Posts tagged stabilizer

Xiaomi Mijia 4K: GoPro Killer??

Puluhan video review Youtube meng-klaim Xiaomi Mijia 4K ini sebagai salah satu GoPro Killer. Well.. Mari kita bahas lebih dalam.

Sebelum membahas kelebihan dan kekurangannya, tentu harus ada alasan kenapa saya memilih Xiaomi Mijia 4K ini. Karena banyak produsen lain juga meng-klaim produk mereka sebagai ‘GoPro Killer’.

Sebenernya ada 4 kandidat (dimana semuanya dianggap sebagai GoPro Killer): Xiaomi Mijia 4K, Xiaomi Yi Discovery, Xiaomi Yi Lite, dan Ezviz S5

Kebetulan, 3 diantaranya adalah action-cam yang ber-merk Xiaomi.

Buat yang belum tau, pada awalnya Xiaomi adalah perusahaan yang khusus memproduksi smartphone. Dalam perkembangannya Xiaomi juga berekspansi ke device lain (salah satunya adalah action-cam). Bentuk ekspansinya adalah dengan berinvestasi di perusahaan yang memang telah memproduksi action-cam, yaitu Yi Technology.

Xiaomi hanya berinvestasi jadi tidak perlu memproduksi sendiri action-cam tersebut. Yi Technologi sendiri diuntungkan oleh nama besar Xiaomi dan cabang distribusi Xiaomi yang lebih luas di dunia.

Hingga kemudian (walaupun masih bekerjasama dengan Yi Technology) Xiaomi membentuk sub divisi baru bernama Mijia. Sub divisi Mijia dikhususkan untuk memproduksi smart device di luar smartphone seperti action-cam, smartwatch dan lain-lain.

Jadi walaupun action-cam Xiaomi Yi sudah dikenal lebih lama, tapi Mijia 4K adalah action-cam pertama yang langsung diproduksi sendiri oleh Xiaomi.

Anyway, pertimbanganya adalah sebagai berikut:

Sensor (subjektif):
Xiaomi Mijia 4k (Sony)
Xiaomi Yi Lite (Sony)
Xiaomi Yi Discovery (Sony)
Ezviz S5 (Panasonic)

Frame rate 4k:
Xiaomi Mijia 4k (30 fps)
Xiaomi Yi Lite (20 fps)
Xiaomi Yi Discovery (20 fps)
Ezviz S5 (15 fps)

Camera mode:
Xiaomi Mijia 4k: Video, Photo, Burst, Time-lapse Video, Time-lapse Photo, Slo-mo Video, Timer.
Xiaomi Yi Lite: Video, Photo, Burst, Time-lapse Video, Time-lapse Photo, Slo-mo Video, Timer.
Xiaomi Yi Discovery: Video, Photo, Burst, Time-lapse Video, Timer (tidak ada mode time-lapse photo dan slo-mo video)
Ezviz S5: Video, Photo, Burst, Time-lapse Video, Time-lapse Photo, Slo-mo Video, Timer.

EIS (electronic image stabilizer):
Xiaomi Mijia 4k (ada)
Xiaomi Yi Lite (ada)
Xiaomi Yi Discovery (tidak ada)
Ezviz S5 (ada)

Aksesoris
Xiaomi Mijia 4k (tidak ada)
Xiaomi Yi Lite (ada)
Xiaomi Yi Discovery (ada)
Ezviz S5 (ada)

Hasil:
Xiaomi Mijia 4K 4/5 (sensor, frame rate, camera mode, EIS)
Xiaomi Yi Lite 4/5 (sensor, camera mode, EIS, aksesoris)
Xiaomi Yi Discovery 2/5 (sensor, aksesoris)
Ezviz S5 3/5 (camera mode, EIS, aksesoris)

Berbicara tentang sensor, Mijia 4k, Yi Lite dan Yi Discovery menggunakan sensor dari Sony, sedangkan Ezviz menggunakan sensor dari Panasonic.

Di area mirrorless kamera, Sony (seri alpha) dan Panasonic (seri lumix) sama-sama memiliki kualitas sensor yang sangat baik. Bahkan hingga ke area smartphone, seperti samsung dan apple menggunakan sensor dari Sony. Tapi saya kurang tau dengan kualitas sensor panasonic di area action-cam.

Karena itu secara subjektif saya memberi 1 point untuk sensor Sony.

Secara spek (diluar sensor dan image processor yang digunakan), Xiaomi Mijia 4k dan Xiaomi Yi Lite hampir sama. Bedanya hanya di frame rate pada video 4k.

Jadi ingat Canon 500D (tahun 2009), yang waktu itu udah nawarin FHD video tapi cuma 20 fps. Karena waktu itu masih masa transisi DSLR buat jadi kamera video. Teknologi saat itu masih terbatas.

Tapi hari ini, video 20 fps? Sekarang bukan lagi masa transisi video 4k. Jadi menurut saya produsennya terlalu memaksakan fitur 4k recording, sehingga kemampuanya terbatas.

Jadi saya pilih Xiaomi Mijia 4k sebenarnya lebih karena sudah memiliki fps 4k yang layak tonton. Karena secara spek lain, diatas kertas, tidak terlalu beda dengan Xiaomi Yi Lite.

Desain

Bahkan sebelum menyentuh langsung (hanya melihat dari foto/video review), menurut saya desain Mijia 4k ini sangat menarik. Hanya ada 1 tombol, membuat action-cam ini terlihat compact. Di sisi kiri terdapat ‘pintu’ untuk colokan kabel micro-USB. Cukup baik untuk menghindari debu dan kotoran masuk dari port usb.

Dibagian bawah terdapat kompartemen baterai, sekaligus slot microSD. Lagi-lagi, cukup baik untuk menghindari debu atau kotoran masuk.

Di sebelah kompartemen baterai terdapat lobang ulir 1/4 agar Mijia 4k bisa langsung dipasang ke tripod. Biasanya action-cam butuh housing khusus untuk mounting (ke tripod atau mounting lain) karena tidak disediakan mounting langsung di body-nya.

Touch screen dan Menu

Touch screen display berukuran 2.4 inch. Cukup besar jika dibandingkan dengan touch screen dari beberapa action-cam lain, tapi tetap masih beresolusi 230.000 dots.

Touch screen cukup responsif dan menu layout cukup mudah untuk digunakan.

Pada saat preview (di halaman default/standby), swipe ke kanan akan membuka menu untuk camera mode (Video, Photo, Time-lapse dan sebagainya). Apabila di swipe ke kanan akan membuka gallery. Dan apabila di swipe ke bawah akan membuka menu sistem utama (Setting, Wifi, Lock mode, dan Shutdown).

Spesifikasi

4k 30 fps sudah sangat baik untuk kebutuhan apapun. Frame rate tertinggi tersedia pada resolusi HD 1280×720 dengan 200 fps. Dan frame rate terendah 25 fps tersedia di semua mode resolusi.

Yang unik dari Mijia 4k ini adalah terdapat picture style F-log untuk video, dan format RAW dengan ekstensi DNG untuk photo.

Pada mode video (video, time-lapse video dll) terdapat beberapa opsi seperti resolusi, frame rate, image stabilizer, distortion correction, white balance, exposure value, dan picture style.

Pada mode photo (photo, time-lapse photo, burst dll) terdapat beberapa opsi seperti picture quality, output JPEG/DNG, white balance, distortion correction, exposure value dan picture style. Dan tambahan 2 opsi manual untuk ISO, shutter speed.

Kesimpulan awal

Xiaomi Mijia 4k ini hanya mendukung pengaturan ISO dan shutter speed manual di mode photo. ISO standar dengan range 100-1600. Dan shutter speed 1/250 hingga 8s. Jadi kita bisa mengambil photo slow shutter atau long exposure.

4k video, up to 200 fps, F-Log picture profile, ISO dan shutter speed manual, electronic image stabilizer,  touchscreen dan berbagai fitur lainnya. Secara teknis, diatas kertas, spesifikasi Mijia 4k ini sudah lebih dari cukup bahkan untuk kebutuhan professional.

Tapi sebagai catatan awal, jangan berharap terlalu banyak.

Secara subjektif, saya akan sampaikan beberapa hal tentang Xiaomi Mijia 4k ini.

Image Performance & Quality

Sensor yang digunakan adalah sensor Sony IMX317 (seperti yang digunakan pada Sony FDR-X3000). Saya sendiri belum pernah melihat langsung file mentah dari FDR-X3000. Karena kalau hanya melihat dari youtube, kualitas file memang sudah dipengaruhi proses encoding dan decoding dari youtube itu sendiri. Jadi untuk perbandingan yang mendekati (diluar DSLR atau mirrorles) file mentah yang bisa saya dapat adalah dari iPhone 5s dan iPhone 6s. image quality dari Xiaomi Mijia 4k ini, baik photo atau video, sedikit lebih rendah dibanding iPhone 5s (sama-sama 8 megapixel) atau iPhone 6s (12 megapixel).

Walau, kamera pembandinganya terasa masih kurang tepat, karena sebaiknya dibandingkan langsung dengan sesama action camera. Tapi untuk catatan pertama, image quality dari Xiaomi Mijia 4k ini tidak terlalu baik.

Namun sebelumnya, untuk kamera dengan sensor yang sama persis, Sony FDR-X3000 adalah action kamera yang menggunakan lensa dari Zeiss, dimana kita ketahui Zeiss adalah produsen lensa dengan reputasi yang sangat baik. Dan dibelakangnya, Sony FDR-X3000 menggunakan image processor BIONZ X, yaitu processor yang juga digunakan pada kamera mirrorless produksi Sony. Ke dua hal itu membuat image quality dari Sony FDR-X3000 (harusnya jauh) lebih baik dari Xiaomi Mijia 4k ini.

Secara umum, image quality dari Xiaomi Mijia 4k ini cukup layak untuk digunakan. Namun apabila di perbesar menjadi view 100% maka kita akan bisa merasakan penurunan kualitas seperti gambar berikut.

Dan untuk indoor, image quality semakin terasa rendah.

Apabila di perbedar menjadi view 100% gambar terlihat tidak fokus sama sekali seperti gambar berikut;

Idealnya, foto adalah image quality terbaik dari sebuah kamera dibandingkan video. Karena untuk menghasilkan sebuah foto kamera hanya menangkap 1 frame saja dan diambil dari seluruh permukaan sensor. Sementara pada video, kamera akan bekerja lebih keras karena harus menangkap puluhan frame sekaligus dalam waktu 1 detik dan (tergantung sistem kameranya) biasanya tidak menggunakan seluruh permukaan sensor.

Pada view 100%

Berbicara tentang noise atau grainy, Xiaomi Mijia 4k ini bekerja cukup baik untuk meminimalisir hal tersebut. Namun sebaliknya, gambar terlihat soft fokus dan membutuhkan proses editing yang lebih baik. Sebaliknya, dulu saya pernah punya Brica B-Pro AE2 (sudah tidak ada, jadi tidak bisa menampilkan perbandingan disini), dengan detail yang lebih baik dan tajam, namun menghasilkan noise dan grainy yang cukup tinggi.

Low light pada malam hari menggunakan ISO 100 (ISO terendah).

Namun pada view 100% image quality memang terlihat soft focus dan tidak tajam.

Selanjutnya untuk video quality pada frame rate tinggi. Gambar berikut di capture dari 1280×720 dengan frame rate 200 fps pada siang hari yang sangat panas (direct sunlight)

Dan apabila di zoom 100%, maka detail akan terlihat semakin rendah.

Jadi untuk judul diatas, anggapan sebagai ‘GoPro Killer’, setidaknya perlu di klarifikasi ulang, GoPro yang mana dulu.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Canon PowerShot SX430 IS

Digital compat camera dengan form factor DSLR. Waktu pertama kali pegang kamera ini sangat berasa kalo kamera ini adalah kamera compact (atau kamera pocket/kamera point n shot), kecil dan imut. Tapi bentuknya mirip DSLR. Jadi its like a mini DSLR. Cute!! Apalagi kalo buat cewek. Pasti suka.

Canon PowerShot SX430 IS

Dengan kemampuan super zoom, ‘memaksa’ kamera ini pake desain mirip DSLR. Karena panjangnya part dari lensa yang digunakan.

Interface kamera terlihat simpel (kalo gak mau dibilang minim). Ga ada kontrol manual. Kontrol on/off berbentuk tombol (yang beresiko tertekan secara tidak sengaja), gak menggunakan tuas layaknya DSLR.

Tuas zoom, tombol shutter, dan tombol on/off.

Tidak ada ring kontrol sama sekali. Baik untuk pemilihan mode pengambilan gambar, atau untuk pengaturan ISO, atau untuk pengaturan bukaan lensa, atau kontrol menu lainnya yang berhubungan dengan kreatifitas gambar.

Satu-satunya tuas yang tersedia adalah tuas untuk zoom in/out.

Dan, satu-satunya tombol ring yang tersedia cuma untuk navigasi sistem kamera. Jadi gak ada tombol ring yang berhubungan sama kreatifitas.

SPESIFIKASI

Sensor CCD 1/2.3 inch 20 Megapixel

Kamera ini menggunakan image sensor berjenis CCD. Dimana orientasi kamera digital saat ini pake sensor berjenis CMOS. Tapi walau pakai tipe sensor yang cukup tua, dengan dukungan megapixel yang cukup besar (20 megapixel), kamera ini tetap mampu menghasilkan kualitas gambar yang baik.

DIGIC 4+

Image processor DIGIC 4+ pada dasarnya adalah versi ekomonis dan udah cukup tua dari jajaran image processor Canon. Tapi memang beralasan, mengingat kamera ini adalah kamera compact dan gak butuh image processor hi-end.

Super Zoom 24mm – 1080mm

Rentang zoom (focal length) kamera ini sangat lebar. Saking lebarnya jadi satu alasan kenapa kamera ini menggunakan form-factor layaknya DSLR. Gak seperti kamera compact lainnya yang lebih tipis dan bisa masuk kantong (pocket).

Rentang zoom-nya setara dengan 24mm hingga 1080mm pada kamera full frame. Data teknis dari website resminya, kamera ini memiliki focal length 4.3mm hingga 193.5mm.

Dan dengan kemampuan super zoom-nya, kamera ini sudah didukung image stabilizer (SX430 ‘IS’ = image stabilizer). Karena semakin zoom, semakin besar resiko shaking.

Aperture f/3.5 – f/6.8

Bukaan lensa (f/stop) kecil, f/3.5 hingga f/6.8. Jadi exposure harus mengandalkan cahaya di area objek foto (atau video).

Tapi karena rentang zoom-nya sangat lebar, sangat memungkinkan untuk menghasilkan foto bokeh.

ISO (auto)100-1600

Rentang ISO cukup baik untuk dapetin exposure selama digunakan di area dengan cahaya yang baik. Bisa menggunakan settingan auto, atau secara manual menggunakan beberapa mode pengambilan gambar tertentu. Karena gak semua mode pengambilan gambar mengijinkan penggunaan ISO manual.

Tapi dengan kemampuan ISO yang terbatas, ditambah rentang zoom yang sangat lebar, mengisyaratkan kamera ini idealnya digunakan di area outdoor. Pada siang hari. Lagipula, kemampuan zoom yang sangat lebar tentu gak terlalu dibutuhkan di area indoor.

Shutter Speed

Terdapat 2 kontrol shutter speed pada kamera ini. Pada mode auto, rentang shutter speed antara 1 s hingga 1/4000 s.

Shutter 1s udah sangat masuk akal mengingat makin bertambahnya zoom, maka makin tinggi resiko shaking. Meningkatkan kemampuan shutter lebih dari 1s (2s atau lebih) hanya akan membuat kamera ini selalu di dalam resiko menghasilkan gambar-gambar blur.

Tapi, apabila memang dibutuhkan, shutter speed maksimal yang didukung mencapai 15s. Tapi shutter speed ini cuma bisa diakses dari mode pemotretan long exposure.

*saya coba pake mode long exposure, tapi shutter speed tetap di 1s.

Kamera ini gak mendukung shutter speed 30 s atau BULB, layaknya DSLR.

LCD Display

Kamera ini tidak memiliki viewfinder atau jendela bidik layaknya DSLR. Semua akses menu serta preview komposisi pengambilan gambar dilakukan melalui LCD display.

LCD display berukuran standar 3.0 inch, namun beresolusi rendah hanya 230.000 dots. Beberapa camera compact lainnya menggunakan LCD display dengan 460.00 dots.

Sementara sebagai perbandingan, pada kamera DSLR atau mirrorless biasanya menggunakan LCD display dengan resolusi 1.000.000 dots atau lebih.

MENU

Sistem menu kamera cukup menarik. Walau secara fisik gak banyak tombol dan kontrol, tapi dari dalam menu sistem cukup banyak setting-an yang bisa diganti.

Ada 3 pilihan auto fokus; center, face detection, dan tracking auto focus.

Dengan adanya tracking auto focus maka kamera ini cukup baik untuk video recording. Beberapa jenis DSLR malah belum punya kemampuan tracking auto focus.

Pilihan menu sistem auto focus.

Terdapat beberapa pilihan white balance, mulai dari AWB (auto white balance) bahkan custom white balance.

Ada cukup banyak mode pengambilan gambar; program ae, monochrome, fish-eye, miniature, toy effect, dan lain sebagainya. Di beberapa mode pengambilan gambar, tidak mengijinkan pengaturan ISO secara manual.

Di bagian foto, ada 2 pilihan utama. Resolusi foto; lage, medium, small (yang berhubungan dengan megapixel dan ukuran file), satu lagi pilihan tingkat detail (fine dan superfine).

Tapi untuk video cuma ada 1 menu; pilihan resolusi video (HD dan VGA). Jadi gak ada pilihan frame rate atau pilihan codec video dan semacamnya.

QUALITY

Dengan sensor yang berukuran kecil (1/2.3), bukaan lensa yang lebih kecil, dan kemampuan ISO yang terbatas, membuat kamera ini sangat direkomendasikan hanya digunakan di area dengan cahaya cukup.

Setiap kamera memiliki kemampuan maksimal yang berbeda, jadi diharapkan seorang fotografer cukup paham dengan kemampuan alat yang dimiliki.

Untuk kemampuan zoom, kualitasnya masih baik. Mengingat harga kamera ini yang sangat terjangkau, tentu lensanya tidak menggunakan material dan teknik built lensa terbaik. Akan ada penurunan detail dan ketajaman seiring dengan semakin lebar atau semakin sempit zoom yang digunakan.

Sekalilagi, gak ada kontol manual. Termasuk gak ada fungsi manual buat fokus. Dan dengan sistem fokus contrast-detection 9 point, keterlambatan fokus memang akan cukup sering dialami.

Dan final output, yang dilihat dari kemampuan image sensor (yang bertipe CCD) dan image processornya (DIGIC 4+), kedua bagian ini masih mampu menghasilkan gambar (baik foto atau video) dengan baik.

Walau demikian, format keluaran kamera ini hanya JPEG dan tidak mendukung format RAW.

Contoh foto bokeh

Jarak object sekitar 2 meter. f/6.3, 1/60, ISO 100, 157mm (setara 880mm pada full frame).

Jarak object sekitar 5 meter. f/6.8, 1/125,ISO 400, 194mm (setara 1080mm pada full frame)

Jarak object sekitar 400 meter. f/6.8, 1/125,ISO 400, 194mm (setara 1080mm pada full frame)

Contoh hasil foto. Detail foto bisa dilihat langsung dari file (download terlebih dahulu)

KESIMPULAN

KELEBIHAN

  1. Kamera dengan rentang zoom yang samgat lebar 24mm – 1080mm
  2. Kualitas gambar yang dihasilkan masih cukup baik menggunakan ISO 100 (hanya bisa dengan menggunakan mode Program AE)
  3. Mampu menghasilkan foto bokeh (menggunakan teknik jarak, silahkan mengacu pada artikel ini)
  4. Sudah mendukung Wi-fi dan NFC serta remote camera menggunakan smartphone dengan konektifitas yang baik.

KEKURANGAN

  1. Tidak mendukung fitur manual control (manual focus, manual aperture, manual shutter speed, manual zoom)
  2. Sistem auto focus contract-detection yang cukup tertinggal (hanya 9 point) dan belum menerapkan sistem hybrid (contract-detection sekaligus phase detection)
  3. Minim kontrol (kalaupun ada, harus masuk ke menu navigasi), dan dengan kontrol on/off yang berbentuk tombol (beresiko tertekan secara tidak sengaja)

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.