dahulu. Dan dalam proses editing ini, akan terasa perbedaan (penurunan image quality) dari foto-foto dengan megapixel gede.

Karena itu smartphone flagship kaya Samsung Note 9, atau Google Pixel 3, atau iPhone X cuma pake kamera 12 megapixel. Harga udah belasan juta tapi megapixel-nya cuma segitu?

Banyak smartphone Android yang harganya cuma 1 atau 2 juta tapi bisa ngasilin 16 sampe 20-an megapixel. Kenapa coba?

Kamera digital aja (DSLR atau mirrorless) yang jelas-jelas fungsi utamanya buat bikin foto dan ga bisa nelpon cuma bisa ngasilin 16-24 megapixel. Kenapa smartphone bisa ngasilin megapixel lebih gede?

Detail tentang megapixel ini bisa diliat disini.

Seperti yang tadi gw bilang, masih lebih bagus image quality dari iPhone 6, karena cuma 8 megapixel. Tapi spek iPhone 6 masih di bawah iPhone 6s.

Ini alasan kedua kenapa iPhone 6s masih layak di tahun 2020 ini. Karena kameranya masih super untuk tahun 2020. Belum lagi, karena iPhone 6s udah bisa ngasilin foto RAW. Lagi-lagi, fitur yang sama persis dengan iPhone Xr atau Xs yang harganya belasan juta. Sama sekali belum ketinggalan jaman, masih sangat layak, walau umurnya udah 5 tahun.

Gw kurang tau smartphone Android apa yang bisa ngambil foto RAW.

Single Camera (ga bisa bokeh)

Dalam teori fotografi, bokeh itu harus didukung bukaan lensa yang gede (bukan angka f-stop, tapi diameter bukaan lensa yang sebenarnya: dalam ukuran milimeter atau centimeter).

Secara teori, kamera smartphone ga bisa bikin bokeh. Jangan samain f/2.0 di smartphone dengan f/2.0 di DSLR. Detailnya ada disini.

Jadi efek bokeh di smartphone diakalin pake manipulasi 2 kamera yang ngambil 2 fokus yang beda. Masalahnya, manipulasi itu instant dan otomatis. Kalo manipulasi manual mungkin bisa dibikin lebih real (atau meminimalisir kesan ‘maksa’) tapi pastinya ga bisa instant sekali jepret langsung jadi.

Dengan manipulasi instant dan otomatis, seringnya bokeh yang dihasilin meleset atau ya, maksa. Walau ga jarang fine-fine aja.

Kamera Video

Urusan kamera (baik foto atau video) iPhone memang terkenal punya kualitas bagus. Termasuk iPhone 6s ini. Dan walaupun udah berumur 4 tahun tapi mendukung semua kebutuhan video buat hari ini; 4K video dan slow-motion. Masih bisa ngikutin kemampuan iPhone 11 atau kemampuan smartphone flagship Android yang harganya belasan juta. Ga semua Android bisa video 4K apalagi untuk slow-motion.

Kecuali kalo misal semua smartphone yang ada hari ini udah bisa rekam 4K sekaligus slow-motion, berarti iPhone 6s ga semencolok bahasan gw ini.

Atau, kecuali kalo resolusi video smartphone terbaru udah masuk ke teknologi 6K atau 8K, udah ga jamannya 4K lagi.

Atau, kecuali kalo semua smartphone yang ada bisa bikin slo-mo diatas 240 fps atau lebih, berarti iPhone 6s biasa-biasa saja.

Harga

Dengan umurnya yang udah lewat 4 tahun, harusnya iPhone 6s udah ga ada yang baru. Pilihannya antara seken atau preloved, refurbished vendor, atau refurbished CPO dari Apple sendiri.

Harga seken iPhone 6s hari ini berkisar antara 2 hingga 3 juta. Dimana untuk kisaran harga itu, setara dengan Android mid-range baru (2020).

Karena terakhir gue beli Asus Zenfone Max Pro M2 dengan harga yang sama. Untuk perbandingan antara harga dengan performa, gue sangat merekomendasikan iPhone 6s dibanding Android mid-range 2020.

* * *

Jadi ga cuma sekedar layak diomongin, iPhone 6s memang masih sangat layak dipake di tahun 2020. Performa (processor, atau RAM, atau bahkan batre) yang masih OK, fitur dan kemampuan kamera yang masih sangat layak, dan harga yang jatohnya lebih murah dibanding smartphone 2020 yang setara.

Terakhir

Tentunya ada banyak hal (diluar performa atau berbagai point yang gue sampein di atas) yang membedakan iPhone dengan smartphone lain.

Salah satunya adalah masalah kostumasi.

Android lebih dinamis, selain dari kostumasi dari produsennya sendiri, kita sebagai user juga bisa melalukan kostumasi tambahan. Dimana berbagai hal tersebut akan beresiko terhadap stabilitas sistem. Jadi yang namanya bug, crash atau hang itu adalah hal yang biasa di Android.

Sementara update OS bisa dikatakan sangat jarang dan terbatas, sehingga untuk menutupi bug, crash, atau hang tersebut, biasanya update dilakukan melalui aplikasinya sendiri (bukan melalui operating system-nya).

Jadi setiap 2/3 hari sekali selalu ada update terbaru dari aplikasi-aplikasi yang terinstall. Satu kondisi yang buat gue sendiri cukup mengesalkan.

Karena untuk setiap beberapa hari sekali harus ngabisin kuota buat update-update tersebut.

Sementara iPhone sangat-sangat minim kostumasi. Apple mengontrol penuh berbagai hal yang ada di iPhone, bahkan sejak dari lock-screen.

Dan didukung dengan update operating system secara regular disediakan melalui OTA (misalnya dari iOS 12.1 hingga iOS 12.4). Jadi iPhone sangat-sangat minim bug, crash, atau hang. Stabilitas sistem menjaga sangat terjaga.

Sehingga update aplikasi yang terinstall pun menjadi ga terlalu sering. Ga banyak kuota yang harus terbuang karena berbagai update aplikasi.

* * *

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Kamera

Seringnya, gak semua orang yang mau beli kamera ngerti segala spesifikasi dari sebuah kamera. Gak semua calon pembeli adalah professional photographer or videographer.

Malah katanya, siswa atau mahasiswa (yang belajar photography dan videography) udah disarankan untuk punya kamera terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus teori dasarnya.

Dan kalaupun si calon pembeli ngerti tentang kamera, mungkin ga jauh dari tau ukuran megapixel yang bisa dihasilkan saja.

Berikut ini beberapa hal, dengan penjelasan yang semoga mudah untuk dipahami, yang bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum memutuskan membeli kamera.

Atau mungkin, sebagai acuan perbandingan antara beberapa kamera yang sudah di targetkan sebelumnya, sehingga lebih mudah memilih.

Dijelaskan dan diilustrasikan menggunakan bahasa yang ringan agar lebih mudah dipahami.

1. UKURAN SENSOR

Sensor adalah satu bidang rata di dalam body kamera yang melihat dan merekam gambar yang diproyeksikan oleh lensa. Layaknya media kaca pada mesin foto-copy.

Perbandingan ukuran sensor kamera.

Terdapat 3 ukuran sensor yang populer saat ini:

Full-frame. sensor yang berukuran 36mm x 24mm. Disebut juga sebagai format 35mm karena ukuran sensor tersebut sama seperti ukuran panjang 1 frame pita rol film (klise foto) kamera analog. Dan format 35mm menjadi acuan terhadap beberapa spesifikasi kamera digital.

Karena berukuran besar, sensor full-frame mampu melihat (menangkap) detail dengan lebih baik. Dan ibarat jendela berukuran besar, lebar pandangan (field of view) cukup luas. Sehingga menjadi ‘senjata wajib’ para professional.

Field of view pada kamera dengan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini memiliki harga yang tinggi. Ukuran yang lebih besar, detail yang lebih baik, dan senjata wajib para profesional.

APS-C (disebut juga sebagai format super-35mm) dengan ukuran fisik sekitar 24mm x 16mm. Awalnya, sensor APS-C hanya sebagai alternatif karena biaya produksi sensor full-frame yang cukup tinggi. Tapi dalam perkembangannya sensor APS-C punya tempat sendiri dalam dunia fotografi. Dan hingga hari ini format APS-C menjadi format populer untuk ukuran sensor kamera. APS-C sering juga disebut sebagai super-35mm karena ukuran sensornya ‘hampir mirip’ dengan sensor full-frame.

Walau lebih kecil tapi sensor APS-C tetap mampu menghasilkan detail yang tinggi. Tapi karena ukuran fisiknya yang lebih kecil, cahaya yang menyentuh permukaan sensor tidak sebanyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor full-frame. Jadi sensor APS-C tidak sebaik sensor full-frame di kondisi gelap/kurang cahaya.

Dan karena ukuran ‘jendela yang lebih kecil’, lebar pandang (field of view) tidak seluas full-frame. Sensor APS-C butuh lensa dengan focal length yang lebih pendek (lensa wide) untuk menghasilkan field of view yang sama seperti field of view pada sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor APS-C dengan sensor full frame.

Sensor ini, relatif lebih murah dibanding sensor full frame. Kamera yang menggunakan sensor ini mayoritas memiliki fitur yang mirip dengan kamera bersensor full frame. Bedanya? Ukuran sensornya itu sendiri.

Micro Four-Third (biasa disebut M4/3 atau MFT) dengan ukuran fisik sensor sekitar 18mm x 13mm. Disebut micro, karena ukuran fisik-nya jauh lebih kecil dibanding sensor full-frame. Dan maksud four-third adalah ratio panjang berbanding lebar dari sensor itu sendiri. Sensor full-frame memiliki ratio 3:2 (36mm x 24mm) sedangkan MFT memiliki ratio 4:3 (18mm x 13mm)

Sensor MFT masih mampu menangkap detail yang baik (bahkan sensor kamera smartphone yang cuma berukuran sekitar 5mm masih mampu menangkap detail baik). Tapi kemampuan MFT dibawah kondisi gelap/kurang cahaya tidak sebaik sensor-sensor yang berukuran lebih besar.

Namun begitu, kamera dengan sensor MFT biasanya memiliki fitur yang membantu dalam kondisi gelap/kurang cahaya (baik melalui image processor, sensitifitas ISO dan lain sebagainya).

Dan dikarenakan ‘jendela’ yang jauh lebih kecil, dibutuhkan focal length yang lebih pendek lagi (lensa yang lebih wide lagi) untuk menyamai field of view sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor MFT dengan sensor APS-C dan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini, memiliki range harga yang sangat lebar. Di beberapa jenis bisa lebih murah dibanding kamera dengan sensor APS-C, di jenis lainnya bisa jadi sama mahalnya dengan kamera bersensor full-frame.

Karena pada beberapa jenis kamera, dengan kemampuan sensor yang lebih terbatas, fitur yang didukung bisa jadi melebihi fitur yang terdapat pada kamera bersensor full-frame. Beberapa fitur diantaranya adalah dukungan IBIS (in body image stabilizer), 4k video recording, slo-mo video recording, hybrid autofocus, dan lain sebagainya.

Perbedaan dari 3 ukuran sensor tersebut akan mempengaruhi 3 hal berikut:
– Kualitas image yang bisa ditangkap
– Kemampuan kamera bekerja dalam kondisi kurang cahaya
Field of view (lebar pandangan) yang dihasilkan

Pengaruh perbedaan ukuran sensor terhadap field of view

2. MIRRORLESS ATAU DSLR

Bisa dikatakan, kamera DSLR adalah kamera semi-analog. Beberapa bagian dan sistem kerjanya masih menggunakan sistem analog. Sedangkan mirrorless sudah sepenuhnya elektrik. Karena selalu menggunakan sistem elektrik maka kamera mirrorless lebih boros daya dibanding DSLR.

Perbedaan sistem kerja DSLR dengan Mirrorless

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, ada 2 catatan penting yang membuat DSLR lebih baik dari mirrorless adalah:

1. Optical viewfinder (DSLR) dan electronic viewfinder (mirrorless)

OVF (optical viewfinder) menampilkan preview yang realistis. karena menggunakan cermin untuk merefleksikan apa yang dilihat oleh lensa. Sementara EVF (electronic viewfinder) tidak se-realistis optical viewfinder karena pengaruh kualitas viewfinder itu sendiri. Ibaratnya seperti menonton bola di TV atau melihat langsung di stadion.

2. Contrast detect autofocus (DSLR) dan phase detect autofocus (mirrorless)

Contrast detection autofocus yang digunakan di sistem DSLR bisa tetap bekerja di kondisi kurang cahaya (low light). Sedang phase detection autofocus pada mirrorless membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bisa bekerja dengan baik.

Tapi hari ini, kedua perbedaan itu semakin samar. Kedua sistem (DSLR dan mirrorless) saling beradaptasi dan saling menutupi kekurangan. EVF pada mirrorless semakin baik untuk menampilkan preview yang lebih realistis. DSLR sendiri menggunakan kedua viewfinder tersebut, OVF dan EVF pada LCD display-nya.

Dan beberapa jenis mirrorless mulai menggunakan sistem autofocus hybrid (contrast detection dan phase detection) sekaligus. Didukung juga dengan perkembangan battery dari mirrorless yang semakin baik sehingga bisa bertahan lebih lama.

Kedua tipe kamera tersebut saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. DSLR lebih disukai karena berukuran lebih besar dan berkesan kokoh. Mirrorless sendiri lebih praktis karena berukuran kecil.

DSLR lebih disukai, karena untuk mode photography, optical viewfinder merefleksikan detail dengan baik. Sementara mirrorless lebih disukai untuk videography, karena sistem EVF menerapkan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get). Dimana exposure, warna dan detail yang terlihat di EVF sebelum merekam video, persis seperti layaknya video yang sudah direkam.

Hingga pada akhirnya pilihan antara ke dua kamera ini lebih kepada kenyamanan penggunaan. Seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan di waktu menggunakan kamera.

3. IMAGE PROCESSOR

Seperti pada kamera analog, ‘image processor’-nya adalah manusia dengan segala peralatannya yang berada di kamar gelap. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung dari berbagai hal dan proses. Mulai dari kualitas klise foto, kualitas material yang digunakan, kualitas media cetak yang digunakan dan lain sebagainya.

Pada kamera digital, setiap gambar yang dihasilkan adalah hasil proses dari image processor-nya. Pada kamera Canon dikenal processor DIGIC (DIGIC 4, DIGIC 5, DIGIC 5+, DIGIC 7 dan sebagainya). Pada kamera Fuji atau Nikon dikenal processor Expeed (Expeed 4, Expeed 5 dan sebagainya). Sedangkan pada kamera Sony dikenal processor BionZ.

Beberapa jenis image processor

Walau dalam prakteknya terdapat banyak hal yang mempengaruhi kualitas (ukuran sensor, sensitifitas ISO, kualitas lensa dan lain sebagainya), cukup sulit untuk membandingkan antara 2 image processor berbeda (misal antara DIGIC dengan Expeed).

Namun ketika kita kesulitan dalam memilih dua (atau lebih) kamera dari brand yang sama, tidak ada salahnya memastikan image processor yang tertanam pada kamera lebih baru (misal Canon dengan processor DIGIC 7, dengan asumsi memiliki kemampuan yang lebih baik) dibanding kamera Canon lain yang menggunakan processor DIGIC 4.

3. SENSITIFITAS ISO

ISO adalah satuan standar tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Pada ISO minimal, sensor akan merekam gambar dengan kemampuan terbaiknya, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan terlihat sangat baik.

Namun dalam kondisi kurang cahaya, tidak banyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor. Sensitifitas sensor dibutuhkan (meningkatkan nilai ISO) agar lebih peka terhadap cahaya.

Meningkatkan nilai ISO akan membantu sensor menyerap cahaya namun kualitas gambar menjadi tidak terlalu baik. Gambar akan terlihat berbintik atau dikenal dengan istilah noise atau grainy. Dan semakin tinggi nilai ISO maka semakin banyak noise/grainy yang dihasilkan.

Dengan prinsip tersebut, diilustrasikan 2 kamera dengan kemampuan ISO yang berbeda.

Kamera A dengan sensitifitas ISO yang lebih tinggi, misal 12800, masih mampu menghasilkan gambar dengan grainy/noise yang cukup baik dibandingkan dengan kamera B dengan sensitifitas ISO hanya 6400.

Kamera A (ISO range 100-12800) masih mampu mengontrol grainy/noise di ISO 3200 karena hanya menggunakan sekitar 30% dari kemampuan ISO maksimalnya.

Sedangkan kamera B (ISO range 100-6400) walau sama-sama menggunakan ISO 3200 tapi menghasilkan grainy/noise yang lebih tinggi karena sudah menggunakan 50% kemampuan ISO maksimalnya.

Ilustrasi ini hanya dimaksud untuk mempermudah pemahaman, karena dalam prakteknya, banyak hal lain yang mempengaruhi kualitas grainy/noise.

Selain itu, kamera dengan sensitifitas ISO tinggi (misal 52000) memiliki kemampuan low light yang jauh lebih baik dibanding karena dengan ISO maksimal, misal hanya 12800.

4. PILIHAN LENSA

Setiap brand kamera memiliki standar dudukan lensa (lens mounting) masing-masing. Setiap kamera hanya bisa dipasangi lensa dengan mounting yang sama.

Kamera Canon yang menggunakan mounting EF (untuk seri DSLR full-frame), EF-S (untuk seri DSLR APS-C) dan mounting EF-M (untuk seri mirrorless). Pada Sony misalnya, terdapat A-mount (untuk seri DSLR) dan E-mount (untuk seri mirrorless).

Jajaran lensa dari beberapa brand terkemuka

Pilihan lensa mempengaruhi fleksibilitas penggunaan kamera itu sendiri. Tapi selain itu, karena pertimbangan harga dari lensa itu sendiri.

Beberapa orang memilih kamera dengan brand tertentu karena tersedia cukup banyak pilihan lensa. Sedangkan beberapa orang yang lain menghindari brand tertentu karena harga lensanya yang lebih tinggi.

Ketika memilih satu brand tertentu, sebaiknya pertimbangkan juga kebutuhan dan ketersediaan lensa dari brand tersebut.

Memilih satu brand tertentu karena harga kameranya (body) yang lebih murah, tapi (apabila dibutuhkan) memiliki pilihan lensa yang terbatas, tentu tidak baik.

Atau memilih satu brand tertentu karena ketersediaan lensanya yang sangat variatif, tapi mungkin saja tidak kita butuhkan (atau belum tentu mampu kita miliki), sama tidak baiknya.

Untuk itu sebaiknya memilih satu kamera disesuaikan dengan kebutuhan dan budget tersedia.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Inovasi atau Perkembangan Apple (iPhone)

Banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Apple tidak berinovasi dengan teknologinya.

Ketika Android tidak hanya menawarkan processor quad-core tapi bahkan octa-core. Ketika Android tidak hanya menawarkan RAM 2 Gb tapi bahkan hingga 6 Gb.

Sedangkan iPhone baru belakangan ini menggunakan processor quad core dan RAM yang telah ditingkatkan (hanya) menjadi 4 Gb.

Penemuan, adalah penciptaan hal baru yang sebelumnya tidak ada. Sedangkan inovasi, adalah pemanfaatan, atau pemaksimalan, hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Tidak semua hal yang terdapat di dalam sebuah iPhone adalah hasil penemuan Apple. Tapi berkat iPhone, beberapa teknologi tersebut menjadi lebih bermanfaat, ketimbang dilupakan.

Berikut ini beberapa inovasi dari Apple, dimana beberapa teknologi diantaranya bukan milik Apple. Namun lebih dulu disematkan pada sebuah iPhone.

Mendefinisikan ulang arti ‘smartphone’

Smartphone bukan inovasi Apple. Apple, jelas bukan perusahaan pertama yang menciptakan smartphone.

Sesuai namanya, smartphone pada dasarnya adalah sebuah telepon (phone), tapi juga mampu melakukan banyak hal (smart: selain hanya melakukan/menerima panggilan telepon).

Apple mendefinikan ulang arti sebuah smartphone. Dimana smartphone, pada dasarnya adalah sebuah perangkat pintar (smart device), yang bisa melakukan banyak hal. Dan telepon, hanyalah salah satu diantaranya.

Desain dan Penggunaan.

Salah satu bentuk pendefinisian ulang tersebut adalah dengan bagaimana sebuah smartphone digunakan. Ketika layar touchscreen berfungsi (biasanya) dengan satu sentuhan, Apple menerapkan beberapa sentuhan sekaligus (multi touch).

Karena kebanyakan smartphone masih menggunakan 3 button (home button, back/kembali, dan menu button), dan penggunaan beberapa fungsi yang ada membutuhkan bantuan langsung dari tombol fisik. Tergantung seberapa baik desainnya, beberapa smartphone cukup sulit digunakan menggunakan satu tangan.

Sejak awal dirilis, iPhone sudah berinovasi dengan menghadirkan smartphone yang sangat kompak dan simpel. iPhone hanya memiliki 1 tombol (home button) dan bahkan, hingga hari ini, tanpa botton sama sekali.

Fisik

Bandingkan bagaimana bentuk/desain sebuah perangkat selular, telepon, dan smartphone sebelum dan setelah iPhone diluncurkan.

Internet Cepat

Apple bukan penemu teknologi internet cepat, namun melalui kerjasama dengan provider telekomunikasi dari negara asalnya, iPhone terintegrasi dengan teknologi internet cepat seperti 3G, HSDPA serta 4G LTE.

Apabila pada saat itu Apple tidak melakukan inovasi tersebut, tidak tertutup kemungkinan kita hanya akan bisa menikmati koneksi internet menggunakan modem atau fiber optic. Mungkin saja, tidak ada internet cepat dalam genggaman tangan.

Dan hari ini, setiap produsen smartphone saling berlomba-lomba menyematkan teknologi koneksi data tercepat, 4G, 4.5G, LTE, 5G dst..

Application Store & Media Stream

Apple bukan penemu media penjualan produk digital. Nokia Store sudah cukup populer sebelumnya. Napster, dan sejenisnya, sudah lebih dulu menjual media streaming. Tapi sebelumnya, digital store tersebut terpisah sesuai tipe media yang dijual.

Apple berinovasi dengan satu store untuk berbagai media digital (aplikasi, musik, film hingga buku) dan menyematkan semuanya dalam setiap produknya (iPhone, iPad, iPod, hinggaa Mac OS) yang bernama iTunes Store.

Pengguna Apple bisa menikmati musik, film, buku, menginstall berbagai aplikasi, hanya dalam satu device.

Kamera

Salah satu inovasi terbesar iPhone ada pada sektor kamera. Smartphone berkamera? Tentu bukan penemuan Apple. Jauh sebelum iPhone diciptakan sudah cukup banyak smartphone yang berkamera. Kamera untuk foto, udah pasti. Walau beberapa ada yang mendukung kemampuan rekam video juga, dalam fungsi yang lebih terbatas (biasanya berhubungan dengan resolusi).

Bagi Apple, smartphone adalah device yang bisa melakukan banyak hal. Jadi selain untuk mengambil foto, sebuah kamera juga udah seharusnya mampu merekam video. Kualitas foto yang lebih baik, dan kemampuan rekam video selayaknya camcorder/handycam.

Bahkan lebih jauh lagi, iPhone juga dilengkapi dengan kemampuan perangkat keras dan sistem operasi untuk editingfoto atau video tersebut.

Dual camera? Bokeh? Editing hanya dari smartphone?

Fitur-fitur.

Berbicara tentang spesifikasi, Apple bukanlah perusahaan yang mengejar kuantitas (angka). Secara spesifikasi hampir semua bagian dari sebuah iPhone yang bisa dinilai dengan angka, selalu lebih rendah dibanding smartphone lain.

Core dan clock processor, kapasitas RAM, megapixel kamera, aperture kamera, ukuran inch, resolusi display, kapasitas baterai, dan lain sebagainya. Angka tertinggi dari sebuah iPhone, mungkin hanya harga 😉

Tapi harga tersebut setimpal dengan fitur dan kemampuan sebuah smartphone. Dengan kemampuan yang sangat efektif dan mengintegrasikan banyak hal, beberapa inovasinya diantaranya:

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.