Posts tagged videography

Tips & Trick Sony a6000

Sebagai salah satu pengguna kamera lawas yang pernah berjaya pada masanya, gw ngerasa perlu membagi beberapa tips dan trick yang biasa gw pake selama menggunakan kamera ini.

Btw, sekarang udah 2020, rilis tahun 2014 artinya kamera ini udah berusia 6 tahun. Waw!! 6 tahun, apa masih worth it make kamera ini? Atau buat yang belum punya dan lagi hunting mirrorless, masih layakkah kamera ‘tua’ ini dibeli?

Nama ‘a6000’ memang udah berumur 6 tahun. Tapi teknologi yang terpasang di kamera ini masih jauh dari kata tua. E-mount, exmor processor, hybrid autofocus, XAVC-S dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi yang masih dipakai di kamera-kamera rilis terbaru.

Satu hal yang membedakan mirrorless dengan DSLR terlihat dari body nya yang kecil. Kalau dibandingan dengan sesama mirrorless, seenggaknya untuk mirrorless dibawah 10 juta, a6000 lebih kecil lagi. Karena berbody kotak. Tidak ada part yang menonjol (seperti di fuji atau di seri a7 pada bagian logonya).

Secara desain, bodynya masih jadi salah satu alasan kamera ini masih layak. Enteng, ga susah dipegang, dan walau berukuran kecil tapi tetap ada viewfinder-nya.

Yang kedua, kamera ini pernah berjaya di masanya dengan kecepatan auto focus yang luar biasa. Kamera ini udah mendukung hybrid auto focus sistem, gabungan dari contrast detection dan phase detection auto focus.

Tapi itu kan dulu. Gimana dengan hari ini?

Karena pernah berjaya (dulu itu), jadi sampai hari ini sistem auto focus-nya masih bisa bersaing dengan kamera- kamera yang lebih baru. Kecuali kalo memang dulunya lemot, makin kesini ya mungkin makin berasa lemotnya.

Yang ketiga, karena sistem dari mirrorless itu sendiri. Electronic Viewfinder atau EVF. Sistem EVF amat sangat membantu untuk recording video. Istilahnya ‘what you see is what you get‘. Satu fitur yang ga akan didapat dari kebanyakan DSLR.

Ada kelebihan-kelebihan lain, beserta beberapa kekurangan, apalagi terkait umur. Tapi mari kita bahas beberapa tips dan trick yang mudah-mudahan cukup membantu kalian sesama user Sony a6000.

Built-in flash untuk photography indoor

Salah satu kelebihan dari built-in flash kamera ini adalah, karena bisa ditekuk untuk bouncing ke ceiling.

Built-in flash kamera ini ga terlalu powerful. Kalo ga salah cuma GN 6. Artinya coverage flash-nya hanya maksimal 6 meter di ISO 100. Dan itu pun, yah, ga cakep2 banget.

Terlalu deket, misal 1 atau 2 meter, hasilnya terlalu kasar. Hard shadow. Terlalu jauh, 5-6 meter, malah hampir kaya ga pake flash sama sekali.

Tapi cobalah untuk di bouncing ke atas, ke ceiling. Anyway, ini hanya berlaku untuk indoor ya, dengan bantuan ceiling. Kalo outdoor, apalagi ga ada ceiling-nya, well, kalo ga (si flash-nya) kalah sama cahaya luar, kalo ga ya, flash nya cuma kebuang percuma.

Bouncing ke ceiling, akan membuat flash turun kembali ke objek dalam intensitas yang lebih soft dan merata. Selain itu, karena efek bounce itu sendiri, cahaya flash akan kembali ter-bouncing-bouncing ke berbagai objek yang ada di sekitar area pemotretan. Bahkan sampai ke background dari objek utama. Jadi hasilnya adalah photo dengan exposure yang baik, coverage yang lebih lebar, dan smooth shadow.

Tombol C1 dan C2

Di beberapa website atau review youtube, kamera ini dikategorikan sebagai kamera semi-pro. Walau ada beberapa diantaranya yang masih mengkategorikan kamera ini sebagai kamera entry-level. Kamera amatiran.

Gw sendiri setuju untuk mengkategorikan kamera ini sebagai kamera semi pro. Kenapa?

Karena ada tombol C1 dan C2. Apa itu? Tombol C, adalah singkatan dari custom. Custom botton adalah tombol khusus, yang fungsinya bisa kita atur sendiri.

Dan tidak hanya satu, tapi disediakan 2 tombol custom yang berada di belakang (dibagian kanan bawah) dan di bagian atas (di sebelah tombol shutter).

Karena kalau untuk amatir, tombol yang disediakan hanyalah tombol-tombol utama. Mode dial, tombol pengaturan ISO, pengaturan shutter speed, tombol navigasi utama, tombol review dan lain sebagainya. Kalo ada fitur tertentu dan tidak disediakan tombol khusus, artinya kita harus masuk ke dalam menu utama untuk mengakses fitur tersebut. Walau kebanyakan, untuk entry-level biasanya kamera bekerja secara auto. Jadi praktis memang tidak banyak kontrol (tombol) yang dibutuhkan. Apalagi sampe butuh kontrol tambahan (custom).

Sedangkan pada level professional (atau semi-pro ketika berbicara tentang a6000 ini), seringkali membutuhkan fitur atau teknik tertentu yang membutuhkan bantuan kontrol (tombol) tambahan. Entah itu sebagai shortcut atau sekedar masalah posisi dimana tombol tersebut berada di body kamera.

Katakanlah untuk profesional (atau semi-pro$, yang punya kreatifitas dan harus ngeposisiin mounting kamera miring, atau karena kondisi di lokasi yang membuat beberapa tombol lebih susah untuk diakses, tombol costum ini bisa dikondisikan menggantikan tombol yang susah di akses tersebut.

XAVC-S

Jangan lupa dengan format baru untuk video recording ini.

Sebelumnya, output dari kamera ini cuma MP4 sama AVCHD. Dibanding MP4 yang menghasilkan video dengan bitrate dan quality standar, AVCHD menghasilkan bitrate dan video quality yang lebih baik.

Sampai saat Sony (dan Panasonic) membuat format video baru yang lebih baik, yaitu XAVC-S. Format ini juga dipakai di cinema camera/camcorder produksi Sony.

Kelebihan XAVC-S adalah detail video dan highlight control yang lebih baik. Dengan kelebihan ini lah, pada awalnya format ini hanya disediakan untuk cinema/broadcast/camcorder camera.

Secara spesifikasi hardware, beberapa kamera lain dari Sony (selain cinema/broadcast/camcorder camera-nya) juga mampu mengolah format ini. Hingga Sony memasangkan format ini ke beberapa kamera lainnya (salah satunya adalah a6000).

Tapi tentu saja, untuk kualitas yang lebih baik, ukuran file yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding AVCHD atau MP4. Walau, XAVC-S dari a6000 ini tentu ga sama seperti XAVC-S yang dihasilkan dari cinema/broadcast/camcorder camera. Beberapa hal, seperti bitrate dan color sampling dan bit depth sengaja dibatasi.

Dengan bitrate yang lebih besar dan ukuran file yang lebih besar, jangan lupa siapin SD card yang cukup cepat untuk writing 50MB/s video bitrate dan dengan kapasitas minimal 64Gb.

Lens Adapter

Kamera Sony hampir selalu menjadi minoritas. Terlebih di dunia fotografi. Seperti yang kita tahu, Canon dan Nikon adalah kamera digital yang paling umum digunakan.

Selain harga lensa dari Sony yang lebih mahal dan terbatas, karena ketersediaan lensa dari Canon atau Nikon yang lebih merata. Jadi kecil kemungkinan untuk bisa mengganti lensa sony (entah karena tidak ada pinjaman, atau karena harga yang terlalu tinggi), sementara besar kemungkinan untuk menemukan lensa-lensa dari produsen lain.

Untuk itu selalu sedia adaptor lensa. Dan berbicara tentang brand kamera yang ‘sejuta umat’, selalu siapin adaptor untuk mounting Canon EF.

Kamera ini biasanya dijual dalam 4 paket berbeda:
– Body only = tanpa lensa apapun
– Body + lensa kit = tanpa lensa fix dan tele zoom
– Body + lensa kit + lensa fix = tanpa tele zoom
– Body + lensa kit + tele zoom = tanpa lensa fix

Dengan adanya lens adapter, kita bisa ngelengkapin semua lensa yang dibutuhin (dengan membeli/pinjam) lensa-lensa Canon yang ada.

Untuk informasi, ada 3 jenis adaptor lensa yang tersedia:

Adaptor manual

Adaptor ini dijual sekitar 100 rb. Cukup banyak pilihan mounting-nya, canon, nikon, bahkan sampai leica mount. Kekurangannya, sama sekali tidak ada kontrol auto. Tidak ada pin elektrik jadi semua lensa di kontrol manual.

Jadi auto focus cepatnya ga berguna dong? Well, ini solusi murah untuk kebutuhan lensa komplit.

Adaptor Elektrik

Adaptor ini dilengkapi pin elektrik dan dijual sekitar 500 ribu hingga 1 jutaan. Selain pilihan mounting yang lebih terbatas, kecepatan auto focus juga menurun drastis. Bahkan seringkali lose focus.

Dan yang lebih penting, auto focus dengan adaptor ini hanya bisa di mode photo (single shot autofocus). Jadi auto focusnya tidak bekerja untuk video (continous auto focus).

Tapi setidaknya, adaptor ini bisa jadi jaminan untuk penggunaan hampir semua lensa dari canon. Karena beberapa lensa auto focus dari canon menggunakan sistem STM dimana ring focus hanya berfungsi kalau ada supply daya dari kamera (kalau pin elektrik lensa terhubung dengan pin di kamera). Apabila tidak ada, ring focus tidak akan berfungsi.

Selain itu, kontrol aperture masih dapat dilakukan pada lensa-lensa yang hanya mendukung pengaturan aperture secara elektrik.

Dan tambahan, dengan adanya pin elektrik pada adaptor ini, ada EXIF pada lensa akan ikut terekam.

Adaptor Elektrik

Adaptor ini, memiliki fitur komplit layaknya menggunakan lensa native dari sony. Walau tetap mengalami sedikit delay di autofocusnya.

Tapi adaptor ini sebenarnya diluar jangkauan pengguna sony a6000 karena harganya, hampir seharga kamera itu sendiri hehe..

Adaptor ini dijual dengan range harga jutaan, dan biasanya hanya digunakan oleh professional.

Untuk pengguna a6000, menurut gw rasanya lebih baik membeli satu atau 2 lensa native sony sekalian daripada membeli adaptor jenis ini 😉

Switch FINDER/MONITOR

Salah satu alasan kenapa mirrorless kamera punya daya tahan baterai rendah adalah karena semua fungsi pengoperasian kamera dilakukan secara elektronik. Pengaturan aperture, shutter speed, motorik focus dan zoom lensa, hingga viewfinder.

Terdapat pilihan auto switch finder/monitor, dan pilihan finder saja atau monitor saja.

Pada pilihan auto switch artinya finder dan monitor akan bergantian menggunakan daya dari baterai.

Gw sendiri lebih suka mematikan fungsi finder, dan hanya menggunakan fungsi monitor. Untuk fotografi, a6000 sudah dilengkapi focus peaking jadi kita tidak lagi harus mengintip dari viewfinder. Sedangkan untuk videografi, rasanya memang monitor lebih bermanfaat dibanding finder.

Dengan hanya mengaktifkan monitor dan mematikan fungsi finder, daya tahan baterai akan lebih terjaga.

Focus peaking & Zebra

2 hal yang mulai menjadi fitur wajib dalam kamera modern. a6000 sendiri sudah mendukung ke dua fitur ini, well, sejak 5 tahun yang lalu.

Focus peaking adalah bantuan untuk menentukan area focus yang ditandai oleh pinggiran objek yang bergaris-garis. Jadi kita tidak harus melihat melalui viewfinder untuk memastikan area focus. Fitur ini sangat membantu pada saat hanya menggunakan monitor, dan pada saat menggunakan lensa manual focus.

Zebra adalah fitur untuk membantu membaca detail dari exposure. Zebra berbentuk garis belang-belang yang akan muncul pada area yang terlalu gelap (atau terlalu terang) yang menyebabkan kehilangan detail objek.

Area yang dimaksud adalah area yang sangat gelap (atau area sangat terang), dimana karena terlalu gelap (atau terlalu terang), area itu menjadi pure black (atau pure white) tanpa ada detail apapun. Kamera ini bisa memberi tahu kita area-area tersebut.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa jenis kamera

Semuanya sama-sama kamera. Apa bedanya?

Kita bagi menjadi 3 jenis:

  1. Kamera handphone adalah yang paling murah. Harganya berkisar dari 1 jutaan hingga belasan juta.
  2. Kamera digital (DSLR atau mirrorless), kisaran harga nya sekitar 5 jutaan hingga puluhan juta rupiah.

3. Cinema camera, bisa juga dikategorikan sebagai camcorder, karena memang hanya bisa merekam video. Rentang harganya mulai dari puluhan juta hingga mencapai milyaran rupiah.

Sebenarnya apa yang membedakan semua kamera itu?

Cahaya

Pada dasarnya perbedaannya cuma 1: respon kamera tersebut (dalam hal ini kemampuan sensor yang digunakan) terhadap cahaya. Sensor, semacam lempengan kaca yang menerima gambar/cahaya.

Kemampuan sensor merespon cahaya akan mempengaruhi 3 point berikut:

  • detail = sebaik apa image quality-nya
  • exposure = sebaik apa kontrol noise/grainy-nya
  • dynamic range = sebaik apa sensor membaca bagian terang dan bagian gelap dalam satu waktu.

Biaya produksi sensor sangat mempengaruhi harga jual kamera. Untuk itu diciptakanlah sensor-sensor dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga beberapa kamera bisa dijual lebih murah karena menggunakan sensor yang, katakanlah tidak sebagus sensor lainnya.

Selain itu, kemampuan (baca:harga) kamera akan mempengaruhi output yang dihasilkan (bit-depth untuk foto dan bitrate untuk video).

Dalam bahasa yang di sederhanakan dan semoga cukup mudah dimengerti, saya akan coba menjelaskan perbedaannya.

Kamera Handphone

Kamera handphone memiliki banyak keterbatasan.

Tapi perlu diingat, keterbatasan yang dimaksud adalah keterbatasan performa dan spesifikasi. Karena kreatifitas tidak dibatasi oleh apapun 😉

Ukuran dari handphone itu sendiri yang tipis dan kecil, sehingga sensor yang digunakan juga berukuran sangat kecil. Hanya sekitar 0.5 cm. Setengah centimeter. Kira-kira… sebesar baut atau anting 😉

Baik Samsung Note 10, iPhone XS, Huawei P30 dan lain sebagainya. Menggunakan sensor yang berukuran kurang lebih sama.

Sebenarnya sensor berukuran kecil pun sudah mampu menghasilkan detail yang baik. Faktor pertama terpenuhi, detail.

Hanya saja karena berukuran kecil, cahaya (faktor ke 2), tidak terpenuhi. Tidak banyak cahaya yang bisa diserap oleh sensor kecil tersebut. Minimnya cahaya yang diserap akan menghasilkan noise atau grainy pada foto dan video yang dihasilkan.

“Noise atau grainy adalah efek yang timbul pada gambar (baik foto atau video) berupa bintik-bintik kecil. Bintik-bintik kecil ini akan membuat foto/video terlihat tidak tajam dan terkesan buram (mengurangi detail)”

Katakanlah sebuah handphone (dengan sensor kecilnya) mampu menghasilkan foto/video dengan tingkat detail 100%. Tapi karena minimnya cahaya yang diserap, muncul noise atau grainy misal, sekitar 30% (noise dan grainy ini kondisional tergantung situasi pada saat pengambilan foto/video tersebut).

Sehingga hasil akhirnya, katakanlah handphone tersebut hanya menghasilkan foto/video dengan nilai 70%. Ingat, ini hanya ilustrasi, untuk mempermudah pemahaman.

Dan faktor ketiga, yaitu dynamic range. Dynamic range adalah kemampuan sensor untuk ‘melihat’ area terang dan area gelap sekaligus, dalam satu waktu.

Kemampuan dynamic range bisa dilihat dari gambar dibawah.

Sensor dengan kemampuan dynamic range yang terbatas (sensor pada kamera handphone) harus memilih salah satu dari dua kondisi;
a. Mengekspos langit untuk mendapatkan gradasi cahaya matahari yang bagus, maka bagian air, batu dan buih ombaknya akan terlihat gelap. Atau;
b. Mengekspos buih ombak dan batunya, maka bagian langit menjadi sangat terang bahkan pucat putih tanpa menyisakan bentuk apapun (baik posisi matahari atau tekstur awan).

Sensor kamera handphone tidak mampu membaca kedua bagian cahaya tersebut (mengekspos langit/matahari dan ombak) sekaligus dalam satu waktu.

Karena itu kamera handphone seringkali dilengkapi dengan fitur HDR (high dynamic range) dimana kamera akan mengambil beberapa foto sekaligus (dengan pilihan exposure yang berbeda-beda) untuk kemudian dijadikan satu foto yang baru. Tapi fitur HDR ini dilakukan secara software, bukan karena kemampuan sensornya.

Sementara itu kamera handphone akan terkendala dengan kemampuanya menghasilkan output maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan handphone itu sendiri, baik dari sisi processor, kecepatan internal storage-nya untuk memproses foto/video berkualitas tinggi, atau pun untuk menghindari resiko overheat.

Kamera Digital (DSLR atau mirrorless)

Kamera digital mempunyai ukuran sensor yang relatif lebih besar. Relatif paling besar diantara kamera-kamera lain, sehingga mampu menangkap detail yang lebih baik.

Dalam hal ini seperti Canon 1Dx, Sony A7, Nikon D750 dan lain sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang sangat besar kamera digital mampu menghasilkan foto hingga mencapai 100 megapixel dengan detail yang sangat baik. Faktor pertama yaitu detail, bernilai sangat baik.

Namun untuk faktor ke 2 yaitu exposure, masih membutuhkan pencahayaan tambahan agar terhindar dari resiko noise dan grainy. Karena itu baik photographer atau videographer yang bekerja menggunakan kamera digital DSLR atau mirrorless masih membutuhkan lampu blitz/flash atau video lighting tambahan.

Dan faktor ke 3 yaitu dynamic range. Semakin besar ukuran sebuah sensor maka secara otomatis akan semakin baik kemampuan dynamic range-nya. Jadi tanpa menambahkan teknologi-teknologi tertentu (seperti HDR), dynamic range kamera digital (karena ukurannya) lebih baik dibanding kamera handphone.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Foto tersebut biasanya dihasilkan dalam format RAW dengam bit depth hingga 16bit.

Namun kamera digital masih kesulitan menghasilkan output video berkualitas tinggi. Karena itu kebanyakan kamera digital hanya mampu menghasilkan video dengan bitrate antara 25mbps hingga 100 mbps.

Selain itu terbatas dalam durasi video yang bisa direkam. Untuk menghindari resiko overheating.

Kamera Cinema

Kamera digital dengan sensor besar harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Cinema camera yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, apakah berarti sensornya jauh lebih besar lagi??

Teknologi dan format video komersil terbesar saat ini, yaitu 4K beresolusi 3840 pixel x 2160 pixel = 8.294.400 pixel (8 megapixel). Jadi untuk membuat video beresolusi 4K hanya membutuhkan sensor dengan output 8 megapixel!!

Hanya butuh sensor seukuran sensor kamera handphone untuk menghasilkan video beresolusi 4K. Terbukti dari hampir semua handphone terbaru saat ini sudah mampu merekam video 4K.

Dimana dengan sensor kamera handphone-pun, faktor pertama (detail) sudah terpenuhi.

Tapi kenyataannya, rata-rata ukuran sensor cinema camera hanya setengah dari ukuran sensor kamera digital (sensor full-frame). Lebih tepatnya seperti ukuran sensor APS-C pada kamera digital.

Namun diluar ukuran ataupun maksimal resolusi yang mampu dihasilkan, teknologi dibelakang sensor cinema camera sangat berfokus pada kemampuannya dalam mengolah cahaya.

Dimana salah satu kemampuan tersebut terlihat dari gambar yang hampir selalu bebas noise dan grainy. Sensor cinema camera tidak selalu membutuhkan pencahayaan tambahan. Bahkan dalam kondisi yang minim cahaya pun, sensor cinema camera mampu menjaga noise dan grainy di nilai terendah. Faktor ke 2, bernilai sangat baik

Salah satu penyebabnya, karena pada cinema camera digunakan 2 atau 3 (dan bahkan lebih) sensor sekaligus. Masing-masing sensor akan melipat-gandakan kemampuan kamera tersebut terhadap exposure (mengurangi noise/grainy) dan dynamic range (menangkap detail area gelap dan terang sekaligus).

Kemampuan bebas noise dan grainy serta kemampuan dynamic range yang sangat baik ini seringkali tidak bisa dicapai oleh kamera-kamera lain. Faktor 3 bernilai sangat baik.

Kemampun mengolah cahaya juga akan mempengaruhi kempuan dynamic range-nya.

Cinema camera, dimana ada dasarnya hanya bisa digunakan untuk merekam video, mampu menghasilkan video dengan output tertinggi.

Karena cinema camera didukung oleh processor khusus, biasanya dilengkap dengan harddisk atau SSD, serta sistem pendingin sehingga bisa merekam video dalam waktu yang lama.

Kesimpulan

Jadi secara singkat bisa disimpulkan sebagai berikut:

Kamera handphone: Exposure yang terbatas. Selalu beresiko mengalami penurunan detail (noise dan grainy) karena sensitifitas sensor terlalu rendah. Kemampuan dynamic range yang sangat rendah dan membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan.

Kamera handphone mampu memotret cepat (atau biasa dikenal dengan istilah burst), mampu merekam video slow-motion, dan mampu merekam dalam wakt yang lama.

Hanya saja foto/video yang dihasilkan tidak dengam output maksimal karena dipengaruhi oleh kemampuan processor, kemampuan internal storage, serta kemampuan untuk menghindari overheating.

note: handphone adalah device praktis. jadi dalam prakteknya, sangat jarang pengguna kamera handphone menggunakan dukungan lighting/pencahayaan tambahan

Kamera digital: Exposure lebih baik. Tersedia seting manual untuk adaptasi terhadap berbagai kondisi dan situasi. Membutuhkan lighting/pencahayaan tambahan. Kemampuan dynamic range yang lebih baik.

Kamera digital mampu menghasilkan foto dengan output maksimal. Tapi masih terbatas untuk video. Ditandai dengan penggunaan SD card (untuk kecepata yang lebih baik), dan kemampuan rekam video yang terbatas untuk menghindari overheating.

Kamera cinema: Mampu menghasilkan detail dan exposure yang sangat baik tanpa lighting/pencahayaan tambahan. Dan kemampuan dynamic range yang terbaik.

Kamera cinema didukung kemampuan sensor terbaik di dalam sistem yang kompleks (dengan processor, harddisk/SSD, serta sistem pendingin) sehingga mamp menghasilkan output video maksimal.

Perbedaan F-stop dan T-stop

Berikut ini sejarah singkat, diluar detail dan waktu kejadian, perbedaan kedua ‘stop’ tersebut.

Pada suatu ketika, dahulu kala, dimana pada saat itu nilai ukur (data angka) dari sebuah lensa hanya menggunakan istilah f-stop. Pada dasarnya angka yang tertera pada f-stop adalah hasil kalkulasi antara focal length berbanding besar diameter bukaan lensa.

Lensa 50mm dengan bukaan f/2.0, artinya diameter bukaannya: 25mm (50 diambil dari mm focal length kemudian dibagi 2 yang diambil dari nilai f-stop).

Jadi kita bisa mengetahui besar diameter bukaan dari sebuah lensa tanpa harus capek-capek mengukur menggunakan penggaris, apalagi sampe membongkar lensanya.

Menelusuri nilai f/stop dari beberapa lensa.

Melalui hasil penelusuran diatas, bisa dipahami bahwa perbedaan ukuran diameter bukaan (perbedaan nilai f/stop) akan mempengaruhi ukuran body lensa tersebut. Karena nilai f-stop dari lensa itu mempengaruhi diameter aperture blade. Sehingga beberapa lensa memiliki ukuran yang lebih besar dibanding beberapa lensa lainnya. Walaupun memiliki focal length yang sama.

Perbedaan fisik lensa terhadap diameter bukaan (diluar nilai f-stop-nya)

Katakanlah, lensa zoom 500mm dengan f/2.0, artinya bukaan lensa mencapai 250mm (atau 25cm). Berarti ukuran tabung lensa menjadi sangat besar.

Dibandingkan dengan, misal, lensa 500mm dengan f/5, bukaan lensa 100mm (atau 10cm), artinya ukuran fisik lensa mungkin berkisar antara 11-13cm.

Masalah pertama.

Dalam prinsip photography, semakin besar nilai f-stop sebuah lensa maka akan semakin baik kemampuan exposure-nya. Misal, lensa 50mm dengan f/1.8 memiliki kemampuan exposure yang lebih baik dari lensa 50mm f/3.5.

Namun dalam contoh berikut ini, lensa 30mm f/1.2 memiliki diameter bukaan sama persis (25mm) dengan lensa 50mm f/2.0

Artinya kedua lensa tersebut, walau memliki nilai f-stop yang berbeda, tapi memiliki kemampuan exposure yang sama.

Contoh kedua; lensa 35mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 19.5 mm (35 dibagi 1.8). Dibandingkan dengan lensa 50mm f/1.8, diameter bukaan sekitar 27.8mm (50 dibagi 1.8). Walau kedua lensa tersebut memiliki nilai f-stop yang sama, tapi kemampuan exposure lensa 50mm lebih baik karena diameter bukaan yang lebih besar.

Masalah kedua.

Misal, lensa Canon 50mm 1.8 dengan lensa Sony 50mm 1.8. Kedua lensa tersebut memiliki diameter bukaan yang sama, sekitar 27.8mm.

Namun karena berbagai hal seperti konstruksi internal lensa atau kualitas material yang digunakan dan lain sebagainya, keduanya tidak memiliki kemampuan exposure yang sama.

Sehingga disimpulkan bahwa: semakin rendah nilai f-stop suatu lensa (1 lensa), semakin baik kemampuan exposurenya. Tapi f-stop sama sekali tidak bisa dijadikan patokan kemampuan exposure beberapa lensa sekaligus.

Masalah ketiga.

Kembali ke jaman dahulu kala, saat istilah videographer hanya dikenal dalam produksi film layar lebar. Dimana hal tersebut membutuhkan biaya, waktu, dan team yang cukup besar. Seringkali terkendala oleh kemampuan expoure yang berbeda dari setiap lensa.

Untuk itu dibutuhkan satu nilai yang lebih akurat dalam menentukan kemampuan lensa dalam merespon cahaya. Agar proses produksi film layar lebar pada waktu itu terhindar dari kesalahan exposure yang bisa menyebabkan pengeluaran waktu dan biaya post-production yang lebih besar terkait footage yang tidak ter-exposure dengan baik.

Hingga kemudian diterapkanlah standar nilai t-stop atau ‘transmission stop’, yaitu nilai ukur kemampuan exposure dari sebuah lensa. Nilai t-stop dihitung menggunakan metode uji coba, berbeda dengan nilai f-stop yang dapat dihitung hanya berdasarkan data teknis dimensi lensa.

Dengan menggunakan standar t-stop, setiap lensa yang berbeda (baik dari focal length, atau material yang digunakan, atau penerapan sistem internal yang berbeda, atau berbagai perbedaan lainnya) tapi memiliki nilai t-stop yang sama, misal T/1.5, artinya lensa-lensa tersebut memiliki kemampuan exposure yang sama persis.

Dalam proses produksi video setiap scene dan adegan biasanya membutuhkan spesifik komposisi dan penggunaan lensa tertentu. Penerapan standar t-stop ini sangat membantu menjaga exposure dengan baik walau menggunakan berbagai lensa yang berbeda.

Penutup

Karena pada awalnya lensa denga nilai t-stop adalah sebuah solusi terkait produksi film layar lebar (video), maka hingga hari ini lensa dengan standar t-stop tetap lebih populer digunakan dalam dunia videography dan dikenal dengan nama cinema lens.

Sedangkan untuk lensa photography pada umumnya masih tetap menggunakan standar f-stop.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Kamera

Seringnya, gak semua orang yang mau beli kamera ngerti segala spesifikasi dari sebuah kamera. Gak semua calon pembeli adalah professional photographer or videographer.

Malah katanya, siswa atau mahasiswa (yang belajar photography dan videography) udah disarankan untuk punya kamera terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus teori dasarnya.

Dan kalaupun si calon pembeli ngerti tentang kamera, mungkin ga jauh dari tau ukuran megapixel yang bisa dihasilkan saja.

Berikut ini beberapa hal, dengan penjelasan yang semoga mudah untuk dipahami, yang bisa dijadikan bahan perbandingan sebelum memutuskan membeli kamera.

Atau mungkin, sebagai acuan perbandingan antara beberapa kamera yang sudah di targetkan sebelumnya, sehingga lebih mudah memilih.

Dijelaskan dan diilustrasikan menggunakan bahasa yang ringan agar lebih mudah dipahami.

1. UKURAN SENSOR

Sensor adalah satu bidang rata di dalam body kamera yang melihat dan merekam gambar yang diproyeksikan oleh lensa. Layaknya media kaca pada mesin foto-copy.

Perbandingan ukuran sensor kamera.

Terdapat 3 ukuran sensor yang populer saat ini:

Full-frame. sensor yang berukuran 36mm x 24mm. Disebut juga sebagai format 35mm karena ukuran sensor tersebut sama seperti ukuran panjang 1 frame pita rol film (klise foto) kamera analog. Dan format 35mm menjadi acuan terhadap beberapa spesifikasi kamera digital.

Karena berukuran besar, sensor full-frame mampu melihat (menangkap) detail dengan lebih baik. Dan ibarat jendela berukuran besar, lebar pandangan (field of view) cukup luas. Sehingga menjadi ‘senjata wajib’ para professional.

Field of view pada kamera dengan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini memiliki harga yang tinggi. Ukuran yang lebih besar, detail yang lebih baik, dan senjata wajib para profesional.

APS-C (disebut juga sebagai format super-35mm) dengan ukuran fisik sekitar 24mm x 16mm. Awalnya, sensor APS-C hanya sebagai alternatif karena biaya produksi sensor full-frame yang cukup tinggi. Tapi dalam perkembangannya sensor APS-C punya tempat sendiri dalam dunia fotografi. Dan hingga hari ini format APS-C menjadi format populer untuk ukuran sensor kamera. APS-C sering juga disebut sebagai super-35mm karena ukuran sensornya ‘hampir mirip’ dengan sensor full-frame.

Walau lebih kecil tapi sensor APS-C tetap mampu menghasilkan detail yang tinggi. Tapi karena ukuran fisiknya yang lebih kecil, cahaya yang menyentuh permukaan sensor tidak sebanyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor full-frame. Jadi sensor APS-C tidak sebaik sensor full-frame di kondisi gelap/kurang cahaya.

Dan karena ukuran ‘jendela yang lebih kecil’, lebar pandang (field of view) tidak seluas full-frame. Sensor APS-C butuh lensa dengan focal length yang lebih pendek (lensa wide) untuk menghasilkan field of view yang sama seperti field of view pada sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor APS-C dengan sensor full frame.

Sensor ini, relatif lebih murah dibanding sensor full frame. Kamera yang menggunakan sensor ini mayoritas memiliki fitur yang mirip dengan kamera bersensor full frame. Bedanya? Ukuran sensornya itu sendiri.

Micro Four-Third (biasa disebut M4/3 atau MFT) dengan ukuran fisik sensor sekitar 18mm x 13mm. Disebut micro, karena ukuran fisik-nya jauh lebih kecil dibanding sensor full-frame. Dan maksud four-third adalah ratio panjang berbanding lebar dari sensor itu sendiri. Sensor full-frame memiliki ratio 3:2 (36mm x 24mm) sedangkan MFT memiliki ratio 4:3 (18mm x 13mm)

Sensor MFT masih mampu menangkap detail yang baik (bahkan sensor kamera smartphone yang cuma berukuran sekitar 5mm masih mampu menangkap detail baik). Tapi kemampuan MFT dibawah kondisi gelap/kurang cahaya tidak sebaik sensor-sensor yang berukuran lebih besar.

Namun begitu, kamera dengan sensor MFT biasanya memiliki fitur yang membantu dalam kondisi gelap/kurang cahaya (baik melalui image processor, sensitifitas ISO dan lain sebagainya).

Dan dikarenakan ‘jendela’ yang jauh lebih kecil, dibutuhkan focal length yang lebih pendek lagi (lensa yang lebih wide lagi) untuk menyamai field of view sensor full-frame.

Perbandingan field of view antara sensor MFT dengan sensor APS-C dan sensor full frame.

Kamera yang menggunakan sensor ini, memiliki range harga yang sangat lebar. Di beberapa jenis bisa lebih murah dibanding kamera dengan sensor APS-C, di jenis lainnya bisa jadi sama mahalnya dengan kamera bersensor full-frame.

Karena pada beberapa jenis kamera, dengan kemampuan sensor yang lebih terbatas, fitur yang didukung bisa jadi melebihi fitur yang terdapat pada kamera bersensor full-frame. Beberapa fitur diantaranya adalah dukungan IBIS (in body image stabilizer), 4k video recording, slo-mo video recording, hybrid autofocus, dan lain sebagainya.

Perbedaan dari 3 ukuran sensor tersebut akan mempengaruhi 3 hal berikut:
– Kualitas image yang bisa ditangkap
– Kemampuan kamera bekerja dalam kondisi kurang cahaya
Field of view (lebar pandangan) yang dihasilkan

Pengaruh perbedaan ukuran sensor terhadap field of view

2. MIRRORLESS ATAU DSLR

Bisa dikatakan, kamera DSLR adalah kamera semi-analog. Beberapa bagian dan sistem kerjanya masih menggunakan sistem analog. Sedangkan mirrorless sudah sepenuhnya elektrik. Karena selalu menggunakan sistem elektrik maka kamera mirrorless lebih boros daya dibanding DSLR.

Perbedaan sistem kerja DSLR dengan Mirrorless

Awalnya, beberapa tahun yang lalu, ada 2 catatan penting yang membuat DSLR lebih baik dari mirrorless adalah:

1. Optical viewfinder (DSLR) dan electronic viewfinder (mirrorless)

OVF (optical viewfinder) menampilkan preview yang realistis. karena menggunakan cermin untuk merefleksikan apa yang dilihat oleh lensa. Sementara EVF (electronic viewfinder) tidak se-realistis optical viewfinder karena pengaruh kualitas viewfinder itu sendiri. Ibaratnya seperti menonton bola di TV atau melihat langsung di stadion.

2. Contrast detect autofocus (DSLR) dan phase detect autofocus (mirrorless)

Contrast detection autofocus yang digunakan di sistem DSLR bisa tetap bekerja di kondisi kurang cahaya (low light). Sedang phase detection autofocus pada mirrorless membutuhkan lebih banyak cahaya untuk bisa bekerja dengan baik.

Tapi hari ini, kedua perbedaan itu semakin samar. Kedua sistem (DSLR dan mirrorless) saling beradaptasi dan saling menutupi kekurangan. EVF pada mirrorless semakin baik untuk menampilkan preview yang lebih realistis. DSLR sendiri menggunakan kedua viewfinder tersebut, OVF dan EVF pada LCD display-nya.

Dan beberapa jenis mirrorless mulai menggunakan sistem autofocus hybrid (contrast detection dan phase detection) sekaligus. Didukung juga dengan perkembangan battery dari mirrorless yang semakin baik sehingga bisa bertahan lebih lama.

Kedua tipe kamera tersebut saling memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. DSLR lebih disukai karena berukuran lebih besar dan berkesan kokoh. Mirrorless sendiri lebih praktis karena berukuran kecil.

DSLR lebih disukai, karena untuk mode photography, optical viewfinder merefleksikan detail dengan baik. Sementara mirrorless lebih disukai untuk videography, karena sistem EVF menerapkan prinsip WYSIWYG (what you see is what you get). Dimana exposure, warna dan detail yang terlihat di EVF sebelum merekam video, persis seperti layaknya video yang sudah direkam.

Hingga pada akhirnya pilihan antara ke dua kamera ini lebih kepada kenyamanan penggunaan. Seringkali dipengaruhi oleh kebiasaan di waktu menggunakan kamera.

3. IMAGE PROCESSOR

Seperti pada kamera analog, ‘image processor’-nya adalah manusia dengan segala peralatannya yang berada di kamar gelap. Kualitas foto yang dihasilkan tergantung dari berbagai hal dan proses. Mulai dari kualitas klise foto, kualitas material yang digunakan, kualitas media cetak yang digunakan dan lain sebagainya.

Pada kamera digital, setiap gambar yang dihasilkan adalah hasil proses dari image processor-nya. Pada kamera Canon dikenal processor DIGIC (DIGIC 4, DIGIC 5, DIGIC 5+, DIGIC 7 dan sebagainya). Pada kamera Fuji atau Nikon dikenal processor Expeed (Expeed 4, Expeed 5 dan sebagainya). Sedangkan pada kamera Sony dikenal processor BionZ.

Beberapa jenis image processor

Walau dalam prakteknya terdapat banyak hal yang mempengaruhi kualitas (ukuran sensor, sensitifitas ISO, kualitas lensa dan lain sebagainya), cukup sulit untuk membandingkan antara 2 image processor berbeda (misal antara DIGIC dengan Expeed).

Namun ketika kita kesulitan dalam memilih dua (atau lebih) kamera dari brand yang sama, tidak ada salahnya memastikan image processor yang tertanam pada kamera lebih baru (misal Canon dengan processor DIGIC 7, dengan asumsi memiliki kemampuan yang lebih baik) dibanding kamera Canon lain yang menggunakan processor DIGIC 4.

3. SENSITIFITAS ISO

ISO adalah satuan standar tingkat sensitifitas sensor terhadap cahaya. Pada ISO minimal, sensor akan merekam gambar dengan kemampuan terbaiknya, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan terlihat sangat baik.

Namun dalam kondisi kurang cahaya, tidak banyak cahaya yang menyentuh permukaan sensor. Sensitifitas sensor dibutuhkan (meningkatkan nilai ISO) agar lebih peka terhadap cahaya.

Meningkatkan nilai ISO akan membantu sensor menyerap cahaya namun kualitas gambar menjadi tidak terlalu baik. Gambar akan terlihat berbintik atau dikenal dengan istilah noise atau grainy. Dan semakin tinggi nilai ISO maka semakin banyak noise/grainy yang dihasilkan.

Dengan prinsip tersebut, diilustrasikan 2 kamera dengan kemampuan ISO yang berbeda.

Kamera A dengan sensitifitas ISO yang lebih tinggi, misal 12800, masih mampu menghasilkan gambar dengan grainy/noise yang cukup baik dibandingkan dengan kamera B dengan sensitifitas ISO hanya 6400.

Kamera A (ISO range 100-12800) masih mampu mengontrol grainy/noise di ISO 3200 karena hanya menggunakan sekitar 30% dari kemampuan ISO maksimalnya.

Sedangkan kamera B (ISO range 100-6400) walau sama-sama menggunakan ISO 3200 tapi menghasilkan grainy/noise yang lebih tinggi karena sudah menggunakan 50% kemampuan ISO maksimalnya.

Ilustrasi ini hanya dimaksud untuk mempermudah pemahaman, karena dalam prakteknya, banyak hal lain yang mempengaruhi kualitas grainy/noise.

Selain itu, kamera dengan sensitifitas ISO tinggi (misal 52000) memiliki kemampuan low light yang jauh lebih baik dibanding karena dengan ISO maksimal, misal hanya 12800.

4. PILIHAN LENSA

Setiap brand kamera memiliki standar dudukan lensa (lens mounting) masing-masing. Setiap kamera hanya bisa dipasangi lensa dengan mounting yang sama.

Kamera Canon yang menggunakan mounting EF (untuk seri DSLR full-frame), EF-S (untuk seri DSLR APS-C) dan mounting EF-M (untuk seri mirrorless). Pada Sony misalnya, terdapat A-mount (untuk seri DSLR) dan E-mount (untuk seri mirrorless).

Jajaran lensa dari beberapa brand terkemuka

Pilihan lensa mempengaruhi fleksibilitas penggunaan kamera itu sendiri. Tapi selain itu, karena pertimbangan harga dari lensa itu sendiri.

Beberapa orang memilih kamera dengan brand tertentu karena tersedia cukup banyak pilihan lensa. Sedangkan beberapa orang yang lain menghindari brand tertentu karena harga lensanya yang lebih tinggi.

Ketika memilih satu brand tertentu, sebaiknya pertimbangkan juga kebutuhan dan ketersediaan lensa dari brand tersebut.

Memilih satu brand tertentu karena harga kameranya (body) yang lebih murah, tapi (apabila dibutuhkan) memiliki pilihan lensa yang terbatas, tentu tidak baik.

Atau memilih satu brand tertentu karena ketersediaan lensanya yang sangat variatif, tapi mungkin saja tidak kita butuhkan (atau belum tentu mampu kita miliki), sama tidak baiknya.

Untuk itu sebaiknya memilih satu kamera disesuaikan dengan kebutuhan dan budget tersedia.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Handphone Dengan Kamera Digital

Mengapa kamera handphone tidak sebaik kamera digital?

Banyak artikel terkait bahasan ini, tapi tidak semua memuaskan pembacanya. Beberapa artikel hanya memberi penjelasan tanpa detail dan gambar atau ilustrasi pendukung. Karena di mata pemula, setiap foto terlihat sama.

Jadi hal apa saja yang membedakan kamera handphone dengan kamera digital?

KAMERA HANDPHONE

Secara teknis, kamera handphone memiliki keterbatasan. Pada dasarnya, ada 3 hal yang terbatas pada sebuah kamera handphone. Sensor yang berukuran kecil, fixed focal length dan fixed aperture.

Fixed, yang berarti permanen. Tidak bisa diganti/diubah.

Sensor

Kamera handphone menggunakan sensor terkecil yang tersedia. Sensor adalah permukaan rata yang menerima gambar dari lensa (seperti permukaan mesin fotocopy).

Dengan ukuran yang kecil, maka praktis tidak banyak cahaya yang bisa ditangkap (menyentuh permukaan sensor). Kemampuan menyerap cahaya ini akan mempengaruhi kualitas yang dihasilkan.

Hal ini bisa jadi jawaban dari pertanyaan, apakah dengan evolusi kamera handphone nantinya, kualitas gambar yang dihasilkan mampu menyamai kualitas gambar dari kamera digital?

Secara teori hal itu tidak mungkin dilakukan karena bagaimanapun, ukuran sensor yang digunakan tetap lebih kecil dibanding sensor yang ada di kamera digital.

Atau pertanyaannya bisa dibalik, dengan perkembangan teknologi kamera handphone yang semakin canggih, mengapa kamera digital (DSLR atau mirrorless) tetap dibutuhkan? Karena kamera digital tetap menghasilkan detail dan kualitas yang jauh lebih baik dibanding kamera handphone.

Kecuali mungkin, suatu saat, kamera handphone menggunakan sensor yang seukuran dengan sensor kamera digital.

Informasi lain mengenai ukuran sensor bisa dilihat di postingan ini.

Fixed Focal Length

Focal length adalah kemampuan kamera untuk mendekat dan menjauh dari objek. Dalam bahasa lain, kemampuan zoom.

Dengan fixed focal length, maka si fotografer (si pengguna kamera handphone) harus selalu berpindah tempat mendekat dan menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Kamera handphone tetap memiliki kemampuan zoom, namun fungsi tersebut bekerja secara digital atau biasa disebut dengan istilah digital zoom. Tidak ada bagian fisik dari lensa yang bekerja. Hal ini secara drastis akan mengurangi kualitas foto yang dihasilkan. Kecuali, seperti pernyataan diatas tadi, karena di mata pemula setiap foto terlihat sama.

Fixed Aperture

Kamera handphone juga menggunakan fixed aperture. Aperture, atau diafragma, atau iris (pada kamera video) adalah nilai seberapa besar diameter bukaan lensa ketika ‘berkedip’.

Aperture terletak di depan sensor, dan menjadi ‘pintu’ pertama dalam proses kerja kamera.

Fotografi, dan videography, dikenal dengan istilah ‘melukis dengan cahaya’. Cahaya tidak bisa dipisahkan dalam proses photography dan videography. Dan aperture sendiri, mempengaruhi kualitas cahaya yang diterima oleh sensor.

Semakin besar nilai bukaan ‘kedipan’ ini (aperture) maka akan semakin baik sensor menerima cahaya.

*semakin rendah angka yang tertulis, artinya semakin besar diameter bukaan.

Selain mempengaruhi kualitas cahaya, aperture juga akan mempengaruhi area fokus dari gambar yang dihasilkan.

Informasi lebih lanjut tentang aperture ini bisa dilihat di postingan ini.

iPhone 8 dengan fixed aperture f/1.8 dan iPhone 8 Plus dengan fixed aperture f/1.8 pada lensa wide dan f/2.8 pada lensa tele.

Dan FYI, perlu digaris bawahi, pada kamera handphone sebenarnya tidak ada aperture. Yang dimaksud ‘aperture’ tidak lebih dari bolongan yang ada di body handphone itu sendiri. Jadi memang mustahil untuk bisa memperbesar/memperkecil bolongan itu.

ISO & Shutter Speed

Dalam teori fotografi, nilai exposure (hasil foto dengan pencahayaan yang baik) selalu dipengaruhi oleh aperture, shutter speed, dan ISO. Hasil dari ketiga hal tersebut lah yang kemudian direkam oleh sensor.

Perlu diingat, shutter speed adalah nilai kecepatan ‘kedipan’. Dan aperture adalah: nilai diameter bukaan.

Aperture: besar diameter bukaan lensa
Shutter speed: kecepatan bukaan lensa (kecepatan bukaan aperture tersebut).

Dan sama seperti aperture, tidak benar-benar ada bagian shutter pada kamera handphone. Karena shutter speed yang dimaksud dilakukan secara digital.

Sedangkan ISO adalah satuan untuk sensitifitas sensor terhadap cahaya. ISO dengan nilai terendah artinya sensor bekerja mandiri (yang dalam kondisi tertentu beresiko hasil lebih gelap), tapi menghasilkan detail terbaik.

Sementara, dengan sensor yang berukuran kecil, ISO hampir selalu dibutuhkan. Dengan bantuan ISO akan membantu menghasilkan exposure yang baik, tapi dengan resiko penurunan detail (karena noise/grainy).

Maka mengacu pada teori fotografi tersebut (aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama), dalam banyak kasus kamera handphone akan menghasilkan gambar sebagai berikut:

  • Shallow depth of field (bokeh) yang sangat tipis. Membuat semua objek yang ada di foto terlihat ‘fokus’ tanpa ada area out-focus.
  • Pada objek bergerak, besar kemungkinan foto yang dihasilkan akan blur, karena shutter speed yang terbatas.
  • Menghasilkan foto dengan tingkat noise/grainy yang cukup tinggi (penurunan detail) karena fixed aperture dan mengandalkan ISO yang bekerja secara automatic.
  • Tingkat ketajaman (dilihat dari pixel pitch foto yang dihasilkan) sangat rendah. Rata-rata pixel pitch kamera handphone hanya berkitar antara 1 hingga 1.5 micron pixel.

Megapixel

Saat ini produsen-produsen smartphone merilis handphone yang mampu menghasilkan foto dengan megapixel besar.

Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah, pengaruh megapixel terhadap kualitas yang dihasilkan.

Kuncinya ada disini:

Megapixel besar = membutuhkan sensor besar.

Yang berarti apabila, sensor berukuran kecil (handphone) menghasilkan megapixel berukuran besar = detail dan ketajaman akan berkurang.

Hal ini menjadi satu alasan kenapa iPhone atau beberapa seri dari samsung masih bertahan dengan resolusi 12 megapixel, untuk menjaga pixel pitch tidak kurang dari 1.5 micron pixel.

Micron pixel adalah detail per pixel dari sebuah gambar.

iPhone XR dengan 12 megapixel. Samsung Note 9 dengan 12 megapixel. Dan Google Pixel 3 dengan 12.2 megapixel.

Seperti beberapa seri DSLR dan mirrorless, sebuah device yang memang dikhususkan hanya untuk fotografi/videografi, tapi ‘hanya’ menghasilkan foto dengan resolusi 16-18 megapixel, demi menjaga detail pixel agar tidak kurang dari 3 micron pixel.

Sementara kebanyakan smartphone android mampu menghasilkan foto diatas 16 megapixel, bahkan mencapai 40 megapixel, namun dengan detail pixel yang sangat rendah, biasanya tidak lebih dari 1.2 micron.

Untuk menghasilkan megapixel besar tapi dengan tetap menjaga tingkat micron pixel tinggi, maka dibutuhkan sensor yang berukuran besar. Sedangkan pada kamera handphone, teori yang diterapkan justru sebaliknya. Menghasilkan megapixel besar menggunakan sensor berukuran kecil. DImana hasilnya adalah nilai micron pixel yang sangat rendah (detail yang semakin rendah).

Mi MIX 2 dengan kamera belakang 12 megapixel dan pixel size berukuran 1.25 micron

OnePlus 5T, kamera belakang 16 megapixel (pixel size 1.12 micron), kamera depan 20 megapixel (pixel size 1.0 micron)

Samsung Galaxy Note8 dengan kamera depan 8 megapixel dan pixel size berukuran 1.22 micron

KAMERA DIGITAL

Kamera digital sebaliknya, memiliki fleksibilitas tinggi.

Kamera digital umumnya mendukung penggunaan lensa fixed focal length, sekaligus variable focal length (atau biasa disebut lensa tele zoom). Fungsi zoom pada kamera digital menggunakan teknik optical zoom sehingga tidak mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Aperture pada kamera digital lebih bervariatif dan dengan lebar variasi berkisar antara f/36 hingga f/0.95. Ingat, semakin kecil angkanya, semakin besar diameternya. Sementara aperture pada kamera handphone berkisar antara (salah satu dari, karena tidak bisa diganti) f/2.4, atau f/2.2, atau f/2.0 dan sebagainya.

Dengan ukuran sensor yang lebih besar, mulai dari ukuran 1.5 cm (dimana sensor kamera handphone hanya sekitar 0.5 cm), kamera digital bekerja cukup baik di bawah kondisi kurang cahaya. Selain itu kamera digital juga memiliki kemampuan ISO dan shutter speed yang lebih baik.

Perbandingan ukuran sensor berbagai kamera

Dan mengacu pada teori fotografi mengenai aperture, shutter speed dan ISO yang saling bekerja sama tersebut, maka:

  • Dengan fleksibilitas lensa dan dukungan aperture yang bervariatif, kamera digital mampu menghasilkan foto tanpa bokeh, sekaligus foto shallow depth of field (sangat bokeh)
  • Dukungan shutter speed yang lebih baik membuat kamera digital mampu menghasilkan foto light trail menggunakan teknik slow shutter (kamera berkedip dalam waktu yang lama). Dan juga mampu menghasilkan foto freeze objek yang bergerak cepat menggunakan shutter speed yang tinggi (kamera berkedip dalam waktu yang sangat pendek)
  • Noise/grainy lebih terkontrol karena kemampuan ISO yang lebih baik dan adanya fitur ISO manual
  • Rata-rata kamera digital mampu menghasilkan foto dengan pixel pitch tinggi.

Foto yang dihasilkan menggunakan teknik slow shutter

Foto yang dihasilkan menggunakan shutter speed yang sangat cepat.

Sebagai perbandingan, kamera mirrorless Nikon 1 J1 (sekitar 4.5 juta), menggunakan sensor 1.3 cm, walau hanya menghasilkan foto berukuran 10.1 megapixel, dengan pixel pitch tinggi 3.39 micron.

Oneplus 5T (sekitar 9 juta), menggunakan sensor sedikit lebih kecil sekitar 0.8 cm, menghasilkan foto lebih besar, 16 megapixel, tapi dengan pixel pitch yang sangat rendah 1.12 micron.

Bahkan pada secondary camera-nya, menghasilkan megapixel yang lebih besar lagi (20 megapixel) tapi dengan pixel pitch hanya 1.0 micron.

Nikon 1 J1 harga 4 jutaan, dengan 10,1 megapixel dan 3.39 micron pixel. Dibawahnya OnePlus 5T harga 9 jutaan, dengan 16 megapixel dan 1.12 micron pixel

Diatas kertas, technically, kamera digital memang memiliki fitur yang jauh lebih lengkap dari kamera handphone. Tapi dalam prakteknya, apakah kamera digital memang sebaik itu?

* * *

Dalam dunia fotografi dikenal istilah ‘the best camera is the one that you have’. Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan kita. Atau dalam prakteknya, semua kamera menjadi bermanfaat selama digunakan dengan efektif dan maksimal. Seorang fotografer harus tau kemampuan alat yang dimiliki.

Setiap kamera bisa menjadi kamera baik apabila digunakan pada tempatnya. Dan setiap kamera bisa menjadi kamera terbaik apabila apabila sang fotografer mampu memaksimalkan penggunaannya.

The Best Camera is the One That You Have

Berikut ini beberapa point penjelasannya dari istilah tersebut:

1. Kamera digital memang memiliki aperture dan focal length yang bervariatif. Namun nyatanya, tidak semua orang mampu memiliki fleksibilitas sebaik itu. Kecuali mungkin para fotografer professional dengan budget besar.

2. Dengan ukuran sensor yang lebih kecil (dan aperture yang permanen), kamera handphone sebaiknya digunakan hanya dalam kondisi cahaya yang baik. Bahkan fotografer professional, dengan dukungan alat yang sangat baik pun, tetap membutuhkan lighting tambahan untuk menghasilkan foto yang baik.

3. Karena keterbatasan fixed aperture, kamera handphone sangat baik digunakan untuk foto dengan konsep/komposisi all-focus. Kamera handphone memiliki kemampuan yang pas untuk komposisi wide. Hindari mengambil foto dengan konsep bokeh. Dan dengan kemampuan depth of field yang terbatas, hindari komposisi dengan objek dan warna yang terlalu banyak.

4. Kamera handphone mengharuskan penggunanya untuk rajin bergerak mendekati atau menjauh dari objek untuk mendapatkan komposisi yang close atau wide. Sementara pengguna kamera digital bisa menggunakan lensa tele zoom tanpa harus berpindah tempat.

5. Gunakan berbagai aplikasi kamera manual pada handphone untuk mengontrol shutter speed dan ISO secara manual. Sehingga foto yang dihasilkan lebih jelas dan tajam. Aplikasi dapat mengontrol penggunaan ISO di nilai terendah (untuk menghindari noise/grainy) dan dapat mengatur nilai  shutter speed sesuai kebutuhan (slow shutter atau fast shutter).

Dan apabila ingin mendalami fotografi, tidak ada salahnya memastikan ukuran pixel pitch yang cukup besar sebelum membeli handphone. Karena nyatanya, ukuran megapixel sama sekali bukan acuan kualitas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Perbedaan Kamera Mirrorless Harga di Bawah & di Atas 10 Juta ?

Mengangkat tema yang sama dari salah satu artikel di plazakamera.com, dengan judul artikel “BEDA MIRRORLESS HARGA DI BAWAH & DI ATAS 10 JUTA ?”

Kamera mirrorless memang semakin diminati. Dengan range harga yang semakin beragam, teknologi yang lebih baru (teknologi mirrorless itu sendiri), form-factor (ukuran) yang lebih ringkas, dan tersedia untuk kelas entry level (pemula). Dimana target market DSLR biasanya lebih ditujukan untuk kalangan semi-pro keatas. Unuk kelas pemula masih mengacu pada kamera pocket (point & shot). Sedangkan dengan mirrorless, tersedia untuk semua kelas mulai dari entry-level hingga professional sekaligus.

Namun melihat ketersediaanya, terdapat begitu banyak brand dan tipe dari kamera mirrorless. Untuk mereka yang sudah cukup paham, tentu bukan masalah yang besar dalam memilih mirrorlesss yang sesuai. Tapi untuk mereka yang masih pemula, akan sangat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia.

Untuk membantu pemahaman, saya juga akan membuat 2 kategori dari kamera mirrorless, sesuai dengan artikel acuan diatas. Mirrorless diatas 10 juta dan mirrorless dibawah 10 juta.

Dan point pertimbangan yang saya pilih adalah:
– Bisa merekam video
– Kualitas foto/video
Viewfinder dan LCD
– Aksesoris pendukung

Beberapa mirrorles dibawah 10 juta:
Sony A6000 Body Only (Rp. 8.499.000)
Fuji X-A10 Kit (Rp. 6.299.000)
Canon EOS M10 Kit (Rp. 5.750.000)

Beberapa mirrorless diatas 10 juta
Sony A6300 Body Only (Rp. 14.999.000)
Fujifilm X-T20 Body Only(Rp. 12.999.000)
Canon EOS M5 Body Only (Rp. 13.990.000)

*brand dan tipe diambil secara acak, hanya sebagai sampel. dipilih karena ketersediaan harga di website resmi.

1. REKAM VIDEO

Hampir semua mirrorless camera bisa merekam video. Namun terdapat perbedaan kemampuan resolusi video yang dihasilkan dan frame rate yang disediakan.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya bisa merekam Full HD (1920×1080 pixel). Namun tetap menyediakan pilihan frame rate yang cukup beragam. 24p, 30p, hingga 60p. Full HD maksimal 60p sudah menjadi kebutuhan standar dan minimal pada saat ini. Dimana spesifikasi tersebut sangat pas untuk kebutuhan pemula atau semi-pro. Spesifikasi yang sesuai untuk dokumentasi kecil, event-event pribadi, vlogging (terkait ukuran data untuk upload dan streaming) dan yang lebih penting tidak membutuhkan media editing yang terlalu canggih.

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah mendukung video 4K (3840×2160 pixel). Disertai dukungan frame rate yang lebih beragam, 24p, 30p, 60p, hingga 120/240p (slow motion). Dengan spesifikasi video yang lebih baik mendukung kegiatan semi-pro hingga professional untuk dokumentasi event tertentu kelas menengah ke atas atau para filmmaker. Dengan spesifikasi video 4K maka proses editing membutuhkan media yang lebih canggih.

Sony A6300, dengan logo 4K di  bagian atasnya

2. KUALITAS FOTO/VIDEO

Harga yang lebih tinggi jelas menawarkan kualitas yang lebih baik. Walaupun memiliki megapixel yang sama, ukuran sensor yang sama, atau image processor yang sama.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 8 bit hingga 12 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 17MB hingga 50 MB. Sebenarnya di mata pemula, hampir tidak bisa melihat/merasakan perbedaannya. Tidak semua orang bisa melihat perbedaan RAW 12 bit dengan RAW 14 bit. Atau antara video bitrate 17 MB dengan video bitrate 24 MB. Jadi walaupun memiliki bit yang lebih rendah, namun foto dan video yang dihasilkan sudah cukup baik tanpa editing (atau dengan sedikit sentuhan editing).

Canon EOS M-10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Fuji X-A10, hanya merekam Full HD, dengan pilihan frame rate 30p, 25p, 24p. Di resolusi HD (1280×720) dapat merekam 60p

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta menghasilkan still image RAW (foto) 14 bit hingga 16 bit. Dan mampu menghasilkan video dengan bitrate 50 MB hingga 400 MB. Bit depth pada foto dan bitrate pada video dibutuhkan oleh para professional (atau semi pro) untuk mendongkrak kreatifitas melalui proses editing yang lebih dalam. Dimana bit depth dan bitrate  yang lebih tinggi tersebut lebih responsif terhadap proses editing yang lebih rumit.

Sony A6300, dapat merekam 4K (3840×2160) dengan bitrate 100 MB. Pada resolusi Full HD dapat merekam dengan frame rate 120p

Fujifilm X-T20, dapat merekam 4k (3820×2160) dengan bitrate 100 MB

Canon EOS M-5, menghasilkan still image RAW dengan bit depth 14 bit

3. VIEWFINDER DAN LCD

Viewfinder atau LCD adalah media peeking untuk melihat komposisi foto atau video seperti apa yang akan kita ambil.

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta hanya menyediakan LCD display. Dengan target market di kelas entry-level, mirrorless ini didesain untuk penggunaan yang lebih praktis. Layaknya kita menggunakan smartphone, atur komposisi melalui LCD display dan tekan tombol shutter (atau tombol video recording). Hanya saja di beberapa kondisi, seperti dibawah cahaya matahari langsung yang terang, mata akan sedikit sulit untuk melihat LCD display.

Canon EOS M-10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Fuji X-A10, hanya LCD display tanpa viewfinder

Sony A6000, sudah menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Sedangkan rata-rata mirrorless diatas 10 juta menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus. Fungsi LCD lebih kepada membantu menggunakan fitur-fitur yang didukung oleh kamera, atau sebagai media preview awal. Dan viewfinder berfungsi sebagai media peeking utama untuk menempatkan komposisi. Karena dengan viewfinder mata akan lebih fokus dan detail dalam mengatur komposisi. Tanpa gangguan apapun. Dimana hal tersebut akan sangat dibutuhkan oleh para professional.

Canon EOS M-5, menyediakan viewfinder dan LCD display

Sony A6300, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

Fujifilm X-T20, menyediakan viewfinder dan LCD display sekaligus

4. AKSESORIS PENDUKUNG

Aksesoris pendukung berupa:
Hot-shoe (tempat pemasangan aksesoris tambahan seperti flash light, mic/audio-in, monitor preview dan lain sebagainya)
Media interface (jack audio, usb/micro-usb, hdmi dan lain sebagainya)
– Image stabilizer

Rata-rata mirrorless dibawah 10 juta tidak menyediakan hot shoe dan jack mic untuk audio-in. Tanpa hot-shoe berarti tidak bisa menempatkan aksesoris pendukung langsung diatas kamera. Dan tanpa jack mic untuk audio-in berarti kita hanya bisa merekam video dengan audio diambil langsung dari mic built-in di dalam bodi kamera. Dimana penggunaan audio external (alat tambahan) untuk mendapatkan kualitas audio yang lebih baik harus melalui proses synchronizing karena karena video dengan audio menjadi 2 file yang terpisah. Namun mirrorless di kategori ini tetap menyediakan media interface seperti hdmi dan micro-usb. Dan yang cukup penting, rata-rata belum mendukung image stabilizer di bodi kamera. Harus lebih selektif dalam memilih lensa untuk mengantisipasi gambar yang shaking.

Sony A6000, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Canon EOS M-10, tidak menyediakan hot-shoe

Fuji X-A10, tidak menyediakan hot shoe

Sony A6000, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Fuji X-A10, menyediakan interface micro-usb dan  micro hdmi, tanpa jack audio-in

Canon EOS M-10, menyediakan interface usb dan micro hdmi, tanpa jack audio-in

Rata-rata mirrorless diatas 10 juta sudah menyediakan semua interface pendukung itu. Hot-shoe sebagai tempat untuk memasang flash light dan jack mic untuk audio-in, atau LCD monitor tambahan. Monitor preview bisa langsung dihubungkan dengan bodi kamera melalui interface hdmi, sangat membantu dalam proses pengambilan video dengan display yang lebih besar. Audio external atau jack audio-in juga bisa dihubungkan langsung ke bodi kamera, sehingga video dan audio (yang lebih baik, karena menggunakan audio external) tetap menjadi satu file. Dan biasanya sudah mendukung in-body-image-stabilizer sehingga mengurangi resiko gambar shaking menggunakan lensa apapun.

Canon EOS M-5, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Sony A6300, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan hot shoe untuk penempatan aksesoris tambahan

Fujifilm X-T20, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Sony A6300, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in

Canon EOS M-5, menyediakan interface micro-usb, micro hdmi, dan jack audio-in terpisah di kedua sisi bodinya

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Fotografi & Videografi iPhone

Sebelumnya gw pengen cerita dulu.

Dulu pengen banget bisa bikin video. Yang belakangan gw tau istilahnya, jadi videographer. Kenapa? Ga ada alasan khusus. Rasanya keliatan keren aja haha.. Dan yang gw tau, bikin video itu butuh kamera. Maksudnya, kamera dalam wujud yang ikon-ikon yang kita kenal selama ini. Handycam, camcorder, atau semacam DSLR. Belum kebayang waktu itu, bikin video cuma pake handphone.

Malahan gw baru tau, setelah selesai nge-record video, ada proses editing setelahnya 😀 Karena asumsi gw, kamera (lagi-lagi, secamam handycam atau camcorder) itu harganya mahal. Mungkin ada semacam teknologi yang bisa bikin setiap hasil rekaman jadi video utuh yang udah layak tonton hahaha..

Jadi gw harus beli kamera. Tapi harganya?

Dari orang-orang yang sama seperti gw, yang sama ga ngertinya tentang dunia photographer dan videographer, semua ngasih jawaban yang sama, DSLR!! Apalagi dari mereka yang memang pengguna DSLR itu sendiri, “Harga DSLR udah cukup terjangkau kok”.

Ok, DSLR memang sebuah kamera. Gw juga tau, dan gw setuju. Tapi kenapa kalo ngomongin kamera kayanya semua orang cuma mikirin still image? Bukankah handycam, atau camcorder, atau pocket camera, atau broadcast camera, atau cinema camera, semua itu juga adalah ‘kamera’? Dan sebagian besarnya malah ga bisa buat still image. Hanya bisa buat video. Mereka yang sama amatirnya kaya gw diam. Wajar. Tapi mereka pengguna DSLR itu sendiri bingung. Halah..!!

Gw coba nyari tau sendiri. Beberapa ‘kamera’ (dalam hal ini DSLR) dengan harga yang cukup terjangkau waktu itu, belum semuanya bisa merekam video. Beberapa diantaranya, dengan harga yang lebih tinggi, bisa rekam video tapi masih terbatas dengan durasi. Entah karena masalah overheat atau semacamnya, kamera-kamera tersebut memang belum bisa untuk merekam video durasi panjang.

Jadi kepikiran pengen beli handycam atau yang semacamnya. Kamera yang memang dikhususkan untuk video recording. Ada alternatif GoPro tapi harganya cukup tinggi. Masih lebih terjangkau handycam, diluar perbedaan spek yang waktu itu gw belum ngerti.

Tapi kemudian, seorang teman merekomendasikan iPhone ke gw. Smartphone?? Nah ini, karena selama ini gw taunya buat bikin video itu pasti lah perlu kamera khusus. Kamera-kamera yang biasa di taaro di bahu gitu. Atau minimal handycam. Dan yang pasti bukan smartphone.

Ga percaya dan ragu. Tapi logika gw mikir, iPhone lebih mahal dibanding smartphone lain, pastilah ada sesuatu yang membuat harganya begitu tinggi. Tapi gimana pun, apa iya kualitas kameranya cukup layak untuk nanti repot-repot diedit dan lain sebagainya?

Lagi-lagi, gw nyari jawaban sendiri. Baca berbagai reviwe tentang kamera iPhone. Nonton berbagai channel youtube. Dan ngeliat berbagai hasil dari iPhone image quality di google image.

Dan waktu itu, gw memutuskan buat beli iPhone 5S. iPhone yang sebenernya udah tertinggal karena di waktu itu, udah rilis iPhone 6S. Di tengahnya, ada iPhone 6.

Untuk smartphone uzur yang tertinggal 3 generasi dari rilisan terbaru, berikut beberapa point penting gw tentang iPhone:

“Gw suka warna yang dihasilkan. Beberapa smartphone android ngasilin foto dengan saturasi/vibrance yang terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Better untuk still image,ga jauh beda untuk video. The best among smartphones if I can say. Auto, tanpa setingan, memang seperti itulah output dari sensor kameranya. DSLR punya white balance dan color temperature yang lebih baik, tapi banyak pengguna DSLR yang bahkan ga merhatiin hal ini. Yah, mungkin cuma masalah cara penggunaan aja. Ga semua orang mau repot. Mungkin menurut mereka “Udah DSLR ini, tinggal jepret juga bagus”

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

“Mega pixel bukan acuan kualitas gambar. Nikon D700 12.1 MP seharga 7 jutaan. Smartphone Infinix Zero 3 aja lebih bagus, 20 MP, tapi harganya cuma 2.5 jutaan. Kenapa capek-capek beli Nikon? Nikon D700 12.1 MP memiliki pixel pitch 8.4 µm. Gw sendiri sampai hari ini masih menggunakan iPhone 5s, yang cuma 8 MP tapi dengan pixel pitch 1.5 µm. Lebih dari cukup untuk di upload ke media sosial, atau dilihat dari TV/monitor Full HD 1080. Samsung Galaxy Note 5 16 MP (dan rata-rata smartphone lain) hanya memiliki pixel pitch 1.12 µm. Gw belum pernah dan belum ada rencana untuk cetak gede, yang membutuhkan pixel super gede dengan pixel pitch yang lebih tinggi seperti DSLR.”

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

DSLR punya segudang fitur manual. Yang karena semua fitur tersebut, user DSLR punya persiapan yang lebih matang sebelum mengambil gambar. Setting white balance, color temperature, focus, exposure, shutter speed dan lain sebagainya. Belum lagi lighting atau ganti lensa entah itu buat macro atau bokeh, tripod, steady-cam, stabilizer dan lain-lain. Walaupun ga se ‘kaya’ DSLR, iPhone juga punya beberapa fitur yang bisa maksimalin, seperti manual focus, manual exposure, tripod, stabilizer atau lensa tambahan. Ketika hasil lebih maksimal dari DSLR dengan persiapan matang, kenapa tidak melakukan hal yang sama ketika menggunakan iPhone? (or even Android phones).

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Tapi yang membuat gw akhirnya menyingkirkan camcorder sebagai pilihan, karena iPhone udah support slo-mo video. Kebanyakan DSLR dan camcorder mampu merekan video hingga 60 fps di 720p (camcorder 60 fps di 1080p). Beberapa mirrorless canggih saat ini bisa merekam very high frame rates, 980 fps, tapi harganya masih diatas 25 jutaan. iPhone 5s sendiri mampu merekam 120 fps di 720p dan 30 fps di 1080p(camera default hanya menyediakan 2 mode, 30 fps dan 120 fps). Sedangkan untuk iPhone SE, iPhone 6 dan iPhone 7 bisa merekam 30 fps untuk 2160p/4k, 120 fps di 1080p, dan 240 fps di 720p.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Satu hal lagi yang membuat gw takjub. Dengan aplikasi yang tepat, FilMiC Pro, iPhone 5S gw bisa setting manual focus yang terpisah dari manual exposure, slider pengganti ring layaknya lensa DSLR untuk follow focus/exposure, depth of field yang lebih dalam, manual frame-rate (24p, 25p, 30p, 60p dsb), manual white balance dan color temperature, hingga rekam video up-to 3k. Padahal default cameranya, official-nya, iPhone 5s hanya bisa sampai UHD. Untuk 3k (walau video-only) bisa merekam video dengan bitrate hingga 50MB. Setau gw iPhone 6 bisa 4k dengan bitrate 100MB dan Samsung Note 5 4k hanya dengan bitrate 8MB.

Banyak hal bagus tentang iPhone. Banyak pernyataan yang berusaha menyetarakan iPhone dengan DSLR. Lalu apa kekurangan iPhone? Berikut ini beberapa point yang gw rangkum:

Sensor dan aperture yang lebih kecil dibanding DSLR. Sensor mempengaruhi lebar angel of view.iPhone 5s memiliki ukuran sensor 1/3 dari full frame sensor. Gambar terlihat lebih sempit, seperti efek zoom atau crop, tidak se lebar gambar dari kebanyakan DSLR. Untuk mendapatkan angle of view yang lebih lebar kita harus lebih menjauh dari objek yang akan di capture.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Aperture mempengaruhi tingkat fokus (serta out-of-focus) dan pencahayaan gambar.Aperture pada DSLR dapat diatur manual dengan rentang antara f/1.4 hingga f/22. iPhone 5s memiliki fixed aperture f/2.2. Sebagai pembanding Samsung Note 5 menggunakan fixed aperture f/1.9. Secara teori Note 5 harusnya lebih tajam (di area fokus dan lebih blurry di out-of-focus) dan lebih bagus untuk low-light dibanding iPhone 5s.Tapi karena sensor kamera yang lebih kecil (1.26, lebih kecil dari iPhone 5s : 1.3), keduanya terlihat sama.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

So it’s a bit tricky untuk memaksimalkan gambar dari iPhone. Entah itu dengan mengatur jarak antara kamera, objek atau background, serta meminimalkan penggunaan iPhone di area low-light.

Original 5s image (no color grade/correction), default camera app, cropped to 16:9, resized to 1280x720px

Dan satu kekurangan iPhone yang terlihat secara physically adalah lensa.Walaupun tersedia lensa add-on untuk smartphone tapi menurut gw not worth it. Lensa tele dan wide angel yang blurry. Lumayan untuk lensa macro, yang bersifat manual, kita harus mengatur jarak antara lensa dengan objek (physically manually, not optical or digitally 😀 ).

 

[vimeo 208143473 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction), handheld, default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

Tapi kita ga ngomongin photographer atau videografer professional dengan bayaran puluhan juta, bermodal equipment ratusan juta. Katakanlah photographer atau videographer semi-pro, yang menerapkan 2 prinsip yang sudah tidak asing lagi di dunia fotografi. The best camera is the one that’s with you,mengenal kemampuan kamera yang kita miliki beserta fitur-fiturnya. Dan bersikap sebagai the man behind the gun yang baik, mampu memaksimalkan kemampuan dan fitur-fitur tersebut.

[vimeo 208143423 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction, edited in iMovie), handheld, default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

iPhone adalah kamera untuk everyday life moment capture. Selfie, still image atau video teman-teman dan keluarga. Wide shot landscape, sunset atau sunrise, bangunan dan lain-lain. Walaupun lensa macro smartphone cukup ok tapi bisa dibilang gw ga pernah capture micro object. Gw juga ga pernah foto objek yang jauh karena bahkan DSLR sendiri butuh telephoto lens. Untuk kebanyakan event, exposure udah cukup kebantu lighting yang ada di area event, seperti wedding atau konser. Bahkan untuk indoor malam hari pun gw cukup puas. Outdoor malam? Well, that’s what we call a problem, right? 😀 Oh ya, gw hampir lupa kalo 5s ini ada dual led flash, karena untuk moment apapun gw ga pernah menggunakannya 😀 Bukan karena males, tapi sadar lingkungan dan kemampuan kameranya aja. Mungkin kapan-kapan gw maksimalin dual flash ini.

[vimeo 208143243 w=640 h=360]

Original 5s video (no color grade/correction), default camera app. Converted to 720p at 23.976 fps

Memiliki equipment yang mahal tidak serta merta membuat kita menjadi seorang photographer atau videographer professional. Dan bukan tidak mungkin, tanpa modal sekalipun, at least we can take a better pictures than the others. Tergantung apa yang ada di tangan kita saat ini. Be the right man behind the gun.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.

Belajar Fotografi & Videografi

Punya keinginan jadi fotografer atau videografer?

Kalau dulu modalnya lumayan. Ga semua orang mampu beli peralatannya yang memang tidak murah. Untuk foto harga pocket photo atau tustel sekitar 500 ribuan. Sedangkan untuk video, handycam harganya lebih tinggi lagi, bisa 800 ribu atau 1 jutaan.

Istilah fotografi atau videografi mencakup pelaku dan alatnya. Sedangkan istilah fotografer atau videografer adalah tentang man behind the gun. Tentang siapa yang melakukannya. Terlepas dari secanggih apa alatnya, hasil yang bagus sedikit banyaknya adalah karena peran siapa yang menggunakan alat tersebut.

Jadi, siapapun bisa menjadi fotografer. Siapapun bisa menjadi videografer. Tentu saja kembali ke kemampuan orangnya. Membutuhkan latihan dan pengalaman untuk mengasah kemampuan. Alatnya?

Smartphone yang ada di tangan anda adalah jawaban yang paling tepat. Tidak peduli apakah smartphone anda punya kemampuan yang super canggih atau yang teramat sangat jelek, sebuah kamera adalah kamera. Dibuat, dipasang di smartphone anda, dan berfungsi sebagaimana filosopi kamera tersebut diciptakan.

Siapapun bisa menjadi apapun, yang penting niat. Begitu orang bilang. Tapi untuk fotografi dan videografi, menurut saya lebih dimudahkan. Niat sudah dibulatkan. Alat? Sudah ada di tangan entah sejak kapan, mungkin bertahun-tahun yang lalu.

Apabila anda punya smartphone dengan kamera yang sangat baik, sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan. taking a picture doesn’t kill you. Memotret atau membuat video tidak akan membunuh kita. Tinggal 1-2 sentuh, smartphone anda siap merekam atau memotret sesuatu. Apabila anda merasa kamera smartphone anda tidak bagus, anda hanya butuh beberapa trik untuk menghasilkan foto atau video yang cukup layak.

1. Kenali kamera smartphone anda.

Salah satu perbedaan yang paling mencolok antara kamera smartphone mahal dengan smartphone murah adalah kemampuan low-light nya. Kemampuan kamera untuk menangkap gambar dalam kondisi kekurangan cahaya. Yang dimaksud low-light
adalah apa yang terlihat dari kamera. Bukan apa yang terlihat oleh mata kita. Bahkan idealnya, bisa dibilang semua kamera smartphone apabila selalu didampingi oleh pencahayaan yang baik, berupa lighting set.

Apabila kemampuan kamera smartphone anda sudah cukup baik, anda perlu mempertimbangkan lokasi atau posisi pengambilan gambar agar cahaya yang ditangkap kamera lebih baik. Apabila kemampuan kamera smartphone anda tidak terlalu bagus terhadap low-light, sangat tidak disarankan untuk pengambilan gambar indoor (dalam ruangan). Usahakan selalu di area terbuka dan dalam kondisi cahaya matahari yang bagus.

Sudah punya niat tapi alat tidak mendukung? Anda pasti bisa menjadi fotografer atau videografer. Anda hanya butuh ketepatan waktu dan lokasi saja.

Selain kemampuan fisiknya, setiap smartphone menawarkan fitur yang berbeda untuk kameranya. Seperti kemampuan manual focus, manual exposure, resolusi dan sebagainya. Untuk smartphone dengan fitur yang minim anda bisa mencari beberapa aplikasi kamera untuk memaksimalkan kemampuan fisiknya.

Dengan mengenali kamera smartphone, anda bisa memilah apa yang bisa dan apa yang jangan anda lakukan. Kamera yang tidak terlalu bagus dalam kondisi low-light, jangan melakukan pengambilan gambar indoor. Tidak ada pengaturan focus, jangan mengambil gambar yang terlalu deket dan kecil. Apabila resolusinya kecil, usahakan mengambil gambar sesuai kebutuhan, tapi apabila resolusinya cukup besar anda punya kesempatan untuk membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan pada saat proses editing. Dan sebagainya.

2. Pelajari komposisi fotografi dan videografi.

Secara teori ada beberapa aturan komposisi yang bisa dipelajari. Salah satunya adalah rules of third. Aturan 1/3 gambar.

Beberapa foto dan video yang dianggap unik adalah karena ketidak terbatasan cara pengambilannya. Anda bisa memotret sebuah motor persis lurus dari salah satu sisinya. Tapi anda juga bisa mengambil gambar dari posisi serong, misalnya dari arah kaca spion dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Anda bisa mengambil gambar orang lain dalam
posisi eye-level, posisi sebagaimana kita melihat orang lain. Tapi anda juga bisa mengambil gambar orang dalam posisi sebagai kucing (lebih rendah atau sangat rendah) atau dalam posisi bird-eye (posisi yang lebih tinggi).

Dan untuk menambah pengetahuan anda bisa melihat beberapa karya foto dan video yang dibuat oleh orang lain. Tanyakan kepada diri anda sendiri dan buat asumsinya. Kenapa pohonnya tidak terlihat hingga ke ranting paling tinggi. Kenapa foto kucing tapi kucingnya tidak di tengah gambar. Kenapa foto langit harus memperlihatkan gedung
dibawahnya kenapa tidak langit biru semuanya. Dan lain sebagainya.

3. Pelajari beberapa istilah

Untuk semakin membantu pemahaman, ada beberapa istilah fotografi dan videografi yang perlu anda ketahui. Berguna apabila anda melakukan percakapan atau membaca beberapa artikel terkait.

Aperture
Ini adalah ukuran bukaan sensor lensa kamera. Semakin besar bukaan sensor semakin besar gambar yang bisa diambil. Tanpa harus mundur-mundur menjauh dari objek. Dan semakin besar bukaan sensor maka semakin baik kemampuan kamera dalam kondisi low-light. Tapi karena kita ada dalam bahasan smartphone, aperture smartphone sudah fixed. Terkunci dan tidak dapat diubah.

ISO
Adalah ukuran sensitifitas sensor menerima cahaya. Semakin sensitif sensor maka semakin banyak cahaya yang ditangkap. Hasilnya akan lebih terang. ISO bisa dibilang sebagai pembantu langsung terhadap aperture. Ketika aperture kecil yang menghasilkan gambar lebih gelap, ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang. Apabila ISO terlalu rendah maka gambar akan lebih gelap. Untuk kamera dengan kemampuan low-light yang tidak bagus (aperture yang kecil), meningkatkan sensitifitas ISO akan membantu gambar menjadi lebih terang tapi gambar akan terlihat kasar dan berbintik.

Shutter Speed
Adalah ukuran waktu sensor kamera membuka dan menutup pada saat mengambil gambar. Semakin lama sensor membuka maka akan menghasilkan gambar yang lebih terang, namun membuat gambar menjadi lebih blur/kabur. Shutter speed yang tinggi tidak disarankan untuk mengambil gambar yang bergerak.

Diantara ketiga istilah diatas, aperture bisa dikatakan sebagai sumber penentu kualitas cahaya pengambilan gambar. Tapi karena aperture smartphone sudah terkunci dan tidak dapat diubah, maka ISO dan shutter speed bisa membantu kita mendapatkan kualitas cahaya yang diinginkan.

Satu kelebihan sekaligus kekurangan dari kamera smartphone, kita tidak bisa mengubah setting aperture, berarti kita cukup fokus dengan 2 point lainnya yaitu ISO dan shutter speed.Namun, tidak semua kamera smartphone menyediakan setting manual untuk ISO dan shutter speed. Untuk itu diperlukan aplikasi kamera tambahan yang memiliki kontrol manual ISO dan manual shutter speed.

Hanya dengan 3 point dasar diatas anda sudah cukup untuk terjun sebagai fotografer dan videografer amatir. Anda harus mengetahui detail dan kemampuan kamera smartphone anda. Sehingga anda bisa memaksimalkan secara efektif sejauh mana kemampuan kameranya. Dengan demikian anda bisa menyusun konsep yang lebih baik sebelum mulai berburu gambar dan video. Semua kegiatan yang terkonsep idealnya menjadi lebih maksimal.

Dengan pemahaman alat dan konsep yang kuat, anda bisa mulai melakukan pengambilan gambar dengan menggunakan beberapa teori fotografi dan videografi. Mengambil gambar yang unik, yang tidak biasa, atau sebuah gambar yang sebenarnya biasa saja, tapi dalam komposisi yang luar biasa.

Dan dalam prakteknya, anda bisa selalu menjaga kualitas foto dan video anda selalu sesuai dengan konsep dan keinginan. Apabila dirasa ada yang kurang pas anda bisa mencoba bermain-main dengan beberapa settingan standar kamera seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Seperti biasa silahkan berkomentar. Atau, saya selalu membuka kesempatan untuk bertanya langsung melalui email di stuff@stuff4read.com atau melalui formulir yang terdapat di halaman About Me.